"Kael, kau... kau akan melawan mereka sendirian?" tanya Maya, rasa cemas mendadak menyusup ke sela-sela ketakutannya sendiri, melampaui logika yang selama ini ia pegang.
Sudut bibir Kael terangkat, membentuk senyum buas yang penuh kepastian. "Aku adalah Alpha teritori ini. Mereka datang karena mengira kau adalah mangsa yang lemah, tetapi mereka akan belajar malam ini bahwa menyentuh ratuku berarti memilih kematian."
Kael melangkah menuju pintu depan. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, tubuhnya mulai bergetar hebat. Tulang-tulangnya berderak memanjang, otot-otot di balik seragam sekolahnya meregang dan merobek kain kemeja putihnya dalam hitungan detik.
Di depan mata Maya, Kael kembali bertransformasi menjadi serigala raksasa berbulu abu-abu gelap yang perkasa. Moncongnya yang tajam menghembuskan uap panas, dan sepasang mata keemasannya menyala buas di kegelapan ruangan.
Dengan satu geraman rendah yang seolah berjanji bahwa ia akan kembali hidup-hidup, monster buas itu mendobrak pintu dan melesat ke dalam pekatnya malam, memimpin kawanannya untuk menghabisi ancaman yang berani mendekati gadis pujaannya.
Pintu pondok terbanting menutup, menyisakan Maya yang terpaku sendirian di tengah ruangan temaram. Dari luar, suara gemuruh pertempuran terdengar memecah keheningan malam perbukitan. Raungan buas, desing cakaran di udara, dan deburan tubuh-tubuh raksasa yang saling menghantam di atas bebatuan membuat dinding kayu pondok bergetar pelan.
Maya melangkah mendekati jendela kaca tebal di samping perapian. Di bawah siraman cahaya bulan purnama yang menyelinap dari balik awan, ia bisa melihat kekacauan di pelataran batu kuno.
Kawanan serigala utara—makhluk-makhluk berbulu kasar dengan mata merah menyala—menerjang pagar teritori. Namun di garis depan, Kael mengamuk dengan keganasan yang tak tertandingi. Sebagai sang Alpha, wujud serigala abu-abu gelapnya jauh lebih besar dan gesit daripada lawan-lawannya. Dengan sekali terkam, cakar raksasanya menghempaskan dua penyerang sekaligus ke tebing batu, melindungi jalur menuju pondok dengan d******i mutlak.
Di tengah pertempuran itu, salah satu serigala penyusup berbulu belang berhasil menerobos barisan pertahanan. Makhluk itu menyadari keberadaan manusia di dalam pondok dan melesat cepat ke arah pintu utama.
Jantung Maya serasa berhenti berdetak saat cakar tajam penyusup itu mulai mencakar daun pintu kayu dari luar. Namun tepat sebelum pintu itu jebol, Kael melompat dari kegelapan bagai kilat. Ia menerjang serigala liar itu dari samping, mengunci leher lawannya dengan rahang yang kuat dan membantingnya ke tanah hingga tak berdaya.
Hening mendadak merayap kembali ke perbukitan. Sisa kawanan utara yang tersisa melolong mundur, melarikan diri ke dalam pekatnya hutan rimba.
Napas Maya tersengal di balik kaca saat pintu perlahan terbuka. Kael melangkah masuk kembali ke dalam pondok. Wujud buasnya perlahan menyusut, kembali menjadi sesosok pemuda bertubuh tegap dengan luka goresan cakar di bahunya dan napas yang memburu.
Mata keemasannya yang menyala liar langsung terkunci pada Maya. Tanpa memedulikan rasa sakit dari luka-lukanya, Kael melangkah cepat, menarik tubuh Maya ke dalam pelukan erat yang posesif dan sarat kepemilikan.
"Kau aman, Maya," bisik Kael parau di ceruk lehernya, mencium aroma gadis itu untuk menenangkan naluri buasnya yang baru saja meledak. "Mereka sudah tahu... siapa pun yang menyentuhmu, akan ku hancurkan tanpa sisa."
Maya merasakan detak jantung Kael yang berdegup liar di balik dadanya yang bidang, seirama dengan denyutan hangat dari liontin giok yang terhimpit di antara tubuh mereka. Aroma pinus bercampur sedikit anyir darah dari luka gores di bahu pemuda itu memenuhi indra penciumannya, tetapi bukannya takut, dorongan aneh di dalam diri Maya justru menuntun tangannya untuk perlahan membalas pelukan sang Alpha.
"Kau terluka, Kael," bisik Maya pelan, jemarinya yang lentik menyentuh tepi luka di bahu Kael dengan sangat hati-hati.
Kael mendesah rendah saat sentuhan lembut itu mengenai kulitnya. Rasa perih dari luka pertempuran seolah menguap begitu saja, digantikan oleh sensasi hangat yang menenangkan amarah serigala di dalam jiwanya. Ia menangkup wajah Maya dengan kedua tangannya, mengangkat dagu gadis itu agar sepasang mata mereka saling terkunci lekat.
"Luka ini bukan apa-apa," gumam Kael serak, tatapan keemasannya berkilat pekat penuh rasa damba dan perlindungan mutlak. "Melihatmu selamat dan berada di pelukanku jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini."
Kael menuntun Maya duduk di dekat perapian yang apinya masih menyala terang. Di bawah kehangatan kayu bakar yang berderak, Kael menarik napas panjang, menatap bayangan kobaran api yang memantul di bola mata Maya.
"Mulai malam ini, perbatasan kota dan hutan ini bukan lagi batas yang memisahkan kita," ujar Kael dengan nada yang mantap dan sarat akan janji abadi. "Kau boleh tetap bersekolah dan menjalani harimu, tetapi kau tidak akan pernah sendirian lagi. Kawananku akan menjagamu dari bayang-bayang, dan setiap malam tiba, tempatmu adalah di sisiku."
Kael menunduk, mengecup punggung tangan Maya tepat di atas nadi yang berdenyut selaras dengannya. Maya terdiam menatap ke dalam mata sang pemangsa buas—menyadari bahwa meski takdirnya telah berubah selamanya, di dalam dekapan sang Alpha yang terobsesi ini, ia justru menemukan tempat paling aman di muka bumi.
Malam-malam berikutnya di perbukitan Pine Ridge berlalu dalam ritme yang baru bagi Maya. Kehidupan gandanya dimulai: di siang hari ia tetap menjadi siswi SMA biasa dengan Kael yang duduk protektif di sampingnya, dan saat senja tiba, motor hitam besar Kael selalu menunggunya di ujung jalan untuk membawanya pulang ke pondok puncak bukit.
Malam itu, bulan purnama menggantung bulat sempurna di langit kelam tanpa sehelai awan pun yang menghalangi sinarnya. Suasana di pelataran batu kuno berubah khidmat. Seluruh anggota kawanan—puluhan serigala dalam wujud manusia dan binatang—berkumpul membentuk lingkaran besar di sekeliling api unggun raksasa.
Kael melangkah ke tengah pelataran, mengenakan jubah hitam tanpa lengan yang memperlihatkan tato cakar kuno di bahu serta lehernya yang kini menyala keperakan di bawah pendar rembulan. Ia mengulurkan tangannya ke arah Maya, membimbingnya melangkah menaiki altar batu di pusat lingkaran.
"Malam ini, bulan menuntut pengakuan mutlak," bisik Kael dengan suara berat yang bergetar penuh wibawa.
Tetua kawanan maju membawa sebuah belati perak kecil berukir simbol kuno. Maya menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut liontin giok di dadanya kian beresonansi cepat dengan detak jantung Kael. Tanpa rasa ragu yang tersisa, Maya mengulurkan telapak tangannya.
Kael menorehkan luka kecil di ujung jarinya sendiri, lalu melakukan hal yang sama pada ujung jari Maya. Saat darah mereka menyatu di atas batu giok yang tersemat di leher Maya, kilatan cahaya hijau keemasan meledak lembut, membungkus kedua tubuh mereka dalam aura magis yang mengikat jiwa mereka berdua menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.
Lolongan serentak dari puluhan serigala membahana ke angkasa, menggetarkan tanah dan mengguncang rimba raya sebagai tanda penghormatan tertinggi bagi penguasa baru mereka.
Kael menarik Maya ke dalam dekapannya di hadapan seluruh kawanannya. Matanya berkilat keemasan murni, menatap Maya bukan lagi sekadar sebagai gadis yang ia intai dari kegelapan hutan, melainkan belahan jiwanya yang abadi.
"Sekarang dan selamanya," bisik Kael sebelum mengecup bibir Maya di bawah restu bulan purnama, "tak ada kekuatan di dunia manusia maupun rimba yang sanggup memisahkan kita."