Part 4. Berteman Sekedarnya Saja

905 Kata
Part 4. Sekedarnya Saja Suasana hening di dalam kelas dipecahkan oleh tawa garing Nathalia. Semua orang tersadar dari pikiran masing-masing mendengar suara tawa itu. Lantas mereka menatap Nathalia seolah meminta penjelasan, terutama Bu Ratna. "Astaga, Bu. Bagaimana mungkin jiwa Nathali masuk ke dalam tubuh saya, Bu? Itu semua hanya terjadi di dalam dunia novel. Ibu habis membaca novel tema itu ya makanya sampai menebak jiwa Nathali masuk ke dalam tubuh saya?" Tanya Nathalia Santai. Tidak terlihat gugup sedikit pun sehingga siapa pun percaya padanya dalam seketika. Pikiran fantasi tentang jiwa berpindah tubuh mereka hempaskan jauh-jauh dan menegaskan dalam diri mereka bahwa yang dikatakan Nathalia benar. Jiwa berpindah tubuh setelah kematian itu hanya terjadi dalam novel-novel! Lagipula bukan kah kehidupan itu hanya sekali? "Ya. Ibu baru saja selesai membaca novel tentang itu semalam di w*****d. Ibu bahkan rela bergadang menamatkan novel nya tapi sial sekali malah bertemu dengan kata "part dihapus untuk kepentingan penerbit" nyesek banget! Rasanya ibu pengen membanting hp saking kesalnya." "Curhat, Bu?" Celetuk salah satu siswa. Bu Ratna melototi Siswa bernama Agus itu. "Kamu tidak tahu bagaimana nyeseknya digantung tak bertali seperti itu. Lebih nyesek daripada nilai ulangan mu yang selalu mendapatkan nilai di bawah 45." Sontak saja seluruh murid tertawa mendengar ucapan blak-blakan Bu Ratna sedangkan Agus yang di ejek cengengesan tidak jelas. "Yang penting gak nol, Bu. Setidaknya otak saya masih berfungsi sedikit." "Dasar tidak tahu malu. Kalau ibu yang jadi kamu, ibu tidak akan berani untuk mengangkat kepala apalagi sampai tertawa." Dengkus Bu Ratna. "Si Agus emang gak tahu malu, Bu. Semua perempuan ia godain, padahal sudah punya pacar. Good looking pun gak tapi sok sok an jadi fakboi." Bu Ratna mengangkat tangannya sembari menatap si murid. "Jangan membawa-bawa fisik, Dea. Gak baik." Tegurnya langsung. Dea mengerucutkan bibirnya kesal. "Tapi kan yang Dea katakan fakta, Bu." "Tidak peduli itu fakta atau mitos. Intinya jangan membawa-bawa fisik. Tidak baik." Agus tersenyum penuh kemenangan ke arah Dea sehingga membuat gadis itu memutar bola mata malas. Nathalia yang bosan mengamati keadaan di kelas mengalihkan pandangannya ke luar. Kebetulan di sampingnya ada jendela yang menyuguhkan pemandangan halaman sekolah yang sepi. Maklum, Semua siswa berada di dalam kelas dan mengikuti pelajaran. "Psttt." Bisikan terdengar olehnya namun Nathalia tidak menoleh sama sekali. "Pstt.." Bisikan kedua terdengar, diiringi dengan colekan di lengannya. Baru lah Nathalia menoleh namun tatapannya terlihat sangat malas sehingga membuat Anin si murid baru menyengir canggung. "Maaf kalau menganggu Lo." Nathalia masih menatap datar tanpa ekspresi. "Kenapa?" "Ayo berteman." Cetus Anin langsung sehingga mendapat tatapan aneh dari Nathalia. "Gue Anin. Kalau Lo?" Nathalia menghela nafas jengkel. "Lo gak dengar apa yang dikatakan ibu tadi?" Bibir Anin cemberut seketika mendapat pertanyaan sinis Nathalia. "Galak amat sih Lo. Gue kan hanya basa-basi." Nathalia tertawa geli melihat raut wajah nelangsa Friska. "Maaf. Gue hanya bercanda kali. Jangan ngambek." "Dih, siapa yang ngambek?" "Ya, Lo lah. Lihat tuh bibir Lo udah kayak bebek." Kikik Nathalia geli. Anin menutup bibirnya dan menatap Nathalia kesal. "Kayak anak kecil aja Lo." Decak Nathalia dan mengalihkan pandangan ke arah Bu Ratna yang mulai menjelaskan pelajaran Sejarah Wajib. "Gue gak kayak anak kecil kali! Gue udah remaja." Protes Anin tidak terima. "Stt. Diam. Dengerin ibu yang nerangin materi pelajaran." Dan anehnya murid baru itu langsung nurut mendengar perkataan Nathalia. Waktu demi waktu mereka habiskan di dalam kelas dengan mendengarkan penjelasan dari Bu Ratna. Terkadang beberapa murid bertanya ke Bu Ratna tentang hal yang membuat mereka ragu atau pun tidak mengerti. Sementara Bu Ratna menjelaskan dengan baik sehingga para murid menjadi mengerti. Ya, meskipun materinya hanya bertahan paling lama dua hari di dalam otak. Tak terasa jam pelajaran Bu Ratna habis. Semua murid meregangkan tubuh mereka yang terasa kaku atau pun meletakkan kepala mereka di atas meja. Belajar memang aktivitas yang sangat melelahkan. "Baiklah, untuk hari ini sampai di sini dulu pertemuan kita. Jangan lupa buat pr dan minggu besok kita ulangan tentang materi yang kita pelajari hari ini." Ucapan Bu Ratna selanjutnya mampu membuat tubuh para murid tegak seketika. "Yah, Bu! Kenapa cepat banget ujiannya?" "Ibu gak terima protesan. Bye!" Nathalia terkekeh geli melihat Bu Ratna yang langsung keluar dari kelas tanpa membiarkan para murid protes. Bagi Nathalia sendiri, ujian atau enggaknya tidak masalah karena materi sudah tersimpan rapi di dalam otaknya. Satu hal yang perlu kalian tahu, di masa hidupnya sebagai Nathali selalu ia habiskan dengan belajar. Mempelajari semua mata pelajaran, baik itu pelajaran IPA maupun IPS Nathalia jenuh? Tentu saja! Tapi dia tidak bisa untuk menolak melakukan hal itu. Dia di tuntut sempurna oleh kedua orangtuanya. Di tuntut menguasai semua bidang pelajaran. Mengikuti les setiap hari demi membuat pengetahuannya semakin bertambah. Semua materi di mata pelajaran Bu Ratna, Nathalia sudah menghafal isinya di luar kepala. "Nat, nanti temenin gue keliling sekolah ya? Gue pengen ngenal sekolah ini lebih dalam lagi." Pinta Anin. Meski malas, tapi Nathalia tetap lah mengiyakan permintaan Anin. Bukan karena tidak enak menolak tapi karena malas mendengar rengekan Anim selanjutnya. Makanya lebih baik mengiyakan saja. Hanya saja, kali ini jangan harap Nathalia akan percaya pada orang lain seperti percaya pada Gevan dan Rere dulu. Dia hanya akan berteman dengan semua orang tanpa menaruh harapan lebih. Dia tidak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Cukup sekali karena kejadian itu saja sudah membuatnya sangat sakit hati. Lantas, bagaimana jadinya jika kejadian itu terulang untuk kedua kalinya di dalam kehidupan berbeda? Prinsip Nathalia sekarang ... "Berteman hanya sekedarnya saja." -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN