"Hoammm." Kiara menguap dengan mata yang masih mengantuk.
“Aduhhh badanku rasanya sakit semua. Semalaman aku tidur dengan posisi tengkurap karena sayapku sama sekali tak bisa di masukkan ke dalam tubuhku.”
"Hemmmmm, udaranya segar sekali. Sangat berbeda dengan Jakarta. Disini aku masih bisa mencium bau bunga dan rumput basah."
Tok tok tok
"Ya?" Tanya Kiara saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. Upss salah, bukan kamarku, bekas kamar Veon yang di pinjamkan padaku sementara aku disini.
"Ini aku Veon." Kata Veon sambil membuka pintu kamar dan melongokkan kepalanya sedikit.
"Masuklah." Kiara tersenyum lembut.
"Baru bangun ya? Kamu kelihatan berantakan sekali." Kata Veon sambil nyengir lebar.
Kiara baru menyadari kalau Veon sudah rapi dengan Kemeja hijau lumut polos dan celana panjang warna hitam yang melekat pas di tubuhnya. Mendadak Kiara jadi sangat malu karena dia masih memakai baju tidur yang di pinjamkan ratu Kayla padanya dan rambutnya... Ahhh,,, benar benar berantakan.
"Ahh... Cepat keluar, aku mau mandi dulu." Kata Kiara setengah berteriak.
"Hahaha. Baiklah baiklah, aku hanya ingin menyampaikan, ibu sudah menyiapkan beberapa baju untukmu di dalam lemari. Kamu bisa memakai apa saja yang kamu suka." Kata Veon lalu menghilang di balik pintu.
Bkbkbk
"Ahhh..." Jerit Kiara tertahan. Dia tiba tiba melayang karena sayapnya bergerak tanpa bisa dikendalikan.
"Kenapa Kiara?" Tanya Veon yang sudah kembali masuk ke dalam kamar. Dia celingak celinguk mencari Kiara karena kiara terbang lumayan tinggi, kepalanya sampai menyentuh langit langit kamar.
"Astaga, kamu sampai diatas." Kata Veon kaget sambil mengembangkan sayapnya dan menyusul Kiara keatas. Kemudian dia menariknya lembut sampai kakiku kembali menjejak lantai.
"Baiklah, lebih baik kuajari dulu bagaimana memasukkan sayapmu ke dalam tubuh. Kalau sayapmu terus mengembang seperti ini, kamu akan kesulitan melakukan apapun." Kata Veon dengan mendudukan Kiara di ranjang.
Kiara menjawabnya dengan anggukan.
"Sekarang coba kamu pejamkan matamu." Kata Veon. Dan Kiara menurutinya.
"Rasakan sayapmu yang menyatu dengan punggungmu. Alirkan energimu kesayapmu. Kamu harus menganggapnya sebagai bagian tubuhmu." Kiara terus menuruti kata kata yang di ucapkan Veon.
"Sudah? Coba kamu gerakkan sayapmu pelan." Kata Veon. Kiara mencoba menggerakkan sayapnya dengan mata masih terpejam. Tapi dia tak merasakan apapun. Sayapnya diam saja.
"Tidak bergerak ya? Padahal sudah kucoba." Gumam Kiara lemas.
"Tidak apa apa. Pertama memang sedikit susah. Kiara, kamu harus menganggapnya sebagai bagian dari dirimu. Kalau kamu sendiri belum bisa menerima keberadaan sayapmu pada dirimu, sayapmu tak akan menurut pada perintahmu. Anggap sayapmu seperti tangan tambahan atau apalah, yang bisa membuatmu nyaman." Kata Veon dengan tatapan yang melelehkan. Kiara bukannya berkonsentrasi pada kata katanya, tapi malah sibuk memperhatikan mata coklatnya yang menghanyutkan itu.
"Baik, aku coba lagi." Kata Kiara sambil memejamkan mata.
Kiara kembali mencoba merasakan sayapnya. Mencoba menyatu dengan organ baru di dalam tubuhnya. Perlahan dia coba menggerakkannya seperti saat dia menggerakkan tangan.
Bkbk..
"Ahhh Aku berhasil." Teriak Kiara girang.
"Iya benar begitu Kiara, tidak sulit kan?" Tanya Veon. Kiara menjawabnya dengan anggukan cepat yang sangat antusias.
"Sekarang kita coba memasukkan sayapmu, tidak susah Kiara, caranya seperti tadi." Kata veon.
"Karena kamu sudah mengerti dasarnya, ini akan mudah. Caranya seperti saat kamu ingin menarik tanganmu dan menyembunyikannya di belakang punggungmu. Hanya saja, nanti sayapmu akan masuk ke dalam punggungmu." Jelas Veon panjang lebar.
"Apakah akan sakit?" Tanya Kiara karena teringat pertama kali sayapnya muncul.
"Tidak sakit Kiara. Aku biasa mengembangkan dan memasukkan sayapku sesuka hati. Apa kamu melihatku kesakitan?" Kata Veon.
"Tidak."
"Ayo sekarang coba masukkan sayapmu.”
Kiara kembali memejamkan mata. Merasakan sayapnya. Dan mencoba menariknya ke dalam tubuh.
Bkbkbk
Tapi yang ada sayapku malah bergerak liar.
"Bukan di gerakan Kiara. Di tarik ke dalam. Ayo coba lagi." Kata Veon lembut.
Kiara menurut dan kembali mencoba menarik sayapnya ke dalam tubuh. Susah! Berkali kali ia coba tapi sayapnya tetap bertenger cantik di punggung. Kiara hampir putus asa.
"Tidak apa apa Kiara. Pasti bisa. Coba lihat aku." Veon berdiri membelakangi Kiara. Dia mengembangkan sayapnya dan mengepak ngepakkan pelan. Kemudian, dengan sangat pelan, sayap itu perlahan lahan masuk ke dalam punggungnya. Kelihatannya sangat mudah.
Kiara mencoba lagi. Dia mulai terbiasa untuk menggerakkan sayapnya. Kiara memusatkan perhatian pada sayap barunya. Merasakan energi yang mengalir ke dalam sayapnya. Lalu mencoba menariknya ke dalam tubuh. Tiba tiba saja tubuhnya terasa lebih ringan. Apa aku melayang lagi?
"Kamu berhasil Kiara." Seru Veon sambil mengacak pelan rambut Kiara.
Kiara memegang punggungnya untuk memastikan. Benar, sayapnya sudah tidak ada. Pantas saja tubuhnya terasa lebih ringan. Sayapnya memang besar dan berat. Karena belum terbiasa jadi terasa berat badannya bertambah.
"Ya sudah kamu mandi dulu saja. Aku tunggu di ruang makan ya." Kata Veon dengan senyum khasnya.
"Ya." Jawab Kiara dengan mata berbinar bahagia.
*********
"Ibu?" Caith mengetuk pelan pintu kamar ayah dan ibunya.
"Masuklah Caith." Kata ratu Kayla dari dalam kamar.
Terlihat ayah dan ibunya masih duduk di balkon kamar mereka dengan di temani secangkir Viridi.
"Apa ada yang penting? Kenapa sepagi ini sudah mencari ibumu?" Tanya Ayahnya lembut.
"Iya." Jawab Caith sambil duduk di salah satu kursi di dekat ibunya.
"Katakanlah nak.”
"Veon... Kumohon biarkanlah Veon bersama Kiara." Kata Caith tanpa basa basi.
"Apa yang kamu katakan Caith." Bentak ibunya yang langsung marah mendengar ucapan anak sulungnya.
"Tolong pelankan suara ibu, aku tak ingin Veon mendengar semua ini." Caith menatap ibunya dengan tatapan memohon.
"Kenapa kamu berpikiran begitu nak?" Tanya ayahnya dengan bijak.
"Aku... Sudah lama sekali tak melihat senyum bahagia di wajah Veon. Lama sekali sampai saat dia bertemu dengan Kiara. Aku seperti menemukan kembali adik kecilku yang dulu. Veon sudah lama menderita. Selama ini dia tinggal di rumah yang sangat jauh dari kata layak. Tak pernah kembali kemari. Tak pernah mendapat kasih sayang ayah dan ibu. Sudah saatnya dia kembali bahagia bu. Ku mohon hentikan hukuman untuk Veon dan biarkan dia bersama Kiara." Kata Caith dengan suara tertahan. Matanya berair.
Lama raja dan ratu terdiam mendengar kata kata Caith.
"Baiklah. Ayah akan mencabut hukuman Veon selama ini. Dia boleh kembali tinggal di istana. Soal Kiara, biar ibumu yang memutuskan." Kata ayah yang langsung mengembangkan senyum di bibir Caith.
"Ibu..." Kata kata Caith terputus oleh ucapan ibunya.
"Ibu tak akan pernah membiarkan Veon bersama Ratu. Kamu lihat sendiri kan warna sayap mereka berbeda? Mereka tidak berjodoh Caith." Kata ratu Kayla tegas.
"Aku tidak peduli mereka berjodoh atau tidak. Aku hanya ingin melihat Veon merasakan bahagia bersama orang yang di cintainya." Kata Caith keras kepala.
"Itu hanya akan menyakiti Veon lebih parah lagi di kemudian hari." Kata ibu tetap pada pendiriannya.
"Aku mohon bu. Setidaknya jangan hukum Veon lagi. Jatuh cinta itu bukan kesalahan. Biarkanlah mereka bersama. Biarkan Veon bahagia." Kata Caith memohon..
"Keluarlah, ibu akan memikirkannya." Ratu Kayla terlihat lelah.
"Tapi bu...."
"KELUAR!!" Bentak ibunya yang berhasil membuat Caith terlonjak kaget. Caith berjalan keluar kamar tanpa berkata sepatah katapun.
*******
"Pagi tante." Sapa Daniel pada mama Kiara.
"Nak Daniel sudah datang. Ini pesenan kamu. Makanan kesukaan Kiara." Kata Liana yang sudah menunggu di beranda ketika Daniel datang.
"Terima kasih tante. Kiara pasti senang." Daniel tersenyum sopan.
"Kapan Kiara pulang nak? Apa dia masih kesakitan?" Tanya Liana.
"Tidak tante, Kiara baik baik saja. Nanti Daniel akan mengajak Kiara pulang." Jawab Daniel masih dengan senyumnya.
"Syukurlah, tante sudah kangen sama Kiara."
"Daniel pamit dulu tante." Kata Daniel sopan.
"Salam tante buat Kiara ya nak." Daniel mengangguk lalu sedetik kemudian dia menghilang.
********
Kiara membuka lemari pakaian setelah dia selesai mandi. Matanya terbuka lebar melihat baju baju yang berjajar rapi di depannya. Semuanya gaun gaun cantik yang sangat memikat. Dia sampai bingung untuk memilihnya. Semuanya benar benar indah.
Kiara mengambil satu yang terlihat paling ringan untuk bergerak, mengingat nanti dia harus belajar terbang dan mengendalikan sayapnya. Gaun ringan selutut berwarna ungu muda dengan punggung terbuka, ya.. semua baju di dunia peri memang berpunggung terbuka, mungkin untuk memudahkan saat mengeluarkan sayap.
Kiara berjalan riang menuju ruang makan dimana Veon sudah menunggunya.
"Kiara, kamu terlihat sangat cantik dengan gaun itu." Sapa sebuah suara begitu dia sudah menginjakkan kaki di ruang makan. Itu kan... Daniel? Apa dia sakit? Kenapa dia memujiku seperti itu? hahh Aneh!
"Te.. Terima kasih." Jawab Kiara sedikit gugup. Dia tidak menyangka akan mendapat pujian dari Daniel. Ada apa dengan matanya? Aku merasa hari ini Daniel memandangku dengan cara berbeda.
"Duduklah Kiara." Kata ratu Kayla dengan sangat lembut.
Kiara menurut dan duduk di sebelah Veon yang sudah dengan cekatan menarikkan kursi untuknya.
"Cantik." Bisik Veon tepat di telinga Kiara. Dia tersenyum gugup dan langsung duduk.
"Kiara, ini titipan dari tante, katanya makanan kesukaanmu." Kata Daniel sambil memberikan kotak makanan kepada Kiara. Lagi, sikapnya benar benar berbeda hari ini. Kemana perginya si jutek Daniel?
Kiara membuka kotak yang diberikan Daniel dan langsung girang melihat isinya.
"Sushi." Kata Kiara sambil memasukkan satu potongan ke dalam mulutnya. “mmm … Lezat...”
"Ya sudah, ayo semuanya makan." Kata raja Eferhard. Kiara jadi sangat malu karena dia makan lebih dulu tanpa permisi sama sekali.
"Kiara, tante memintamu pulang." Kata Daniel di sela sela makan.
"Tapi Kiara belum bisa mengendalikan sayapnya Daniel." Kata Caith.
"Kurasa sehari cukup untuk belajar, sekarang saja Kiara sudah bisa memasukkan sayapnya ke dalam tubuh, kurasa nanti sore dia sudah bisa terbang." Kata Daniel.
"Ya, Kiara memang cepat bisa." Kata Veon lembut.
"Aku juga sudah rindu dengan mama, kalaupun nanti belum bisa terbang, besok kan bisa kesini lagi." Kata Kiara ceria.
"Benar. Jadi nanti sore aku akan menjemputmu kesini." Kata Daniel dengan senyum lembut. Kiara benar benar merasa aneh dengan perubahan sikap Daniel.
"Sudah, habiskan dulu makanannya." Sela ratu Kayla.
"Baik." Jawab Kiara tersenyum sopan.
"Ada yang ingin ku katakan padamu Kiara." Kata Daniel dengan tatapan lembut. Kiara benar benar tak mengenali sosok yang ada di depannya itu. Daniel 100% berbeda dengan biasanya.
Kami sedang berada di taman samping istana setelah sarapan tadi. Caith dan Veon entah menghilang kemana karena setelah sarapan mereka langsung pergi dan belum kelihatan sampai sekarang.
"Apa?" Tanya Kiara gugup. Dia tak tahu harus bersikap bagaimana pada Daniel.
"Aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan padaku setelah mendengar kata kataku ini. Aku hanya ingin lebih jujur pada diriku sendiri." Jelasnya panjang lebar yang membuat Kiara sangat penasaran. apa sebenarnya yang ingin di ucapkannya?
"Aku... Aku suka kamu Kiara. Aku jatuh cinta padamu sejak tiga tahun lalu…." Suara Daniel bergetar. Rasa lega sekaligus takut merengkuh hatinya dengan erat. Dia gemetar menunggu reaksi Kiara
Bkbkbkbk
Entah bagaimana, sayap Kiara tiba tiba keluar lagi. Dia benar benar gugup mendengar ucapan Daniel. Tangannya sekarang menjadi sangat dingin. Kiara tidak siap mendapat pernyataan cinta seperti ini, apalagi dari Daniel... Baru tadi pagi sikapnya tiba tiba berubah, sekarang ditambah lagi dia bilang mencintaiku. Sejak tiga tahun lalu?
"Apa aku harus menjawabnya sekarang?" Tanya Kiara dengan gugup.
"Apa kamu tidak ingin menjawabnya?" Daniel balik bertanya. Tatapannya itu,.. membuatku jengah.
"Bu,,, bukan begitu,, hanya saja.. aku.." Kata Kiara terputus.
"Tak perlu buru buru. Aku akan menunggu sampai kamu siap Kiara. Kamu tak harus menjawab sekarang." Kata Daniel dengan senyuman yang sangat..... lembut.
"Apa kamu marah?" Tanya Kiara tanpa sadar.
"Hahaha.. Tentu saja tidak. Kenapa aku harus marah? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun." Kiara tertegun melihat Daniel tertawa lepas di hadapannya. Selama ini Kiara hanya melihat muka masamnya saja. Baru kali ini dia melihat ekspresi lain di wajah Daniel.
"Biasanya aku selalu mengatakan kamu cerobohkan Kiara? Sebenarnya, saat aku mengatakan itu aku ingin sekali mengatakan kamu sangat manis. Entah bagaimana caranya, tapi dalam keadaan berantakanpun kamu bisa terlihat sangat manis. Setiap kamu ceroboh atau terjatuh. Ingin sekali aku menolongmu dan bilang, "kamu baik baik saja kan?" Tapi yang keluar dari mulutku selalu kata k********r yang menyebalkan. Aku sangat gugup jika berada di depanmu Kiara." Kata Daniel panjang lebar, matanya menerawang. Wajahnya penuh senyum seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat berarti.
Benarkah saat itu dia gugup? Sulit di percaya. Seorang Daniel, pangeran di sekolah kami, mana mungkin gugup di depan perempuan? Di depanku?
"Kamu tidak percaya padaku Kiara?" Tanyanya seperti bisa melihat ketidak percayaan di dalam mata Kiara.
"Bukan begitu. Tapi,, kamu,, tidak mungkin gugup di depan perempuan. Di depanku! Sejauh yang ku tahu, kamu sangat mudah bergaul dan disukai banyak orang. Jadi..." Kata-kata Kiara terputus
"Kamu cinta pertamaku Kiara. Jadi,, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadapmu. Aku hanya berani menjagamu diam diam. Menatapmu dari jauh. Menjaga perasaanku agar tidak ketahuan." Daniel memandang Kiara dalam. Menelusuri setiap bagian wajahnya.
"Kenapa tidak mengungkapkannya dari dulu? Tiga tahun itu sangat lama Dan.."
"Aku takut! Aku takut kamu menolakku dan menjaga jarak dariku. Mungkin menurutmu aku pengecut. Aku hanya tidak ingin kamu menjauh dariku." Kata Daniel menunduk. Membuat Kiara semakin salah tingkah. Seberarti itukah aku untuknya?
"Aku pikir semua akan baik baik saja." Lanjut Daniel. "Saat aku tahu kamu adalah calon ratu, aku merasa keputusanku benar dengan tidak mengungkapkan perasaanku padamu. Karena peraturannya, pemegang kunci tidak boleh menikah dengan ratu." Kata Daniel dengan menunduk semakin dalam. Kelihatan sekali dia sedang menyembunyikan beban berat di hatinya.
Aku baru tahu ada peraturan seperti itu. Ratu tidak boleh menikah dengan pemegang kunci? Kenapa? Ahh,, aku benar benar buta tentang peraturan tiga dunia.
"Tapi..." Lanjut Daniel, kali ini dia menatap lurus ke dalam mata Kiara. "Saat aku melihatmu bersama Veon, entahlah,,, dadaku rasanya mau meledak. Sangat menyakitkan. Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku tidak ingin menyesal karena ketakutanku. Maka dari itu sekarang aku putuskan akan lebih jujur pada diriku sendiri. Aku akan lebih jujur padamu Kiara. Aku akan mengatakan apa yang memang ada di dalam hatiku. Tidak akan menutupinya dengan sikap ketus yang menyebalkan lagi." Daniel berhenti bicara, ditatapnya Kiara dengan lembut. Aku jadi sulit bernafas. Tatapannya seperti bisa melelehkanku.
"Kiara..." Panggil Daniel lembut. Dia mengangkat tangannya dan mengusap kepala Kiara lembut. "Aku mencintaimu.."
Kiara hanya diam menatapnya. Sama seperti Veon, Kiara tidak tahu perasaan apa yang bergejolak di dalam dadanya.
"Aku hanya minta agar aku tetap bisa berada di sisimu Kiara, tak apa kalau kamu tidak ingin menjawabnya sekarang." Kata Daniel dengan mata sedikit meredup.
Apa dia kecewa karena aku hanya diam saja? Tapi aku benar benar tak tahu harus berkata apa.
"Tentu saja, kamu temanku Daniel." Kata Kiara.
"Teman ya?" Gumam Daniel sambil memandang jauh ke depan.
"Bukan begitu, itu bukan jawaban dariku, itu hanya, itu.. aku memperbolehkanmu tetap berada di sisiku." Tambah Kiara cepat. Dia benar benar tidak suka melihat ekspresi kecewa di wajah Daniel.
"Aku tahu." Kata Daniel sambil berdiri. " Baiklah, aku harus sekolah, kamu juga harus latihan terbang kan? Nanti sore aku jemput ya." Kata Daniel.
"Iya." Jawab Kiara sambil tersenyum.
Daniel melambaikan tangan pada Kiara kemudian menghilang ditelan cahaya putih.
Kiara berjalan pelan menyusuri lorong istana peri ini sepeninggalan Daniel. Caith dan Veon tidak kelihatan sama sekali. Kemana mereka? Kenapa meninggalkanku begitu saja? Nanti siapa yang mengajariku terbang?
Kiara dari tadi mencoba memasukkan dan mengeluarkan sayapnya, rasanya menyenangkan sekali karena sudah mulai bisa mengendalikanya. Meski kadang masih bergerak tak sesuai perintah.
"Ratu Kayla." Panggil Kiara saat melihat ratu Kayla berjalan di lorong lain di seberang lorong yang sedang dilewatinya.
Ratu Kayla melambai pada Kiara. Mengajaknya duduk di salah satu kursi taman dekat tempatnya berdiri. Kiara mengangguk dan berjalan memutar menuju tempat ratu kayla berada.
"Aku menyesal, seharusnya aku yang menghampirimu ratu Kiara, aku lupa kamu belum bisa terbang." Kata ratu Kayla begitu Kiara duduk di sebelahnya.
"Tidak apa apa ratu, lagipula tidak terlalu jauh." Kata Kiara sambil tersenyum tulus.
"Tetap saja aku merasa tidak enak." Kata ratu Kayla sambil memperlihatkan senyum termanisnya yang.... Sangat mirip dengan Veon.
"Ratu Kayla, kenapa Caith dan Veon tak terlihat dari tadi? Aku sudah berkeliling istana tapi tak melihat mereka di manapun."
"Oh,, Apa mereka tidak pamit padamu? Caith dan Veon sedang ke rumah Veon untuk mengambil barang barang milik Veon, Hukuman Veon sudah di hentikan Kiara, Veon akan kembali ke istana lagi." Jawab ratu Kayla penuh senyum.
"Benarkah?" Kiara telihat senang. "Syukurlah, akhirnya sekarang Veon bisa merasakan kebahagiaan bersama keluarganya." Kata Kiara spontan.
Ratu Kayla tampak tertegun mendengar ucapan Kiara. "Maafkan aku ratu Kayla, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu." Kata Kiara sambil menunduk.
"Menurutmu,,, Veon orang seperti apa Kiara?" Tanya ratu Kayla tiba tiba.
"Apa maksud ratu?" Kiara tampak tak memahami arah pembicaraan ratu Kayla.
"Di matamu, Veon sosok seperti apa?" Tanya ratu Kayla.
"Veon?,, ehmm.. Dia orang yang baik. Saat pertama kami bertemu,... Dia orang yang menolongku saat aku pertama kali terdampar di dunia peri. Dia sangat periang dan banyak menghiburku, meskipun akhirnya dia tahu bahwa aku ini manusia, dia tetap bersikap baik padaku. Dia bisa membuatku merasa nyaman meskipun kami baru saling mengenal." Jelas Kiara panjang lebar.
"Hanya itu?" Tanya ratu kayla.
"Iya, dia teman yang sangat baik dan menyenangkan." Kiara menambahkan. Sepertinya ratu Kayla menginginkan jawaban yang lebih?
"Apa tanggapanmu tentang perasaan Veon padamu ratu?" Tanya ratu Kayla. Ahhh,, kenapa ratu Kayla harus menanyakan hal seperti ini? Aku harus mmenjawab apa???
"Ehhh, itu... Aku sendiri tidak tahu.." Kiara terbata.
"Apa kamu tidak mempunyai perasaan yang sama seperti perasaan Veon padamu?" Tanya ratu Kayla yang semakin membuat Kiara tak nyaman.
"Aku tidak tahu ratu Kayla, Aku tidak tahu perasaan apa yang kumiliki untuk Veon. Aku hanya merasa senang jika melihatnya tersenyum, dan,,, kadang juga hatiku sangat nyeri saat melihat Veon menderita. Aku benar benar tidak tahu perasaan apa ini." Jawab Kiara jujur.
"Ya sudah, saya harus pergi dulu ratu." Kata ratu Kayla sambil terbang entah kemana. Apa dia marah? Apa jawabanku tak sesuai harapannya? Entahlah, setidaknya aku tidak berbohong padanya.
**********
-to be continue-