chapter 5

1082 Kata
Ikatan darah di bawah bulan purnama itu membawa perubahan nyata yang perlahan mengalir di dalam tubuh Maya. Saat ia membuka mata keesokan paginya di kamar utama pondok kayu, dunia di sekitarnya terasa jauh lebih tajam. Dari tempat tidurnya, ia bisa mendengar gemerisik dedaunan di kejauhan, desau angin yang membawa aroma embun pagi, hingga langkah kaki Kael yang berjalan tanpa alas kaki di lantai kayu ruang tengah. Maya melangkah keluar kamar dan mendapati Kael sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah lembah berkabut. Pemuda itu hanya mengenakan celana panjang hitam longgar, memperlihatkan otot punggungnya yang tegap dan guratan luka pertempuran yang kini telah mengering sempurna berkat kekuatan regenerasi serigala. Mendengar langkah halus Maya, Kael menoleh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum hangat yang hanya ia tunjukkan pada pasangannya. "Kau merasakannya, bukan?" tanya Kael serak seraya melangkah mendekat. Jemarinya yang hangat menyentuh pelipis Maya, merapikan anak rambutnya dengan kelembutan yang memabukkan. Hawa tubuh Kael yang panas kini tidak lagi terasa asing atau mengejutkan bagi Maya, melainkan seperti tempat berlabuh yang menenangkan. "Semuanya terasa... terlalu jelas," bisik Maya, menatap kedua tangannya yang kini dialiri getaran energi samar yang selaras dengan detak jantung sang Alpha. "Darah kita telah menyatu, Maya. Sebagian kekuatanku kini mengalir di dalam dirimu," ujar Kael dengan tatapan mata keemasan yang berkilat bangga dan posesif. "Indramu akan semakin peka, dan tidak ada bahaya di dunia ini yang bisa menyelinap mendekatimu tanpa kuketahui." Kael meraih tangan Maya, membimbingnya melangkah keluar menuju balkon kayu yang menjorok ke atas tebing tinggi. Dari sana, seluruh Hutan Pine Ridge terbentang luas bagai permadani hijau yang tak berujung di bawah sinar matahari pagi. Di bawah balkon, beberapa serigala penjaga yang sedang berpatroli mendongak. Begitu melihat Maya berdiri di samping Kael, serigala-serigala itu serempak menundukkan kepala dengan hormat. "Hutan ini, kawanan ini, dan seluruh kekuatanku adalah milikmu sekarang," bisik Kael tepat di telinga Maya, melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang gadis itu. "Takdirmu bukan lagi sekadar gadis biasa di kota bawah sana. Kau adalah belahan jiwaku, dan bersama-sama, kita yang akan menguasai rimba ini selamanya." Bulan-bulan berikutnya bergulir dengan perubahan yang kian nyata pada diri Maya. Di sekolah, ia bukan lagi gadis pendiam yang mudah diabaikan. Kehadirannya memancarkan aura wibawa yang tenang namun menekan, membuat murid-murid lain—bahkan para perundung—secara naluriah memberi jalan setiap kali ia melintas di koridor bersama Kael. Hari kelulusan SMA akhirnya tiba. Di tengah keriuhan pesta perpisahan di aula sekolah, saat para siswa sibuk melempar toga dan berfoto, Maya berdiri di dekat pintu samping yang terbuka menghadap ke arah perbukitan. Dari kejauhan, ia bisa mencium aroma hujan yang terbawa angin pegunungan—aroma yang kini terasa jauh lebih memikat daripada kehidupan kota yang sebentar lagi ia tinggalkan seutuhnya. Langkah kaki tegap mendekatinya dari belakang. Tanpa perlu menoleh, Maya sudah mengenali detak jantung yang beresonansi dengan liontin di dadanya. "Sudah siap meninggalkan dunia ini di belakangmu, Maya?" bisik Kael, menyejajarkan dirinya di samping gadis itu. Pemuda itu telah menanggalkan seragamnya, mengenakan pakaian serba hitam yang menyatu dengan bayang-bayang senja. Maya menatap aula sekolah untuk terakhir kalinya, lalu menoleh menatap sepasang mata keemasan yang menatapnya dengan pemujaan dan kesetiaan abadi. Ia menyentuh liontin gioknya, merasakan aliran kekuatan liar yang kini mengalir hangat di dalam nadinya sendiri. "Hutan itu adalah rumahku sekarang, Kael," jawab Maya dengan senyum