"Nata! Ayo temenin gue keliling sekolah."
Nathalia tetap menutup mata. Berpura-pura tidur seperti yang dilakukannya semenjak Bu Ratna keluar. Sangat nyaman rasanya bisa sebebas ini tanpa takut dipandang rendah orang lain karena tiduran di sekolah.
Kebebasan inilah yang diidam-idamkannya sejak dulu. Melakukan apapun yang disukainya tanpa diatur-atur oleh orang lain atau pun berada di dalam pengawasan orang banyak.
"Ih, Nata! Jangan sok tidur deh! Gue tau lo gak tidur sama sekali."
Anin merajuk sembari mengguncang lengan Nathalia kuat hingga mau tak mau membuat Nathalia menegakkan tubuhnya dan menatap Anin kesal. "Kenapa gak ajak yang lain aja sih?" Ketusnya
Sungguh, Nathalia tidak peduli jika saja dia tidak akan punya teman karena sifat ketusnya. Dia bisa melakukan apapun sendiri dan yang paling terpenting, dia akan terhindar dari pengkhianatan.
Akan tetapi sepertinya Anin tidak sakit hati sama sekali mendapat jawaban ketus dan kesal dari Nathalia. Gadis itu tetap tersenyum. Tidak terlihat tersinggung sedikit pun oleh nada bicara tak bersahabat Nathalia. "Kan Lo udah janji sama gue."
"Lo bisa aja kali keliling sama yang lain kali."
"Gue gak punya teman." Jawab Anin sedih.
"Emang gue teman Lo gue?"
Pertanyaan menusuk Nathalia membuat Anin tersenyum lebar. "Iya, kita teman."
"Sejak kapan kita teman?" Nathalia masih terlihat tidak peduli.
"Sejak ibu Ratna mengatur tempat duduk untukku di sini."
Nathalia berdecak kesal. "Serah! Intinya jangan sama gue. Sama yang lain aja. Semua orang pasti mau kok menemani Lo keliling sekolah karena Lo cantik."
"Tapi gue maunya sama Lo." Rengek Anin lagi sambil mengeluarkan puppy eyesnya.
"CK!" Gadis cantik itu memalingkan wajahnya ke arah lain, selain menatap puppy eyes Anin yang terlihat sangat menyedihkan di matanya.
"Ayolah, Nat! Temenin gue."
"Gak! Sama yang lain aja. Gue ngantuk. Mau tidur."
"Nanti kalau Lo jalan-jalan sama gue, kantuknya juga bakal hilang. Apalagi kalau bertemu cogan. Beuh, pasti mata Lo langsung seger."
"Gak!"
"Ih, Nat! Ayolah! Temenin gue."
Rengekan Anin membuat Nathalia mengacak-ngacak rambutnya kesal. Merasa tidak akan ada ujungnya jika berdebat dengan Anin. Jadi, dia memutuskan untuk mengiyakan saja.
Gadis cantik itu bangkit dari kursinya. Berjalan menuju pintu kelas, meninggalkan Anin yang melongo tidak mengerti.
Menyadari Anin tidak mengikutinya, Nathalia kembali berbalik dan menatap Anin datar. "Kok Lo masih duduk di kursi?"
Anin mengerjap tidak mengerti. "Trus, gue harus gimana dong?" Tanyanya polos.
Nathalia tersenyum paksa namun tetap terlihat manis. Gadis cantik itu benar-benar gemas dengan murid baru di kelasnya. "Katanya mau ditemani keliling sekolah. Jadi gak nih?! Kalau jadi, ayoklah! Kalau gak jadi, gue balik tidur lagi."
Anin sontak berdiri dari kelas dan berlari menghampiri Nathalia dengan tergesa-gesa. Takut teman barunya itu akan berubah pikiran.
"Eh, Lo gapapa?" Tanya Nathalia panik saat melihat Anin ngos-ngosan sambil memegang dadanya seperti orang kesakitan.
Anin masih sibuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan sedangkan Nathalia menunggu dengan cemas.
"Maaf ya, gue emang kayak gini. Gue paling gak bisa lari karena asma gue udah parah banget."
Nathalia menjitak kepala Anin gemas. "Kalau tau punya penyakit asma, kenapa Lo lari?"
Anin mengerucutkan bibir kesal. "Gue gak mau Lo berubah pikiran. Makanya gue langsung lari tanpa memikirkan hal lainnya."
Nathalia menghela nafas untuk kesekian kalinya dalam menghadapi teman sebangkunya itu. Anin benar-benar menguji kesabarannya.
"Gak usah keliling deh. Gue gak mau direpotkan nantinya."
Padahal aslinya Nathalia merasa khawatir dengan keadaan teman barunya tapi dia tidak ingin menunjukkan ke permukaan.
"Janji gak akan ngerepotin Lo. Please!! Temenin gue. Gue mau ngenalin sekolah ini lebih dalam lagi."
"Masih banyak waktu. Jangan bersikap seperti orang yang akan pindah besok." Kekeh Nathalia.
Wajah Anin mendadak murung sehingga membuat Nathalia berpikir.
Apakah ada yang salah dari ucapannya?
Kenapa Anin terlihat murung dan sedih?
"Sebenarnya gue di sekolah ini hanya sebulan, Nat." Tutur Anin pelan.
Nathalia melotot kaget. "Kok gitu sih?!"
"Biasa lah. Orangtua gue pindah-pindah tempat Mulu."
"Eh, tapi ini sebentar banget loh. Kenapa gak menetap aja di sekolah lama?"
"Orangtua gue gak mau membiarkan gue hidup sendirian di Bandung. Mereka terlalu mengkhawatirkan gue sejak gue diculik pas umur 5 tahun."
Nathalia mengangguk mengerti. Kemudian mengubah topik pembicaraan supaya Anin tidak terlihat sedih lagi.
"Ayo kita menjelajahi sekolah ini dan gue bakal ngenalin semuanya ke Lo."
Benar saja dugaannya, wajah Anin kembali terlihat berbinar mendengar ucapannya.
Perjalanan menjelajahi sekolah itu pun dimulai, diiringi dengan tatapan terkejut para siswa yang mengarah pada Nathalia.
Mereka berhenti menjelajah sekolah ketika Anin ingin buang air kecil. Nathalia menunggu di luar toilet sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Nathalia memutar bola mata malas melihat para murid kembali mengerumuninya.
"Lo beneran Nathalia?!" Tanya seorang siswi kepo.
"Ya." Nathalia menjawab singkat.
"Kok Lo bisa mirip kayak dia?"
"Halah! Palingan dia ingin jadi tenar doang dengan menggantikan kedudukan Kak Nathali." Ternyata Letta pun ikut-ikutan memanasi keadaan. Ia merasa iri dengan Nathalia yang mendapat perhatian dari banyak orang, makanya dia semakin memanas-manasi keadaan.
"Lo benar juga! Pasti dia memanfaatkan kematian Nathali untuk menjadi tenar di sekolah kita ini."
Nathalia mendecih kesal. Ia tahu semua perempuan di sini merasa iri dengan kecantikannya sehingga membuat kaum laki-laki ikutan membencinya dengan dalih meniru Nathali.
Dulu, para siswi diam saja dan tidak berani menganggunya karena ia anak kesayangan guru tapi sekarang ia bukan siapa-siapa hingga berani menganggunya.
"Semuanya! Dengerin gue baik-baik! Kalian jangan tertipu oleh tipu daya liciknya! Dia hanya ingin menggantikan kedudukan Nathali!"
"Dasar sampah! Mati aja Lo!"
Nathalia menghindari lemparan kotak s**u yang ditujukan padanya dengan mudah sehingga semua orang tercengang. Mereka tidak menyangka Nathalia bisa menghindar karena biasanya gadis itu begitu lemah dan mudah diintimidasi.
Nathalia tersenyum sinis ke arah mereka. "Kalian jangan berani menganggu gue lagi kalau tidak ingin perusahaan kalian bangkrut seketika." Ancamnya tak main-main.
"Kalian pasti tahu kan gue putri kandung Tuan Richard? Dan kalian semua pasti tahu kan akibatnya kalau menganggu putri kesayangannya?"
Nathalia tersenyum manis namun begitu mengintimidasi. "Dulu gue memang diam saja tapi mulai sekarang jangan harap gue bakal diam lagi. Kalau kalian berani menganggu gue, maka jangan salahin gue kalau perusahaan kalian tiba-tiba hancur dalam sekejap mata dan membuat kalian ditendang keluar dari sekolah ini."
Semuanya meneguk saliva kasar mendengar ancaman Nathalia.
"Lo jahat banget, kak. Menggunakan kekuasaan untuk mengancam Orang lain." Ujar Letta berani.
Nathalia bersidekap d**a dan menatap Letta rendah. "Terserah gue menggunakan kekuasaan untuk mengancam atau tidaknya. Lo gak usah ikut campur, anak tiri."
Wajah Letta merah padam.
"Ah ya, Lo pasti gak pernah 'kan mengancam seseorang menggunakan kekuasaan karena sebelumnya Lo dan ibu Lo itu orang miskin. Jadi gapapa sih, gue wajar aja."
Letta melayangkan tamparannya ke wajah Nathalia karena merasa sangat marah tapi Nathalia menahan tangannya dengan mudah. "Satu hal lagi, kalau saja ibu Lo gak nikah sama ayah gue, sudah pasti lo gak akan bisa menginjakkan kaki ke sekolah elit ini." Ejeknya.
Nathalia menguatkan cengkeramannya saat Letta memberontak. "b***h!!" Umpat Letta.
"Anak tiri harap sadar diri. Kalau bisa bawa ibu Lo pergi jauh dari kehidupan gue dan jangan pernah kembali lagi karena lo dan ibu Lo itu hanya parasit di dalam keluarga Richard."
Semua orang tercengang mendengar perkataan menyakitkan Nathalia. Tiada kata yang tepat untuk mewakilkan rasa terkejut mereka melihat Nathalia bisa melawan dan membalas berkali-kali lipat.
-Tbc-