Part 11. Bukan Mau Ku

1013 Kata
Nathalia memeluk tubuhnya sendiri akibat cuaca yang begitu dingin malam ini. Suasana di sekitar jalanan begitu sepi dan remang-remang. Tidak ada satu kendaraan pun yang berlalu lalang. Ya, wajar saja mengingat ini daerah terpencil. Namun hal itu tidak membuat Nathalia merasa takut sedikit pun. Gadis cantik itu tetap santai dan tidak merasa was-was jika saja ada orang jahat yang menghadang dan menyakitinya. Kemampuan bela diri Nathalia tidak perlu diragukan lagi. Tidak ada yang harus ditakutkannya karena bisa melindungi diri sendiri. Mencari masalah dengan Nathalia, berarti sama saja dengan mencari mati. Angin malam berhembus kencang. Semakin membuat Nathalia kedinginan. Tiba-tiba saja dua orang pria menghadang jalan Nathalia. Kedua pria itu menyeringai m***m sambil bersiul menggoda. Membuat Nathalia memutar bola mata malas karena selalu berurusan dengan orang m***m malam ini. "Ayo bergabung bersama kami, gadis cantik." "Lalu, kita memainkan sebuah permainan yang menyenangkan." Kedua pria itu tertawa. Padahal tidak ada yang lucu. "Jangan menggangguku!" Tegas Nathalia pada keduanya. Namun, kedua orang itu malah merasa tertantang dan mendekati Nathalia. Mereka hendak menangkap lengan Nathalia tapi gadis cantik itu lebih dulu menghindar hingga mereka hanya menangkap udara kosong. Kedua pria tersebut menatap Nathalia tertarik. "Kamu semakin menarik di mata kami, gadis cantik." "Jangan menghindar lagi. Kami tidak akan main kasar denganmu." "Benar sekali. Kami akan bermain dengan lembut sehingga kamu akan ketagihan." Perkataan ambigu keduanya menghadirkan decakan kesal dari Nathalia. Dia paling tidak suka melihat orang m***m dan jahat seperti kedua pria di hadapannya. Kedua pria itu kembali hendak menangkapnya tapi Nathalia berhasil menghindar dengan mudah. Tampaknya tindakan Nathalia semakin membuat kedua pria itu merasa tertantang. Mereka mengerahkan tenaga besar untuk menangkap seorang Nathalia. Nathalia yang kesal dengan mereka langsung menangkap tangan mereka secara bersamaan dan memutarnya dengan mudah hingga terdengar retakan tulang. Kedua pria itu menjerit kesakitan dan terjatuh ke tanah. Nathalia menarik kerah baju salah satu pria dan melayangkan tinjuan kuat beberapa kali ke wajah si pria tanpa sempat melawan. Teman yang satunya tentu tidak terima melihat temannya di pukuli oleh Nathalia sehingga ia pun menyerang gadis itu dari belakang tapi perkiraannya salah. Nathalia malah menunduk sehingga temannya lah yang terkena tinjuan darinya. Temannya bahkan langsung ambruk begitu saja ke tanah dengan darah segar mengalir dari hidung. Nathalia berbalik dan tertawa kencang. Tawa yang terdengar sangat menyeramkan di telinga si pendengar. "Ini bukan mau ku untuk menyakiti kalian tapi kalian lah yang mencari masalah terlebih dahulu." Desis Nathalia penuh kebencian dan langsung menghajar penjahat di depannya bertubi-tubi sampai pria itu juga tumbang. Nathalia tersenyum sinis melihat keadaan tak berdaya kedua penjahat yang menganggunya. Gadis cantik itu menoleh ke sekitar. Dia tersenyum manis saat tidak melihat satu orang pun. Lantas ia pun berjongkok sembari mengeluarkan pisau kecil dari tasnya. Dia pun membuka pisau lipatnya yang terlihat sangat mengkilap dan tajam. Senyumannya kian lebar. Sorot matanya tampak begitu bersemangat. Tangannya mulai beraksi, membuka celana mereka. Lalu memotong kejantanan mereka secara bergantian dengan pisaunya. "Natha tidak bersalah bukan memotong burung kalian? Natha melakukan ini juga untuk kebaikan para perempuan." Kekehnya sambil menatap puas kejantanan kedua pria yang sudah dipotongnya sampai tak bersisa. Nathalia berdiri. Kemudian membersihkan tangannya dengan tisu. Lalu, meninggalkan mereka begitu saja. **** Nathalia tidak langsung pulang ke rumah karena melihat Rere dan Gevan sedang berduaan di taman. Kebetulan di sekitar sana tidak ada cctv sehingga sebuah ide terlintas di otak jeniusnya. Gadis cantik itu mengeluarkan make up dan memoleskan ke wajahnya. Membuat wajahnya menjadi sangat menyeramkan. Bahkan lebih menyeramkan daripada hantu yang pernah dilihatnya Di sekolah. Setelah semuanya siap, Nathalia mendekati mereka dengan pisau kecilnya yang berlumuran darah. "Gevan.. Rere.." panggilnya lirih tapi menakutkan. Tangannya memegang kedua bahu orang itu, membuat keduanya terlonjak kaget dan refleks berbalik. "Arghhh!!!" Rere menjerit histeris melihat wajah menakutkan Nathalia. Gevan sama halnya dengan Rere. Pria itu juga gemetar ketakutan. "Menjauh lah dari kami!!!" Teriak Gevan. "Aku tidak akan menjauh dari kalian sebelum kalian mati bersamaku." Nathalia tertawa menyeramkan, membuat keduanya semakin panik dan ketakutan. Gevan dan Rere mundur secara teratur. "Tidak!! Menjauhlah dari kami!!" Nathalia tertawa lalu menangis pilu. Bulu kuduk Gevan dan Rere merinding melihat hal tersebut. "Jangan ganggu kami! Kembali lah ke asalmu!!" Teriak Rere. Nathalia berjalan mendekati keduanya tapi Gevan langsung menarik Rere lari bersamanya. Nathalia tertawa menyeramkan melihat keduanya. "Mati.. mati.. mati lah bersamaku.." bisiknya berulang kali layaknya mantra kematian di telinga keduanya. Nathalia mengikuti mereka dengan langkah terseok-seok sembari terus berbisik. Gevan dan Rere semakin kalut. Lari mereka semakin kencang. Namun, naas. Tubuh mereka ditabrak mobil akibat tidak melihat-lihat dalam menyebrang. Naasnya lagi, mobil yang menabrak Gevan dan Rere langsung melarikan diri. Nathalia tertawa. Kemudian mendekati Gevan dan Rere yang sekarat. "Mati.. mati.. matilah bersamaku.." bisiknya sambil mengacungkan pisau lipatnya ke arah Rere. Rere jatuh tak sadarkan diri akibat terlalu syok dan sakit. Begitu pun dengan Gevan. Darah mengalir deras dari kepala kedua orang itu. Nathalia tersenyum dingin melihat hal tersebut. Ia mulai menjauh dari sana, kemudian membersihkan dirinya dan menghentikan taksi yang lewat. "Mau kemana, neng?" "Ke jalan anggrek, pak." Berpura-pura ke sana. Sopir itu mengangguk dan mulai mengendarai mobil ke tempat tujuan. Nathalia menyandarkan punggungnya sembari tersenyum licik. Perjalanan hanya diisi oleh musik. Nathalia semakin tidak sabar sampai di tempat tujuan. "Berhenti, pak! Sepertinya ada orang di jalan!!" Teriak Nathalia. Sopir menghentikan mobilnya secara mendadak dan ikut terkejut melihat dua orang yang tergolek lemah di atas aspal. "Sepertinya mereka korban tabrak lari, neng. Bagaimana ini?" Sahut sopir gelisah. "Ayo kita tolong, pak." Ujar Nathalia panik. "Tapi neng, nanti bapak ditanya-tanya sama polisi." "Pak, jangan memikirkan hal itu sekarang. Yang paling terpenting sekarang adalah menyelamatkan mereka. Apakah bapak tega membiarkan mereka mati di jalanan dengan tragis karena kehabisan darah?" Sopir terlihat semakin gelisah. "Apakah bapak mau bernasib sama seperti mereka? Pak, percayalah. Karma itu ada. Kalau bapak tidak menolongnya sekarang, bisa jadi saat bapak atau keluarga bapak mengalami kecelakaan tidak akan ada yang menolong." Nathalia menesehati sopir layaknya orang yang sangat baik padahal dia sendiri lah yang menyebabkan Gevan dan Rere seperti itu. "Tunggu apalagi, pak. Ayo kita selamatkan mereka sebelum mereka meninggal." Bujuk Nathalia. Sopir itu menghela nafas kasar. "Baiklah." Jawabnya dengan berat hati. -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN