episode 8

2082 Kata
"Apa kamu memikirkan apa yang ku pikirkan Caith?" Tanya Alden saat mereka berdua sudah berada di kamar Caith. "Tentang apa?" Tanya Caith. "Daniel. Yang aku lihat, sepertinya dia menyukai ratu kita." Kata Alden. "Ya, aku juga berpikir begitu." Kata Caith sambil memandang ke luar jendela. "Kau ingat cerita Daniel tentang teman sekelasnya yang pingsan karena gelap itu kan? Cinta pertama Daniel?" Tanya Alden sambil ikut berdiri di samping Caith. "Tentu. Apa menurutmu gadis itu adalah ratu?" Tanya Caith. "Ku pikir begitu." Jawab Alden. "Kasihan Daniel. Dia pasti sangat stres sekarang." Kata Caith sendu. "Sayang.. tak ada yang bisa kita lakukan." Gumam Alden pelan. "Ku pikir ada." Kata Caith kemudian. "Apa?" Tanya Alden sambil mengangkat sebelah alisnya. "Peraturan itu dulu di buat oleh para pemegang kunci kan? Kita bertiga juga pemegang kunci. Kita juga bisa membatalkan peraturan itu Al." Kata Caith menggebu gebu. "Jadi maksudmu, kita akan membatalkan peraturan tentang pemegang kunci yang tidak boleh menikah dengan ratu?" Tanya Alden sejelas mungkin. "Tepat sekali." Jawab Caith mantap. "Kau yakin Caith? Ingin mengubah peraturan tentang pemegang kunci yang tidak boleh menikah dengan ratu?" Tanya Alden pada Caith.             "Ehm." Katanya sambil mengangguk mantap. "Kenapa tidak." "Tapi itu terlalu beresiko Caith. Peraturan itu di buat untuk mencegah perang itu terulang kembali." "Kali ini berbeda Al. Hanya Daniel yang jatuh cinta pada Ratu, kita tidak kan? Jadi takkan terjadi perang hanya untuk memperebutkan ratu kita." Kata Caith masih kekeuh dengan pendiriannya. "Apa kau pikir seribu tahun lalu para pemegang kunci jatuh cinta pada ratu? Menurutku tidak, mereka hanya menginginkan kekuasaan dengan memiliki ratu." "Tetap saja, kita bertiga tidak seperti itu. Tidak akan terjadi apapun Al." "Aku tidak setuju, itu terlalu beresiko. Aku tidak mau mempertaruhkan masa depan dunia ini hanya untuk perasaan satu orang saja." Caith hanya diam mendengar kata kata Alden. "Aku tahu kau Caith. Lebih dari segalanya, kau sedang memikirkan Veon kan?" Caith masih diam, tak merespon kata kata Alden. "Daniel bukan orang yang perlu di khawatirkan Caith. Dia selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri. Kau paham benar itu kan?" "Kalau kita membatalkan peraturan itu, dua masalah terselesaikan. Daniel bisa bersama dengan ratu dan Veon akan terjauhkan dari bahaya." Kata Caith akhirnya. "Aku tetap tidak setuju! Daniel bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan Veon, apa kau tega melihatnya hidup sendirian sepanjang hidupnya? Hidup tanpa cinta? Aku memang belum pernah jatuh cinta tapi setahuku itu hal yang sangat berpengaruh pada kebahagiaan hidup kita." Kata Alden tegas. "Dia akan menemukan jodohnya Al. Saat dia bertemu dengan peri yang bersayap sama dengannya, dia akan langsung jatuh cinta dan melupakan ratu." Kata Caith dengan mata menerawang jauh. "Apa kau tak ingin bercerita pada ratu Kayla? Bukankah hal ini belum pernah terjadi sebelumnya?" Tanyaku pada Caith. Ini bukan basa basi atau apa, aku benar benar peduli pada Veon. Kasihan dia. Dia selalu hidup di bawah bayang bayang kakaknya. Tak pernah di anggap. Aku seperti melihat adiku, Elden. Hanya saja elden sedikit lebih beruntung, dia cuek jadi tidak terlalu memusingkan sekitarnya. Lagipula dia jenius, Elden adalah penyihir paling hebat di dunia kami. Makanya ayah sangat bangga padanya. Sedangkan Veon, dia tak memiliki sesuatu yang menonjol. Dari kecil yang ku lihat dalam mata Veon adalah luka. Dia sangat sangat ingin dekat dengan ibunya seperti Caith. Tapi dia tak pernah bisa. Yang dia lakukan selalu saja terlihat salah, padahal dia hanya ingin memperlihatkan bahwa dia bisa. "Tidak akan! Kamu tahu seperti apa ayah dan ibu. Mereka sama sekali tak bisa mentolerir kesalahan. Aku tidak ingin membuat Veon lebi menderita lagi." Kata Caith dengan wajah keruh. "Jatuh cinta itu bukan kesalahan Caith." Kata Alden. "Memang, yang salah adalah dia jatuh cinta pada ratu." Kata Caith dengan wajah merah menahan tangis. Caith dan Daniel itu sama di mata Alden. Mereka selalu menutupi rasa sayang mereka dengan sikap menyebalkan. Tak berani jujur di depan orang yang di sayanginya.             "Tak ada yang salah di mataku! Dia hanya jatuh cinta, meskipun itu ratu, itu bukan kesalahan." Kata Alden berkeras. "Kenapa kau terus membela Veon, Daniel juga jatuh cinta pada ratu, kenapa tak coba di tolong? Akan lebih baik jika ratu bersama Daniel. Kita hanya perlu membatalkan peraturan bodoh itu!" Caith terlihat tak dapat menahan lagi emosinya. "APA YANG KALIAN BICARAKAN!!!" Tiba tiba terdengar bentakan dari belakang kami. Terlihat ratu Kayla sudah berdiri di pintu kamar Caith dengan wajah penuh amarah. Oh tidak, dia pasti mendengar apa yang kami bicarakan. "Cepat jelaskan apa yang kalian bicarakan?" Bentak Ratu Kayla dengan wajah yang penuh amarah. "Apa maksud ibu, tidak ada apa apa bu." Jawab Caith mencoba berkilah. "Jangan membuat ibu lebih marah Caith. Apa maksud kalian tentang pembatalan peraturan? Dan apa maksudnya Veon dan Daniel jatuh cinta pada Ratu? Apa itu? Kenapa kalian semua bertindak begitu bodoh." Bentak Ratu Kayla lagi. "Ibu.. Itu... tidak.." Kata kata Caith terputus karena ibunya segera membentak. "Cepat panggil Veon kesini." Kata Ratu Kayla dengan penekanan suara yang membuatnya sangat menyeramkan. Hahhh, ibuku benar benar mengerikan saat marah. "Baiklah,," Jawab Caith menyerah.    "Al, kamu disini saja." Kata Caith pada Alden. Caith segera membuka jendela kamarnya dan mengembangkan sayap emas miliknya lalu terbang menuju rumah Veon. "Ahhh..." Terdengar jeritan di belakang Caith. Ohhh Dia lupa pada kondisi Alden. Segera saja Caith menyesal telah lewat jendela, bukan lewat pintu. Pasti sekarang kulit Alden terbakar. Caith berbalik dan segera menutup jendela kamarnya. Terlihat kulit tangan Alden yang menghitam terkena sinar matahari Caith terbang secepat yang dia bisa menuju rumah Veon. Saat rumahnya sudah terlihat, Caith lambatkan kepakan sayapnya dan mulai turun ke bawah. Tepat di depan pintu rumah Veon. Diketuk pelan pintunya. "Ve? Kau di dalam?" Tanya Caith. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Apa dia tidak di rumah? "Ve, ini aku Caith. Ayo buka pintunya." Kata Caith sambil terus mengetuk pintu. Tapi tetap tak ada jawaban. Caith coba memutar kenop pintu dan.. terbuka. Pintunya tak terkunci seperti dugaannya. Anak itu memang ceroboh. Rumah terlihat lengang. Pergi kemana anak itu! "Kakak...." Tiba tiba terdengar rintihan. Itu... suara Veon. Caith langsung menuju kamar Veon dan betapa terkejutnya dia melihat kondisi adiknya. Matanya hitam dan bengkak. Dari dalamnya terpancar kepedihan yang mendalam. Kulitnya pucat dan kering. Dia pasti tak makan berhari hari. "Oh,, adikku. Apa yang terjadi padamu.” Ekspresi wajah Caith berubah sangat sedih. "Ve.. kau kenapa?" Tanya Caith lembut. "Aku rindu... Aku ingin bertemu Kiara..." Jawabnya lemah. "Sudah ku katakan, kau tak mungkin bersama ratu Ve. Itu mustahil." Bentak Caith padanya. "Aku tidak peduli kak. aku hanya ingin bertemu dengannya." Jawabnya memohon. "Kenapa kau selalu seperti ini, selalu melakukan hal bodoh." Kata Caith sambil terisak. Rasanya sangat pedih melihat adiknya seperti ini. "Kiara..." Rintih Veon pelan. Caith menangis dalam diam. Veon.. kenapa kamu jadi seperti ini. "Ve.. Ibu memanggilmu ke istana. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraanku dan Alden. Sekarang dia tahu kalau kau mencintai ratu." Kata Caith pelan. Caith tak sanggup membayangkan apa yang akan ibunya lakukan pada adik kesayangannya. Veon diam tak merespon. "Maafkan kakak Ve." Kata Caith sambil memeluknya. Tubuhnya kurus tak terawat. "Kakak tidak salah, tak perlu minta maaf." Kata Veon pelan. "Ya sudah, ayo ke istana." Katanya lagi. Mereka berjalan beriringan menuju pintu. Berkali kali Veon hampir terjatuh karena tubuhnya sudah sangat lemah. "Sudah berapa hari kau tidak makan Ve?" Tanya Caith akhirnya. "Aku tidak ingat kak." Jawab Veon lemah. Saat mereka sudah berada di luar rumah, Caith bergegas mengunci pintu. Segera dikembangkan sayap emas kemerahan milik Caith, dan melayang rendah menunggu Veon. Pelan Veon, mengembangkan sayap coklatnya yang gagah. Tapi sebentar saja terkulai lemas di belakang punggungnya. Ya Tuhan... selemah itukah dia sampai tak mampu mengendalikan sayapnya? Caith segera turun dan menghampirinya. "Sudah, masukkan lagi sayapmu. Ku gendong saja." Kata Caith penuh prihatin. "Tidak usah kak, aku bisa terbang." Kata Veon keras kepala. "Mengembangkan sayap saja tak bisa mau terbang pakai apa?" Kata Caith sebal. "Bisa kak." Kata Veon yang tak mau menurut. "Sudah cepat Veon, ibu sudah menunggu kita. Sekali kali kamu harus menuruti kata kakak." Kata Caith tak sabar. Veon hanya diam. Tapi menurut untuk memasukkan kembali sayapnya. Perlahan diangkatnya tubuh Veon. Ughh,,, Veon bahkan lebih tinggi dariku. Susah sekali menggendongnya seperti ini. "Lingkarkan tanganmu di leherku Ve." Perintahku. "Aku berat ya kak?" Kata Veon polos. "Tentu saja." Kata Caith sambil mulai terbang kembali ke istana. Mereka sampai di depan pintu aula depan istana. Caith membuka pintu perlahan. Terlihat ayah, ibu dan Alden sudah duduk rapi di ujung ruangan. Menunggu mereka. Caith memapah pelan Veon memasuki aula. Tersirat sedikit khawatir di wajah ibu. Tapi segera di tutupinya.             "Kak, aku bisa sendiri." Kata Veon sambil melepaskan tangannya dari bahu Caith. Tapi baru 2 langkah, Veon hampir jatuh tersungkur jika Caith tak cepat memegangnya. "Biar aku saja." Kata Alden. " Provectus." Ucapnya mengeluarkan mantra sihir. Dan seketika Veon sudah berada di depan Alden. Aku terbang rendah menuju tempat duduk di samping ibu, dan Veon duduk bersama Alden. "Kau sakit Veon?" Tanya ibu lembut. "Aku tidak apa apa bu." Jawab Veon lemah, hampir tak terdengar.  Hening lama menyelimuti mereka, ibu yang tadi terbakar amarah pun terlihat tidak tega setelah melihat kondisi Veon. "Kenapa kamu sampai seperti ini nak? Terbang pun kamu tak bisa." Kata ibu penuh perhatian. "Aku tidak apa apa... Hanya... Merindukan seseorang." Jawab Veon. Bodoh! Kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Ibu pasti marah lagi karenanya. Batin Caith penuh khawatir "Apa maksudmu merindukan seseorang Ve?" Tanya ayah. "Bukankah kalian sudah tahu?" Kata Veon. Aishhh, anak ini benar benar membuatku stres. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu? Dia sengaja memancing amarah ayah dan ibu. "Veon!" Bentak ibu dengan amarah kembali memuncak. ********     "Kiara pulang ma...." Kata Kiara ceria saat sudah sampai di rumah sepulang sekolah siang ini. Sudah seminggu berlalu sejak terakhir kali dia tiba-tiba berpindah dunia. Kiara bingung, bagaimana dia bisa berpindah-pindah sendiri? Padahal dia bahkan tidak memegang liontin milik Daniel. Tapi setidaknya seminggu ini dia lalui dengan damai. Hari-hari sekolah yang biasa. Canda tawa dengan sahabatnya yang selalu berhasil mengusir jenuh. Membuat eksistensi tentang 3 dunia ini seperti tidak nyata. Seperti mimpi yang sudah berlalu. "Cepat ganti baju terus makan ya sayang." kata mama lembut sambil mengusap kepala Kiara. "Oke." Kata Kiara sambil berlari lari kecil menuju kamarnya. Sesampainya di kamar dia langsung menggganti seragamnya dengan baju yang lebih nyaman. celana pendek di atas lutut dan kaos berwarna hijau tosca yang berpotongan longgar. Saat Kiara hendak membuka pintu kamar menuju ruang makan, tiba tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang punggungnya. "Ahhh..." Jerit Kiara karena sengatan rasa sakit yang menjalar cepat ke seluruh punggunnya. Rasanya benar benar nyeri, seperti ribuan jarum yang tiba tiba menusuk dalam ke semua saraf tulang belakangnya. "Ada apa sayang?" Tanya mama panik setelah mendengar jeritan Kiara. "Sakit ma." Jawab Kiara sambil menahan tangis. Kiara bahkan sudah tak mampu bergerak. Dia terduduk lemas di depan pintu kamarnya. "Ayo berbaring di ranjang sayang, mama bantu berdiri." Kata mama sambil mencoba memapah putrinya. Tapi seketika tubuh Kiara kembali tersengat rasa sakit yang tak terperikan. Setiap punggungnya bergerak, rasanya benar benar menyiksa. "Kiara tidak bisa bergerak ma, sakit.." Kata Kiara sambil menangis. Tak mampu lagi dia membendung bulir air mata yang dari tadi ditahan dimatanya. "Mama panggil dokter ya sayang." Kata mama yang juga mulai menitikkan air mata, tak tega melihat anaknya yang kesakitan. "Daniel ma.. Panggil Daniel saja." Pinta Kiara pada mama. Kalau perkiraannya benar, ini mungkin berhubungan dengan perubahan fisik Kiara sebagai ratu. "Iya sayang, mama telepon Daniel dulu." Kata mama sambil beranjak mengambil handphone Kiara yang tergeletak di atas tempat tidurnya. "Nak Daniel, cepat kesini sekarang, Kiara kesakitan." Kata mama saat telepon sudah tersambung dengan Daniel. "Tante tidak tahu, cepatlah kesini. Kasihan Kiara." Kata mama lagi. "Sabar ya sayang, sebentar lagi Daniel kesini." Kata mama setelah menutup sambungan telepon. "Iya." Jawab Kiara lemah. "Ayo sayang, pelan pelan mama papah ke ranjang." Kata mama lagi. Sambil mama memeganginya, Kiara mencoba berdiri. Lagi, rasa sakit itu kembali menyengat punggungnya tanpa ampun. "Mama sakit." Kata Kiara sambil menangis di pelukan mamanya. "Ayo sayang, sedikit lagi sampai ke ranjang." Kata mama mencba menguatkan. Kiara berjalan pelan sambil mama terus memeganginya agar tidak jatuh. Tubuhnya sudah benar benar lemas. "Sudah nak, sekarang angkat sedikit kakimu, mama bantu berbaring." Kata mama saat mereka sudah berada di tepi tempat tidur. Mama membaringkan Kiara di tempat tidur. Saat punggungnya menyentuh ranjang, sakit itu kembali menyiksa Kiara. "Mama sakit ma.. Kiara nggak tahan ma." Tangis Kiara pecah. Bukan lagi rintihan sekarang sudah berubah menjadi jerit kesakitan. "Sabar ya sayang.. Aduh, kenapa nak Daniel belum datang juga. Mama panggil dokter ya Kiara." Mama beranjak keluar kamar untuk menelepon dokter. Sakit di punggung Kiara semakin lama semakin menyiksa. Sampai akhirnya gelap yang terlihat. Kesadarannya hilang. ********* -to be continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN