Penulis POV
Sinar matahari pagi sama sekali tidak membahas tentang tidur nyenyak dua orang yang bertolak belakang. Sarah menggeliat pelan dalam dekapan hangat sambil mendengarkan suara HP milik Sung Yong.
Dia baru saja akan bangun saat menikmati perjalanan kecil dari pertemuan. Sung Yong menggeser panggilan teleponnya dan berjalan sambil melihat nama yang tertera di layar HP-nya. Jesi nama yang tertera dengan jelas di layar HP-nya.
"Pagi, Sayang," sapa Sung Yong lembut.
“Pagi juga, sayang. Kamu kapan, sih, ke sini? Aku kangen, ”sapa dan tanya manja Jesi.
Sung Yong tersenyum lebar.
“Nanti aku ke sana pas jam makan siang, ya,
Sayang,” ucap Sung Yong mesra.
“Iya, awas aja kalau kamu lupa nanti,” balas Jesi sedikit ditangguhkan. Yong terkekeh kecil dan sambil mengganggukkan puas lebih lambat dia tahu Jesi tidak akan melihat anggukan perlu.
"Iya, Baby," ucap Sung Yong lembut.
"Ya, udah. Sampai jumpa, Sayang," ucap Jesi, sambil menunggu
sambungan teleponnya. Yong Yong masuk dan melihat Sarah
yang masih terlelap di dalam tidurnya. Sung mengecup lembut kening dan juga bibir manis yang disediakan sebelum menuju kamar mandi.
Sarah dibuka saat mendengarkan suara pintu tertutup. Sarah mendekap rapat-rapat menunggu isak tangisnya agar tidak terdengar di telinga pembicaraan. Sarah tertawa, menertawakan kebodohan sendiri. Bodoh karena dengan mudahnya meyakini Sung Yong benar-benar mencintainya.
Sarah tersadar dari rasa sakitnya saat mendengarkan suara nada sambung telepon dari HP mendengarkan yang mengalun indah di telinganya. Dengan tangan gemetar, Sarah mengangkat telepon dari
HP tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tubuh Sarah menegang saat telinganya mendengar suara manja mendengar mesra menerima.
"Halo, Sayang. Jangan lupa, ya, beli baju ibu hamil dan juga susunya," ucap manja Jesi.
Sarah melebarkan kedua sambil mendengarkan perkataan Jesi yang sangat hebat menunjukkan hubungan khusus dengan Sung Yong.
Sementara Jesi mengerut keningnya bingung. Sarah mematikan sambungan teleponnya dan menaruhnya dengan Kasar di atas nakas dekat tempat tidur. Sung Yong menatap bingung sedang sibuk memilihkan
baju untuknya berangkat ke kantor.
Sung Yong memeluk tubuh Sarah dan
menghirup aroma tubuh Sarah yang mampu membuat adik kecilnya terbangun dari tidur nyenyaknya. Sarah menggigit bibir bawahnya, memegang isak tangisnya sambil terus berusaha terlihat
sibuk.
"Pagi, Sayang," sapa Sung Yong lembut sambil menggigit dan menghisap kecil sekitar leher Sarah. Sung Yong mengerutkan keningnya bingung melihat yang hanya diam saja.
"Sayang, kamu kenapa, kok diam aja dari tadi?" Tanya Sung Yong dengan lembut sambil membalikkan badan Sarah ke Arahnya.
Sarah hanya menatap datar Sung Yong.
Sangat datar, hingga membuat Sung Yong meringis kecil.
"Ini bajumu," ucap Sarah dingin, membuat Sung Yong semakin bingung.
Sarah pergi setelah meninggalkan satu stel pakaian kerja untuk Sung Yong.
Pagi hari yang dipikir Sung Yong akan berakhir romantis dan juga hangat malah berakhir dengan sikap dingin dan juga datar Sarah setuju.
Yang lebih parahnya lagi, Sarah sama sekali tidak mengantarnya bekerja sampai pintu rumah mereka.
Sung Yong duduk melamun di kursi kebesarannya tanpa menunggu sedari tadi sudah ada wanita cantik dengan pakaian seksi sampai mempertontonkan sebagian besar tubuh polosnya.
Jesi dengan tidak tahu malu mendudukkan dirinya di atas pangkuan Sung Yong, membuat tampan yang sedari tadi masih setia dengan lamunannya tersentak kaget.
“Sayang, tadi pagi aku telepon kenapa kamu diam aja?” Tanya manja Jesi.
Sung Yong mengerutkan keningnya bingung.
"Telepon?" Tanya Sung Yong membeo.
"Iya, setelah selesai meneleponmu, aku
menghubungimu lagi tadi pagi," ucap Jesi, yang mampu membuat tubuh Sung Yong menengang kaku.
"Terus?" Tanya Sung Yong dingin.
“Kamu angkat, tapi ga ada jawaban darimu,” jawab Jesi bingung.
“Sial!” Umpat Sung Yong menambahkan memperbesar kebingungan Jesi.
Sung Yong menarik napas panjang,
sulit sekuat agar tidak terluka Wanita cantik yang masih setia duduk di pangkuannya.
Bagaimana
mungkin dia mampu menghilangkan wanita yang
dicintainya, menggores satu garis luka saja di kulit mulus Jesi lebih baik dia mati.
"Ya, udah. Tadi pagi kamu mau ngapain
telepon aku lagi, Sayang? ”Tanya Sung Yong lembut dan tenang tadi tidak dengan senang yang terus saja membicarakan tentang berbicara.
Apakah berbicara yang mengangkat panggilan Jesi dan apakah juga tahu tentang hubungan hitamnya dengan Jesi,
mantan sekretarisnya dulu, sekaligus adik iparnya? Pertanyaan demi pertanyaan tersinggah dengan sempurna di dalam otaknya.
'Tidak, aku tidak akan sanggup kehilangan Sarah!' Teriak batin Sung Yong. Dia mencintai Jesi tapi dia juga sayang dan merasa nyaman bersama Sarah.
"Aku pergi ke kamar mandi dulu, setelah itu kita membeli apa yang kamu mau," kata Sung Yong dan berjalan cepat ke kamar mandi.
Sung Yong mengacak-acak rambut hitam yang sudah ada di sisir rapih tadi pagi. Bagaimana dia menjelaskan pada Sarah, tanya yang montok itu tidak marah dan meminta bercerai darinya. Sung Yong terus saja mondar mandir di kamar mandi.
Diam. Ya, hanya diam dan pura-pura tidak tahu. Hanya itu satu-satunya cara agar Sarah tidak tahu dan meminta bercerai darinya. Tapi bagaimana jadinya jika isterinya bertanya? Apa yang harus dia jawab? Gejolak
batin Sung Yong yang terus saja dilema dilema.
Sung Yong keluar dari kamar mandi dengan kesulitan, membuat Jesi menatapnya bingung.
"Ayo," ajak Sung Yong sambil menarik lembut
tangan Jesi. Jesi mengangguk dengan tenang Sambil terus menatap bingung Sung Yong.
Sung Yong mengandeng lembut Jesi dengan
penuh perhatian. Sung Yong berjalan pelan karena takut terlanjur pergi yang berada di dalam rahim wanita yang cintainya itu. Dalam hati, Jesi tersenyum melihat Sung Yong yang begitu mengganggap dirinya
penting, bahwa Sung Yong selalu menganggapnya layak ratu.
Selama perjalanan, Jesi terus memperhatikan Sung Yong yang lebih banyak diam, tetapi tidak bisa dipungkiri oleh Jesi, sikap Sung Yong masih sangat lembut dan perhatian.
Sung Yong memakirkan mobilnya di kawasan butik ternama di Jakarta. Jesi berjingkrak senang saat Sung Yong menerima keinginannya. Dengan tidak sabaran, Jesi langsung masuk ke dalam butik.
Membuat Sung Yong harus khawatir melihat wanitanya berusaha masuk ke dalam butik dalam situasi hamil.
“Pelan-pelan jalannya, Sayang,” ucap Sung Yong lembut membuat Jesi mengerut tidak suka. Sung Yong melumat bibir Jesi yang cemberut, benar-benar lucu. Tanpa mereka sadari, dua mata tajam seorang wanita memperhatikan mereka dengan sangat intens dan penuh dengan mengerti yang terpancar dari kedua mata indahnya.
Fei memperhatikan Sung Yong dan Jesi dengan intens. Ya, Fei. Mantan istri, Sung Yong-lah, yang sedari tadi melihat itu dengan marah.
“Kau melakukannya lagi, Sung Yong. Apa tidak cukup bagimu hanya aku yang dulu kau sakiti? Kenapa kau juga harus melukai wanita sebaik Sarah? ”Ucap Fei sedih pada dirinya sendiri.
“Tidak, aku tidak bisa membuat wanita sebaik Sarah terluka. Aku akan
membuatmu berlutut mengemis cinta di bawah lutut. Ya harus Dan aku pasti bisa melakukannya. Kita lihat saja nanti, Sung Yong. Aku adalah orang pertama yang akan menghinamu saat kau berlutut di bawah kaki Sarah, ”ucap Fei yakin pada tempatnya sendiri.
Fei Keluar dari butiknya. Ya, butik yang baru saja dikunjungi oleh Sung Yong dan Jesi adalah butik milik Fei. Wanita itu lalu mengendarai mobilnya ke Arah di tempat mana yang bisa membuktikan
ucapannya.
Tekad Fei sudah kuat, itu dia akan
benar-benar membuat Sung Yong menyesal. Dia memang tidak mengenal Sarah, tapi Fei tahu, bukan, dia yakin bahwa Sarah adalah wanita baik-baik. Dan Fei tidak mau apa yang terjadi dulu pada yang harus dialami juga oleh Sarah sekarang. Cukup hanya dia
saja yang setiap malamnya selalu menangis. Dan berakhir menjadi jalang yang berselingkuh dari suaminya.