DUA PULUH SEMBILAN

1924 Kata
Nusantara, Distrik 3, 23 Januari 2302             Kicau burung pipit yang merdu menghiasi pagi cerah di Distrik berlambangkan kelelawar ini. Bendera dengan lambang binatang pengerat yang tidur di siang hari itu berkibar disetiap sudut jalanan.             Dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam yang berfungsi menutupi mata merahnya, Beatriz memasuki wilayah kumuh yang dulu sempat ia tinggali selama delapan belas tahun hidupnya.             Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah kecil namun menyimpan kenangan yang besar baginya, perempuan itu melangkah masuk ke dalam, semuanya masih sama seperti sebelumnya, bingkai foto, vas bunga, rak buku, lemari, tempat tidur. Semuanya masih terletak di tempat yang aman dari jangkauan bayi Aneshka.             Beatriz mengambil sebuah bingkai foto berwarna coklat dengan wajahnya yang dulu sedang tersenyum sambil menatap Aneshka di dekapannya, saat itu adalah hari putri kecilnya terlahir di dunia ini.             Aneshka dilahirkan dengan kelainan di matanya sehingga membuat ia tidak mampu melihat dengan jelas, semua ini terjadi akibat tubuh Beatriz yang belum siap untuk mengandung Aneshka di usia muda.             Alfonso, pria yang sejak dulu di cintainya, ayah kandung dari Aneshka, tidak mau bertanggungjawab terhadap bayi malang itu sejak ia masih di dalam kandungan Beatriz, Alfonso adalah laki-laki berusia 16 tahun saat itu dan bisa di bilang cukup terkenal di kalangan perempuan karena ketampanannya.             Selain Beatriz masih banyak perempuan yang memiliki nasib sama akibat perbuatan Alfonso, meski pun begitu, Beatriz tidak pernah sekalipun menyesali kelahiran Aneshka di hidupnya.             Anak itu memiliki senyuman yang manis. Sangat manis hingga mampu menghapuskan seluruh kepahitan yang ada di hidup Beatriz. “Mama. Mamam.” Begitu lah yang Aneshka ucapkan saat ingin meminta s**u dari Beatriz. “Ternyata memang sudah nasib ku untuk hidup sendirian di bumi ini.” Ucap Beatriz sambil menyimpan foto didalam bingkai itu ke dalam saku jaket kulitnya. Beatriz beranjak dari rumah lamanya menuju sebuah panti asuhan tempat ia menitipkan Aneshka dulu, dari pinggir jendela ia mengintip layaknya pencuri demi mencari keberadaan Aneshka tanpa di ketahuan oleh pemilik panti asuhan. “Ibu?” Ucap seorang anak perempuan yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. “Aneshka!” Sahut Beatriz sambil menangis, selama ini ia tidak pernah berani kembali ke distrik 3 karena statusnya yang sekarang adalah seorang spesimen, dia harus menahan rindu pada Aneshka selama bertahun-tahun, tanpa diketahui oleh siapapun. Walaupun matanya sudah tak mampu lagi untuk melihat, Aneshka tidak pernah salah dalam mengenali aroma tubuh dan suara seseorang, selama bertahun-tahun ia menunggu agar ibunya dapat kembali menjemputnya, harapannya tidak pernah kandas meski semua orang mengatakan bahwa Beatriz telah mati. “Aneskha merindukan ibu.” Ucapnya sambil menangis Beatriz mengangguk dan mengusap air mata anaknya. “Ibu akan membawa mu pergi. Tapi tidak sekarang. Ibu harus menyiapkan semuanya dengan baik agar Aneshka bisa hidup bahagia.” “Aneshka tidak mau menunggu lagi ibu, Aneshka sudah senang jika hidup bersama ibu.” “Maaf, tapi situasi saat ini terlalu bahaya untuk mu nak, ibu akan menjaga mu dari jauh.” Ucap Beatriz dengan sebuah kecupan di kening Aneshka lalu beranjak meninggalkan sang anak di dalam panti asuhan itu lagi. Ibu akan menjemputmu, tunggulah sebentar lagi nak. “Dari mana saja kau? Aku sudah bilang kan hari ini kau harus berlatih menggunakan kekuatan levitasimu?!” Bentak Arka penuh amarah saat mendapati Beatriz kembali ke Istana setelah ia kabur entah kemana. “Ya, aku tau.” Ucap Beatriz malas sambil membuka jaket kulitnya. “Kau belum menjawab pertanyaan ku. Kau dari mana?!” Sahut Arka, walaupun saat ini Beatriz sudah lebih terkendali, ia tidak bisa mempercayai Beatriz begitu saja, perempuan licik ini bisa saja diam-diam menusuk Arka dari belakang. “Aku bertemu dengan anak ku di Distrik 3, kenapa?” Ucap Beatriz jujur. “Kalau kau sampai mengkhianati ku...” “Aku akan membunuh Anes—“ Ancaman Arka terpotong seketika saat Beatriz menyerangnya dengan spontan. Mata merah menyala milik perempuan itu menatap tajam mata Sang Raja, pengawal-pengawal yang ada disana spontan mendorong tubuh Beatriz menjauh dari Arka. “Kalau kau berani menyentuh sehelai rambutnya saja. Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!” Sahut Beatriz dengan tatapan tajam penuh amarah, Aneshka adalah satu-satunya hal berharga yang ia miliki, ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Aneshka, Beatriz akan memberikan putri malangnya itu kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang, apapun pasti di lakukannya demi Aneshka meski harus mengorbankan nyawanya sendiri. Beatriz memfokuskan kekuatan didalam dirinya dan mulai melayang di udara, dengan mudahnya perempuan itu berhasil menguasai kekuatan levitasi yang sama dengan milik Agra. *** Sarah melompat tinggi demi menghandiri peluru yang ditembahkan para Defender dan Pengawal Istana di depannya, sambil tersenyum Sarah mengayunkan tinjunya, tatapan dingin yang selama ini dia tunjukkan saat melawan lawan, berubah menjadi sama persis dengan tatapan buas milik Estomihi Bornslav, laki-laki yang sangat di cintainya. Kematian Tomi secara tidak langsung berhasil menciptakan sisi yang begitu gelap di dalam diri Sarah, perempuan itu tidak lagi mampu merasakan rasa sakit dari tubuhnya meskipun beberapa peluru panas berhasil bersarang di kaki dan tangannya. Bagaikan monster tak bernyawa, Sarah terus-menerus maju dan menghancurkan setiap kepala anak buah Arka yang berdiri di hadapannya. Tubuhnya yang sangat lincah dan menguasai berbagai teknik bela diri didikan Frans Alvero akhirnya menyadarkan Arka, bahwa perempuan di depannya ini bukanlah lawan yang setara dengan nya. Terakhir kali Arka melihat seseorang dengan kemampuan mematikan seperti ini adalah saat ia berusia 19 tahun dimana Frans mengamuk usai acara minum-minum bersama para petinggi dan bangsawan Istana, saat itu seorang bangsawan menghina dan mengejek berita kematian sahabat karib pria tua bangka itu, Arjuna Dewa Widjanarka. Bangsawan yang berhasil mati dengan kepala yang hancur akibat kebrutalan Frans adalah Ibu dari Arka sendiri, Yang Mulia Ratu Diana. Bagaimana perempuan ini bisa berubah jadi seperti mesin pembunuh dalam waktu yang singkat? “ARGHH!!” Suara teriakan para pengawal memenuhi seisi ruangan ini, seolah memiliki stamina tanpa batas, saat ini Sarah berhasil membunuh 28 orang penjaga dan masih mampu menyerang pengawal-pengawal yang masih hidup tanpa mengurangi kecepatan dan kekuatan serangan yang ia berikan. “Bagaimana Arka? Apa kau senang melihat pengawal-pengawal terhebat mu mati konyol ditanganku?” Ucap Sarah di ikuti tawa melengking dari Arka. Arka berdiri dengan gagah di atas tahtanya, melepas jubah milik raja yang ditaburi dengan berlian dan permata. “Kalau di hadapan Yang Mulia..” Ucapnya sambil membuka kemeja putihnya dan menunjukkan tubuh kekar dengan berbagai luka sayatan maupun luka jahitan di sekujur tubuhnya. “KAU HARUS TUNDUK!!!” Teriak Arka sekuat tenaga seraya melompat ke arah Sarah, Sang Raja yang selama ini hanya diam dan membiarkan pengawal-pengawal membereskan seluruh masalahnya, tidak melakukan itu karena takut mati ataupun kalah, melainkan, siapapun yang melawannya secara langsung akan langsung mati di tempat. Satu pukulan telak dari Arka berhasil mengenai wajah manis milik Sarah, bahkan kecepatan perempuan itu yang selama ini di akui oleh Frans tidak mampu menghindari serangan Sang Raja. Tubuh Sarah terlempar jauh keluar dari ruangan tahta Sang Raja. Dengan kaki bergetar, Sarah berusaha sebisa mungkin untuk bangkit berdiri, dia tidak boleh terlihat lemah, apalagi kalah dari musuh besar di depannya ini, Arka adalah akar dari segala permasalahan dan penderitaan yang selama ini di rasakan seluruh rakyat Nusantara, kalau dia kalah dari Arka, maka segala hal yang di perjuangkan oleh dirinya dan semua orang yang bertarung di tempat ini, nyawa Tomi, nyawa Elisabeth, dan nyawa seluruh korban eksperimen di gudang mayat akan menjadi sia-sia, kematian mereka akan menjadi bahan bercandaan bagi para bangsawan-bangsawan istana yang tidak punya hati. “Oh, kamu masih bisa berditri toh?” Ucap Arka dengan logat khas anggota keluarga keraton sambil tersenyum dan bertepuk tangan. Arka berlari menuju tempat Sarah berdiri lalu menghantamnya dengan pukulan-pukulan yang sangat dahsyat. Dari tatapannya Arka saat ini sangat berantusias untuk membunuh perempuan di depannya seolah membunuh adalah  hal yang menyenangkan baginya. “Kau