"Ahhhh... Mataku sama sekali tak bisa terpejam." Veon terlihat gelisah sendirian di dalam kamarnya.
"Kiara... Ternyata kamu seorang ratu.. Harusnya aku sadar dari awal, bagaimana mungkin ada manusia biasa yang bisa berada di dunia peri.” Veon merasa begitu bodoh.
Veon memang tak seharusnya jatuh cinta pada Kiara, sekalipun dia bukan ratu.. Kiara tetaplah manusia, tapi sungguh Veon tak dapat mengendalikan perasaannya sendiri. Mau bagaimana lagi? Veon sudah terlanjur mencintainya. Cinta yang teramat mendalam. Kalau raja dunia peri sudah tahu Veon jatuh cinta pada ratu. Mungkin dia akan di buang ke luar negeri, atau mungkin di penjara. Entahlah,,, sepertinya Caith belum mengatakan apapun pada ayahnya.
"Kiara.... Semoga benar kamu adalah jodohku. Kalau tidak, entah apa yang akan ku alami, hidup tanpa seseorang yang kelak mendampingiku. Peri hanya jatuh cinta sekali seumur hidup, dan aku sudah jatuh cinta padamu...”
“Tapi... Manusia bisa jatuh cinta berkali kali. Tidak apa apa, asal aku bisa jadi salah satu di antara banyak orang yang kau cintai itu sudah cukup. tidak apa apa, asal aku pernah berada di dalam hatimu, itu sudah cukup. Tidak apa apa, walaupun sejenak, asal aku bisa berada di sisimu, itu juga cukup. Agar selanjutnya aku bisa hidup dengan kenangan itu. Meski nantinya aku tak dapat bersamamu, asal aku punya kenangan manis di antara kita, itu cukup membuatku bahagia.”
"Kiara.... Aku tak dapat berhenti mencintaimu...”
*******
"Lho? Kakak tak ada di kamar? Dimana dia selarut ini?” Elden merasa kecewa begitu mendapati kamar kakaknya kosong.
Kau, dekatilah sang ratu, buat dia jatuh cinta padamu.
“Kenapa ayah memintaku melakukan hal seperti itu. Bagaimana mungkin aku menggoda sang ratu. Apa kak Alden sudah tahu tentang hal ini?”
"El? Kenapa tidur di kamarku?" Suara Alden mebuyarkan lamunan El.
"Kakak sudah pulang. Aku menunggumu." Kata El girang.
"Eh?" Gumam Alden sambil mengangkat 1 alisnya. Entah bagaimana dia melakukannya, Elden selalu iri karena tak pernah bisa mengangkat alisnya seperti yang di lakukan Alden.
"Cepat ceritakan tentang ratu kak." Kata El tak sabar.
"Kau sudah tahu? Aku kan belum cerita." Kata Alden heran.
"Ayah yang cerita padaku. Apakah dia cantik?" Tanya Elden penuh semangat.
"Hemm, tentu. Sangat cantik dan menyenangkan. Auranya begitu memikat." Kata Alden penuh senyum.
"Dia dari dunia mana?" Tanya El lagi.
"Manusia." Jawab Alden singkat.
"Benarkah? Undanglah dia kesini. Aku ingin sekali melihatnya." Kata Elden sedikit merengek. Baiklah, beda umur mereka memang hanya 30 menit tapi Elden benar benar kekanakan di banding kakaknya. Walau sebenarnya Alden juga kadang muncul sifat anak kecilnya.
"Hahaha, sabarlah El, kau pasti akan menyukainya."
"Kak..." Kata El sengaja menggantung kalimatnya.
"Ya?" Jawab Al santai.
"Tadi ayah memintaku melakukan sesuatu." Kata El pelan.
"Apa? Sekolah ke luar negeri lagi?” Alden merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia tampak lelah.
"Bukan itu. Tadi... Ayah memintaku untuk merayu sang ratu agar jatuh cinta padaku." Kata El lambat.
"Apa???" Elden sudah menduga kalau Alden akan langsung emosi mendengarnya. Dia langsung bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar.
"Kakak? Mau kemana?" Elden mengikuti langkah Alden dari belakang. Alden tak mengatakan sepatah katapun. Hanya terus berjalan sambil mengepalkan kedua tanganya. Kelihatan sekali kalau dia sedang marah.
Sampai di depan ruangan raja, Alden langsung membuka pintu tanpa mengetuknya dulu. Padahal ini sudah larut malam. Alden mengabaikan kesopanan begitu saja.
"Kenapa ayah bertingkah seperti itu?" Tanya Alden setengah berteriak. Wajahnya mengeras menahan marah.
"Apa yang kau lakukan larut malam begini Al?" Itu suara ibu, terlihat cemas.
"Jawab aku ayah." Kata Al masih dengan kemarahan yang sama.
"Sudah jelas kan, jangan mau kalah dengan dunia peri. Mereka saja menginginkan ratu, kenapa kita tak bisa melakukan hal yang sama?" Kata Anthony enteng.
"Aku mengenal Caith dan Veon dengan baik. Cinta Veon bukan rekayasa seperti yang ayah katakan. Dia benar benar jatuh cinta pada ratu." Kata Alden masih dengan kemarahannya yang memuncak.
“Apa tadi katanya? Veon jatuh cinta pada ratu? Pada manusia? Bagaimana bisa?” Elden tersentak kaget.
"Entah itu rekayasa atau bukan. Kalau mereka berhasil memiliki ratu, maka ratu ada di pihak mereka. Dan kita? Tak akan punya apa apa jika kita tidak bertindak." Kata Anthony dengan nada menyebalkan.
"Apa ayah ingin perang seribu tahun lalu terulang kembali? Hanya karena untuk memperebutkan sang ratu kita harus mengorbankan semuanya?" Kata Alden dengan mata berkilat penuh kemarahan.
"Kalau itu memang perlu." Kata Anthony dengan nada bicara semakin menyebalkan."
"Ayah!!" Bentak Alden.
"Buka matamu! Ratu berasal dari dunia manusia, dan dia akan menikah dengan Veon. Jadi kedudukan dunia manusia dan dunia peri akan sangat kuat, sedangkan kita? Kita tak akan di anggap oleh sang ratu." Kata Anthony panjang lebar.
"Itu tak akan terjadi ayah. Aku sangat mengenal Caith dan Daniel. Mereka tak kan melakukan apapun yang akan mencelakai dunia kita." Jawab Alden.
"Tapi kau tak mengenal sang ratu!" Kata Anthony.
"Aku akan mengenalnya. Dan akan ku pastikan tak kan ada hal seperti yang di takutkan ayah." Kata Alden mantap.
"Kalau ternyata kau salah?" Kata ayah.
"Aku sendiri yang akan menanganinya." Kata Alden dengan nada penuh penguasa. Dia benar benar sudah siap menggantikan posisi Anthony. Dia terlihat dewasa dan bijaksana.
Anthony hanya diam tak merespon kalimat Alden. Lalu Al keluar meninggalkan ruangan ayahnya dengan langkah lebar lebar. Dia terlihat benar benar muak.
"El." Panggil Anthony pelan ketika Elden hendak keluar menuju kamarnya.
"Iya ayah." Jawab Elden.
"Tetaplah laksanakan perintah ayah. Tak perlu beritahu Alden tentang ini." Kata Anthony.
"Tapi ayah, kak Alden bilang...." Belum selesai Elden bicara, ayahnya langsung memotongnya.
"Ini perintah ayah, jangan membantah. Pelan pelan saja, senatural mungkin. Jangan biarkan Alden tahu." Kata ayahnya lagi.
Elden hanya mengangguk kecil dan meninggalkan ruangan ayahnya.
“Aku memang tak pernah bisa membantah ayah seperti kakak. hahh,,, Aku payah kan?”
*********
"Hoammm..." Kiara terbangun dengan Badan yang serasa remuk, sakit semua. Mungkin karena kelelahan dan stres selama 2 hari ini.
Sarah masih terlelap di sisi kirinya. Sedangkan Vani juga baru bangun. Kiara sendiri malas mengangkat tubuhnya untuk sekedar duduk di ranjang. Masih merasa nyaman bergelung di dalam selimut.
"Ra.. Kita ada di mana?" Tanya Vani dengan wajah bingung bercampur panik.
"Apa maksudmu, tentu saja kita di ka..." Kata kata Kiara terputus saat dia melihat sekelilingnya. Ini memang kamarnya, tapi semua perabotannya.... Semuanya berbeda....
"Apa yang terjadi???" Jerit Kiara tanpa sadar.
"Apaan sih ra? pagi pagi sudah ribut." Kata Sarah yang baru terbangun karena jeritan Kiara.
"Ada apa sayang?" Kata Liana sambil membuka pintu kamar Kiara lebar, Papanya menyusul di belakangnya.
"Kamarku.." Kata Kiara bingung.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan statusmu sebagai ratu?" Kata Vani spontan.
"Ahh, benar, mungkin saja. Aku akan ke tempat Daniel." Kata Kiara penuh semangat.
Sampai tiba tiba tubuh Kiara seperti disedot oleh sesuatu. Cahaya putih itu keluar lagi. Bagaimana mungkin?? Kiara bahkan tak memegang liontin Daniel.
Dan dalam sekejap Kiara kembali berada di tempat asing.
"Dimana lagi iniiiii????" Jerit Kiara putus asa. Yang jelas ini pasti sebuah kamar tidur.
“Ahhhhh. aku terdampar dimana lagiiiii!!!!”
Baru saja semalam dia tidur nyenyak di kamarnya sendiri, sekarang sudah di tempat antah berantah lagi.
“Di lihat dari gaya bangunannya, sepertinya ini rumah orang kaya. atau peri kaya, atau.... ehhh,,, penduduk dunia kegelapan itu apa ya? hahhh, kapan kapan aku harus tanya Daniel!”
Ranjang besar nan megah tergeletak kokoh di tengah ruangan. Di belakang ranjang ada jendela besar dengan kaca bening yang memperlihatkan halaman di depan kamarnya. Tapi? Kenapa di luar masih gelap? Bukannya saat Kiara berpindah tadi sudah pagi? Di samping kanan jendela ada lemari pakaian besar memanjang sampai di pojok ruangan. Lemari itu sangat cantik dengan ukiran ukiran indah yang menghiasi setiap jengkal daun pintu lemari itu.
“Tunggu...”
“Ukiran itu, sepertinya aku pernah melihatnya..”
“Tapi dimana ya..”
Tak jauh dari lemari pakaian ada sebuah pintu yang mengarah entah kemana. Di pintu itu juga ada ukiran yang sama dengan di lemari tadi. Karena penasaran dengan ukiran itu, Kiara mendekati pintu itu dan menelusuri ukiran ukiran cantik itu dengan jemarinya.
Cklik..
Terdengar suara daun pintu yang di putar. Seiring dengan terbukanya pintu yang sedang diamati Kiara.
“Oh tidak... Apa yang harus ku lakukan???”
“Sembunyi.. aku harus sembunyi sebelum pemilik kamar ini melihat keberadaanku.” Dan Kiara memilih untuk bersembunyi di dalam lemari.
*********
"cit cit cit cit" Suara burung pipit selalu membangunkan Caith tiap pagi.
Ya.. memang para peri bisa berkomunikasi dengan hewan. Apalagi peri hutan, mereka bahkan bisa bicara dengan tumbuhan. Meski peri hutan sedikit berbeda dengan peri lain, mereka bertubuh kecil bahkan bisa ditangkup dengan kedua tangan.
"Terima kasih, kamu boleh pergi sekarang." Kata Caith pada burung pipit kesayangannya itu.
"Ahhh," Jerit Caith spontan saat dia melihat seseorang yang tidur dengan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut di sampingnya.
Tidak ada yang berani tidur di ranjangnya kecuali Veon. Tapi Veon sudah tidak tinggal di istana sejak bertahun tahun lalu.
"Berisik Caith." Kata seseorang yang sedang bergelung di dalam selimut. Caith sangat hapal dengan suara ini.
“Daniel... Apa yang kau lakukan di kamarku??" Tanya Caith sebal.
"Aku? Menginap disini." Kata Daniel dengan kepala menyembul dari balik selimutnya. Matanya masih terlihat mengantuk.
"Hahh??" Jadi semalaman aku tidur denganmu?” Tanya Caith kaget.
"Kenapa? Kita sesama lelaki. Tak kan terjadi apapun meskipun kita tidur seranjang." Kata Daniel yang kini duduk di hadapan Caith.
"Aku tidak yakin. Sekalipun aku belum pernah melihatmu punya pacar." Kata Caith mencoba meledek Daniel. Daniel memang gampang terpancing ketika digoda. Caith dan Alden suka sekali mempermainkannya.
"Sekalipun aku suka sesama lelaki aku takkan tertarik pada cowok kurus sepertimu Caith." Kata Daniel enteng.
Caith benar-benar kaget. Secara otomatis dia memundurkan duduknya.
"Hahahaha, kena kau." Kata Daniel tertawa puas. Tumben dia bisa membalas.
"Lalu apa yang terjadi sampai kamu menginap di kamarku?" Tanya Caith menghentikan guyonan mereka.
"Semalam Alden menggangguku. Jadi aku kabur kesini." Jawabnya sembari beranjak menuju kamar mandi.
"Ya sudah kamu mandi dulu saja, aku mau ke dapur minta disiapkan satu porsi lagi untukmu." Kata Caith sambil beranjak keluar kamar.
Di istana memang berbeda dengan rumah peri yang lain. Istana punya kamar mandi pribadi. Bunga flos aquae hanya tumbuh di tempat tertentu, tapi di istana bunga ini ada di setiap kamar. Para peri menggunakan bunga ini untuk mandi. Seperti mengerti apa yang mereka inginkan. Setiap mereka berada di bawah tangkainya, bunga ini akan mengeluarkan air wangi dengan sendirinya.
.......
"Ayo, ayah dan ibu sudah menunggu di ruang makan." Kata Caith ketika Daniel selesai mandi.
"Aku kan sudah bilang tak usah sarapan, percuma aku sarapan disini, takkan kenyang." Kata Daniel menggerutu. Makanan peri memang berbeda dengan manusia. Peri hanya makan biji bijian, buah dan sayuran. Seperti yang kalian tahu. Peri bisa berkomunikasi dengan hewan, jadi tidak mungkin mereka memakannya.
Dan biasanya mereka langsung makan makanan tanpa memasaknya terlebih dahulu. Hanya beberapa bahan yang memang perlu di olah khusus.
"Aku sudah terlanjur bilang pada ibu kalau kamu mampir kemari, jadi sempatkanlah sarapan dulu." Kata Caith membujuk Daniel.
"Baiklah." Jawab Daniel sambil mengekorinya menuju ruang makan.
**********
"Nona.. sampai kapan kamu mau berada di dalam lemari? Aku bahkan sudah melihatmu sebelum kamu berhasil masuk ke dalam sana. Kalau mau bersembunyi, seharusnya kamu lari lebih cepat." Kata sebuah suara yang baru saja masuk dari balik pintu.
Kiara terlalu malu untuk keluar, tapi juga tak bisa berada di dalam sana selamanya. Belum lagi bagaimana reaksinya melihat Kiara nanti, orang asing yang tiba tiba berada di dalam kamarnya. dan lagi Kiara ini manusia.
"Apa kamu mau disana terus? Aku mau ganti baju jadi tutup matamu dulu ya, Aku terbiasa membuka seluruh pintu lemariku saat ganti baju, untuk memilih setelan yang pas di pakai hari ini.”
"Baiklah! Aku akan keluar." Kata Kiara akhirnya.
Dan.. saat Kiara berhasil keluar dari dalam lemari.. di depannya.. berdiri sesosok laki laki berbadan tinggi tegap. Well. tubuhnya memang terlihat seperti manusia biasa. Tapi,,, kenapa dia hanya pakai handuk???
"Kyaaaa." Jerit Kiara spontan.
"Ratu? Kenapa ada di sini?" Kata cowok itu kaget melihat Kiara.
"Tacitus." Katanya lagi sambil menggerakkan tangannya di depan Kiara. Dan seketika mulut Kiara terkatup rapat.
"emmm emm emmmemm emem." Kata Kiara dengan mulut masih terkatup rapat. Bibirnya sama sekali tak bisa di buka sedikitpun.
"Maafkan aku ratu, tapi aku tak ingin ada yang tahu keberadaanmu disini." Katanya dengan senyum manis.
Seperti dapat membaca kebingungan di wajah Kiara, dia langsung menjawab tanyaku tanpa di minta.
"Ini aku, Alden. Pemegang kunci dari dunia gelap. Ratuku." Katanya dengan kepala sedikit di tundukkan tanda hormat.
“Ahh, iya. Kenapa aku menjadi pelupa seperti ini ya.” Batin Kiara
"Ratu, tolong menghadap ke tembok sebentar, aku ingin ganti baju." Kata Alden dengan nada memerintah.
“Apa apaan itu? Bukankah aku ratunya? Kenapa dia memerintahku seperti itu?”
"Atau ratu ingin melihatku ganti baju?" Tanyanya dengan senyum jahil yang menawan.
"ehhmmmm." Gumam Kiara dengan mata melotot. Ingin sekali dia berteriak. Dan sejurus kemudian aku langsung menghadap tembok sambil menutup mata.
"hahahaha." Terdengar dia tertawa puas mengerjai Kiara.
"Silahkan duduk ratuku." Kata Alden ketika selesai mengganti baju dan menarikkanku sebuah kursi. Lagi lagi dengan hiasan ukiran indah yang entah aku pernah melihatnya dimana.
Kiara duduk tanpa mengatakan apapun. Ya.. Kiara memang sedang tak bisa bicara. Alden menarik sebuah kursi lagi dan duduk di hadapan Kiara.
"Baiklah ratuku. Aku akan melepaskan sihirku, tapi barjanjilah kamu tidak akan berteriak seperti tadi." Katanya dengan nada berwibawa. Kiara menjawabnya dengan anggukan.
"Magia est amitti." Katanya sambil mengayunkan lengan di depanku.
"A.." Kiara mencoba menggerakkan bibirku dan ternyata sudah kembali seperti semula.
"Terima kasih." Kata kiara sambil tersenyum semanis mungkin.
Alden membalas senyumku dengan senyuman maut yang menawan hati. Hahhh kenapa ada orang yang bisa tersenyum sesempurna itu. Ohh, aku lupa, dia bukan manusia.
"Jadi? Apa yang membawamu kemari ratuku?"
"ehm, aku tadi ingin mencari Daniel, tapi tiba tiba tubuhku serasa di sedot dan entah bagaimana aku sudah ada disini." Jelasku.
"Apa liontin Daniel masih ada pada ratu?" Tanya Alden.
"Tidak." Jawabku singkat.
"Hemm, menarik." Desah Alden pelan.
"eh? Apanya yang menarik?" Tanyaku Kiara heran.
Elden tersenyum misterius. Yang entah bagaimana sangat cocok dengan wajah tampannya. "Gaun tidurmu ratuku."
"Oh." Aku mendadak menjadi sangat malu. Aku memang masih memakai gaun tidur yang... ahhhh... aku ingin menghilang sekarang juga.
"hahahaha. Wajah ratu sangat menggemaskan saat memerah seperti itu." Kata Alden dengan tatapan jahil.
Kiara melotot kepadanya.
"Iya iya maaf ratuku. Jadi sekarang kita ke tempat Daniel saja, bagaimana?" Tanya Alden memberi saran.
"Tidak dengan pakaian seperti ini." Kataku cemberut.
"Masalah itu tak usah khawatir ratuku. Immutare." Kata Alden yang lagi lagi menyihir Kiara.
Seketika gaun tidur putih Kiara yang tanpa lengan dan hanya sebatas paha berubah menjadi gaun pesta sebatas lutut warna pink pucat dengan detail bunga bunga kecil merah di bagian bawahnya. Sangat cantik. Ini gaun terindah yang pernah Kiara kenakan seumur hidupnya.
"Gaun cantik untuk ratuku yang cantik." Kata Alden sambal mengecup punggung tangan Kiara
"Ya sudah, ayo ke tempat Daniel." Kata Kiara. sebelum pipinya berubah merah di tatap seperti itu.
"Kemarikan tanganmu ratu." Kata Alden sambil mengulurkan tangannya seperti hendak mengajak berdansa. Ya.. dia memang memiliki pesona seorang bangsawan dengan sikap yang matang dan berwibawa. Bahkan caranya melangkahpun seperti sudah di perhitungkan dengan sangat detail. Kiara menyambut tangannya dengan seanggun mungkin.
" Daniel." Kata Alden pelan. Cahaya putih itu keluar dari liontin Alden dan langsung menyelimuti tubuh mereja. Seketika mereka berada di hadapan Daniel.
Tapi...
Tak hanya ada Daniel disana. Ini juga bukan rumah Daniel.
Daniel duduk di depan meja makan panjang dengan banyak kursi di kanan kirinya. Seluruh tembok ruangan ini terbuat dari batu. Dengan jendela jendela besar megah yang mempertontonkan taman yang terhampar luas.
Kiara yakin ini dunia peri. Karena di samping Daniel duduklah Caith dengan ekspresi heran yang sangat lucu. Di ujung meja ada seorang laki laki seumuran Ayah Kiara duduk dengan mahkota bertenger cantik di atas kepalanya. Pasti dia ayah Caith, raja dunia peri. Dan di sisi seberang, tepat di hadapan Caith duduk seorang wanita yang sangat cantik yang Kiara yakin itu adalah ibunda Caith meski beliau masih terlihat muda.
"Ratu? Kenapa kemari sepagi ini?" Tanya Caith masih dengan wajah herannya.
"Dan kenapa kamu bisa bersamanya al?" Tanya Daniel pada Alden dengan tatapan yang menusuk.
"ehm? tadi ratu berkunjung ke kamarku, katanya mau mencarimu tapi tersesat sampai ke tempatku." Jawab Alden enteng.
"Kamarmu?" Tanya Daniel dan Caith serempak.
"Iya." Jawab Alden tanpa beban
"Kalian berdua duduklah dulu." Kata ibu Caith dengan sangat lembut.
"Terima kasih ratu Kayla." Kata Alden dengan senyum menawannya.
"Jadi siapakah nona cantik ini?" Tanya ayah Caith ketika Kiara dan alden sudah duduk di samping Daniel.
"Dia Kiara, Ratu tiga dunia, raja Eferhard." Jawab Alden yang lagi lagi membuatku kagum dengan sikapnya.
"Ratu tiga dunia?" Gumam ratu Kayla tercengang mendengar pernyataan Alden, tapi sejurus kemudian dia tersenyum manis. Veon, cara ratu kayla tersenyum sama seperti Veon. Ahh, aku jadi rindu pada peri yang satu itu.
Melihat istana ini, sangat bertolak belakang dengan tempat tinggal Veon sekarang. Veon pasti bersusah payah menyesuaikan hidup dengan keadaan sederhana seperti itu.
"Senang bisa bertemu denganmu ratu. Ini suatu kebanggaan bagi saya. Tidak semua pemegang kunci bisa bertemu dengan ratu." Kata ratu Kayla dengan khidmad.
Aku tidak mengerti? Harusnya yang berkata begitu kan raja Eferhard.
"Kau pasti berpikir pemegang kunci sebelumku adalah ayah kan ratu? hehehe kau terkecoh." Kata Caith.
"Jadi ratu kayla dulu juga pemegang kunci? Wahh hebat." Kataku kagum.
"Bukan masalah hebat atau tidak, kemampuan sebagai pemegang kunci di turunkan turun temurun kepada anak pertama di keluarga kami. Kebetulan saja saya adalah anak pertama, jadi sayalah yang menjadi pemegang kunci." Cerita ratu Kayla.
“Tetap saja bagiku ratu sangat hebat." Kata Kiara penuh senyum.
"Tentu saja ratuku yang lebih hebat. Tugas dan tanggung jawab ratu jauh lebih besar di bandingkan pemegang kunci." Kata ratu Kayla.
Kiara seakan tersadar. Benar juga. Ada hal besar yang sedang menungguku di depan sana. Siap atau tidak semua itu akan di bebankan kepadaku nantinya.
"Lalu, sebenarnya ada apa kau mencariku ra?" Tanya Daniel kemudian.
"Ah iya, tadi pagi, saat aku bangun tidur, seluruh interior di kamarku sudah berubah semua. Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanyaku.
"hehehe. Ratu... emmm... Itu sebenarnya aku yang mengubahnya." Kata Alden dengan cengengesan.
"Alden??" Tanya Kiara, Daniel dan Caith bersamaan.
"Maaf ratu, habis aku sebal sama Daniel. Dia meninggalkanku begitu saja, padahal aku sedang butuh teman, makanya aku mengunjungimu tadi malam." Kata Alden sedikit merajuk. Hahh imagenya yang dewasa dan bijaksana hilang sudah, sekarang dia benar benar terlihat sangat kekanakan.
"Kau malam malam masuk ke kamar ratu?" Tanya Daniel tak percaya.
"Iya, salahmu, kau meninggalkanku sendiri." Kata Alden masih dengan sikap anak kecilnya.
"Kau tahu itu tidak sopan Al!" Kali ini Caith yang bersuara.
"Ratuuu... Kau mau memaafkanku kan? Aku hanya ingin mengunjungimu, hanya waktunya saja yang tidak tepat. Lagipula aku sudah mengubah perabotanmu jadi lebih indah." Kata Alden membujuk Kiara.
Ah, aku ingat sekarang, ukiran yang ku lihat di kamar Alden sama persis dengan ukiran yang ada di kamarku. Huhh dasar tidak kreatif.
"Ratuu..uuu maaf ya..." Kata alden merengek.
"Iya tidak apa apa, tapi jangan sembarangan masuk kamarku tanpa ijin lagi." Jawab Kiara tenang.
"Terima kasih ratuku." Kata alden sambil mengambil tangan kanan Kiara lalu menciumnya. Oh.. sikap Alden benar benar sangat manis.
Baru saja Alden meletakkan tangan Kiara kembali, tiba tiba Daniel memegang tangan Kiara dan menariknya berdiri.
"Ayo Kiara, sudah hampir jam 7. Kita harus berangkat sekolah." Kata Daniel tanpa memandang Kiara.
"kami undur diri dulu." Kata Daniel sambil menggenggam liontinya. Dia selalu seperti ini. Dasar cowok jutek menyebalkan!!!
********
-to be continue-