tenang dan penuh keyakinan. Kael meraih tangannya, menyatukan jemari mereka sebelum membimbingnya melangkah keluar dari batas peradaban manusia. Di bawah naungan langit senja yang mulai dihiasi bintang-bintang pertama, motor besar Kael melaju kencang menembus jalan setapak bukit, membawa sang Alpha dan ratunya pulang ke tahta rimba Pine Ridge—tempat di mana obsesi buas telah berubah menjadi takdir abadi yang takkan pernah terputus. Satu tahun telah berlalu sejak kelulusan itu, dan Hutan Pine Ridge kini sepenuhnya tunduk di bawah kepemimpinan ganda yang tak tertandingi. Keberadaan Maya bukan lagi sekadar rahasia yang dilindungi di dalam pondok, melainkan simbol kekuatan baru bagi seluruh kawanan teritori bukit. Pagi itu, kabut tipis kembali merayap di antara pepohonan pinus. Di atas tebing batu karang tempat Kael dulu mengintai bus sekolah Maya, sesosok serigala berbulu abu-abu raksasa berdiri gagah. Namun di sampingnya, kini berdiri serigala kedua—sedikit lebih ramping dengan bulu keperakan bercorak putih yang berkilau di bawah sinar fajar. Transformasi pertama Maya terjadi beberapa bulan lalu, membuka wujud binatang buas yang lahir dari darah ikatan abadi mereka. Kael menyentuhkan moncongnya ke leher serigala perak itu, mengeluarkan dengkuran rendah penuh kepuasan posesif. Naluri serigala Maya menyambut sentuhan itu dengan gesekan hangat, merasakan aliran kekuatan tak terbatas yang saling mengisi di antara jiwa mereka. Tiba-tiba, telinga serigala Maya bergerak tegak. Dari kejauhan, di batas jalan setapak perkemahan lama, terdengar derap langkah sekelompok manusia yang membawa peralatan kemah baru. Suara tawa dan obrolan para remaja kota itu terbawa oleh angin pagi, persis seperti rombongan sekolahnya bertahun-tahun yang lalu. Kael menegakkan tubuhnya, menghembuskan uap dingin dari moncongnya saat sepasang mata keemasannya menyala tajam, siap memastikan tak ada satu pun manusia asing yang melewati batas teritori mereka. Maya melangkah maju satu jengkal mendahului Kael. Bersama-sama di tepi jurang yang tinggi, mereka berdua mengangkat kepala ke arah langit fajar dan melepaskan lolongan panjang yang berpadu sempurna. Suara lolongan sang Alpha dan sang Ratu bergema membelah lembah, menggetarkan tanah hingga ke batas kota—sebuah peringatan abadi bagi dunia luar bahwa hutan belantara ini memiliki penguasa mutlak yang takkan pernah bisa diganggu gugat. Gema lolongan ganda itu seketika membungkam obrolan riang para pekemah baru di kaki bukit. Dari puncak tebing, Maya dan Kael menyaksikan bagaimana rombongan manusia itu membeku di tempat, saling bertukar pandang penuh ketakutan, lalu buru-buru memutar langkah kembali menuju area aman di luar perbatasan hutan. Insting hewani mereka tahu bahwa ada batas tak kasat mata yang tidak boleh dilanggar. Kael menatap kepergian mereka dengan dengusan puas. Dalam sekejap mata, wujud serigala abu-abu raksasanya berderak menyusut, diselimuti kabut tipis hingga kembali menjadi pemuda tegap bertelanjang d**a dengan tato cakar yang menyala samar di lehernya. Maya mengikuti di sampingnya, tubuh ramping serigala peraknya memudar kembali menjadi sosok gadis berambut panjang yang kini memancarkan pesona liar yang mematikan. Kael melangkah mendekat, menarik tubuh Maya ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh. Jemarinya yang berotot menyapu liontin giok yang tergantung di antara d**a mereka, merasakan denyut ritmis yang kini bukan lagi sekadar pelindung, melainkan inti dari ikatan dua jiwa. "Kau melihat bagaimana mereka lari ketakutan?" bisik Kael rendah di telinga Maya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum angkuh penuh kebanggaan. "Mereka mencium auramu, Maya. Mereka tahu sang Ratu Serigala tidak akan segan-segan mengoyak siapa pun yang mengganggu kedamaian kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN