PRAAANG! Suara yang paling Billy benci dari suara-suara yang pernah ia rekam di memori ingatannya. Suara gelas kedua yang pecah diikuti suara piring pertama yang pecah senja itu. Kapanpun dua orang dewasa di dalam rumah itu bertengkar, Billy selalu ada di tengah-tengah. Seperti miniatur patung yang sengaja diabaikan. Dianggap hanya pajangan. Sebagai pemanis suasana mencekam yang orang dewasa ciptakan. Raharja dan Ana saling melempar makian, alih-alih pengertian. Segala kata yang terucap di antara keduanya selalu terasa menyakitkan dan tidak pada tempatnya. Kata-kata adalah sebilah pisau dengan tingkat ketajaman yang sama. Sekali tebas, tidak hanya kulit yang bisa berdarah, perasaan juga bisa. Bahkan waktu yang dibutuhkan bagi perasaan untuk bisa sembuh jauh lebih lama dari sembuhnya kuli

