"Kapan datang Al?" Tanya Caith ketika Kiara, Alden dan Veon sedang berjalan beriringan menuju ruang makan.
"Belum lama." Jawab Alden ramah.
"Kalian kemana saja? Aku terbang berputar putar tapi tidak ketemu juga. Kamu tahu ini sudah lewat jam makan siang Ve. Bagaimana bisa kamu membiarkan ratu kelaparan." Kata Caith pada Veon. Kiara sudah mulai terbiasa dengan cara Caith bicara pada Veon. Selalu marah marah.
"Aku tidak apa apa Caith, lagipula aku belum terlalu lapar." Kata Kiara menggantikan Veon yang selalu terlihat takut pada kakaknya.
"Maaf kak, aku hanya mengajak Kiara berkeliling kota." Jawab Veon akhirnya.
"Ya sudah ayo makan." Ajak Caith.
Mereka makan berempat. Raja dan ratu peri tak terlihat, mungkin sudah makan duluan. Kiara tidak puas dengan hidangannya. Hanya sebutir buah apel, itu sedikitpun tidak bisa mengganjal perut laparnya.
"Masih lapar ya ratu?" Tanya Alden ketika Kiara selesai menghabiskan apelnya.
Kiara hanya mengangguk. Sebenarnya dia merasa malu meminta tambahan porsi, tapi perutnya benar benar lapar setelah terbang sejauh itu.
"Maaf ratu, Daniel juga sering mengeluh dengan makanan kami. Katanya tidak mengenyangkan sama sekali." Kata Caith. KIara tersenyum, itu sedikit mengurangi rasa malunya.
"Cibus." Dan tiba-tiba didepan Kiara terhidang sepiring steak yang sangat menggoda selera. Oh Alden... dia memang bisa di andalkan.
Kiara menatapnya dengan mata berbinar penuh terima kasih. Tanpa menunggu lama Kiara segera melahap steak di depannya di temani dengan obrolan ringan ketiga orang di sekelilingnya. Hemm, sepertinya hari hariku jadi terasa ringan berkat mereka. Aku sedikitpun tak merasa tertekan dengan posisiku yang sebentar lagi menjadi seorang ratu.
"Sedang makan ya?" Tanya sebuah suara tepat di sebelah telinga Kiara.
"Daniel!" Pekik Alden yang langsung menarik Daniel ke dalam pelukannya.
"Al! Lepas. Menyebalkan." Sungut Daniel yang tak nyaman di goda oleh Alden.
Kiara tersenyum geli melihat tingkah mereka. Alden memang seperti jembatan di antara tiga orang ini. Jika ada Alden, suasana jadi semakin meriah. Menyenangkan.
"Apa Kamu tidak merindukanku?" Tanya Alden dengan wajah cemberut yang sangat menggemaskan.
"Al Hentikan! jangan menggodaku di depan Kiara." Kata Daniel tak kalah cemberut.
"Kenapa?" Tanya Alden semakin cemberut pada Daniel. Kemudian pandangan Alden beralih kepada Kiara. "Ratuuu... Daniel membentakuuu." Kata Alden dengan nada manja yang sangat lucu. Kiara tidak bisa untuk tidak tertawa. Tawanya langsung meledak mendengar kata kata Alden.
"Sudahlah Al, kasihan dia. Lihat Daniel sudah hampir menangis." Kata Caith sambil menahan tawa.
"Siapa yang hampir menangis Caith." Kata Daniel sambil melotot pada Caith. Kiara terlihat sangat senang melihat mereka. Terlihat sangat dekat. Aku senang bisa berada di tengah tengah mereka.
*******
" My lord." Kata sebuah suara ketika memasuki sebuah ruangan luas namun penuh dengan kegelapan. Di ujung ruangan duduk seorang perempuan mengenakan gaun indah yang mempertegas kecantikan dirinya.
"Ada apa?" Sahut perempuan itu dengan malas menanggapi lelaki tua yang baru saja memasuki ruangannya.
"Sang ratu telah muncul my lord." Kata lelaki itu dengan menunduk dalam.
"Ratu?" Tanya wanita itu kurang paham.
"Ya. Ratu tiga dunia." Jawab lelaki itu.
Wanita itu menegakkan tubuhnya. Pandangan matanya menajam dan bibirnya membentuk seringaian jahat.
"Kau yakin dia ratu tiga dunia?" Tanya wanita itu lagi.
"Saya yakin my lord. Saya melihatnya di depan rumah ratu Reyna dan lagi... sayapnya bercahaya." Jawab lelaki itu.
"Hahahahahaha...." Wanita itu tertawa dengan keras. Sampai dapat terdengar di seluruh kastil yang dia tinggali. "Akhirnya waktunya telah tiba. Segera cari tahu dia sudah menjadi ratu atau masih calon ratu. Kalau ternyata kamu terlambat dan dia sudah menjadi ratu, aku akan memotong kedua sayapmu Wirtz." Kata wanita itu dengan mata penuh kekejaman.
"Baik my lord." Jawab seseorang yang di panggil Wirtz itu.
*******
Istana peri siang itu terlihat begitu penuh tawa. Setelah mereka selesai makan, mereka berlima berpindah ke kamar Caith. Mungkin menurut kalian memalukan. Aku seorang gadis, masuk ke dalam kamar cowok bersama 4 orang cowok super duper keren. Tapi entahlah, aku merasa nyaman bersama mereka. Mereka takkan mungkin melakukan hal jelek terhadapku. Itu yang ku rasakan.
"Kiara, kapan ulang tahunmu yang ke tujuh belas?" Tanya Caith yang mulai bosan membolak balik buku dari tadi.
"Uhmmm, sekitar sebulan lagi." Jawab Kiara.
"Wah,, sebentar lagi ya. Tapi kenapa sayapmu baru keluar? Kamu juga belum bisa memakai sihir Kiara. Ckckck perkembanganmu benar benar lambat." Kata Alden yang membuat Kiara sebal.
"Mana ku tahu. Aku bahkan berharap kalau aku ini bukan ratu tiga dunia. Semua ini membuatku pusing! Juga... Takut." Kata Kiara. Ya, aku memang takut. Entah seperti apa masa depanku nanti. Tapi firasatku mengatakan akan ada hal besar yang harus ku hadapi.
"Tenanglah... Ada aku disini." Kata Daniel sambil meremas pundak Kiara pelan. Menenangkannya.
Kiara tersenyum. Aku benar benar senang dengan perubahan sikapnya. Rasanya ada yang menghangat di dalam dadaku setiap kali Daniel menatapku dengan cara seperti itu.
"Ya, benar Kiara. Ada kami disini, dan kami akan selalu melindungimu." Kata Veon yang langsung diikuti anggukan cepat oleh Caith dan Alden. Dadaku sekarang di penuhi dengan kebahagiaan. Orang orang ini,,, benar benar tulus menyayangiku. Serasa aku memiliki keluarga kedua.
"Jadi kamu ingin mengadakan pesta dimana?" Tanya Alden.
"Tentu saja di rumahku, aku biasa mengadakan pesta ulang tahun di rumah." Jawab Kiara.
"Bukan pesta ulang tahun Kiara, tapi pesta pengangkatanmu menjadi ratu." Tanya Alden dengan gemas.
"Pengangkatan? Kapan?" Tanya Kiara bingung. Kiara belum tahu apa apa soal pengangkatannya menjadi ratu.
"Daniel!" Alden melotot kepada Daniel. "Bukankah Kiara berada dibawah tanggung jawabmu? Kenapa kamu belum mengajari apapun padanya? Waktunya tinggal satu bulan lagi sampai dia resmi menjadi ratu." Kata Alden sebal.
"Bagaimana aku mau mengajari Kiara, dia setiap hari berpindah dunia kesana kemari." Kata Daniel membela diri.
"Kalau begitu kita ajari bersama sama saja biar cepat. Mulai besok kita adakan kelas tambahan untukmu ratu." Kata Alden dengan senyum khasnya.
Kiara hanya tersenyum. Terlalu malas untuk menanggapi. Kepalanya penuh dengan batas waktu sebelum menjadi ratu. Rasanya gelisah sekali. Kiara benar benar punya firasat buruk.
"Kiara, ayo pulang. sudah sore." Ajak Daniel sambil menggenggam tanganku lembut.
"Baiklah." Jawab Kiara. "Caith, Al, aku pamit dulu ya. Veon, besok kita belajar terbang lagi ya." Kata Kiara.
"Siap Kiara." Jawab Veon dengan senyum lebar.
"Aku besok juga mau kesini ya. Sekalian memberi pelajaran tentang tiga dunia pada ratu." Kata Alden tak mau ketinggalan.
"Ya sudah kami pamit dulu." Kata Daniel sambil menggenggam liontinya.
Cahaya putih langsung membawa mereka ke dunia manusia. Tepat di depan rumah Kiara.
"Aku antar masuk." Kata Daniel sambil tetap menggenggam tangan Kiara.
Kiara tersenyum dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Tak berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu cantik Kiara." Kata Daniel tiba tiba yang langsung membuat kedua pipi Kiara memerah.
Kiara tersenyum malu. Daniel berhasil membuatnya salah tingkah.
"Hahahaha. Benar benar menggemaskan." Tawa Daniel riang.
"Kiara..." Sapa mama Kiara begitu mereka sampai di ruang tamu rumahnya. mamanya menyambut dengan pelukan hangat. "Kamu baik baik saja sayang?" Tanya mama.
"Kiara baik ma..." Kiara tersenyum.
Segera Kiara mengalihkan pandangannya pada dua sosok sahabat yang duduk manis di kursi tamu di sebelah mamanya. Tiba tiba hatinya diliputi rasa bersalah begitu melihat sepasang mata yang sedang menahan tangis memandang Kiara.
"Sarah...." Kata Kiara pelan. Kiara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Daniel tapi tak berhasil. Daniel tak mau melepaskan tangan Kiara darinya.
"Besok pagi aku jemput ya. Kamu harus belajar terbang lagi kan?" Kata Daniel sambil mengusap pelan kepala Kiara. Tatapannya itu membuat Kiara tak bisa untuk tidak tersenyum meski hatinya diliputi rasa bersalah.
Kiara menjawabnya dengan anggukan pelan.
Tanpa di duga, Daniel mendekat kepada Kiara dan,,, "Aku mencintaimu..." bisik Daniel tepat di telinganya.
Jantung Kiara berpacu dengan cepat tanpa dapat dikendalikan. Seketika wajahnya merona merah. Daniel... sikapnya benar benar berubah. Aku jadi bingung harus bagaimana di depannya.
Daniel mengedipkan sebelah matanya pada Kiara lalu berjalan menuju pintu. "Semuanya, aku duluan ya. Tante, Daniel pamit dulu."
"Iya." Jawab semua orang di ruangan ini serempak.
Kiara masih terpaku di tempatnya berdiri walau Daniel sudah menghilang dari pandangan. Anak itu... Dari mana dia belajar untuk mengacaukan detak jantung orang lain. Ahhhh, Daniel membuatku gila.
"Kiara bagaimana sayapmu?" Tanya mama membuyarkan lamunannya.
"Ehmm? Itu.. sudah bisa ku kendalikan ma." Jawab Kiara setengah sadar, karena setengah pikirannya terbawa pergi oleh Daniel.
"Duduklah." Pinta mama yang langsung dituruti oleh Kiara.
Kiara duduk dikursi didepan sahabat sahabatnya dan menggelayut manja pada mamanya.
"Sudah makan?" Tanya mama perhatian.
"Sudah ma, Alden memberiku steak yang sangat lezat." Jawab Kiara bersemangat.
"Alden? Siapa lagi itu?" Tanya Vani dengan rasa penasaran yang tak pernah padam.
"Pemegang kunci, sama seperti Daniel." Jawab Kiara.
"Jadi? Seperti apa sayapmu itu?" Tanya vani penasaran.
Kiara tak mengindahkan pertanyaan Vani. "Sarah? kamu marah ya? maafkan aku..."
"Tidak apa apa, bukan salahmu kiara." Jawab sarah sambil menyembunyikan air matanya.
"Maaf..." Kiara benar-benar merasa bersalah.
"Aku harus terbiasa dengan ini, kalau memang Daniel bahagia bersamamu... aku rela." Kata sarah yang membuat Kiara tak mampu menahan tangis. Kiara langsung menghambur memeluk Sarah. "Maafkan aku.. aku tidak tahu kenapa Daniel jadi begitu." Kata Kiara terisak di telinganya.
Sarah melepas pelukan Kiara. Tersenyum tipis. " Sudahlah, aku tak ingin membahas ini." Katanya.
"Hemm, kalian akan menginapkan?" Tanya Kiara yang lebih terdengar sebagai permohonan.
"Tentu." Jawab kedua sahabatnya.
"Coba perlihatkan sayapmu Kiara, kami kan pengen lihat..." Rengek Vani ketika mereka sedang mengobrol ringan di dalam kamar Kiara.
"Iya iya." Kata Kiara kemudian dia membentangkan kedua sayap putih miliknya. Kedua sahabatnya ternganga takjub melihat keindahan sayap Kiara yang bercahaya.
"Cantik.." Bisik sebuah suara tepat disamping Kiara.
"Al??? Kenapa ada disini?" Tanya Kiara yang heran melihat Alden berada di dalam kamarnya. Kiara kemudian memasukan kedua sayapnya. Dan,, ya.. sekarang kedua sahabatnya sedang terpana melihat sosok iblis tampan yang ada di samping Kiara itu.
"Ehmm, hanya ingin menyampaikan sesuatu. Tadi siang aku lupa mengatakan hal ini padamu ratuku." Jawab Alden sambil tersenyum manis. Entah ini perasaanku saja atau memang Alden terlihat lebih mempesona dari biasanya.
"Hahaha." Alden tertawa seakan bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Kiara. "Satu pengetahuan umum tentang makhluk di duniaku ratu. Kami, akan berkali kali lipat lebih mempesona pada saat malam." Terang Alden yang langsung disambut dengan "oh" tanpa suara.
"Dia siapa ra?" Tanya Vani penasaran.
"Ini Alden, yang kuceritakan tadi. Al, kenalkan mereka sahabatku, yang ini Vani dan itu Sarah." Kata Kiara sambil menunjuk kedua sahabatnya.
"Senang berkenalan dengan kalian." Sapa Alden sambil membungkukkan badan dengan hormat. Seakan sedang berhadapan dengan seorang Lady dari kalangan bangsawan.
Kedua sahabat Kiara dibuat terpukau oleh sikap Alden yang sangat gentleman.
"Jadi? Apa yang ingin kamu katakan Al?" Tanya Kiara.
"Ayahku mengundangmu ke dunia kami Kiara." Jawab Alden ringan tapi tegas. Mendadak Kiara diserang rasa gugup yang sangat besar. " m..memangnya ada apa?" Tanya Kiara.
"Tidak ada apa apa, hanya sekedar bertamu saja, sekalian mengenalkanmu pada dunia kami." Jawab Alden.
"Kamu akan menemaniku kan?" Tanya Kiara pada Alden. Kiara benar benar tidak suka berada diantara orang orang yang tidak dia kenal.
"Hahaha. tentu saja Kiara." Kata Alden sambil mengacak rambutnya gemas.
"Kapan aku harus kesana?" Tanya Kiara lagi.
"Terserah padamu ratuku. Lebih cepat lebih baik." Jawab Alden tersenyum bijak.
"emm, bagaimana kalau besok setelah belajar terbang?"
"Ide bagus." Jawab Alden tersenyum.
"Baiklah, berarti besok kamu harus menjemputku di istana peri." Kata Kiara ceria.
"Siap ratu." Kata Alden yang lagi lagi membungkukkan badannya dengan tangan kanan di d**a. Huftt dia benar benar tahu bagaimana cara memikat perempuan.
"Apa kamu ini peri?" Tanya Vani tiba tiba.
"Bukan nona. Saya dari dunia kegelapan. Manusia sering menyebut kami sebagai iblis." Jawab Alden sopan.
Ekspresi mereka berubah pucat. Well, selama ini iblis selalu dikaitkan dengan kata -menakutkan, kejam, jahat-. Tak heran jika mereka berubah sedikit takut pada Alden.
"Aku tidak menyangka ada iblis setampan ini." Celetuk Vani yang langsung membuat Kiara dan Alden tertawa terbahak. Sedangkan Sarah masih setia dengan tampang pucatnya.
"Dia tidak jahat kok. Kalian jangan pasang wajah takut seperti itu." Kata Kiara berusaha merubah image Alden di depan sahabatnya.
"Baiklah, aku jelaskan sedikit pada kalian mengenai makhluk di duniaku. Mungkin akan sedikit panjang." Kata Alden sambil menarik kursi belajar tak jauh darinya dan duduk menghadap ranjang. Kiara pun duduk di ranjang di samping Sarah.
"Seperti halnya manusia, iblis juga ada yang baik dan ada yang jahat. Sampai sekarang pun begitu. Tetapi dulu, sekitar 800 tahun yang lalu, ada sekelompok iblis yang mencoba sihir sihir berbahaya. Sihir hitam yang paling kelam yang seharusnya tak boleh digunakan. Bahkan ada di antara mereka yang berhasil membuat gerbang antar dunia terbuka dan mengganggu kehidupan dunia manusia dan dunia peri. Kejadian itu membuat perang pecah di dunia kami. Para leluhur kami mencoba memusnahkan kelompok itu dengan segala cara. Termasuk kutukan kematian, sekalipun sebenarnya itu ilegal." Alden berhenti, terlihat menghela nafas dalam.
"Ilegal?" Tanya Kiara tak paham.
"Ya ilegal, ada beberapa sihir dan kutukan yang tidak boleh di gunakan oleh kami. semacam undang undang di dunia kegelapan." Terang Alden.
"Lanjutkan ceritanya." Kata Kiara lagi.
"Ada 5 iblis, yang ternyata tidak mati setelah terkena kutukan kematian. Dan parahnya, itu membuat mereka hidup abadi. Dan hal terakhir yang bisa dilakukan oleh leluhur kami adalah menyegel mereka di penjara khusus yang tak mungkin di tembus oleh mantra apapun. Dan setahuku, mereka masih disana sampai sekarang." Kata Alden mengakhiri ceritanya.
"Jadi, iblis kejam dan jahat yang selama ini kami yakini adalah mereka yang di segel itu?" Tanya Vani.
"Benar sekali nona." Jawab Alden.
"Baiklah, sudah malam Kiara. Aku harus kembali." Kata Alden.
"Ya, sampai besok ya." Jawab Kiara tersenyum. Alden melambaikan tangan pada mereka dan detik berikutnya dia sudah menghilang.
"Ra, apa semua iblis setampan itu?" Tanya Vani dengan mata menerawang jauh.
"Entahlah, baru satu itu iblis yang pernah kulihat." Jawab Kiara sambil berbaring. Lelah rasanya seharian belajar terbang.
"Bagaimana dengan peri?" Tanya Vani masih penasaran.
"Well, aku mengenal 4 orang peri dan mereka semua memiliki paras yang menawan." Jawab Kiara sambil mulai menutup mata. Kantuk sudah menyerang kedua matanya. Selanjutnya, Kiara tak mendengar apapun lagi. Terlelap dalam mimpi.
*********
To be continue