Bab 6

740 Kata
"Pijet gue nggak sakit, kan?" tanya Versus, suaranya rendah tapi jelas. Lia menggeleng pelan, mata masih terpejam. "Nggak. Terusin aja." Tangan Versus bergerak ke area punggung tengah, menemukan titik kaku di antara tulang belikat. Versus menggunakan siku dengan lembut, tekanan yang pas untuk mengendurkan otot-otot yang menegang seharian. Lia menghela napas panjang, tubuhnya sedikit melengkung mengikuti gerakan. "Nhh.. Di situ emang sering pegal," gumam Lia, suaranya setengah mengantuk. "Gue sering bawa tas berat ke sekolah." Versus mengangguk, meski Lia tidak melihat. "Postur jalan lo juga agak miring ke kiri. Itu bikin otot sebelah kanan lebih banyak kerja." Lia membuka mata setengah, menatap Versus lewat pantulan di cermin di lemari. "Lo emang jago ini. Nggak nyangka." Di luar, suara motor Tiwi semakin menjauh, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan kamar yang hanya diisi bunyi hujan dan gesekan handuk. Versus perlahan memindahkan tekanan ke leher Lia, jari-jarinya menelusuri garis otot yang kencang. Saat jempolnya menyentuh titik tertentu di pangkal leher, Lia menarik napas pendek. "Di sini sakit?" tanya Versus, segera mengurangi tekanan. "Enggak... tapi aneh," jawab Lia, suaranya sedikit bergetar. "Kayak... geli tapi dalam." Versus mengerti. Itu titik saraf yang sering memicu reaksi tertentu. Ia memilih untuk tidak menekan lebih dalam, bergerak ke area lain. Dan tanpa sengaja, saat Versus bergerak memindahkan posisi kerja, lututnya menyentuh bawah p****t bersama kain rok yang terdorong, yang membuat tubuh Lia berjingkat sedikit. Mereka berdua terdiam sejenak, kontak fisik yang tidak terduga itu terasa lebih intim daripada seharusnya. Udara tiba-tiba terasa lebih hangat. Versus berdehem pelan, mencoba mengembalikan fokus profesionalnya. "Um. Mungkin... lo bisa tiduran di atas aja. Biar lebih enak." Lia mengangguk, perlahan bangkit berdiri untuk naik, ia segera berbaring di kasur dengan wajah menghadap bawah. Versus mengambil handuk bersih lagi, meletakkannya di punggung Lia sebelum melanjutkan pemijatan. Sekarang dari posisi tepi ranjang ini, Versus bisa duduk, bekerja lebih efektif, tapi juga lebih sadar akan bentuk tubuh Lia di bawah seragam sekolah. Gerakan Versus tetap terukur, tapi ada ketegangan baru, semacam kesadaran yang sebelumnya tak ada, semasih mereka hanya teman sekelas. Versus mencoba mengalihkan pikiran ke teknik pemijatan, ke buku-buku fisioterapi yang pernah ia baca, ke apapun selain fakta bahwa ia sedang memijat Lia di kamar tidurnya, jauh di malam hari, dengan Tiwi yang entah sampai kapan akan pulang. Tiba-tiba, saat tangan Versus bergerak ke area punggung bawah, Lia menghela napas panjang. "Ver..." "Hmm?" "Tekannya... boleh kerasan dikit?" Versus menelan ludah. "Di sini." Versus memposisikan diri lebih baik, menggunakan berat badannya dengan hati-hati untuk memberikan tekanan yang lebih dalam. Lia mendengus pelan, tubuhnya sedikit melengkung menahan tekanan itu. "Nhhh.. Bagus... terusin..." Teknik pijat berubah sekarang, lebih dalam, lebih terfokus, seperti mencoba mengeluarkan semua ketegangan yang terpendam. Versus bisa merasakan otot-otot Lia mulai mengendur di bawah jari-jarinya, dan itu memberinya kepuasan tersendiri. Tapi kemudian, tanpa disengaja, saat tangannya bergerak terlalu konsen, ia menyentuh sisi tengah Lia, area yang lebih sensitif. Lia menggeliat sedikit. "Auhh.. geli!" "Hh?" Versus langsung menarik tangan. "Maaf! Nggak.. sengaja." Tapi Lia malah tertawa kecil. "Hihi. Nggak apa-apa. Cuma... agak geli aja di situ." Ia memutar badannya sedikit, sekarang setengah berbaring menyamping, matanya menatap Versus langsung. "Lo emang tahu ya.. semua titik pegal gue, Ver?" Versus tersenyum kecil, meski jantungnya berdegup lebih kencang. "Itu kerjaan gue." Lia menatap, lalu mengulurkan tangan. "Sini, gue pegang tangan lo." Versus bingung, tapi mengulurkan tangannya. Lia bangkit dari posisinya untuk duduk memegang pergelangan, membalikkan telapak Versus ke atas, lalu dengan jari-jarinya sendiri mulai menekan beberapa titik di telapak Versus. "Lo juga pegal," gumam Lia. "Jari-jari lo kaku banget. Ini pasti karena sering kerja. Mijatin klien." Versus terkejut. Ia tidak menyadari betapa tegang tangannya sendiri sampai Lia menyentuh pertengahan celana, ditekan-tekan pelan seperti itu. Rasanya... aneh, tapi menyenangkan, menjadi yang dipijat, bukan yang memijat. "Lo juga jago," komentar Versus, suaranya lebih lembut dari biasanya. Lia tersenyum kecil. "Nggak sejago lo." Lia terus menekan titik di celana Versus, perlahan, dengan tekanan yang pas. "Gue baru nyadar... lo selama ini kerja sambil sekolah. Berat, ya?" "Gu.. gue.. biasa aja. Harus bisa." "Lo nggak pernah ngomong di sekolah." "Lo juga nggak banyak ngomong sama gue." Lia terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Mungkin kita sama-sama terlalu sibuk memperhatikan hal lain." Udara di antara mereka terasa berbeda sekarang, lebih hangat, lebih akrab. Versus sadar, kini, betapa dekat mereka sekarang, di kamar Lia yang didatanginya, belum hujan yang masih turun di luar. Tiba-tiba, batas antara teman sekelas dan klien-terapis seperti menguap, jadi sesuatu yang.. lebih nyata. "Ver.. Veri Suswandi," Lia memanggil pelan, matanya menatap langsung. "Ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN