“Dasar pelakor!” Diandra masuk ke kamar dan langsung menjambak rambutku. Aku tidak bisa menghindarinya karena tindakannya terlalu cepat. Aku meringis kesakitan. Mas Adri berusaha membantuku tapi aku memberi kode untuknya untuk tidak ikut campur dulu. Aku bisa mengatasinya. “Rasakan ini.” Kali ini Diandra mendorongku dan mengunciku ke tembok. Tangan satunya berusaha mencekikku tapi aku bisa melepasnya. “Hei, Diandra apa yang kamu lakukan. Lepas Diandra.” Aku berusaha melepaskan tangan yang menjambak rambutku, sakit rasanya. Jika ini dibiarkan bisa lepas semua rambutku. “Jangan salahkan Aku, Diandra,” teriakku. “Apa, Kau bisa apa.” “Ok, jika itu maumu.” Aku segera melakukan perlawanan dengan menendang perutnya. Diandra tidak tahu jika dulu aku atlet karate. Terlalu mudah untuk keluar

