TUJUH

1335 Kata
Dengan tangan yang terbungkus oleh kain sintetis Beatriz duduk di hadapan Arka, laki-laki itu duduk sambil menyeruput teh di cangkirnya. Mata merah milik Beatriz teralih saat seorang anak perempuan berambut pirang datang menghampirinya. Tanpa rasa takut, gadis kecil itu menyentuh lengan Beatriz yang terbungkus. Anak perempuan itu adalah Putri Maria Khansa Widjanarka. Anak pertama dan satu-satunya anak yang diakui oleh Raja Arkasena sebagai penerus keluarga Widjanarka. Putri Maria adalah hasil dari hubungan gelap yang dilakukan oleh  Arka terhadap seorang perempuan bangsawan bernama Hana Bornslav. Maria adalah anak yang baik, terkenal dengan kelucuannya dan kepintarannya yang mirip seperti Arka, Maria juga memiliki suara yang sangat indah sama seperti ibunya. Bagi Istana, Maria adalah sebuah berlian yang sangat amat berharga sehingga tidak mengherankan jika menemukan anak kecil ini dijaga oleh 12 pengawal dan 4 pelayan terbaik kerajaan. Bahkan Arka saja hanya di jaga oleh 3 pengawal dan 1 orang pelayan “Kenapa kau di ikat seperti ini?” Ucap gadis itu dengan lembut pada Beatriz. “Wah mata mu merah!, cantik sekali.” Sahutnya. Beatriz tersenyum sambil menatap rambut indah anak itu, tingkah laku anak itu mengingatkannya terhadap putri kecil yang terpaksa ditinggalkannya kedalam sebuah panti asuhan khusus peserta tes. Putri pertama kesayangannya yang bahkan dia sendiri tidak tau apa warna rambutnya. “Jangan dekat-dekat dengannya Maria, dia orang yang berbahaya.” Ucap Arka. “Baik Ayahanda.” Ucap Maria dengan Anggun lalu duduk dipangkuan ayahnya. “Bagaimana sekolahmu?” “Aku berhasil melukis wajah ayah.” Ucap Maria sambil menunjukkan sebuah kertas dengan coretan-coretan crayon yang penuh warna. “Adam, bingkai lukisan indah ini lalu pajang di kamar ku.” “Baik yang mulia.” “Apa yang terjadi dengan mu kalau aku memisahkan kepala anak perempuan itu tepat didepan wajahmu?” Sambil tersenyum perempuan bermata merah itu menatap Arka penuh kebencian, bukannya merasa takut, Arka justru tertawa terbahak-bahak. “Bahkan menyentuh sehelai rambutnya saja kau tak akan bisa. Tadi adalah kali pertama dan terakhir mu berdekatan dengan putri ku. Jika kau berani mendekatinya kurang dari 5 meter, aku akan langsung membunuh mu dengan tangan ku sendiri.” “Kenapa kau setakut itu Arka? Kau punya banyak anak haram diluar sana, kehilangan satu putri bukannya kerugian yang besar kan?” “Ayah, aku takut.” “Tidak apa-apa nak, ayah disini.” “Dimana ibunya? Setau ku kau tidak pernah menikah.” Ucap Beatriz. “Aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu.” Jawab Arka. “Kau sangat menyayanginya huh?” Arka mengangguk sambil menatap mata Beatriz. “Baguslah semakin kau menyayanginya, semakin aku ingin membunuh putri mu ini.” “Adam, bawa kembali Tuan Putri kembali ke ruangannya.” Ucap Arka setelah mencium puncak kepala anaknya itu. Maria melompat turun dari pangkuan ayahnya dan bergegas menjauhi Beatriz karena takut. “Aku memanggil mu ke sini untuk berdamai. Aku tidak munafik, aku akui kalau aku-, maksudku, kerajaan ini, sangat membutuhkan mu.” “Aku akan menjanjikan identitas baru untuk mu dan teman-teman mu yang lain agar kalian bisa tinggal di kerajaan.” “Tidak ada hal lain yang ku inginkan selain kepala mu Arka.” Balas Beatriz. “Bagaimana kalau aku pertemukan kau dengan anakmu? Gadis kecil itu tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang sangat pintar, sayang sekali jika hidupnya harus berakhir di usia 18 tahun nanti.” “Tawaran yang bagus bukan? Kau dan anak perempuan mu bisa hidup bahagia di kerajaan ini, difasilitasi dengan semua kemewahan yang kami miliki, dan tentu saja, hidup yang panjang.” Ucap Arka. Beatriz terdiam sejenak memikirkan tawaran Arka, saat mendengar soal putrinya, hati Beatriz yang sebelumnya dipenuhi oleh rasa benci, tiba-tiba saja luluh, mungkin memang bekerja sama dengan Arka adalah jalan terbaik, dia dapat hidup dengan mudah dan bahagia bersama dengan putrinya jika menerima tawaran itu. Soal membujuk Agra, Aruna dan Sarah adalah hal mudah, jika Beatriz sendiri yang mengajak mereka kesini, mereka pasti tidak akan menolak. “Baik, dengan satu syarat.” Ucap Beatriz. “Apa itu?” “Aku sendiri yang akan menjemput mereka.” “Tidak, aku tidak sebodoh itu Beatriz, kau pasti akan langsung melarikan diri bersama dengan kedua teman mu jika aku membiarkan kau pergi sendirian.” “Ya sudah, kalau kau tidak bisa memenuhi permintaan ku yang ini, kau bisa langsung membunuh ku saat ini juga. Karena aku tidak akan mungkin ada di pihak mu, dan bisa saja nanti aku akan membunuh putri kesayangan mu itu jika ada kesempatan. Jadi apa gunanya kau membiarkan ku hidup?” “BAIK!” Sahut Arka emosi. “Aku akan memberikan mu waktu 3 hari untuk mencari mereka. Jika kau gagal menemukan mereka, aku akan membunuh anak mu.” Ancam Arka lalu pergi meninggalkan Beatriz. “Pasang alat pelacak di tangannya lalu bawa biarkan dia pergi dari Istana ini.” “Baik yang mulia!” Sahut para pengawal yang ada di dalam ruangan itu.   *** “Aku menemukannya!” Sahut Dylan pada Aruna, Sarah dan Agra. “Apa?” “Kode pin gudang senjata kerajaan.” “WOW! Bagaimana bisa?” Ucap Agra. “Karena aku dan tim ku benar-benar hebat.” “Tim mu?” “Yap, aku memiliki 14 hacker, dan ratusan pemberontak yang mau bekerja sama dengan ku untuk melengserkan Arka.” “Tujuan kalian tidak logis, bagaimana bisa kau melengserkan Arka di negara monarki absolut seperti ini? Satu-satunya cara agar dapat melengserkannya adalah dengan membunuhnya.” Ucap Agra. “Kami tidak mengotorkan tangan kami Agra, membunuh sangat bertolak belakang dengan prinsip kami.” “Jadi? Jika kau sudah berhasil melengserkannya lalu apa? Kau yang naik menjadi raja?” “Kau bodoh ya? Mana mungkin aku mau menjadi Raja, aku ingin negara ini menjadi negara republik, seperti dulu sebelum perang nuklir, pasti akan sangat menyenangkan jika sebuah negara dimana tampuk pemerintahan akhirnya bercabang dari rakyat.” “Ya ya ya, terserah mu.” “Jadi kapan kita akan menyusup kesana?” Ucap Sarah. “Kita? tidak, aku tidak akan mengambil resiko.” “Jadi maksudmu, kita membiarkan senjata-senjata tersebut tersusun rapi didalam sana?” “Bukan begitu Agra, bisa tidak kau diam sebentar dan dengarkan aku?” “Pertama aku ingin minta maaf karena aku sudah menceritakan soal masalah kalian dengan tim ku.” Ucap Dylan yang hampir mempertemukan tinjuan dari tangan Agra dengan pipi di wajahnya. “TAPI!!” “Mereka setuju untuk membantu kalian.” “Membunuh Arka?” “Tidak, tadi aku sudah bilang kalau kami tidak menggunakan cara kotor. Kami hanya akan memudahkan akses kalian untuk membunuh Arka.” “Bukannya itu sama saja?” “Tidak sama, kami hanya membantu, seluruh resiko ada di tangan kalian, jika kalian gagal, maka kami tidak akan dirugikan. Jadi jika kau ingin menyusup kedalam Istana untuk mengambil senjata-senjata itu, lakukan sendiri.” Ucap Dylan sambil memberikan secarik kertas yang berisikan kode pada Agra. “Dasar pengecut.” “Agra.” Tegur Aruna. “Dengan mereka membatu kita saja sudah lebih dari cukup. Hentikan tingkah tidak tau terimakasih mu itu.” Ucap Aruna. “Aku tidak membutuhkan bantuannya untuk membunuh Arka.” Gumam Agra lalu pergi meninggalkan ruangan Dylan “Terimakasih Dylan. Kami akan berusaha melakukan tugas kami semaksimal mungkin. Kita akan mencatat sejarah baru nusantara.” Ucap Aruna sambil tersenyum. “Aku akan pergi ke Distrik 5, mungkin aku akan pulang 2 hari lagi, selama aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik.” “Distrik 5?” “Ah iya, aku lupa memberitahu kalian. Kami berhasil menemukan data tentang Distrik 5.” “Distrik 5 itu tidak ada Dylan.” Ucap Aruna. “Ya, awalnya aku juga berpikir seperti itu. Tapi aku menemukan sebuah file yang merujuk ke Distrik 5, file itu benar-benar sulit untuk diretas dan sepertinya, data ini hanya di ketahui oleh Arka dan para menteri. Bahkan tentara dan para ilmuan pun tidak mengetahui soal ini.” “Lalu dimana Distrik itu?” “Kalau pemetaan ku benar, Distrik ada di sebelah selatan Nusantara.” “Tidak ada Nusantara bagian selatan.” “Aku tidak butuh kalian untuk mempercayai aku. Ya sudah, aku pergi dulu, sampai jumpa dua hari lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN