Mereka tiba di rumah Daniel, tepatnya kamarnya. "Kenapa kamu selalu seperti ini Daniel? Apa salahku padamu? Kenapa kamu tak pernah sekalipun bersikap baik padaku?" Kiara terlihat marah pada Daniel.
"Apanya yang kenapa? Kita memang harus pulang, keluargamu pasti khawatir." Jawab Daniel mengelak.
"Kamu menyebalkan!" Teriak Kiara sambil berlari keluar kamar.
"Ayo Daniel, kejar dia." Bisik Daniel pada dirinya sendiri. Tapi tubuhnya hanya diam mematung. Daniel terlihat ragu. Dia terlalu takut. Entah apa sebenarnya yang ditakutkannya.
"Kiara." Terdengar teriakan dari arah ruang tamu.
"Mama papa, kenapa masih disini?" Tanya Kiara pada kedua orang tuanya.
"Bagaimana kami bisa pulang ke rumah sedangkan anak kami menghilang begitu saja di depan mata kami." Jawab Liana sambil memeluk anak semata wayangnya itu.
"Nak, kenapa tadi kamu tiba-tiba lenyap dari hadapan kami?" Tanya Hardi dengan suara bergetar.
"Semua yang di ceritakan Daniel benar pa. Ada dunia lain selain dunia kita. Dan mungkin benar kalau Kiara itu calon ratu." Jawab Kiara dengan wajah sendu
Papa dan mama Kiara kembali memeluk anak tercintanya itu dalam isak tangis. Kenapa harus menangis? Jadi seorang ratu bukanlah hal yang harus di tangisi kan?
"Ayo pulang ma, Kiara mau istirahat." Kata Kiara sambil bersandar di bahu mamanya.
"Iya sayang." Jawab mamanya penuh cinta.
"Sarah, Vani, kalian nginep di rumahku ya. please..." Kata Kiara dengan tatapan memohon kepada dua sahabatnya itu.
"Tentu." Jawab mereka berdua serempak.
"Ya sudah, kami pulang dulu ya pak, bu." Kata Liana pada Joseph dan ibu Daniel.
"Kiara pamit ya om, tante." Kata Kiara dengan senyum khasnya. Tapi.. Dia sama sekali tidak pamit pada Daniel.
"Kami pulang ya, Ayo Daniel." Kata Vani dengan khas nya yang selalu ceria.
Kiara sedikitpun tak memandang ke arah Daniel.
“Kiara, tolong jangan bersikap seperti ini padaku. Hatiku sudah cukup sakit tanpa perlu kamu tambahi dengan sikap dinginmu itu.” Daniel terlihat menderita dengan perlakuan Kiara.
*********
Tak ada yang menyadari perubahan ekspresi Sarah. Dia terlihat murung, menahan amarah.
“Hehh,, Apa Aku harus berhenti sebelum berperang? Sebenarnya kenapa keadaan selalu membuat posisiku seperti ini? Selalu Kiara, selalu saja Kiara yang jadi pusat perhatian. Tak apa, aku tak pernah keberatan dengan itu. Dia memang yang paling sempurna di antara kami bertiga. Tapi... Sekarang,, kenapa Danielku juga harus lebih memperhatikannya..” Batin Sarah.
“Cinta pertamaku..”
“Kenapa dia juga lebih "melihat" Kiara daripada aku.”
“Dia bahkan juga menjadi Ratu?? Hahhh.. Kiara benar benar di kelilingi kebahagiaan.”
“Apa semua orang selalu lebih menyukai gadis manja yanag selalu tersenyum manis? Lalu bagaimana denganku? Apa aku yang hanya sedikit lebih tomboy ini tak patut di perhatikan?” Api kecemburuan mulai membara didalam hati sarah.
*********
"Jadi??? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Vani begitu mereka bertiga tiba di kamar Kiara.
"Seperti yang di katakan Daniel dan ayahnya tadi. Mungkin aku benar benar calon Ratu. Aku sendiri tidak begitu yakin sih." Jawab Kiara.
"Ra? Sejak kapan lo pake bahasa aku kamu?" Tanya Vani dengan ekspresi lucunya. Dia selalu begitu, tak mempedulikan suasana apapun, selalu ada saja yang dia komentari. Dia dapat mengembangkan senyum siapapun dalam suasana apapun.
"Hehehe, iya ya, kok aku kebawa gini sih sama bahasanya Veon." Jawab Kiara cengengesan.
"Tu kan, aku lagi. Siapa tuh Veon?" Tanya Vani penasaran.
"Ehmmm....." Kiara sengaja menggantung kalimatnya, dia begitu merindukan untuk bercanda dengan sahabat sahabatnya. Meski hanya 2 hari, rasanya sudah seperti berminggu minggu bagi Kiara.
"Siapa ra???" Tanya Vani lagi.
"Seseorang yang menolongku ketika Aku pertama datang ke dunia peri." Jawab Kiara penuh senyum. Mengingat Veon memang selalu menyenangkan.
"Dunia peri?" Tanya Vani. Bukannya menjawab pertanyaan Vani, Kiara lebih berfokus pada Sarah.
"Sarah? Lo kenapa? Dari tadi cuma diem saja?" Tanya Kiara.
"Iya ya, aku baru nyadar dari tadi lo cuma diam sa." Celetuk Vani.
"Jelas nggak sadar. Kan sekarang Kiara yang sedang dapat perhatian." Jawab Sarah ketus.
"Lo kenapa si Sa? Nggak biasanya lo seperti ini. Jelas kita merhatiin Kiara, dia baru saja hilang. HILANG. Dan baru kembali. Emang lo nggak penasaran apa yang terjadi sama dia kemarin?” Tanya Vani dengan arif.
“Iya hilang! Begitu pulang sudah jadi ratu!” Jawab Sarah lebih ketus lagi.
“Sarah?!” Vani menatap heran pada Sarah. Sarah hanya membuang muka, terlihat jelas gurat gurat kemarahan di wajah sarah. Hening menyelimuti mereka bertiga.
“Lo suka sama Daniel kan?” Tanya Kiara memecah hening. Sarah dan Vani langsung menoleh pada Kiara.
“Lo marah karena nggak suka gue deket sama Daniel kan sa?” Tanya Kiara lagi.
“Jangan asal ngomong.” Kata Sarah kembali membuang muka.
“Gue tahu sa. Kita sahabatan sudah dari kecil. Gue sudah hapal sifat dan kebiasaan lo. Gue sudah ngerasa, sikap lo beda ketika ada Daniel. Lebih lebih sekarang. Sudah jelas lo suka dia.” Kata Kiara di susul oleh kerjapan Vani tak percaya. Sarah hanya diam membisu.
“Lo beneran suka sama Daniel sa?” Tanya Vani. Sarah masih tetap diam. Kiara dan Vani memilih ikut diam. Sepakat menunggu sarah bicara.
“Daniel tu cinta pertama gue.” Kata sarah akhirnya. Vani langsung melotot kaget.
“Serius lo sa? Cowok jutek itu?” Tanya Vani.
“Dia sebenernya nggak jutek kok, Cuma sedikit pendiam.” Jawab Sarah acuh.
“Terlepas dari dia jutek apa tidak, dia memang keren sih...” Kata Vani senyam senyum nggak jelas.
Hening kembali menyelimuti mereka bertiga.
Kiara mengambil tangan Sarah, menggenggamnya erat meski Sarah sempat protes. “Sarah, percaya sama gue, gue sedikitpun nggak punya perasaan apapun sama Daniel. Jadi jangan khawatir. Gue nggak akan merebutnya dari lo.” Kata Kiara lembut sambil menatap dalam mata sarah.
“Ra...” Panggil sarah dengan mata basah, hampir menangis. Kiara hanya menjawabnya dengan senyum.
“Maafin gue ra, gue iri banget sama lo. Lo selalu di kelilingi kebahagiaan. Beda sama gue.” Kata sarah sedikit terisak.
“Itu karena lo Cuma lihat gue.” Kata Kiara tersenyum. Sarah memandangnya penuh tanda tanya.
“Kan tadi lo bilang semua orang Cuma merhatiin gue. Lha elo sendiri juga Cuma merhatiin gue. Buktinya, lo ngiri sama gue kan? Itu karena lo tidak mermperhatikan apa saja yang sudah ada pada diri lo.” Kata Kiara lembut. Sarah hanya menunduk mendengar ucapan Kiara.
“Sarah, semua orang pasti sudah di bagi antara kebahagiaan dan cobaan sesuai porsinya. Jadi kita nggak perlu saling iri.” Kata Vani sambil memeluk sarah.
“Maafin gue ra.” Kata sarah di sela sela isaknya.
“Nggak papa, Ayo tidur, cape banget rasanya.” Kata Kiara yang di susul anggukan dari kedua sahabatnya.
*********
"Ayah," Panggil Alden pada ayahnya yang sedang duduk mengantuk di meja kerjanya.
"Hemm." Sahut ayahnya dengan mata masih terperjam.
"Aku baru saja bertemu dengan ratu." Kata Alden dengan ceria, Alden merasa begitu senang bisa bertemu dengan ratu karena tak semua pemegang kunci bisa bertemu ratu. Ratu hanya muncul setiap seribu tahun sekali.
"Bukankah setiap hari kau bertemu dengan ibumu." Jawab ayah Alden yang belum paham dengan maksud anaknya. Ya, sama seperti keluarga Caith, di dunia gelap, pemegang kunci juga jadi keluarga kerajaan disini. Tahta di wariskan turun temurun dari leluhur. Hanya dunia manusia saja yang berbeda.
"Yang ku maksud ratu bukan ibu yah, tapi ratu tiga dunia." Jawab Alden sedikit merajuk
Ayah Alden langsung membelalakan mata yang tadinya mengantuk dan menatap Al tak percaya.
"Kamu benar-benar bertemu ratu tiga dunia?" Tanya ayah Alden mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"He em." Jawab Al singkat. “Dia sangaaatttt cantik yah." Lanjutnya dengan senyum mengembang.
"Jadi ratu sudah muncul. Sudah seribu tahun...." Raja Anthoni –ayah Alden- terlihat menerawang.
"Iya, dan dia sangat manis. hahhh, pasti setelah ini hari hari jadi pemegang kunci tidak akan membosankan lagi." Kata Al kemudian, masih dengan senyum mengembang.
"Apa kamu menyukainya Al?" Tanya Anthony penuh selidik.
"Tentu. Dia sangat cantik dan juga menyenangkan. Siapa saja pasti akan menyukainya." Ayahnya terlihat kaget dengan jawaban Alden.
"Aku hanya menyukainya yah, bukan jatuh cinta padanya. Aku tahu peraturannya, pemegang kunci tidak boleh menikah dengan ratu. Begitu kan?" Raja Anthony terlihat lega dan mengangguk arif.
"Dia berasal dari dunia mana?" Tanya Anthony kemudian
"Dunia manusia, keberadaannya di ketahui berkat kecerobohan Daniel. Dia menitipkan liontin bintang pada Kiara, tak di sangka liontin itu bereaksi padanya. Dari situlah jati dirinya sebagai ratu di ketahui." Tutur Alden sesederhana mungkin.
"Lalu, dimana ratu tiba saat pertama kali menggunakan kunci?" Tanya Anthony penasaran.
"Dunia peri. Dan hebatnya secara tidak sengaja Veonlah yang menemukannya. Untung bukan peri lain. kalau tidak, entah bagaimana nasib ratu sekarang."
"Veon?" Tanya Anthony.
"Iya.. Ayah tahu, Veon jatuh cinta pada ratu, dia sudah bertemu ratu sejak awal dan jatuh cinta. Dia jadi kena marah Caith begitu tahu kalau Kiara itu adalah ratu." Cerita Al panjang lebar. Alden memang terbiasa menceritakan apapun pada ayahnya. Ayah adalah teman curhat yang menyenangkan baginya.
"Apa?" Mata Anthony terbelalak mendengar penuturan Alden. "Bagaimana bisa seorang peri jatuh cinta pada manusia?"
"Tidak tahu, kenyataannya begitu." Jawab Al ringan.
"Apa kau pikir itu mungkin? Bukankah peri punya hukum mutlak tentang jodohnya. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada orang yang bahkan tidak punya sayap." Kata Anthony dengan ekspresi yang menurut Alden menyebalkan.
"Bukankah ratu nantinya juga punya sayap?" Kata Al.
"Ayah tahu. Tapi rasanya janggal ada peri jatuh cinta pada manusia." Kata Anthony masih dengan ekspresi yang sama.
"Apa yang sedang ayah coba katakan padaku?" Tanya Al sebal.
"Menurut ayah, cinta Veon hanya rekayasa. Dia tahu Kiara itu calon ratu makanya dia bilang jatuh cinta padanya. Agar dia bisa memiliki sang ratu untuk kepentingan dunia peri." Jawab Anthony yang seketika membuat Alden marah.
"Veon bukan orang seperti itu. Aku mengenalnya sejak kecil. Dia sudah seperti adikku sendiri." Kata Alden sambil langsung meninggalkan ruangan ayahnya.
“Ayah memang begitu, kadang kadang sifat buruknya keluar. Selalu berprasangka buruk pada orang. Itu sifat yang paling tidak kusukai dari keluargaku. Untung aku lebih mewarisi sifat ibu yang sangat lembut.” Gerutu Alden.
"Ahhhhhh... Aku butuh udara segar. Lebih baik aku ke tempat Daniel."
*******
"Ayah memanggilku?" Tanya seseorang dari balik pintu kepada raja Anthoni.
"Iya, kemarilah nak." Sahut Anthony.
"Ada apa?" Tanya anaknya yang sekarang duduk di hadapannya. Wajah anak itu sama persis dengan Alden.
"Kamu tahu tentang ratu tiga dunia kan?" Tanya Anthony.
"Tahu ayah." Jawab Elden. Saudara kembar Alden.
"Sekarang sang ratu sudah muncul." Kata raja Anthoni.
"Benarkah?" Tanya Elden dengan senyum merekah. Bahkan ekspresi wajahnya pun sama dengan Alden.
"Ayah punya tugas untukmu." Kata raja anthoni.
"Kenapa kakak belum cerita padaku, wahhh apa sang ratu cantik ya?? Aku tak sabar ingin melihatnya." Gumam Elden tak mengindahkan kata kata ayahnya.
"Ayah sedang bicara padamu El." Kata raja anthony sedikit gusar dengan tingkah putranya.
"Ah,, maaf ayah, aku terlalu senang jadi lupa sedang berhadapan dengan ayah." Kata pemuda itu dengan senyum polos.
"Ayah ingin kamu melakukan sesuatu untuk dunia kita." Kata raja anthony kemudian.
"Apa itu?" Tanya Elden kelihatan tak sabar. Meski terlihat sedikit kekanakan. Bagaimanapun dia adalah pangeran. Jadi dia sangat peduli pada dunianya.
"Kamu... Dekatilah sang ratu. Buatlah dia jatuh cinta padamu." kata raja Anthony dengan menatap lurus mata Elden.
*******
"Daniellllll....." Bisik sebuah suara tepat di samping telinga Daniel.
"Apa yang kau lakukan disini? Ini sudah larut malam." Kata Daniel gusar sambil membungkus tubuhnya dengan selimut, berharap Alden segera pergi.
"Ahhhh, kamu tidak setia kawan! Aku sedang butuh teman bicara." Kata Alden yang sebal Daniel tak kunjung keluar dari balik selimut. Alden itu, kadang kadang sangat dewasa dan bijak. Tapi kalau sedang keluar manjanya ya seperti ini. Benar benar seperti balita yang menyusahkan.
"Ke tempat Caith saja sana." Kata Daniel masih dari dalam selimut.
"Aku rindu padamu, kenapa aku harus menemui Caith." Kata Alden. Kata katanya sukses membuat Daniel merinding.
"Apa maksudmu rindu?" Kata Daniel sambil bangun, meski selimut tetap membungkus tubuhnya. Daniel duduk dengan hanya wajahnya yang terlihat.
“Iya, aku rindu padamu." Kata Alden yang sekarang duduk tepat di hadapan Daniel. Alden mengangkat tanganya setinggi d**a, lalu mengucapkan sesuatu. Dan seketika itu pula, selimut yang dipakai Daniel terbang di atas kepalanya.
"Apa yang kau lakukan?" Kata Daniel sedikit terpekik.
"Apa? Aku hanya melepas selimutmu. Bukankah sudah ku katakan,,, Aku... R.I.N.D.U padamuuuu." Kata Alden sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada Daniel.
"Cepat kembalikan selimutku, aku kedinginan!" Daniel sedikit membentak.
"Dingin ya? Aku bisa menghangatkanmu." Kata Alden dengan senyum yang tak bisa diartikan.
"ALDEN!!!" Kali ini Daniel benar benar berteriak. Dia terlihat PANIK!!
"Hahahahahahahaha." Alden tertawa terbahak bahak. Daniel menatapnya bingung. Jangan jangan....
"Kamu selalu mudah di kerjai Daniel. Hahahaha. Menyenangkan sekali menggodamu seperti itu. hahahahaha." Alden terus tertawa sambil memegangi perutnya.
"Cepat kembalikan selimutku." Kata Daniel sambil cemberut.
"Hei, kenapa kamu marah, aku hanya bercanda." Kata Alden sedikit khawatir, dia pikir Daniel benar benar marah.
"Kembalikan selimutku." Kata Daniel masih cemberut.
"Baiklah baiklah. sudah jangan marah begitu." Alden menurunkan selimut Daniel tepat diatas kepalanya dan menutupi seluruh tubuh Daniel.
"Hahahahahaha..." Alden kembali tertawa melihat Daniel tertutup selimut karena ulahnya.
“Huhh, dia pikir hanya dia yang bisa bercanda! Aku juga bisa.” Daniel menggenggam erat liontinnya. "Caith." Bisik Daniel pelan. Seketika Daniel sudah ada di sisi ranjang Caith yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Tanpa mengatakan apa apa Daniel langsung tidur di sampingnya. Terserah kalau nanti Caith terbangun, Daniel benar benar sangat lelah. Dia hanya ingin segera tidur.
"Lho? Kemana si Daniel? Kok ngilang? Kenapa cuma ada selimutnya ya? Apa aku salah mengucap mantra sihir? Ah tidak mungkin. Pasti dia menggunakan kunci dan pindah ke tempat Caith. Dasar Daniel tidak setia kawan. Huhhh.” Alden menggerutu sebal.
"A ha. Ke tempat ratu saja. Dia sudah tidur belum ya? hemm, pasti menyenangkan menemui ratu.”
"Baiklah.. aku akan kembali ke duniaku dulu lalu aku akan ke tempat ratu. Hihihi senangnya.” Dan dalam sekejap cahaya putih mengisi ruangan itu.
“Jadi seperti ini kamar ratu? Lumayan besar. Lebih luas di banding kamar Daniel.” Kamar Kiara bercat baby pink dengan nuansa yang sangat girly. Cocok dengan kepribadiannya
"Ehhh? Kenapa perabotan dikamar ratu kotak kotak begini semua? meja persegi coklat polos. Lemari juga kotak crem polos. Ini terlalu biasa untuk jadi perabotan di kamar ratu. Ratu harus memiliki perabot yang lebih mewah dari semua ini.” Alden melihat sekeliling kamar Kiara sambil mengangguk-angguk tak jelas.
“Ehmm,,, mungkin aku harus gunakan sedikit sihirku untuk ratu. Pertama untuk lemari... Immutare." Ucap Alden, dan seketika lemari di kamar Kiara berubah menjadi lebih megah dengan ukiran-ukiran rumit yang sangat cantik.
"Sempurna... selanjutnya, meja... Immutare. Hemm bagus bagus. Lalu cermin rias,,, Immutare." Meja dan cermin pun berubah menjadi lebih indah.
"Sekarang ranjangnya... Oh? Kenapa ada tiga orang disini? Apa ini saudara ratu? Wahh, semuanya perempuan. Tapi tetap ratuku yang tercantik."
"Ehh, Wajah ratu saat tidur benar benar,,, pasti semua lelaki akan berdesir hatinya. Membuat semua orang ingin melindunginya. Aku mengerti sekarang kenapa Veon sampai jatuh cinta pada sang ratu.”
“Ahhh, tidak boleh memandangnya terlalu lama, dia adalah ratu. Ingat itu Alden. Cepat mengubah ranjangnya setelah itu pulang... Immutare.” Begitu ranjang milik Kiara berubah Alden langsung kembali ke dunia kegelapan.
*******