kan? Yang mencuri buku ku dan dokumen-dokumen teman mu dari ruang kerja ku.” Ucap Arka sambil memberikan pukulan telak di wajah Spesimen project 04 ciptaannya itu. “Iya, aku hebat kan?” Ucap Sarah dengan tangan di depan wajah yang berhasil menahan pukulan dari sang Raja. Dengan tubuh yang ringan miliknya Sarah melompat dan mencekik leher Sang Raja dengan kedua kakinya, kedua tangannya menarik kepala Arka seolah ingin melepaskan kepala laki-laki itu dari lehernya. Arka membanting tubuhnya ke belakang dan berhasil lepas dari serangan Sarah, tubuhnya berlari kedalam sebuah ruangan di dekat ruang tahta lalu mengunci dirinya di dalam. Meskipun telah di pukul berkali-kali kenapa perempuan itu tidak tumbang sekali pun? Tatapan nya juga tidak pernah memancarkan rasa takit sedikit pun, apa rasa benci, dendam dan penderitaan yang di rasakannya selama ini sebegitu menyakitkan hingga dia tak mampu lagi merasakan rasa sakit yang di terima oleh tubuhnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepala Sang Raja, tanpa Arka sadari, saat ini tubuhnya bergetar sepenuhnya karena ketakutan. Tidak, dia tidak sama dengan Frans. Kekuatannya jauh lebih mematikan daripada pria itu. Hanya dengan satu tendangan Sarah berhasil menghancurkan pintu ruang persediaan senjata tajam milik Arka. Sambil tersenyum meremehkan Sarah menatap Arka yang sedang menggenggam sebuah katana dengan kedua tangannya. “Mana bisa melawanku kalau kedua kaki mu bergetar begitu kencang seperti itu?” Ucap Sarah sambil mengeluarkan sebuah pisau kecil dengan tulisan Bornslav di tangannya. “Hari ini, aku akan mengantar mu ke neraka!” Sahut perempuan itu sambil tertawa dan melompat ke arah Sang Raja.  “Hei monster jelek!” Sahut Sarah. Rai yang baru saja ingin menyerang Aruna, mengalihkan perhatiannya kepada Sarah. “Kau punya bendera putih?” Ucap Sarah sambil melemparkan kepala Arka kepada Rai. Aruna menatap sebuah kepala yang menggelinding ke arah kakinya, matanya kembali seperti semula, dengan cepat ia menjauh dari penggalan kepala saudara tirinya. Dari jauh Dylan yang memantau kondisi tubuh Aruna memandang perempuan itu dengan tatapan sangat ketakutan secepat mungkin ia masuk kedalam King Dylan – 01 dan mengarahkan pesawat tempurnya ke tempat Aruna berdiri. “HP dan MP Aruna kembali seperti semula!!” Teriak Dylan kepada teman-temannya yang lain dengan sekuat tenaga. Tubuh Rai kembali membara akibat amarah yang menguasai dirinya, kedua tangannya terarah pada Sarah, dan mengeluarkan sebuah ledakan dahsyat yang berhasil menghanguskan semua benda yang ada disekitarnya, di saat yang sama Aruna menghabiskan seperempat sisa MPnya untuk melindungi kedua sahabatnya itu dari ledakan. Tubuh Rai tersungkur ke tanah dengan wujud manusianya. Setelah puluhan ledakan yang dikeluarkan tubuhnya, akhirnya MP dari monster gunung berapi itu habis tak bersisa. Tanpa menunggu waktu lagi. Agra bangkit berdiri, menghiraukan rasa sakit akibat luka bakar yang ada di seluruh badannya. Mengingat MP nya yang sudah habis, Agra mengambil sebuah pisau berburu yang biasa ia pakai untuk menguliti kelinci selama di hutan dari saku celananya. Dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, ia menancapkan pisau itu tersebut kepala Rai tepat sebelum laki-laki itu kembali lagi ke wujud monsternya. Saat itulah Agra berhasil membunuh Rai. Tubuh Agra terjatuh ke tanah, air matanya mengalir dengan deras diikuti dengan jeritan tangis yang selama bertahun-tahun ia pendam. Semuanya sudah berakhir, tidak akan ada lagi penderitaan dihidupnya, dia tidak perlu lagi hidup dalam bayangan seperti dulu. Akhirnya dia bebas. “Kau tidak apa?” Ucap Dylan pada Aruna yang duduk membatu. “Kita menang?” Gumam Aruna tidak percaya setengah sadar. “Ya, kita menang.” Jawab Dylan sambil tertawa bahagia. “Kau hebat Ara!” Dylan beranjak dari tempatnya lalu memeluk perempuan didepannya itu dengan erat tanpa persetujuan Aruna. “Ayo kita pulang.” Ucap pemimpin pasukan timur pada Sarah. “Sepertinya aku tidak kuat lagi berjalan.” Ucap Sarah melihat kakinya yang terluka parah. “Aku masih punya banyak tenaga untuk menggendong mu. Ayo naik.” Laki-laki bertubuh tinggi itu menggendong tubuh mungil Sarah dengan kedua tangannya bagaikan menggendong sebuah kapas. “Kau mengingatkan ku dengan Elisabeth.” Gumamnya pada Sarah yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN