Nathali kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Rambut sebahunya bergerak seirama dengan langkah kakinya. Derap langkah kakinya terdengar begitu jelas di koridor nan sepi tersebut akibat semua orang terdiam dan tidak ada yang berbicara.
Di sepanjang koridor, ia terus menjadi pusat perhatian. Semua mata memandang padanya dengan beragam tatapan. Paling banyak melotot kaget padanya hingga membuat bola mata mereka hampir keluar. Membuktikan betapa kagetnya mereka melihat seorang Nathalia.
Bagaimana tidak kaget jika orang yang kalian lihat dengan mata kepala sendiri mati mengenaskan dan kembali lagi dengan keadaan utuh ke sekolah dan bersikap santai seolah tidak terjadi apapun sebelumnya?!
Lagi dan lagi, Nathalia hanya memasang ekspresi datarnya. Terlihat begitu dingin dan cuek.
Nathalia akhirnya sampai di depan kelasnya. 11 IPS 1. Gadis cantik itu langsung masuk ke dalam kelas dan berjalan menuju kursi kosong. Duduk di sana dan meletakkan tasnya.
Begitu acuh tak acuh meskipun pandangan semua murid dalam kelas tertuju padanya.
Nathalia menyandarkan punggungnya ke Sandaran kursi dan menatap teman sekelasnya datar. "Kenapa kalian menatap gue dengan tatapan seperti itu?"
Semuanya mengerjap seolah tersadar mendengar perkataan Nathalia.
"Kenapa Lo bisa ada di sini Nathali? Bukannya Lo udah meninggal dunia?"
"Nathali, kok Lo duduk di tempat si cupu? Jangan-jangan dia yang udah bunuh Lo, makanya Lo duduk di tempatnya untuk menghantui dia?"
"Kenapa kami semua bisa melihat Lo, Nathali? Kami ada salahkah?"
Nathalia memutar bola mata malas mendengar perkataan orang-orang itu. Bisa-bisanya mereka semua berpikir kalau Dia sedang gentayangan. "Dengerin gue baik-baik, gue hanya akan mengatakan ini satu kali," katanya dingin.
Semuanya terdiam seketika. Menatap Nathalia serius. Mereka sangat penasaran.
"Gue Nathalia Putri bukan Nathali Alexander. Paham?!"
Semua mengangguk. "Paham." Sahut mereka serentak.
"Bagus. Jangan natap gue kayak gitu lagi." Ketusnya.
"APA?! LO NATHALIA PUTRI YANG CULUN ITU? KOK LO JADI CANTIK GINI SIH?! KOK LO MIRIP BANGET DENGAN NATHALI?! ATAU JANGAN-JANGAN LO NATHALI ASLI YANG SEDANG NYAMAR JADI NATHALIA?!" teriak salah satu murid setelah sadar sepenuhnya dengan ucapan Nathalia.
"Ini gue Nathalia Putri. Jangan membuat keributan lagi."
Tatapan tajam Nathalia membuat seisi kelas menciut. Benar-benar menyeramkan. Namun karena tatapan tajam itu, mereka yakin kalau itu bukan Nathali Alexander sebab Nathali adalah gadis lemah lembut dan punya senyum malaikat. Hanya saja mereka merasa bingung dengan perubahan drastis Nathalia.
Bagaimana mungkin setelah koma sebulan lebih Nathalia kembali ke sekolah dengan penampilan yang sangat berbeda?!
Sejujurnya, mereka ingin bertanya lebih jauh tapi tidak berani melihat tatapan tajam Nathalia.
Pada akhirnya mereka hanya bisa menyimpulkan Nathalia gadis yang mirip dengan primadona sekolah. Wajar saja jika ada orang yang mirip dengan Nathali.
Nathalia bertopang dagu lalu menatap ke luar jendela. Langit terlihat sangat cerah tanpa ada awan yang menghiasi sedikit pun. Sementara itu, para murid di dalam kelas masih mencuri-curi pandang ke arah Nathalia dengan tatapan penasaran.
"Selamat pagi!" Sapa guru yang baru saja memasuki kelas IPS 1.
"Pagi, Bu!"
Nathalia mengalihkan pandangan ke depan dan melihat Bu Ratna. Wali kelas IPS 1. Di samping Bu Ratna terlihat seorang perempuan yang tengah menunduk sembari meremas roknya gugup. Nathalia mengalihkan pandangannya lagi. Memilih bermain ponsel.
"Bu!! Siapa yang di samping ibu itu??"
"Sabar! Ini baru saja saya hendak menyuruh dia memperkenalkan diri." Omel Bu Ratna.
"Hehe. Abisnya saya gak sabar, Bu."
Bu Ratna menggeleng-gelengkan kepala mendengar penuturan anak muridnya. Lantas, ia pun menyuruh murid baru itu untuk memperkenalkan diri.
Murid baru mengangkat wajahnya sehingga membuat keadaan dalam kelas semakin heboh.
"Wah, Cantik banget sih, dek. Mau jadi pacar Abang gak?"
"Pindahan dari mana?"
"Udah punya pacar?"
"Kriteria pacar idaman seperti apa?"
"Minta nomor hp dong!"
"CK! Dasar para buaya!"
Murid baru itu berdiri canggung di depan kelas dengan wajah merah.
"Kalian ini menyebalkan sekali! Diam atau saya akan menyuruh kalian membersihkan perpustakaan." Ancaman Bu Ratna berhasil membuat mereka kicep dan diam seketika. Bu Ratna tersenyum puas dan menoleh ke murid baru. "Sekarang perkenalkan dirimu, nak."
Murid baru mengangguk patuh. "Hai semua. Perkenalkan nama saya Anindya Pratama. Panggil saja Anin dan saya pindahan dari Bandung."
"Baiklah, Anin. Sekarang kamu boleh duduk di samping Nathali." Ujar Bu Ratna. Tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya.
"Nathali yang mana, Bu?" Tanya Anin kebingungan.
Bu Ratna menunjuk ke arah Nathali yang tetap diam dengan wajah datar meskipun di dalam hati Nathali sangat bangga karena dia masih diingat oleh Bu Ratna meskipun raganya sudah dimakamkan.
"Baik, Bu."
"Yah, Bu, kok gak diadain sesi tanya jawab dulu sih?!" Protes salah seorang siswa.
"Gak usah adain sesi tanya, kalian meresahkan." Ketus Bu Ratna. Disambut kekehan geli dari seluruh murid.
"Oh ya, Nathali. Apakah kita ada pr untuk hari ini?"
Nathalia tersenyum.
Para guru tetap lah sama. Tetap menanyakan ada pr atau tidak ke dirinya.
Bu Ratna tiba-tiba melotot kaget melihat senyuman Nathali dan terjengkang dari kursi. Bukannya menolong, seisi kelas malah menertetawakan nasib sial Bu Ratna. Termasuk Nathalia sendiri karena menurutnya itu sangat lah lucu.
"Nathali kok bisa ada di sini?! Bukannya dia udah meninggal?!" Jerit Bu Ratna histeris.
"Astaga, Bu. Saya bukan Nathali tapi Nathalia." Kekeh Nathalia manis.
"APA?!"
"Sebaiknya ibu duduk dulu deh. Apa gak sakit tiduran di lantai terus, Bu?" Tanya Nathalia Santai.
Bu Ratna melotot kaget lagi dan buru-buru bangkit dari posisi mengenaskannya. Bu Ratna mengelus punggungnya yang terasa sangat sakit. Lalu, tatapannya teralihkan ke Nathalia yang masih duduk tenang di kursi. "Kamu benar-benar Nathalia yang selalu menunduk seperti orang depresi itu?"
"Iya, Bu. Saya Nathalia." Kekeh Nathalia gemas.
"Kenapa bisa berubah drastis seperti ini? Dan kenapa wajahmu bisa mirip dengan Nathali?"
"Mungkin karena kami kembar, Bu." Jawab Nathalia tidak yakin.
Bu Ratna berjalan mendekat ke arah Nathalia dan menilai Nathalia dari atas sampai bawah. "Setahu ibu orangtua kalian berbeda. Nathali berasal dari keluarga Alexander dan Nathalia berasal dari keluarga Richard. Kenapa kalian bisa kembar? Bagaimana ceritanya? Jadi, siapa dong yang orangtua kandungmu?"
Nathalia menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Bu."
Bu Ratna menatap Nathalia intens. "Kamu benar-benar bukan Nathali, 'kan?"
"Ya ampun, Bu. Bagaimana mungkin saya ini Nathali? Bukan kah Nathali sudah meninggal dunia dengan keadaan yang sangat mengenaskan? Bagaimana mungkin saya bisa duduk tenang di sini jika saya Nathali?!"
"Iya juga sih." Bu Ratna manggut-manggut sendiri. Dia bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mengenaskan jasad Nathali. Tidak hanya itu, dia juga menghadiri pemakaman Nathali. Murid kesayangannya.
"Tapi kenapa ibu merasa kamu ini Nathali ya? Cara berbicara mu, senyummu, dan tingkahmu sama persis seperti Nathali. Kamu bukan seperti Nathalia."
Perkataan Bu Ratna membuat seisi kelas terdiam dan membenarkan di dalam hati. Mereka kembali di buat bingung.
"Apakah mungkin jiwamu masuk ke dalam tubuh Nathalia?!"
Keadaan semakin mencekam mendengar pertanyaan tidak masuk akal Bu Ratna.
"Astaga, Bu. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Sebaiknya ibu mengurangi baca novel fantasy deh." Sanggah Nathalia langsung tapi tidak menunjukkan gerak gerik mencurigakan.
Namun sepertinya Bu Ratna tetap kekeuh pada pemikirannya. "Jujur saja. Jiwamu masuk ke dalam tubuh Nathalia 'kan?"
-Tbc-