Tiba di kamar ayra menangis sejadi-jadinya mengeluarkan sisa rasa yang tersisa di d**a,
Memang sangat jarang momen-momen mereka bersama, hanya sedikit kenangan yang mereka punya, karena mereka sangat menjaga diri masing masing, tapi tetap saja sakittttt..... sekali rasanya berpisah bukan atas keinginan sendiri.
Bahkan khayran tak mempunyai jejak buruk selama menjalin hubungan dengannya.
Walaupun selama tiga tahun menjalin hubungan ayra cuma sekali kerumah khayran itu pun menjenguk khayran pas waktu sakit, saat baru menjalin hubungan sekitar semingguan.
Disana khayran memperkenal kan dirinya pada ibu dan kakaknya yang kebetulan sedang berada di rumahnya, ntah apa yang mereka bicarakan tapi responnya berubah saat pertemuan pertama di depan pintu tadi.
Sejak saat itu ayra tidak pernah lagi kerumahnya khayran.
Dia juga tidak minta di bawa kerumah khayran lagi pula perasaannya masih tidak enak, pertemuan nya yang pertama membuat ekspresi wajahnya ibunya berbeda.
Kebetulan ayra juga orangnya sedikit sensitif, mengerti perubahan sikap dan ekspresi dari keluarga khayran, jadi dia tidak ingin menambah kesan buruk.
Waktu berjalan hingga malam tiba, tapi ayra masih menangis di kamar kosannya masih enggan untuk bangkit.
Kalo di tanya khayran pernah bertemu keluarganya atau tidak jawabannya tidak, Karana keluarganya ayra di Bali kebetulan dia anak tunggal dan ayahnya sudah lama meninggal, dia merantau untuk kuliah di Bandung mengejar cita-cita dan inilah dia berada di kota orang sekarang.
Lama bergelut dengan pikiran dan hati yang galau tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.
"Ra, ada dikamar tidak? Aku mau makan nih sekalian pesen enggak? " Sisil teman kosan sekaligus teman kampus, sahabat, yang menjadi keluarga selama dia merantau di kota orang.
Sisil juga perantau, tapi dia dari Jawa timur tepatnya dari Ponorogo, jadi rasanya seperti keluarga, lagi pula kita kulian di universitas yang sama, jurusan yang sama, bahkan tempat kos yang sama.
"Tidak sil aku masih kenyang." Jawab ku dengan serak Karna masih menangis.
"Masa sih? kok kayanya lagi gak oke." tau saja dia yang sedang aku rasa padahal tak melihat wajahku.
"Bener sil, aku oke kok" jawab ayra yang masih sedikit terisak.
"Coba buka dulu aku mau lihat!" Sisil masih saja bersih keras, ntah dia punya ikatan batin atau suaraku yang memang sangat tertara ini.
Mau tak mau ayra pun membuka pintu kamar, menongolkan hanya kepalanya ke pintu.
"Aku oke, beb" sambil menghisap ingus yang hampir keluar.
"Oke apanya itu" jawab Sisil sambil memincingkan matanya menatap intens ke arah ayra.
"Ada apa sih Ra, tumben begini? " Tanya Sisil penasaran melihat mata sembab, hidung merah berhingus kan air.
Ayra tersenyum "gak apa-apa sil."
"Ya udah nanti aja aku paksa ceritanya, sekarang aku pesannin makanan ya?"
"Aku mau pesen nasi goreng, mau?"
"Mie aja deh nanti nasinya minta kamu."
"Sippp" sambil mengacungkan kedua jempol tangan dan memiringkan kepala tersenyum lebar.
Begitulah mereka kalo makan pasti berbeda menu agar bisa menyicipi satu sama lain.
Tak berapa lama pesanan mereka tiba, ayra dipaksa makan oleh Sisil, dan sambil mengunyah makanan nya Sisil memulai percakapan.
"Ada apa sih Ra kok tumben nangis gini?" Lagi Sisil menanyakan hal yang sama.
"Aku putus sil sama khayran" jawab ayra sembari menggulung-gulung mie nya memakai garpu.
Sisil yang sedang mengunyah pun memuncratkan seluruh nasi yang dikunyah.
"Kenapa putus ? Ada masalah apa? Kok bisa putus sih?" Pertanyaan yang tak kunjung habis di tanyakan manusia kepo satu ini.
"Ya bisa lah memang sudah dari awal salah, dari awal tidak boleh berhubungan." ayra sambil menangis mengatakannya.
Sisil yang sudah biasa saja dan lanjut menikmati makanannya itu." padahal kalian cocok loh, best couple gitu." Ucap Sisil tanpa menoleh.
Ayra hanya diam tak menanggapi perkataan Sisil.
"Tapi kenapa sesakit ini ya putus hubungan, apamunkin karna khayran tak salah, tak punya kurang, dan rekam jejaknya dalam hubungan kita baik." tanya ayra.
"Seperti itulah rasanya, jangankan khayran yang laki-laki baik-baik, cowo berengsek saja kalo putus pasti cewe mah nangis ra, makanya kamu sabar yaa" Sisil mulai menenangkan.
Sisil menemani ayra sampai menginap di kamar kostnya Karana takut sahabatnya itu terpuruk berlarut-larut.
Keesokan harinya mereka pergi kekampus pagi hari karna ada rapat meeting organisasi kampus.
Setiba di depan pintu ruangan ayra tidak sengaja berpapasan dengan khayran.
Sekilas dia bertatapan, matanya saling bertemu, tapi setelah itu khyran tersenyum tipis padanya lalu masuk duluan.
Ayra yang membeku pun ditoel sikunya oleh Sisil, "udah Ra, selaw"
Ayra mengerjakan mata, lalu berbisik pada Sisil " dia sepertinya baik-baik saja sil, tak terganggu sedikitpun."
"Dia kan memang manusia tanpa ekspresi Ra, tapi siapa yang tau, mungkin di dalam hatinya dia sama sepertimu, sedih juga." Sisil menanggapi ayra yang bertanya.
Ayra hanya diam menatap ke bawah sambil melangkah masuk ruangan rapat.
Hingga rapat selesai ayra hanya diam saya menatap buku kosong dan memainkan pulpenya.
Ayra keluar dari ruangan rapat lalu saat akan berdiri dia dihadang seseorang.
"Ingin sarapan bersama?" Tanya orang itu.
Ayra tersenyum lalu menarik ujung baju Sisil memberi kode, untuk membantunya menghindari orang yang berada didepannya itu.
Sisil yang usil pun tak menanggapi kode ayra, dan malah tersenyum tertahan.
Ayra yang tau maksud Sisil hanya bisa kesal dalam hati, dan untuk mengurangi ketidak nyamanan nya ayra matanya menyapu seluruh ruangan, agar tak terbaca raut wajahnya, tak sengaja matanya malah bertemu pada khayran yang juga sedang menatapnya, dan pupil mata mereka bertemu.
Ayra yang gugup langsung meng-iyakan ajakan orang yang ada di depannya, padahal iya hanya mau menghindar dari sorot mata yang sedang menatapnya datar tapi mampu membuat panas, siapa lagi kalau bukan khayran yang menatapnya.
Mereka pergi bersama menuju kantin, dan Ayra memilih makan bakso bersama Sisil dan orang yang mengajaknya.
"Wajahmu kenapa Ra? Habis nangis?" Tanya orang yang mengajak ayra.
"Iya, dia habis putus dengan khayran masih galau-galaunya dia." malah Sisil yang menjawab pertanyaan itu, dasar teman tak berempati kesal ayra dalam hati.
"Aku tau kok," jawab orang itu datar.
"Tau?, tau dari mana orang putusnya saja baru tadi sore kok,emang udah tersebar gosipnya?" Jawab Sisil dengan heran, lalu saling tatapan dengan ayra yang juga heran.
"Tau dari mana kak?" Kalo ini ayra yang bertanya.
Orang itu hanya tersenyum ditanya ayra,
yang mengajak ayra makan adalah Riko, yang kata orang-orang dia menyukai ayra, tapi tak pernah mengganggunya karna mungkin tak enak Karana ayra pacar Tamannya, ya Riko adalah teman khayran.
"Kebetulan aku dengar ketika kamu sedang bertemu khayran di kemarin di caffe" jawabnya masih dengan ekspresi datar.
Ayra hanya bisa menatap ke arah Sisil dan Sisil pun kebetulan meluihat ayra, mereka sangat heran.
Tak berselang lama ada yang datang menghampiri kemeja mereka.
"Hai Ra, bisa bicara sebentar" ya siapa lagi kalo bukan suara berat khayran.
Ayra lagi-lagi menoleh pada Sisil.
Tapi dia juga bangun setelahnya.
"Bicara apa ka?" Tanya ayra.
"Bisa ikuti aku?" kata khayran.
Ayra pun mengikuti kemana khayran pergi, Sisil melanjutkan makannya dan Riko tampak datar raut wajahnya, tapi Sisil tau dia sedikit panas ( cemburu ).
Khayran membawa ayra melewati lorong ke arah belakang kantin.
ya, dari dulu kemanapun ayra dan khayran pergi selalu banyak pasang mata melihatnya kagum Karana banyak yang bilang mereka serasi.