ENAM

1961 Kata
Waktu telah menunjukkan pukul 15.00, Beatriz berdiri di tengah-tengah lapangan dengan rambut berantakan dan jubah hitamnya yang sudah tersayat oleh pedang milik pengawal-pengawal Kerajaan. “Bunuh dia!” Sahut Arka penuh amarah. Pengawal-pengawal itu serentak berlari ke arah Beatriz untuk membunuhnya, perempuan itu berlari dengan tubuh berlumuran darah. Seandainya dia memiliki Aruna dan Agra disini, sudah pasti orang-orang ini akan mati. Fransiscus Alvero melompat ke arah Beatriz sambil menebaskan pedangnya, Beatriz tersungkur dan menjerit kesakitan dengan luka tebasan yang menganga di punggungnya. Laki-laki tua itu tersenyum bangga sambil mengelap darah segar milik Beatriz di pedangnya. Beatriz menangis tersedu-sedu sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. “Kau tidak apa-apa?” Ucap Arka pada Beatriz. Perempuan itu memandang Arka dengan tatapan benci lalu meludahi wajah tampan laki-laki didepannya ini. Sontak seluruh tentara yang ada di ruangan ini mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menebas kepala Beatriz. Dengan cepat Arka mengangkat tangannya, memerintahkan agar tentara-tentara itu tidak ikut campur dengan urusannya dan Beatriz. “Kau masih mengenal ku ternyata.” Ucap Arka sambil membersihkan wajahnya dengan sapu tangan berlambang burung garuda, representasi Nusantara. “Kau akan mati sebentar lagi.” Ucap Beatriz. “Oh iya? Siapa yang akan membunuh ku? Kau? Bahkan melawan 2% dari pasukan ku saja kau tidak sanggup.” Balas Arka. “Angkat dia, bawa dia kembali ke ruangannya.” Perintah Arka pada pengawalnya, kedua laki-laki itu mengangkat tubuh Beatriz yang sudah tidak bertenaga lagi. Beatriz menatap Arka dengan matanya yang berwarna merah itu lalu menyambar Arka dengan listriknya, namun sayang, listrik itu mengenai tubuh Frans yang tiba-tiba melompat untuk melindungi Rajanya. Laki-laki tua itu terbaring kaku tak bernyawa sedangkan Arka menatap jasad pengawal nya yang terkenal sangat setia itu tanpa perasaan apapun. “Buang dia ke gudang.” Ucap Arka pada pengawal yang lain. Sambil mengangkat jasad Fransiscus Alvero pengawal-pengawal itu menatap Arka heran, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu didepan jasad orang yang menyelamatkan nyawanya? “Kalian hanyalah orang-orang bodoh yang melayani seorang iblis!” Sahut Beatriz sambil tertawa yang membuat Arka geram. “Aku akan menemukan teman-teman mu sebentar lagi, lalu aku akan menyiksa mereka sama seperti mu.” “Oh ya? Kau tau hal itu tidak akan mungkin terjadi.” Ucap Beatriz. “Yang akan terjadi adalah. Mereka datang kesini, dan menggorok leher mu!” Beatriz tertawa sekuat tenaga mengabaikan kakinya sudah berpijak diatas genangan darah yang mengalir dari punggungnya. “Apa yang kalian tunggu? Bawa dia pergi dari sini. Kalian mau mati hah?!” Bentak Arka. Sang Raja beranjak kembali ke ruangannya dengan perasaan kesal lalu memanggil Adam, tangan kanannya itu masuk kedalam ruangan Arka sambil menunduk. “Bagaimana perkembangan tim pencari?” “Mohon maaf yang mulia, kami tidak menemukan mereka, tapi kami menemukan sesuatu di pinggir sungai.” Ucap Adam sambil memberikan sebuah seragam tentara yang dipakai oleh Sarah sebelumnya untuk menyelinap ke dalam Istana. “Gideon A?” Ucap Arka sambil membaca sebuah nama yang terbordir di seragam tersebut. “Gideon Ambarita, seorang tentara yang menghilang dari tiga tahun yang lalu.” Ucap Adam, ekspresi wajah Arka berubah seketika saat ia menyadari sesuatu. Laki-laki itu beranjak dari singgasananya menuju sebuah brangkas. Arka membuka brangkas itu dan mencari sebuah buku yang sangat penting baginya. “Cek CCTV Kerajaan!” Bentak Arka pada Adam, tangan kanannya itu bergegas menuju ruang pusat kontrol monitor Kerajaan diikuti oleh Arka beserta pengawal-pengawal lain dibelakangnya. Arka memutar rekaman CCTV ruangannya di hari ia ikut ke hutan untuk mencari rombongan spesimennya yang berhasil itu. Matanya terfokus pada seorang pria berseragam tentara yang masuk kedalam ruangannya. “Saya mengenal orang ini yang mulia, namanya Reza, hari itu saya meyuruhnya untuk berjaga di gerbang timur.” “Panggil anak itu sekarang.” Ucap Arka. Tak lama kemudian laki-laki bernama Reza itu datang menghampiri Arka. “Apa benar kau masuk ke ruangan ku?” Ucap Arka sambil menunjuk wajah Reza yang ada di layar. “Siap! Itu bukan saya, yang mulia.” Jawab Reza dengan jujur. Pandangan Arka teralih kembali ke arah layar saat Sarah mulai mencari dokumen-dokumen di loker peserta tes tiap tahun. “2296, 2299, 2301.” Gumam Arka membaca tahun loker-loker yang dibuka oleh Sarah. “Cari dokumen yang hilang di tahun-tahun itu. Letakkan salinannya di mejaku malam ini.” Ucap Arka pada Adam. Tubuh Arka bergetar setelah mengetahui kemampuan apa yang dimiliki oleh tentara palsu yang menyusup ke ruangannya. Shape shifter ini akan menjadi masalah besar jika dia tidak bisa menangkapnya. Ditambah lagi dia berhasil mengambil buku berharga yang berisi tentang kemampuan mereka, jika mereka berhasil menyempurnakan kekuatannya lebih dulu dari Beatriz, kemungkinan Arka untuk menaklukkan mereka akan semakin kecil. “Temukan perempuan bernama Sarah Bornslav itu atau kalian tidak akan bisa kembali lagi ke Istana ini.” Ucap Arka. “Siap! Yang mulia.” Sahut mereka bersamaan lalu pergi meninggalkan Arka.   ***   “Bagaimana? Apa kau berhasil?” Ucap Dylan pada Aruna. “Aku tidak kuat melihatnya.” Ucap Aruna sambil menggeleng. “Kenapa tidak kuat? Kau hanya melihat seekor kelinci yang dipotong kakinya.” Ucap Agra dengan buku kekuatan di tangannya. “Sekarang bayangkan jika itu kakiku, dan kau tidak mampu menyambungkannya kembali hanya karena takut.” Tambahnya yang malah membuat Aruna semakin takut. “Dasar bodoh! Ucapan mu itu malah memperburuk suasana.” Ucap Dylan. “Hei kenapa kau selalu mengunci ruangan ini?” Ucap Sarah sambil menunjuk sebuah ruangan. “Oh, maaf Sarah, aku memang sudah menganggap mu seperti kakak ku sendiri, tapi aku tidak bisa memberitahukan so—” Ucapan Dylan terhenti saat Agra menghancurkan pintu ruangan itu dengan kekuatannya. “HEI!” Teriak Dylan penuh amarah. “Dari mana kau mendapatkan semua benda canggih ini?” Ucap Agra terkagum-kagum pada ruangan yang hampir mirip dengan laboratorium Kerajaan tempatnya tes dulu. “Aku membuatnya sendiri.” Jawab Dylan pasrah. “Kau membuatnya?” Ucap Aruna. “Untuk apa?” Ucap Agra dan Sarah bersamaan. “Hanya sekedar mengembangkan hobi ku. Dan juga ini adalah salah satu pekerjaan ku.” “Pekerjaan apa? Kau kan pengangguran, mau makan aja kau harus mencuri di gudang persediaan.” Ucap Sarah. “Aku mecuri juga karena hobi, bukan karena aku tak mampu untuk membeli makanan-makanan itu.” Jawab Dylan. “Jadi apa pekerjaanmu?” Tanya Agra. “Maaf nona, aku tidak bisa memberitahukannya pada mu.” Ucap Dylan. Agra mengangkat tubuh Dylan ke udara sambil mencekiknya. “Oh baiklah, kita mulai lagi.” Gumam Sarah malas. “Dengarkan aku ya tuan muda. Kalau kau tidak memberitahu semua rahasia mu pada kami, aku akan melepaskan kepala besar mu itu dari badan mu di hitungan ke 3.” “Kau tidak akan berani melakukannya.” Balas Dylan. “Satu.” “Kau membutuhkan aku disini! Kau tidak bisa membunuhku!” “Dua..” “Sekedar info untukmu, kami hanya membutuhkan rumah mu sebagai tempat persembunyian dan tempat kami berlatih sebelum menjemput Beatriz.” Ucap Agra dengan santai. “Sarah! Tolong aku.” Sahut Dylan. “Maaf.” Ucap Sarah tanpa suara. “Ti...” “Baik! Aku akan memberitahu mu apa pekerjaan ku.” Agra berhenti mencekik Dylan lalu menjatuhkan badan laki-laki itu diatas sofa. “Sekarang. Berbicaralah.” Ucap Agra sambil duduk di depan Dylan. Secepat kilat Dylan berlari berusaha untuk kabur dari perempuan menyeramkan itu, namun gagal karena dengan mudahnya Agra menarik badan Dylan kembali duduk diatas sofa. “Kau mempermainkan ku ya?” “Sebaiknya kau beri tahu apa pekerjaanmu, kami sudah mempercayai mu dengan menunjukkan kemampuan kami didepanmu, sekarang giliran mu untuk mempercayai kami. Jangan ada rahasia lagi, Dylan.” Ucap Aruna. “Ya, kau tau aku selalu ada di pihakmu, aku jamin kau bisa mempercayai kami.” Ucap Sarah. “Ya kau benar-benar ada dipihak ku barusan.” Ucap Dylan menyindir Sarah. “Hei kau tau aku tidak berdaya.” “Hmm.” “Hei nak, cepat jawab pertanyaan kami.” “Aku adalah seorang hacker yang selama ini diburu oleh Kerajaan.” Ucap Dylan pasrah. “Hacker?” “Ya, pihak Kerajaan mengenal aku dan seluruh anggota organisasi ini dengan sebutan The Unknown. Didalam organisasi tersebut, aku adalah seorang Shadow. Bisa dibilang Shadow adalah pangkat ku. “Kau salah satu Shadow The Unknown?!” Sahut Sarah dan Aruna Bersamaan. “Kalian tau The Unknown?” Ucap Agra. “Ya, The Unknown adalah pemicu kerusuhan di tiap distrik. Tidak ada orang yang tau siapa dan dimana pemimpin The Unknown ini berada. Bahkan Kerajaan menghargai kepalanya senilai 12 miliar.” Ucap Aruna. “Wah ternyata cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan.” Ucap Dylan. “Aku tidak pernah mendengar soal The Unknown tuh?” Ucap Agra. “Ya, kau memang terlalu tua untuk tau soal ini.” Sindir Dylan. “Kau cari mati ya?” “Kenapa kau tidak bekerja hari ini?” Tanya Aruna. “Komputer utama ku sedang rusak saat ini, sebenarnya aku ingin memperbaikinya semalam, tapi karena ada kalian, aku mengundurnya sampai besok.” “Kenapa rusak?” “Aku rasa sistem pertahanan data Kerajaan dapat merusak sistem komputer peretasnya, aku masih belum mengerti.” “Apa yang kau cari waktu itu?” Tanya Agra. “Alasan kenapa mereka mengadakan tes-tes itu. Setidaknya aku sudah tidak penasaran lagi sekarang.” Jawab Dylan. “Wah akhirnya kau punya kegunaan juga. Mulai hari ini kau menjadi bagian dari kami.” “Jadi dari kemarin aku ini apa?” “Entahlah? Binatang peliharaan?” Ucap Agra santai. “Baik, aku sudah benar-benar muak dengan perempuan ini, lebih bagus kita kembali mengembangkan kekuatan Aruna.” “Seperti nya aku tidak akan bisa menggunakan kemampuan yang ini.” Ucap Aruna. “Kau harus bisa, karena kemampuan regenerasi mu pasti akan membantu kita di pertempuran nanti.” “Ya, Agra benar.” Aruna menarik nafas panjang, perempuan itu sadar kalau ia harus menguasai dan mengembangkan semua kemampuannya mau tidak mau. Aruna mengarahkan tangannya ke arah kaki kelinci percobaan mereka dan berusaha untuk menggabungkan kakinya yang terpotong namun tidak berhasil. “Sepertinya ini salah.” Ucap Sarah. “Maksudmu?” “Dibuku itu tertulis kalau Aruna tidak akan bisa meregenerasi orang mati, mungkin berlaku pada organ tubuh yang terpotong juga, kaki kelinci yang terpotong itu sudah menjadi mayat.” “Jadi, maksud dari buku ini adalah menumbuhkan kembali anggota tubuh yang terputus? Seperti kadal?” Ucap Agra. Sarah mengangguk lalu menatap Aruna. Aruna mengarahkan kekuatannya kembali ke arah kelinci itu, saat Aruna hendak menumbuhkan kembali kakinya, kelinci itu bergerak-gerak seperti menahan sakit. Tak sampai lima menit, Aruna berhasil mengembalikan kaki kelinci itu. “HEBAT!” Sahut Agra sambil tertawa. “Kerja bagus Aruna!” Ucap Sarah sambil bertepuk tangan, diikuti oleh Dylan. “Apa di buku itu juga tertulis tentang merubah ukuran?” “Untuk apa?” Ucap Sarah. Dengan keras Agra memukuli kepala Dylan karena mengerti maksud dari pertanyaan laki-laki itu. “AW!” Sahut Dylan kesakitan. “Aku hanya bertanya, siapa tau kau juga butuh bantuan Aruna?” Ucap Dylan sambil melihat ke arah d**a Agra lalu melarikan diri. “Aku akan membunuh anak itu saat ini juga.” Ucap Agra beranjak terbang namun ditarik turun dengan sigap oleh Aruna. “Jangan gegabah! Kau bisa membongkar tempat persembunyian kita jika terbang seenaknya.” Agra menendang meja kayu disampingnya dengan keras, lalu memotong keempat kaki kelinci itu tiba-tiba. “Kau gila?!” Sahut Aruna merasa kasihan. “Tidak, aku ingin kau melatih kekuatan mu ini, cobalah menumbuhkan kaki-kaki itu dalam hitungan detik.” Ucap Agra sambil memungut kaki-kaki kelinci itu. “Untuk apa kau mengumpulkan itu?” “Sup kaki kelinci untuk makan malam.” Ucap Agra lalu masuk kedalam. “Menjijikkan.” Ucap Sarah dan Aruna bersamaan. “Aku akan menghajar laki-laki m***m itu saat dia pulang nanti! Jangan ada yang membelanya atau aku akan benar-benar mengamuk!” Sahut Agra dari dalam rumah. Sarah dan Aruna hanya bergumam malas untuk menjawab omelan Agra lalu kembali meneruskan kegiatan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN