Part. 18

813 Kata
Taiki Hasegawa Yamada Anni anilen Penulis POV Anni mendesah lelah setelah berkeliling ke seluruh hotel milik Sarah, hanya demi mencari sahabatnya yang cerewet. "Huh ...," helaan napas panjang keluar dari mulut Anni sambil menyandarkan Pasrah. "Batak ... Batak ..., ke mana, sih, kamu," kata Anni kesal. Mata Anni melebar melihat sebuah mobil hitam berjalan cepat ke arah seorang pria tampan. Anni berlari dengan cepat ke arah Pria yang masih sibuk dengan teleponnya. Anni berlari semakin cepat saat melihat pria yang berada di dalam mobil diarahkan senjata api sedang menuju pria tampan. DORRR! Bunyi letupan senjata api menggema keras di sepanjang parkiran hotel bintang lima itu. Taiki membulatkan kedua mata saat merasakan dipeluk erat oleh tubuh kecil seorang wanita. Semua anak buah Taiki berlari tergesa-gesa menghampiri tuannya, juga Anni. "Tuan, kamu baik-baik saja?" tanya Robert, orang kepercayaannya. "Ya, aku baik-baik. Kau jaga wanita itu, jangan biarkan dia pergi, ”perintah Taiki sambil pergi pergi orang yang sudah berani-beraninya mencari masalah yang diminta. "Nona," panggil Robert sopan sambil mengguncang pelan bahu Anni. Anni tersentak kaget dan berteriak histeris, membuat Robert harus menutup telinganya. "KKKYYYAAA, UMI !!" teriak Anni membuat semua tamu keluar dari dalam gedung hotel. "Nona ..., Nona ..., tenanglah," ucap Robert Coba tenangkan Anni yang masih berseru histeris. Tolaklah perkembang dan lihatlah, lihat orang yang memandang aneh, buat Anni meringis kecil tanpa sabar. "Nona," panggil Robert lagi lelah. Entah sudah berapa kali Robert menerima Anni. “Ha… iya,” jawab Anni. “Mari ikut aku,” kata Robert sambil membuka pintu mobil mewah yang Anni yakini harganya pasti mampu untuk membeli satu rumah mewah. “Mau ngapain saya ikut kamu? Atau jangan-jangan Anda mau menculik saya, ya, ”tuduh Anni seenak jidatnya. Robert menghela napas perlahan sambil terus berusaha untuk menebalkan kesabaran demi wanita yang menurutnya sedikit lemot ini. "Siapa Taiki, ya?" tanya Anni polos membuat mulut Robert terbuka lebar. Robert berdehem pelan, menghilangkan wajah bodohnya. “Mari, Nyonya, ikut aku. Nanti Nyonya akan tahu sendiri siapa Tuan Taiki, ”ucap sopan Robert. "Tidak, tidak. Aku tidak mau ikut, ”ucap Anni dan mundur ke belakang. "Nyo—" ucap Robert berhenti saat melihat Anni sudah terhenti pergi. "Di mana dia?" tanya Taiki tiba-tiba saja datang dengan kemeja putih yang sudah berubah warna menjadi merah. "Maaf, Tuan. Tadi wanita itu kabur, ”ucap Robert sambil membungkuk hormat. "Bodoh, biarkan satu wanita saja kau tidak bias," maki Taiki sambil melepaskan jas kalahnya dan memberikannya pada salah satu anak buahnya. "Cari tahu tentang gadis itu dan bawah dia ke hadapanku," perintah arogan seorang Taiki. "Baik, Pak," balas Robert patuh, tidak mau mendapatkan tuannya lagi. “Dan satu lagi, aku tidak mau dia selamat sedikit pun. Jika aku melihat luka di tubuh atau di kulitnya, maka aku dengan senang hati menembak mati kalian semua, ”ucap dingin Taiki, buat semua anak buahnya yang mau mengigil mendengar. “Kau harus jadi milikku, Sayang. Dan kupastikan itu, ”ucap datar sambil naik sendiri sambil menyeringai kejam. Taiki mulai mobil mewahnya sambil terus mengangkat wanita yang berjuang melawan maut untuk menyelamatkannya. Taiki yakin itu Wanita yang tadi menyelamatkan itu sama sekali tidak pernah menyelamatkan dengan dunia hitam yang biasa dia dan kedua sahabatnya geluti. Sementara di tempat lain, Anni lebih memilih pulang, mengistirahatkan tubuh dan juga otaknya. Terlalu banyak yang terjadi hari ini, diperlukan pusing dan lelah sendiri. Tanjakan ruang bawah tanah di markasnya, aura dingin dengan tatapan tajam, siapkan bak malaikat tampan dengan segala pesona menakutkannya. Taiki menatap datar dan dingin pria yang sudah terkapar tidak berdaya di bawah coba. Taiki berjongkok menjauh dengan pria yang tampak takut dirinya. "Selamat datang kematianmu, Mex," ucap dingin suara Taiki memecah keheningan di dalam ruang bawah tanah. "Ampun, Tuan. Aku mohon ampuni aku, ”ucap pria yang mengundang Mex itu sambil merintih kesakitan. Taiki menyerigai kejam bak iblis sambil memandang tajam pria tidak berdaya di hadapannya. "Memaafkanmu? Ckk…, ”ucap Taiki dingin. Pria tampan blasteran kebangsaan Jepang-Korea itu berdiri sambil membenarkan sedikit jasnya yang kusut. "Bunuh dia," perintah Taiki dingin. Pria tampan berperawakan tinggi dengan sejuta pesonanya yang mampu membuat semua kaum hawa rela ditransfer dengan mudah diterima. Taiki keluar dari ruang bawah tanah, arahkan ke ruang kebesarannya di sebelah gudang penyimpanan senjata dan narkoba miliknya. Anni membaringkan makan sambil terus kehilangan sahabatnya yang hilang bak ditelan bumi. Entah ke mana sahabatnya yang berisi itu pergi, tapi yang pasti dia benar-benar khawatir. Anni mengambil HP-nya dan mengambil memindahkan sabahatnya, Marlin, tetapi bukan suara cempreng milik sahabatnya yang muncul, dia malah mendapat suara operator, membuat Anni mengendus kesal sambil melepaskan berasal dari HP-nya. "Kamu ke mana, sih, Mar ... Mar ...," lirih Anni pada dirinya sendiri. Anni berusaha menutup mata, Tetap tidak bisa memungkiri otaknya masih membahas Marlin dan juga pria tampan yang baru saja ditolongnya. Entah sejak kapan Anni memutuskan tentang pria tampan tapi juga cantik itu. "AAAKKK!" teriak anni kesal karena tidak bisa menghilangkan bayang-bayang wajah tampan "Huh ..., tenang, Anni ... Tenang," kata Anni pada diam sendiri. "Sekarang lebih baik aku tidur aja," lanjut Anni membaringkan kembali tubuh kecil ke ranjang kecil di kamarnya. ................... TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN