■♡■♡■♡■♡■ “Jangan menjadi t***l hanya karena sudah diperlakukan sebaik itu. Memang ada beberapa orang yang sengaja memelukmu erat, agar luka yang ditancapkan semakin dalam.” ~anonim ■♡■♡■♡■♡■ ■♡■ “Fatwa siklus tidurnya udah ditetapkan belum nih?” tanya Juna. “Hilal belum terlihat, Pak.” Arum melantur. “Baiklah, jadi siklus tidurnya resmi diundur, ya?” “Apa sih.” Keduanya kembali terpingkal. Entah ada apa dengan malam ini. Yang jelas mereka berdua tampak begitu menikmati setiap canda dan tawa yang terjalin. Sepertinya chemistry mulai bermain di sini. “Ketawa melulu gimana mau ngantuk coba?” protes Arum. Hening. Juna tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya berkata. “Mau aku nyanyikan lagu pengantar tidur nggak?” “Emang kamu bisa nyanyi?” canda Arum. “Jangan menghina.” Juna ber

