Penulis POV
Mobil sport hitam berhenti tepat di parkiran apartemen mewah. Sung Yong keluar dari dalam mobil dan membawa semua barang belanjaan Jesi ke dalam
gedung apartemen. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Fei teruskan kembali mereka dari dalam mobilnya. Kirim iPhone dari dalam tas mahalnya.
“Aku ingin kau mencari tahu tentang Jesi Margarita, dia model majalah Playboy,” perintah Fei dingin.
“Aku akan membuat hidupmu berakhir, Jesi. Aku akan membuatmu menikmati apa yang aku dan Sarah rasakan, ”ucap Fei dingin sebelum melajukan mobilnya pergi dari kawasan gedung apartemen mewah itu.
Sung Yong masuk ke dalam mobil setelah selesai mengantarkan Jesi hingga ke pintu apartemen. Sung Yong melihat jam tangan mahal yang melingkar sempurna di dipindahkan. Jam sudah
berarti pukul lima sore, yang artinya ini sudah tiba untuk pulang. Sung Yong mengendarai mobil sport-nya ke arah Mension. Sepanjang jalan dia terus tersenyum menyambut wajah manis yang pastinya akan menyambut datang di depan pintu.
Sung Yong Berhenti mobil di pinggir jalan saat tidak sengaja melihat toko bunga. Sung Yong turun dari dalam mobilnya dan berlari kecil ke arah Toko bunga yang sedari tadi dilihatnya.
"Selama sakit, Tuan," sapa ramah pelayan toko bunga di Sung Yong.
“Sakit, saya mau bunga mawar merah dan putih dua puluh tangkai dan tolong bungkus dengan cantik untuk istri saya,” ucap Sung Yong senang.
Pelayan itu tertawa kecil melihat tingkah Sung Yong yang terkesan sangat memuji itu. Kening Sung Yong berkerut bingung saat melihat pelayan toko bunga itu tertawa.
"Bukan lucu, Tuan, tapi kamu benar-benar terlihat sangat menerima istri kamu," ucap pelayan itu tulus.
Tubuh Sung Yong menegang dengan keras ketika dia mendengar Sarah, meminta bertanya-tanya
dalam hati. Sung Yong terdiam dengan pikiran yang berkecamuk mempertimbangkan kata-kata pelayan toko bunga itu.
'Benarkah aku mencintainya?' Pertanyaan seperti yang terus-menerus
berputar di otaknya.
Sung Yong, lanjutkan dengan langkah perlahan, sambil mencari istri montok yang sedari tadi mencoba merindu. Sung Yong berjalan lebih cepat dengan memindahkan yang sedari tadi memegang satu buket bunga mawar yang sudah dikemas dengan sangat cantik.
Sung Yong memeluk posesif Sarah dari belakang, membuat istri seksinya memekik kaget. Sung Yong terkekeh dan membuka wajah tampannya di celuk leher diundang. Sarah menggigit bibir bawahnya keras, memegang desahan nikmat yang hampir saja keluar dari mulutnya. Terima kasih ulah yang menghisap kuat-kuat lehernya hingga kembali warna kebiruan merah.
Sarah bisa menikmati kejantanan Sung Yong yang sudah menegang di balik celana bahan mahalnya. Sarah ingin membalikkan dan melepaskan seksi, tapi ego dan gengsinya lebih besar, membuat harus
mati-matian memegang hasratnya yang sudah sampai ke ujung mengharuskan.
Tiba-tiba tubuh Sarah menegang mengigat
perselingkuhan yang dilakukan Sung Yong, membuat dadanya tiba-tiba saja lengkap.
Sung Yong membalikkan badan berbicara saat mendengar tidak ada tanggapan dari Sarah. Lagi-lagi berbicara menatapnya datar, tidak ada senyum manis memberikan hangat yang selalu berbicara itu memberi untuknya.
Sung Yongahkan buket bunga mawar cantik ke hadapan Sarah. Sarah menatap datar bunga mawar cantik yang diberikan Sung Yong untuknya.
Tanpa meminta tolong kembali terima kasih, Sarah mengambil buket bunga mawar itu dan pindah ke kamar mereka, menyiapkan
permohonan penggantian.
Sung Yong menatap
nanar. Di dalam kemenangan, dia menang ribuan pada Sarah.
Meja makan yang penuh dengan suasana hangat kini berubah menjadi canggung, meskipun sesekali Yeol dan Jean yang kesulitan mencairkan pembicaraan yang terjadi di meja makan malam itu, sama
sekali tidak berfungsi.
Sarah yang masih setia dengan diam dan Sung Yong yang masih setia dengan rasa bersalah. Bahkan hanya untuk wajah yang bisa bicara. Sarah yang sakit. Bagaimana mungkin lelaki yang dikagumi
dan dicintainya itu berani berkhianat di belakangnya?
"Bu, kami tidur dulu, ya," pamit Yeol dan Jean.
"Iya, jangan lupa cuci tangan, cuci kaki, sebelum naik ke atas ranjang," ucap Sarah lembut. Dan dibalas anggukan kepala patuh oleh kedua putranya.
Sarah membersihkan meja makan tanpa bicara sambil memalingkan perhatian, seakan-akan Sung Yong tidak ada di sana. Sung Yong menarik tangan kasar
Sarah, menyeretnya ke dalam kamar mereka.
Cukup. Dia benar-benar tidak sanggup lagi
diabaikan oleh berbicara. Dia benar-benar merindukan sikap dan memperlakukan dengan baik serta hangat, bahkan dia juga sangat merindukan rona merah di kedua pipi gemuk saat dia dengan sengaja
mengoda Sarah.
Sung Yong mendudukkan badan diberi di
sofa putih di dalam kamar mereka. Sung Yong menggenggam tangannya dengan tangan Sarah sambil menatap dengan lembut.
"Kamu kenapa? Kamu marah sama aku, Sayang? ” tanya Sung Yong lembut dan penuh sabar.
"Siapa Jesi?" Bukannya menjawab, Sarah malah bertanya pada Sung Yong.
Tubuh Sung Yong mendadak kaku. Bagaimana bisa bertanya ini bertanya tentang Jesi? Sung Yong mengembalikan otaknya, berusaha mencari jawaban yang masuk
akal tanpa harus membelanjakan kecurigaan itu.
“Rekan kerja, Sayang,” jawab Sung Yong mantap. Sarah tersenyum sedih dalam hati. Dia sudah menebak itu menjawab akan menjawab seperti itu.
"Ceraikan aku jika kamu mau berselingkuh dengan bebas di belakangku," ucap Sarah dingin.
Tubuh Sung Yong menegang bagaimana bisa meminta ini meminta bercerai darinya.
"TIDAK!" teriak lantang Sung Yong membuat Sarah kaget.
"Kalau begitu pilih, kamu mau bersama dia atau bersama denganku?" tanya Sarah datar.
Napas Sung Yong tidak beraturan menahan log. "Aku tidak bisa meninggalkan Sarah, dia sedang mengandung anakku," ucap Sung ingin memberikan pengertian kepada Sarah.
Dada Sarah berdebar kencang di antara logistik bercampur kecewa. Sarah mengingat secara kasar pemandangan sambil memandang.
"Mengapa kamu menikahiku jika kamu sudah menghamilinya?" tanya Sarah sedih.
“Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar tidak sanggup kehilanganmu. Aku mohon, maafkan aku dan jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, ”ucap Sung Yong.
Sung Yong mendekatkan dan memuji. Rasa manis bercampur asin bekas air mata memberikan sensasi lain dalam
lumatannya.
Sarah tidak membalas lumatan bibir Sung Yong dan malah mendorong kasar tubuh membalas. Sung Yong tersentak kaget menerima Sarah.
Sedang Sarah malah membaringkan ranjang di sebelahnya dan tidur memunggugi penilaian. Yong Yong menghela napas dan ikut membaringkan badannya di samping berbicara. Sung Yong memberanikan diri untuk memeluk tubuh montok Sarah dari belakang, tapi kemudian pria itu senang saat tidak merasa senang dari mendengar.
"Maaf. Maafkan aku, ”ujar lirih Sung Yong.
...................
TBC