Penulis POV
Marlin dan Anni menghentikan langkah mereka saat melihat wajah seseorang yang sangat kenali. Ya, Sung Yong. Marlin dan Anni dapat melihat dengan jelas Sung Yong yang sedang mengandeng tangan mesra seorang wanita yang
sialnya harus mereka akui sangat cantik dan seksi.
Meskipun Anni meringis kecil melihat cara berpakaian wanita itu, yang bisa dibilang sangat tidak sopan. Marlin baru saja akan menghampiri mereka dengan segudang perdamaian jika saja tidak dihalangi oleh Anni.
“Mak, apa pula kau halang-halangi aku? Tak kau tengok, berani kali sih b******k itu mengkhianati Sarah, ”geram Marlin penuh emosi.
“Sabar dulu, Mar. Kita bisa langsung labrak mereka gitu aja. Kita menerima mereka, ”ucap Anni yang masih sedikit memiliki kewarasan. Dengan setengah hati Marlin mengangguk keluar dan menahan
mati-matian memegang emosinya agar tidak keluar. Marlin dan Anni terus mengikuti pergerakan Sung Yong dan Jesi.
Sung Yong melumat dan memeluk mesra Jesi pun tak urung diambil dari penglihatan Marlin dan anni.
“Sayang, habis ini kita ke dokter isi, yuk. Cek sayang, ”ajak manja Jesi.
“Iya, Sayang,” ucap Sung Yong lembut sambil mengelus perut Jesi yang terlihat sedikit membesar. Baru bisa saja melempar tas jinjing yang dikenakannya ke wajah tampan Sung Yong karena
terlalu sulit.
"Tahan," ucap Anni kunjungan.
Marlin mengambil napas cepat dan
mengeluarkannya dengan kasar. Anni juga melakukan hal yang sama. Siapa yang
tidak akan berpindah jika ada di posisi mereka, bahkan Anni sedari sebelumnya harus pindah ke Sung Yong dengan sepatunya.
Marlin dan Anni terus saja menerima Sung Yong dan Jesi hingga mobil mereka berhenti di salah satu rumah sakit yang terbesar di Jakarta. Sung Yong
mengandeng tangan lembut Jesi, memasukkan rumah sakit untuk memeriksa isi Jesi.
Sung Yong duduk dengan tenang di depan, dokter mengisi tanpa mengetahui sedari tadi Marlin dan Anni masih setia mengikuti langkah mereka.
“Bagaimana, Dokter. Apa keadaan istri dan anak saya baik-baik saja? ” tanya Sung Yong datar. Ya, memang sifat Kim Sung Yong. Datar.
"Keadaan anak dan istri Anda baik-baik saja, Tuan," jawab dokter dengan tegas, khas keibuan.
Di depan pintu, Marlin dan Anni harus menutup mulutnya. Marlin mengepal kedua dengan erat-erat dengan wajah memerah memegang marah.
“Kita pergi dari sini,” ucap Marlin dingin dan dibalas anggukan kepala oleh Anni. Dihilangkan mati ??? Marlin mengeluarkan iPhone dari tas selempang yang sedari tadi dipakainya. Begitupun juga Anni.
“Kita ketemu di cafe Pelangi sekarang, dan ajak semua sahabatmu,” ucap Marlin datar.
“Kita bertemu sekarang di cafe seberang jalan dekat tol,” kata Anni dingin.
Anni dan Marlin duduk sambil tenang sambil memegang emosinya yang siap meledak kapan saja. Lee Gi Wook, Rio, juga Taiki bertemu sambil mengedarkan pandangannya ke kafe.
Senyum lebar terlukis indah di bibir seksi pria dewasa dengan wajah khas asianya yang manis dan tampan, mampu menghipnotis semua kaum hawa
yang mendukung.
Rio tampak aneh dan bingung melihat kedua sahabatnya yang tersenyum gila ke arah sahabat Sarah, istri sahabatnya yang sama gilanya juga, menurut Rio.
Lee Gi Wook berjalan cepat ke Arah wanitanya dengan senyum manisnya yang tidak pernah luntur sejak dia menerima telepon dari Marlin.
"Halo, Sayang," sapa Lee Gi Wook lembut sambil menggedipkan di sebelah genit.Marlin memutar bola mata sambil mengendus kesal.
"Sayang, kenapa kamu baru menghubungi aku lagi, sih?" tanya manja Lee Gi Wook yang sukses membuat Marlin ingin memuntahkan semua isi perutnya, melihat gaya bicara Lee Gi Wook yang lebih terlihat ababil alay (ABG labil alay).
“Apa kau lihat-lihat? Mau kucolok mata kau, ”balas Marlin membuat Lee Gi Wook meringis kecil.
"Kamu kok engak bilang sama aku kalau kamu sakit kemarin, Sayang?" tanya Taiki lembut dan penuh perhatian.
Mulailah membuka lebar-lebar kaget pasangan sekarang. Yang benar-benar membuat ingin pergi ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
“Tunggu. Tunggu dulu. Sungguh apa yang terjadi di sini? ” tanya Rio bingung.
"BUKAN URUSANMU!" teriak Marlin dan Anni bersamaan, buat Rio nyaris saja terjungkir ke belakang.
Taiki dan Lee Gi Wook hanya menggeleng ??? gelengkan diterima geli.
"Kamu mau bicara apa tadi, Baby?" Tanya Taiki sambil memegang remehan cupcake di sudut bibir Anni.
“Sung Yong selingkuh,” jawab Anni dingin,
membuat gerakan tangan Taiki berhenti.
Sebenarnya Lee Gi Wook yang sedari tadi mengoda Marlin pun terdiam tanpa kata.
"Bisa ulangi?" ucap Rio serius.
"Sung Yong selingkuh!" Kali ini bukan Anni yang menjawab, buka Marlin yang dibuka suara, buat yang lalu hangat menjadi tegang dan kaku.
"Kami akan membuat hidup Sung Yong menderita jika dia membuat Sarah menangis," ucap Marlin datar dan terdengar sangat dingin.
Anni mengganggukkan
sambil menunggu menepis tangan kasar Taiki yang lancang meremas pahanya.
Marlin berdiri dari duduknya dan keluar dari dalam kafe tanpa kata, dengan Anni yang mengikutinya di belakang.
Rio meremas rambutnya frustasi bagaimana bisa sahabat bodohnya itu menggulangi kesalahannya lagi. Sementara Taiki dan Lee Gi Wook lebih memilih untuk diam tanpa mau berkomentar, mereka sudah tahu
bagaimana sifat sahabatnya yang satu itu.
Memang di antara mereka berempat hanya Lee Gi Wook dan Taiki saja yang terkenal tenang, tapi di balik sifat tenang merekalah yang harus diwaspadai, terutama oleh musuh mereka.
Miliarder Kim Sung Yong muda bertangan dingin yang juga menguasai bisnis ilegal dan non ilegal.
Playboy Rio yang terkenal.
Taiki mafia Jepang, pemimpin Yakuza.
Lee Gi Wook miliarder muda bertangan dingin.
Hanya sahabat bodohnya yang tidak bisa
membedakan mana cinta dan hanya melepaskan obsesi saja.
"Aku pergi dulu," ucap Taiki sambil pergi pergi.
Taiki
mengeluarkan mobil sport-nya sambil mengeluarkan iPhone-nya dari dalam celana yang bahannya licin dengan harga yang pasti mahal.
"Ikuti gadisku," perintah putaran dari seorang Taiki Hasegawa Yamada.
Lee Gi Wook bangun dari duduknya sambil
sedikit menarik ujung jasnya yang kusut.
“Bayar, Sobat,” perintah Lee Gi Wook dengan tenang sambil menepuk pundak
sahabatnya itu. Rio melebarkan kedua matanya sambil memandang ke Lee Gi Wook, membuat temannya mengangkat satu alisnya.
"Perusahaan lu bangkrut, sampai meminta bayarin dari gua?" tanya Rio meremehkan.
Lee Gi Wook hanya mengendus kesal dan pergi keluar dari kafe tanpa menerima ucapan dari para sahabatnya yang gila.
Rio mendelik kesal pada sahabatnya sambil
membayar semua tagihan mereka.
"Bagian yang enggak enaknya gua aja," maki Rio kesal, sambil berjalan keluar dari dalam kafe dan melajukan mobilnya ke gedung perusahaannya.
...........
TBC