Eps.17 ♡ Simalakama

1734 Kata

“Ku-kunci,” Arum mulai meracau dan menggumam tidak jelas. “Di mana kunciku?” Ia terburu-buru turun dari ranjang hingga terhuyung dan nyaris jatuh. “Hei, berbaringlah,” cegah Yudhis. “Siapa suruh kamu bangun?” Yudhis memegangi Arum yang nyaris terjatuh, kemudian membantunya berbaring kembali. Namun Arum menepisnya. Panik mencari kalung yang lagi-lagi menghilang entah ke mana. “Ya ampun! Kamu itu keras kepala banget, ya. Sebenarnya kamu cari apa sih?” “Kalung,” gumamnya tidak jelas. “Kunci … kalung … di mana kalungku?” Arum mencari ke segala sudut. Seperti orang linglung. “Kalung?” ulang Yudhis. “Maksudmu ini?” Yudhis menyodorkan sebuah kalung dengan liontin kunci. Jumlahnya tepat, sepasang. Arum menyambar kalung itu. Ia tertunduk. Tangisnya pecah. “H-hei ... Kenapa nangis?” Yudhis ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN