Kebingungan Lia mengendap di alis yang berkerut dan bibir mengatup rapat. Ia ingin bertanya banyak, yang keluar hanya pertanyaan sederhana, pelan dan ragu.
“Jadi.. kamu.. Dinda?”
Di luar, tawa Kak Tiwi kembali terdengar, diselingi derai hujan rintik yang mulai turun.
Keheningan di kamar Lia menggantung, menunggu jawaban, hanya diisi suara rintik hujan di atap seng dan dengungan AC.
Versus masih berdiri di ambang pintu, tas kain tergantung di bahu.
Lia duduk di tepi kasur, buku biologi sudah tertutup rapat di pangkuannya. Matanya menatap Versus, kebingungan di sana perlahan bergeser menjadi penilaian yang lebih tenang.
“Jadi… kamu yang selama ini jadi Dinda?” tanya Lia lagi, suaranya stabil.
Versus mengangguk perlahan. “Iya. Akun itu memang pakai nama dan foto perempuan karena algoritma aplikasi lebih responsif ke permintaan klien perempuan untuk layanan relaksasi. Tapi teknisnya, sertifikasinya, dan cara kerjanya tetap profesional. Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa pulang sekarang. Uang akan dikembalikan otomatis.”
Lia menghela napas, mengusap pelan tengkuknya yang masih kaku.
“Aku biasanya ngontek Bella.. butuh ini, Ver. Pegel. Tiap begadang suka kerasa, begadang buat Try out nasional. Tapi… kamu sudah di sini.” Ia menatap Versus, lalu turun menggeser duduknya ke posisi yang lebih nyaman di kasur lesehan. “Lanjutin aja. Tapi… pakai handuk penutup seperti biasa, ya. Dan fokus ke bahu sama leher.”
“Siap.” Versus menelan ludah dan akhirnya langsung masuk ke dalam meletakkan tas di lantai, mengeluarkan perlengkapan dengan gerakan yang sudah menjadi rutinitas.
Lia telungkup dengan bantal sudah diletakkan dekat d**a.
Handuk bersih dibentangkan, minyak esensial lavender aroma mint diteteskan ke telapak tangan, lalu digosokkan sebentar hingga hangat sebelum menyentuh bahu Lia.
Sentuhan pertama masih kaku.
Versus merasakan ketegangan yang nyata di otot trapezius Lia, mungkin karena tiga jam membungkuk di depan buku.
Verus menarik napas, mengalihkan fokus dari identitas yang terkuak ke anatomi yang butuh penanganan.
Teknik yang sama, tekanan yang sama, ritme yang sama. Tapi sekarang, setiap gerakan diiringi kesadaran bahwa ini adalah Lia—gadis yang memberinya catatan fisika, yang tersenyum sopan di kantin, yang sekarang berbaring di kasurnya sendiri dengan mata setengah terpejam.
“Tekannya… pas,” gumam Lia pelan, tanpa membuka mata.
“Beri tahu kalau terlalu dalam,” jawab Versus, suaranya dijaga tetap datar, profesional.
“Nggak. Lanjutin aja.”
Di luar, hujan turun lebih deras. Di dalam, hanya ada suara gesekan handuk, napas pelan, dan aroma lavender yang perlahan mencairkan ketegangan.
Versus bekerja dengan presisi. Ia tahu titik-titik pegal itu: leher sebelah kiri yang sering menahan beban tas, pundak kanan yang menegang saat mengetik, otot *rhomboid* yang kaku karena postur duduk yang salah.
Tangan Versus bergerak sistematis, bukan terburu-buru, bukan juga ragu. Setiap tekanan adalah bahasa yang lebih jujur daripada kata-kata.
Sesekali, Lia bergumam pelan. “Kamu… jago banget, ya. Aku baru nyadar.. kenapa ‘Dinda’ selalu dapet bintang lima.”
Versus hampir tersenyum, tapi menahannya. “Latihan. Dan banyak baca jurnal fisioterapi dasar.”
“Bohong,” desis Lia pelan, tapi nadanya tidak mengejek. “Gue liat lo di kelas. Lo cuma pendiem. Nggak pernah keliatan kayak orang yang paham tubuh orang lain.”
“Mungkin karena di kelas gue nggak perlu ngerti otot lo yang kaku gara-gara begadang ngerjain soal try out,” jawab Versus, sebelum sadar ucapannya terlalu personal. Ia segera mengalihkan topik. “Maaf. Nggak ada maksud sok tahu.”
Lia malah mendengus pelan. “Nggak apa-apa kok.. Emang bener.”
Keheningan kembali, tapi kali ini lebih ringan, tak lagi tegang, hanya ada pengakuan diam-diam bahwa batas antara dua dunia mereka—sekolah dan pekerjaan sampingan—telah retak, dan mereka sama-sama memilih untuk tidak memperbaiki retakan itu.
"Ver, lo udah ketemu kakak gue kan di teras? Kak Tiwi?"
"Iya. Udah," jawab Versus sambil tetap menekan tubuh Lia. "Jadi nama dia Tiwi, Li?"
"Yoi. Dia doyan banget tawa-tawa. Juga se--"
"Li..!! Lia!"
Tiba-tiba seruan sayup Tiwi masuk ke kamar Lia, pintu sedang terbuka membuat suara gadis muda itu terdengar jelas dari teras.
Lia tak beranjak di tempatnya selain menyahut. "Apa Kak?!"
"Gue sama Rafi mau jalan dulu. Pergi sampe pagian! Kunci rumah. Jangan lupa!"
"Iya..!!" seru Lia.
Di luar tak ada suara lagi setelah permintaan Tiwi selain deru motor yang dinyalakan. Mungkin Tiwi dan pacarnya akan segera pergi berkendara motor meninggalkan Lia dan Versus di rumah.
"Mereka nggak berani di rumah kalo gue masih melek. Tau nggak Sus? Apa yang mau mereka lakuin?" tanya Lia.
"Apa, Li?"
"Gituan. Gue pernah mergokin mereka di dapur pelukan dan langsung panik begitu gue datang. Mereka lanjut pura-pura masak lagi. Gue diem aja dan balik ke kamar, bawa aer yang gue ambil di kulkas."
Di kamar yang diterangi lampu belajar kuning redup, aroma mint semakin pekat.
Versus tetap fokus pada bahu Lia, tapi jari-jarinya sekarang meluncur lebih rendah, menelusuri tulang belikat yang menegang.
Ada ritme baru dalam gerakannya—lebih dalam, lebih percaya diri setelah mengetahui Lia tidak keberatan dengan identitas aslinya.