"Kiara..." Sapa sebuah suara ketika Kiara sedang melamun seperginya ratu Kayla meninggalkannya.
"Veon." Kiara terlihat sangat senang dengan kehadiran Veon.
"Sedang apa sendirian disini?" Tanya Veon sambil duduk disebelah Kiara.
"Aku kelelahan karena berputar putar mencarimu. Kamu kemana saja?" Tanya Kiara dengan tampang cemberut.
"Maaf, aku baru memindahkan barang barangku, kamu tahu? Aku sekarang bisa tinggal di istana lagi." Wajah Veon diliputi dengan kebahagiaan.
"Iya iya, selamat ya." Ucap Kiara tulus.
Lama mereka terdiam saling menatap. Kiara merasa canggung ditatap dalam oleh sepasang mata coklat itu.
"Ve,, ayo ajari aku terbang." Kiara berusaha mengalihkan pandangan, karena dia seperti tersihir. Tak mampu berpaling dari wajah tampan dihadapannya itu.
"Baiklah, ayo." Kata Veon sambil mengulurkan tangan, membantu Kiara berdiri.
"Sekarang, kembangkan dulu kedua sayapmu." Perintah Veon sambil mengembangkan sayap coklat miliknya. Kiara menurut dan mengeluarkan sayap putihnya, cahaya terang berpendar dari kedua sayapnya begitu mereka terkembang.
Meski sesaat, terlihat ketakjuban dimata Veon saat melihat sayap milik Kiara.
"Sayapmu sangat cantik ratu, secantik dirimu." Kata Veon tulus. Dia memang tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Kiara tertunduk malu mendengar pujian darinya.
"Coba gerakan pelan sayapmu Kiara." Kata Veon kemudian.
Pelan, digerakkannya sayap Kiara. Sepertinya dia sudah mulai mahir mengendalikannya. Kedua sayapnya benar benar menurut pada perintah Kiara.
"Bagus, sekarang kepakkan lebih cepat lagi, rasakan berat tubuhmu mulai meringan. Mulailah naik ke atas, Kalau takut, pejamkan matamu Kiara, aku akan mengawasimu." Kata Veon. Dari tadi Kiara memang sudah memejamkan mata, saat tubuhnya mulai terangkat, dia sama sekali tak berani melihat sekelilingnya. Takut kalau tiba tiba sayapnya berhenti mengepak dan dia akan jatuh ke bawah.
Semakin lama angin terasa semakin kencang bertiup, rasanya begitu menyegarkan. Pelan Kiara membuka matanya.
"Wahhhhh." Ternyata aku terbang cukup tinggi. Aku bisa melihat istana dan pepohonan di bawahku. Pemandangannya benar benar indah.
"Bagus kan?" Kata Veon yang selalu berada di sisi Kiara.
"Sangat." Jawab Kiara tanpa mengalihkan pandangannya dari pepohonan hijau di bawah sana. Benar benar menakjubkan.
"Ayo kita berkeliling kota." Ajak veon.
Kiara mengikuti Veon dari belakang, Angin menerpa wajahnya seiring arah terbangnya yang terus ke depan, memperhatikan rumah rumah yang berjajar rapi di bawah sana. Dari atas semua terlihat kecil, terlihat indah...
Tiba tiba Veon mulai merendah dan turun ke bawah, Kiara mengikutinya turun meski agak kesulitan mengatur laju sayapnya. Dia turun terlalu cepat akibatnya...
jduugg.... jduggg,,, jduggg
Kiara jatuh terduduk, lalu terangkat ke atas lagi, lalu jatuh lagi, sampai akhirnya Veon mendekapnya erat agar Kiara tidak terbang lagi. Kiara kesakitan, sepertinya tadi dia menghantam batu saat terjatuh.
"Hahahaha..." Terdengar suara Veon yang tertawa lepas. Kiara langsung mendorongnya sampai Veon jatuh terduduk di depannya.
"Kamu sangat ceroboh Kiara, bukankah sudah kukatakan, pelankan dulu kepakan sayapmu saat mau turun." Kata Veon dengan masih tertawa.
"Kamu belum mengatakannya, tadi kamu turun tiba tiba tanpa mengatakan apapun padaku." Kata Kiara sebal.
"Masa? Aku sudah mengatakannya. Mungkin kamu yang tidak dengar." Kata Veon tak mau mengalah.
"Sudahlah, untuk apa berhenti disini?" Tanya Kiara yang merasa percuma berdebat dengannya.
"Kamu tak ingat? Ini tempat pertama kali aku menemukanmu." Kata Veon.
"Benarkah?" Kiara melihat ke sekelilingnya. Padang rumput yang sangat luas, tak jauh dari tempatnya berdiri adalah gerbang kota peri. Dan di sampingnya ada hutan, hutan yang dulu sempat membuatnya ketakutan.
Ya, dulu aku pingsan di tempat ini karena gelap. Dan saat terbangun, aku sudah berada di rumah Veon. Kejadian itu baru beberapa minggu lalu, tapi rasanya sudah sangat lama.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Kata veon tiba tiba.
"Kemana?"
"Ikuti aku saja, nanti ku beri tahu." Veon mulai terbang.
Kiara menyusul Veon terbang dan mengikutinya kemanapun dia pergi. Mereka terbang cukup jauh. Rasanya sangat melelahkan karena ini pertama kalinya Kiara terbang, belum terbiasa. Mereka terbang terus ke timur melewati hutan menakutkan itu, padahal hutan itu sangat luas, cukup lama sampai mereka melihat padang hijau lagi, dan tak jauh dari situ terlihat pedesaan dengan rumah rumah kecil dengan jarak yang berjauhan.
"Veon, istirahat dulu ya, aku lelah." Kata Kiara sambil turun ke bawah, dia sudah tak mampu terbang lagi. Veon mengikutinya dan duduk di sebelah Kiara.
"Maaf Kiara, aku lupa ini hari pertamamu terbang." Katanya.
"Tidak apa apa." Kiara tersenyum menenangkan.
"Masukkan sayapmu, itu akan lebih cepat menghilangkan lelah." Kata Veon yang langsung dituruti Kiara.
"Sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Kiara sambil menatap langit.
"Sebentar lagi kita sampai." Kata Veon masih tak mau memberitahunya.
Kiara kembali mengembangkan sayapnya, rasa penasaran mengalahkan lelah yang menjalar di tubuhnya.
"Ayo lanjutkan perjalanan." Ajak Kiara penuh semangat.
"Baiklah." Kata Veon sambil kembali terbang.
Tak berapa lama, mereka turun di depan mulut hutan yang tidak terlalu lebat, tapi pohon pohonnya sangat tinggi menjulang. Mereka masuk ke dalam hutan dengan berjalan kaki. Hutan ini terang karena pohonnya tumbuh jarang, jadi tidak menakutkan.
Mereka berjalan dalam diam. Perjalanan cukup berliku dan melelahkan. Pohon pohon di hutan ini terlihat sama, kalau Kiara sendirian, dia pasti tersesat di dalam hutan ini. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah yang terawat dengan baik. Rumah beratap rendah yang terlihat sangat nyaman. Seperti rumah peri yang lain, rumah ini juga terbuat dari batu alam asli. Pintu depan rumah ini di cat baby pink yang membuatnya terlihat mencolok di tengah hutan hijau ini. Sedangkan dindingnya di biarkan tak berwarna. Hanya saja tak ada satupun tumbuhan di sekitar rumah itu, padahal di sepanjang hutan ini tumbuh rumput dan tanaman liar dimana mana, tapi di sekeliling rumah itu tak ada tumbuhan satu pun.
"Ini rumah siapa?" Tanya Kiara.
"Kiara,," Panggil Veon sambil menatapnya dalam. " Ini rumah ratu tiga dunia sebelum kamu. Ratu Reyna, ratu seribu tahun lalu.
"Rumah ratu terdahulu?" Tanya Kiara bingung.
"Iya.. Saat aku tahu kamu adalah calon ratu, aku sangat frustasi Kiara. Aku benar benar takut kalau aku tak bisa bersamamu. Apalagi setelah itu kita tak pernah bertemu. Rasa rindu benar benar menyiksa jiwa dan ragaku." Veon berhenti, menghela nafas dalam.
"Aku terus menyibukan diriku melakukan apapun yang bisa kulakukan agar aku tak terlalu merasakan nyeri di hatiku. Aku banyak membaca buku tentang sejarah ratu tiga dunia, agar kelak aku bisa membantumu Kiara. Aku ingin melindungimu dengan kemampuanku sendiri." Jelas Veon
Kiara diam, menunggu Veon melanjutkan cerita.
"Sampai akhirnya aku menemukan rumah ini, rumah ratu Reyna. Di dalam buku tidak banyak di jelaskan tentang rumah ini, hanya terdapat peta dan sebuah peringatan bahwa rumah ini di segel." Lanjut Veon.
"Jadi, kita tak bisa masuk ke dalam?" Tanya Kiara.
"Rumah ini di segel agar tidak ada orang lain yang bisa masuk kecuali ratu." Jawabnya.
"Lalu, untuk apa kita kesini kalau kita tak bisa masuk ke dalam?" Tanya Kiara heran.
"Kiara, kamu adalah ratu. RATU! Jadi kamu bisa masuk ke dalam." Kata Veon gemas. Sesaat Kiara terdiam. Benar, aku memang ratu tiga dunia.
Pelan, Kiara mulai melangkah menuju rumah itu. Rumah ratu Reyna di kelilingi pagar dengan tanaman merambat setinggi perut. Kiara memegang pintu gerbang kecil di tengah pagar itu lalu membukanya pelan.
Kiara melangkahkan kakinya memasuki pekarangan tanpa tanaman itu hingga tiba tiba,,, tubuhnya terpental ke belakang beberapa meter. Rumah itu menolaknya untuk memasukinya. Kenapa? Bukankah aku ini ratu? kenapa aku juga tak bisa memasuki rumah itu?
"ckckck, kamu belum sepenuhnya jadi ratu Kiara, Baru calon. Calon Ratu!" Kata sebuah suara di belakang. Itu bukan suara veon. Itu suara...
"Kak Alden? Bagaimana bisa ada disini?" Tanya Veon pada sosok di belakang Kiara. Kiara terpental cukup jauh sampai melewati Veon yang berdiri tak jauh dari pagar.
"Aku ingin menemui ratu, saat berpindah, tahu tahu sudah ada di sini." Jawab Alden penuh senyum.
Veon dan Alden berjalan menghampiri Kiara, dan dalam saat yang bersamaan, mereka berdua mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Kiara melihat Veon dan Alden bergantian, tak tahu harus memilih tangan siapa.
Karena merasa tak enak, Kiara lebih memilih untuk berdiri sendiri, dia menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan bangkit berdiri dengan mudah.
"Ehmm.." Alden berdehem, terlihat sekali dia merasa tak enak dan salah tingkah. Veon hanya tersenyum canggung kepada Kiara.
"Jadi,, ada apa mencariku?" Tanya Kiara pada Alden.
"Tidak ada yang penting, hanya ingin melihat ratu belajar terbang." Jawab Alden ringan.
"Kiara cepat belajar kak, aku baru mengajarinya sekali dan dia sudah bisa terbang sejauh ini." Jawab Veon.
"Benarkah? syukurlah kalau begitu." Kata Alden dengan senyuman khasnya.
"Lalu, apakah aku tidak bisa masuk ke dalam rumah itu?" Tanya Kiara yang masih penasaran pada rumah ratu Reyna.
"Bukan tidak bisa, tapi belum bisa Ratuku." Jawab Alden.
"Sebenarnya apa yang ada di dalam sana?" Tanya Kiara lagi.
"Hanya benda benda pribadi ratu Reyna. Tapi menurutku mungkin bisa membantu untuk membimbingmu menjadi ratu yang baik Kiara." Kali ini Veon yang menjawab tanya Kiara.
"Berarti perjalanan kita hari ini sia sia saja?" Tanya Kiara lesu. Dia sudah terbang sangat jauh untuk sampai ke rumah ini tapi akhirnya dia bahkan tak dapat masuk ke dalamnya.
"Apa maksudmu sia sia Kiara? Bukankah kamu sedang belajar terbang? Hitung hitung ini untuk pengalamanmu." Kata Veon.
"Iya, tapi kan tak harus sejauh ini." Protes Kiara sebal.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu tidak bisa masuk ke sana. Ku pikir kamu pasti bisa masuk karena kamu ratu berikutnya." Jelas Veon terlihat sedikit murung.
"Sudahlah tidak apa apa. Aku hanya malas membayangkan terbang kembali ke istana, pasti sangat melelahkan." Kata Kiara.
"Apa aku harus menggendongmu lagi Kiara?" Tanya Veon dengan senyum jahil yang menawan.
Wajah Kiara memerah ketika ia ingat dulu Veon pernah menggendongnya. Sekarang Kiara tahu bahwa terbang itu sangat melelahkan apalagi kalau harus membawa seseorang, bebannya jadi bertambah.
"Aku bisa terbang sendiri." Kata Kiara cemberut mencoba menyembunyikan rasa maluku.
"Tak perlu terbang, kan ada aku ratuku." Kata Alden tiba tiba dengan nada bicara seperti super hero yang datang menyelamatkan sang putri.
"Lalu? Bagaimana kita ke istana kalau tidak terbang?" Tanya Kiara.
"Kemarilah, kamu juga Ve." Kata Alden meminta Kiara dan Veon mendekat padanya.
Tanpa aba aba Alden memegang tangan Kiara dan Veon, lalu mengucap mantra "Movens Arce." Dan sedetik kemudian, mereka sudah berada di aula besar istana peri.
"Wahhh, menyenangkan sekali kalau bisa sihir seperti itu. Tak perlu lelah melakukan sesuatu." Kata Kiara terkagum.
"Sebentar lagi ratu pasti juga bisa sihir." Kata Alden.
"Benarkah?" Tanya Kiara.
"Tentu, ratu adalah perpaduan dari tiga dunia. Manusia, peri dan kegelapan. Tentu saja ratu akan memiliki semua yang di miliki makhluk di ketiga dunia." Kata Alden.
Kiara terdiam, dia memperhatikan Alden dengan seksama. Sejauh Kiara mengenalnya, dia terlihat sama seperti manusia di dunianya. Tak seperti peri yang punya sayap, Dunia kegelapan punya ciri ciri fisik apa? Apa sama seperti manusia? Hanya saja mereka bisa sihir?
"Kenapa melihatku seperti itu ratuku? Aku tahu aku memang tampan. Apa ratu sedang terpesona padaku?" Seringaian jahil Alden berhasil membuat pipi Kiara memerah karena tertangkap basah sedang memperhatikannya.
"Aku tidak memandangmu! Dan lagi, aku tidak sedang terpesona padamu pangeran narsis!" Kata Kiara cemberut. Kenapa hari ini mereka senang sekali menggodaku?!
"Hahahaha. Menyenangkan sekali menggodamu ratuku." Tawa Alden melihat reaksi Kiara, sementara Veon hanya tersenyum simpul dengan pandangan yang sulit diartikan.
*********
"Ahhh." Desah Daniel sambil mengacak rambutnya frustasi.
Kenapa kadang waktu berjalan sangat pelan? Aku merasa sudah berjam jam berada di sekolah, tapi bel pulang tak kunjung berbunyi juga. Aku sudah tak berminat menghadapi buku buku yang entah apa isinya. Pikiranku hanya tertuju pada satu hal. Menjemput Kiara. Aku sudah sangat merindukan sosoknya. Sedang apa dia sekarang? Apa sudah bisa terbang?
Biasanya aku selalu memandangnya yang duduk tak jauh dari bangkuku. Menyenangkan sekali mengamati segala ekspesi yang keluar dari wajahnya. Tapi sekarang tak ada yang bisa ku perhatikan.
Benar benar membosankan!!
Daniel sama sekali sudah tidak bisa fokus pada pelajaran. Dia habiskan sisa waktu dengan mencoret coret buku sekenanya. Sampai akhirnya bel yang sangat ditunggunya berbunyi juga.
Daniel langsung menghambur keluar kelas dan bergegas mencari tempat yang sepi untuk menuju dunia peri. Daniel tidak ingin membuat orang ketakutan karena melihatnya yang tiba tiba menghilang begitu saja.
Digenggamnya liontin miliknya erat..
"Daniel..." Panggil sebuah suara. Untung saja cahaya putih belum keluar, jadi entah siapapun yang memanggilnya tidak melihatnya yang tiba tiba lenyap. Daniel menoleh ke arah sumber suara, disana terlihat Vani dan Sarah. Sahabat sahabat Kiara.
"Ya?" Tanya Daniel tak sabar. Dia ingin segera bertemu Kiara.
"Kiara kemana? Kenapa tidak ke sekolah?" Tanya Vani.
"Di dunia peri. Ini aku mau menjemputnya." Kata Daniel.
"Boleh kami ikut?" Tanya mereka serempak.
"Tidak bisa, maaf ya aku buru buru." Kata Daniel sambil berjalan menjauh.
"Sampaikan pada Kiara bahwa kami menunggunya di rumah." Kata Sarah.
"Baiklah." Sedetik kemudian Daniel menghilang. Menyisakan dua orang sahabat Kiara yang masih saja takjub melihat mereka yang bisa berpindah dunia dengan mudahnya.
**********
-to be continue-