bicara

1124 Kata
Khayran membawa ayra melewati lorong ke arah belakang kantin. ya, dari dulu kemanapun ayra dan khayran pergi selalu banyak pasang mata melihat mereka kagum Karana banyak yang bilang mereka serasi. "Kenapa wajahmu Ra?" Tanya ayra setelah mereka berhenti. "Gak apa-apa " jawab ayra, dia berusaha biasa saja. "Kamu menan...." Belum sempat melanjutkan ucapannya, ayra memotong. "Mau bicara apa ka? Aku ada kelas sebentar lagi." Khayran membuang pandangan ke kanan menata hatinya, "aku cuma mau bilang sama kamu Ra, bisa biasa aja, tak usah saling menghindar, apalagi membenci toh kita baik-baik saja dari awal bukan ?" "Memangnya aku kenapa ka?" Tanya ayra. "Bicara padaku sama seperti kamu bicara pada teman-temanmu yang lain, tersenyum, menyapa ku sama seperti yang dulu kita lakukan" jelas khayran. Mana bisa ka melihat kamu saja ada sesak dalam d**a, tapi ayra hanya bicara dalam hati, tak sanggup bicara langsung. "Yang putus itu hubungan asmara kita ra, bukan silaturahmi kita, lagipula kita di organisasi yang sama, kampus yang sama bahkan gedung yang sama, akan aneh jika setelah putus kita menjadi seperti musuh mendiamkan satu sama lain." Lanjut khayran. Ayra hanya diam saja, padahal dalam hatinya dia senang bukan main khayran tak membencinya. "Aku liat kamu baik-baik saja ka, tak sedih" ayra merutuki mulutnya kenapa malah itu yang keluar dari mulutnya. Kenapa aku malah bicara seperti itu, bukan kah aneh aku yang meminta putus tapi aku yang merasa seperti tersakiti. "Aku sama sedihnya sepertimu Ra, sakit pula aku rasakan dihati, tapi sedihnya kita berbeda, jika kamu menangis untuk meng-ekpresikan sedih mu kalo aku saking sedihnya tak bisa mengeluarkan air mata, menurutmu mana yang lebih sedih?" Kata orang jika seseorang bersedih tapi tak bisa mengeluarkan air matanya, berarti lukanya Amat dalam. "Baik" hanya itu yang keluar dari mulut ayra, ayra benar-benar ingin menghindari khayran karna terlalu sakit bahkan saat melihat wajahnya saja. "Baik? " Khayran mengulang yang ayra katakan dengan suara di tekan. "Iya ka aku akan coba, bersikap biasa saja, sama seperti hari-hari sebelumnya, maaf membuat kamu tidak nyaman ka." Tuhan cepatkan lah ini rasanya air mataku mau tumpah lagi bicara dengan khayran.6 "Tak perlu minta maaf, tapi aku rasa Riko mulai mencuri start, ketika dia tau kamu single" Ayra langsung menatap khyran, tapi tetap membuatnya diam saja, dia merasa ada sindiran di setiap kata yang khayran ucapkan. Lagipula siapa yang tak tertarik pada ayra, wajah nya yang kecil, hidungnya banghir, kulitnya kuning Langsat, badannya indah, tidak kurus atau gemuk, pas. dan matanya coklat terang, badannya tinggi semampai, rambut panjang yang kecoklatan, setiap mata pasti kagum atas ciptaan tuhan yang satu ini. "Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan,aku pamit dulu ya kak, ada kelas soalnya" izin ayra, menyadarkan lamunan khayran. "Ya sudah." balas khayran. Ayra pergi meninggalkan khayran, menuju ke kantin, tiba di meja tempat mereka makan, ayra mengajak Sisil masuk ke kelas bersama kebetulan mereka juga satu jurusan. Di jalan menuju kelas, ayra tak sengaja berpapasan lagi dengan khayran yang akan pergi ke kelasnya juga, mereka hanya saling tatap lalu melanjutkan jalan masing-masing. Ya walaupun satu gedung mereka berbeda jurusan. Di kelas ayra dan Sisil sedang fokus mendengarkan dan mencatat yang penting yang dosen terangkan, tak terasa waktu berlalu dengan cepat, Karana saking fokusnya mereka belajar tak terasa jam pelajaran berakhir dan dosen segera memberi tugas. Kebetulan ayra cuma ada satu kelas saja hari ini, dia ingin langsung pulang saja ke kosan Karna kurang tidur kemarin, dia banyak menangis dari pada istirahat. Dijalan ayra tanpa sengaja melihat khayran yang sedang dikerumuni oleh anak-anak perempuan, ayra tidak pernah mengenal gadis-gadis itu, sepertinya anak Maba. Entah kenapa ada rasa sakit dan tidak terima khayran di genitin oleh peremuan-puan itu, memang sejak dlu banyak sekali yang menggoda khayran entah dari kalangan senior maupun junior sekarang di tambah anak-anak Maba itu. Biasanya tak sepanas ini tapi kali ini berbeda, ayra akan cuek saja karna tau khayran tak akan menanggapi dan dia juga percaya pada khayran, tapi kali ini tuh dia dan khayran sudah putus, bisa saja khayran tergoda, ada rasa tak terima dalam hati hanya memikirkannya saja. Sedang asyik melamun dengan pikirannya, Notifikasi di handphone nya membuyarkan lamunan, dan ternyata ada motif dari grup organisasinya, yang ternyata meminta meeting dadakan untuk acara bazar pekan depan. Saat mau pergi ke tempat meeting, khayran memanggilnya, " Ra, mau ketempat meeting yah?" Teriak khayran. Ayra hanya mengangguk saja, "bareng aku aku, tunggu! " Jawab khayran. Ayra mencoba biasa saja, dan menunggu khayran yang berlari mendekatinya. Sampai khayran tepat berada di depannya keduanya langsung berjalan beriringan. "Terimakasih Ra menyelamatkanku dari gadis-gadis itu" kata khayran memecah kebisuan. "Aku tak menolong apapun" jawab ayra datar tanpa menoleh ke khayran, sambil meneruskan jalannya. Khayran menahan tawanya, ayra menoleh ke arah khayran, "kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu" tanya ayra sambil sedikit sebal. "Kamu kenapa, cemburu?" Tanya khayran sambil menggodanya, dan meratap terkekeh. "Siapa aku? Cemburu? Tidak, aku hanya bicara kenyataan Karana memang aku tak membantu apapun" kilah ayra. "Iya deh iya" khayran selalu tau cara agar tak memancing ayra tambah emosi, mereka selalu seperti itu, meski jarang meng habiskan waktu berdua tapi sudah Saling paham karakter masing-masing, mereka rasa 3 tahun memang lama sampai bisa mengerti satu sama lain. Sampai mereka tiba di depan ruangan meeting, keduanya hanya diam, duduk ditempatnya masing masing, ya begitulah pas masih bersama pun mereka sangat jarang mengobrol mereka menilai dari cara pasangan mereka berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Diruang meeting ternyata hanya memastikan mereka sudah siap pada stennya dan keperluan untuk acara dan tugas mereka masing-masing. Kebetulan khayran dan ayra dapat tugas konsumsi dan menjajarkan makanan, tapi khayran juga pengisi acara. ya, Karna khyaran pandai memainkan alat musik pasti terpakai bakatnya. "Ra sore kita ke tempat tukang pesanan makanan ya" mereka berencana memesan kue, pada tukang kue yang sudah langganan anak-anak kampus yang ingin memesan. "Iya" jawab ayra, sebenernya kelompok mereka masih ada empat orang lagi tapi mereka ditugaskan ke tempat lain. Mereka pun berangkat menggunakan motor sudah pasti ayra dibonceng khayran. "Dimana tempatnya ka?" Tanya khayra ketika mereka sudah setengah perjalanan. "Dirumah ku" jawab khayran enteng. "Kenapa di rumah mu ka? kamu tak ada bilang kita mau kerumahmu?" Tanya ayra kaget. "Mau pesan kue kan?" Jawab khayran terkekeh menahan tawa. "Tapi kenapa di rumahmu ka?" Tanya ayra yang yang masih mencerna semua ini. "Karna kita akan pesan di si mbok yang kerja dirumahku ay" lagi khayran tak mampu menahan tawanya karna benar-benar gemas pada ayra yang bingung. Tapi dia tetap saja menyetujuinya, dan motor pun berhenti tepat di depan rumah besar yang tidak bertingkat itu. "Turun ay" khayran memang sering memanggil nama kesayang yang hanya mereka saja yang tau. (Dih mantan serasa masih pacaran aja). "Gak apa-apa ini aku masuk?" Tanya ayra meyakinkan. "Memang ada larangan, dari dulu juga boleh" jawab khayran kali ini ekspresi datar. ayra hanya mengangguk kecil, tak mau membahas terlalu jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN