Part 10. Pesta

1063 Kata
"Nathalia!!" Sapa seseorang sambil mencolek lengannya. Gadis cantik yang tengah duduk di kursi itu menoleh dan dapat melihat Anin menyengir ke arahnya. Dia tersenyum tipis ke arah Anin yang terlihat sangat cantik di dalam balutan dress navy nya. "Ternyata Lo ikut juga." Anin mengambil alih tempat duduk di samping Nathalia. Kemudian menatap Nathalia penuh semangat. "Awalnya gue gak mau ikut tapi Daddy menyuruh gue ikut. Katanya biar pengalaman gue bertambah. Untung aja deh gue Nemu Lo di sini, gak akan kebosanan gue sampai pesta berakhir." Nathalia mengangguk lalu meminum jus jeruknya lagi. Tenggorokannya terasa sangat kering akibat berbicara terlalu banyak. Anin juga sama halnya dengan Nathalia. Ia meneguk jusnya lalu kembali menatap Nathali. Kali ini tatapannya terlihat penasaran. "Lo pergi sama siapa ke sini, Nat?" "Daddy." "Ohh sama dong." "Hm." "Ternyata gini ya rasanya pesta orang dewasa. Gue baru pertama kali ikut soalnya." Nathalia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Sangat membosankan bukan? Mereka semua hanya membahas bisnis dan saling memuji. Munafik." Lirihnya di akhir kalimat tapi dapat di dengar oleh Anin. Anin mengangguk membenarkan perkataan Nathalia. "Lo udah sering datang ke pesta ya?" "Gak. Ini baru pertama kali gue datang ke pesta." "Ohh." Tiba-tiba Richard datang menghampiri Nathalia. "Ternyata ada temanmu, honey. Baguslah. Kamu tidak akan kebosanan. Oh ya, siapa nama temanmu ini?" Anin tersenyum. "Halo, om. Namaku Anindya Pratama. Biasa dipanggil Anin hehe." Richard tersenyum dan memperkenalkan diri balik. Dia merasa Anin gadis baik-baik sehingga tidak perlu mencemaskan Nathalia. Pria itu kembali meninggalkan Nathalia bersama Anin. Kemudian membaur dengan rekan bisnisnya. "Nat, cowo itu ganteng banget deh." Gemas Anin. Nathalia hanya ber oh ria karena tidak tertarik. "Eh, dia berjalan ke sini bersama teman-temannya." Nathalia menghela nafas malas. "Hai. Boleh kami bergabung dengan kalian?" "Boleh." Jawab Anin. Nathalia hanya melirik sekilas. Ada 2 orang laki-laki seumurannya. Mereka duduk di hadapannya. "Kalian sangat cantik." Puji pria berjas navy. "Terima kasih." Sahut Anin tersipu sedangkan Nathalia tetap mempertahankan wajah datarnya. "Kalian sekolah dimana?" "Global High School." "Yah, sayang sekali kita beda sekolah." "Memangnya kalian sekolah di mana?" "Di AHS. Oh ya, namaku Adiston. Kalau nama kalian siapa?" "Namaku Anin dan temanku ini namanya Nathalia." Anin memperkenalkan dirinya dan juga mewakili Nathalia karena melihat Nathalia tidak berinisiatif memperkenalkan diri. Kedua pria itu terus mengajak Anin dan Nathalia mengobrol. Nathalia hanya menyahut singkat karena tidak tertarik. Bahkan gadis itu mencari-cari alasan untuk meninggalkan mereka. Nathalia menjauh sejauh mungkin dari mereka. Bukan seperti ini yang diharapkannya. Sekarang ini merasa berada di sini hanya lah membuang waktunya dalam membalas dendam pada Gevan dan Rere. Gadis cantik itu berhenti berjalan kala mendengar dua orang berdebat. Ia tersenyum kala mendapat sebuah ide untuk mengusir kebosanannya. Langsung saja ia mendekati orang itu. "Permisi. Natha dengar kalian sedang dalam masalah. Bolehkah Natha membantu kalian? Kebetulan Natha juga lihai bermain piano." Kedua orang itu tersentak kaget. Kemudian tersenyum lebar. "Benarkah?? Kami akan sangat berterima kasih kalau kamu mau membantu kami." Nathalia tersenyum manis. "Natha senang membantu kalian." "Oke, Natha. Kamu bisa memainkan lagu apa saja?" "Natha bisa semuanya. Kalian ingin Natha memainkan lagu apa?" "Ah, kalau kamu bisa memainkan semua lagu. Kami akan meminta para tamu untuk request. Bagaimana?" "Natha setuju." Kedua orang itu memeluk Nathalia penuh haru. "Terima kasih telah membantu kami, nak." "Sama-sama hehe." Akhirnya malam itu Nathalia memainkan piano di hadapan semua orang. Membuat orang terkagum-kagum dengan kemahirannya bermain piano. Dan juga membuat Tania dan Letta kesal bukan main karena Nathalia menjadi pusat perhatian semua orang. **** Setelah membawakan lima lagu, Nathalia diberi tepuk tangan meriah oleh para tamu. Gadis cantik itu sendiri meninggalkan panggung dan berjalan mendekati sang Daddy. "Bagaimana permainan Natha, Daddy? Bagus 'kan?" Tanyanya penuh harap. "Sangat bagus, nak." Bukan Richard yang menjawab tapi rekan bisnis Richard. "Ya, permainan piano mu sangat bagus. Anakku saja yang sudah berlatih tiga tahun tidak bisa memainkan piano sebagus dirimu." "Anak Tuan Richard benar-benar berbakat. Pantas saja Tuan Richard menyembunyikan keberadaan mu selama ini haha." "Selain berbakat, anak Tuan Richard juga sangat cantik. Tuan Richard pasti tidak ingin siapapun merebut putrinya." "Haha. Tuan Richard memang sangat pelit. Padahal kalau tahu dia punya putri sepertimu, aku akan mengenalkan anakku padamu." Nathalia terkekeh mendengar pujian mereka. Setelah pujian-pujian itu mereda, Nathalia izin ke sang Daddy untuk pulang duluan dengan alasan lelah dan mengantuk. Awalnya Richard tidak mengizinkan Nathalia pulang sendiri tapi dengan bujuk rayu Nathalia, akhirnya pria itu luluh dan memperbolehkan Nathalia pulang sendiri. Nathalia tersenyum lega saat sudah keluar dari hotel. Udara sejuk di luar membuat perasaannya membaik seketika. Gadis cantik itu mulai memesan mobil di aplikasi. Padahal tadi sang ayah hampir menelpon sopir rumah untuk menjemput Nathalia tapi Nathalia menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan sopir yang sedang menikmati waktu bersama keluarga kecilnya sendiri. Tiga menit kemudian datang lah mobil pesanannya. Langsung saja Nathalia masuk ke dalam mobil dan menghela nafas lega lagi. Mobil mulai berjalan, meninggalkan kawasan hotel nan elit itu. Nathalia awalnya biasa-biasa saja tapi lama kelamaan dia pun merasakan hawa yang berbeda. Perasaannya mendadak tidak enak. Perasaannya semakin terasa tidak enak saat mobil tidak mengambil jalur yang benar. "Pak! Ini bukan jalan ke rumah saya!" Tegas Nathalia. Sopir itu terkekeh sinis. "Saya memang tidak berniat mengantarkan kamu pulang ke rumah mu, gadis cantik. Kamu temani aku bermain dulu." Lalu tertawa m***m sambil menatap tubuh Nathalia. Nathalia melotot kaget. Bisa-bisanya dia bertemu orang m***m. Untung saja dia bukan perempuan lemah yang hanya bisa menangis dan berlindung di bawah ketiak orang lain. Gadis cantik itu mengambil high heelsnya tanpa di sadari oleh sopir. Pria paruh baya itu menghentikan mobil di tepi jalan yang sepi dan mematikan mobilnya. Dia mulai menyeringai ke arah Nathalia. "Tenang saja gadis cantik, permainan kita akan sangat menyenangkan dan membuatmu ketagihan." Pria itu memegang dagu Nathalia dengan tatapan m***m. Nathalia tersenyum miring dan langsung menusuk mata pria itu dengan hak high heelsnya. Tidak hanya ke mata kanan tapi juga ke mata kiri pria itu. "Arghh!! Gadis sialan!!" "Lo salah mencari mangsa malam ini, pria mesum." Nathalia mengambil botol minuman keras dan memukulkannya ke kepala pria itu sampai pria itu pingsan. Nathalia tidak merasa bersalah sedikit pun telah membuat pria itu terluka parah. Malah ia merasa sangat senang melihat pria itu terluka parah. Gadis cantik itu keluar dari mobil. Kemudian membakar mobil tersebut hingga meledak. Nathalia tertawa bahagia melihat api melahap habis mobil dan tubuh malang pria m***m itu. "Orang jahat pantas dibunuh, bukan?" Bisiknya lirih. -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN