Kepulauan Zoroas, Tiga Hari Sebelum Peperangan.
“Kenapa kau harus membantu Arka?” Ucap Frazta pada suaminya yang saat itu sedang bersiap-siap untuk berangkat menuju Nusantara.
“Karena ia ingin melindungi bumi ini dari peperangan. Aku harus membantu tujuan mulia itu.”
“Entahlah, aku merasa kau tidak perlu melakukan itu Rai.” Ucap Frazta, entah kenapa kegelisahan menyelimuti hatinya, rasa takut bahwa Rai akan mati kembali datang sama seperti saat Rai yang bersih keras untuk mengkuti eksperimen Nusantara di laboratorium beberapa bulan yang lalu.
“Aku melakukan ini demi Dewa Frazta, bukan demi Arka.”
“Aku rasa saat ini kau telah menyamakan diri mu dengan Zoroas. Untuk memperbaiki bumi yang sudah hancur seperti ini, kita sebagai manusia tidak akan bisa melakukan nya!” Sahut Frazta dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Ayah, jangan pergi.” Ucap seorang anak laki-laki di tengah mereka.
“Kau tidak mengerti Frazta, kau dan anak mu terlalu dekat dengan Aalofa, sehingga kalian tidak akan mengerti ajaran dari Dewa Zoroas, memang seharusnya dari dulu aku yang pengikut Dewa Zoroas, tidak memperistri perempuan pengikut Aalofa, sedari dulu, kalian hanya cocok dengan keturunan Kreigh.” Ucap Rai dengan angkuhnya, memangnya Frazta itu siapa berani-beraninya dia menghalangi Rai untuk mempersembahkan yang terbaik bagi sang Dewa pelindung. Selama ini ia mampu hidup bahkan setelah menjalankan eksperimen berbahaya itu semuanya akibat perlingdungan dari Sang Dewa.
“Aku tidak akan membiarkan ayah pergi kemana-mana.” Ucap anak laki-laki di depannya sambil merentangkan tangan di balik pintu. Dengan kekuatannya yang terbatas sebisa mungkin ia menghadang ayahnya agar tidak pergi ke Nusantara.
Tangan kekar milik Rai melayang tepat di kepala anak laki-laki itu, tubuh kecilnya terlempar ke samping membukakan jalan bagi Rai untuk keluar dari rumah, namun baru saja hendak melangkah keluar, sesuatu menghambat pergerakan kakinya, di bawah sana Rai melihat Frazta saat ini sedang sujud di kakinya sambil menggenggam kaki kanan Rai dengan kedua tangannya.
“Apa yang kau lakukan?” Ucap Rai menahan amarahnya.
Kalau perempuan yang saat ini menghalanginya bukanlah putri semata wayang dari kepala suku Asterlide, Rai sudah pasti membunuhnya saat ini juga. Laki-laki itu pasti akan membunuh siapapun yang menghalanginya beribadah.
“Aku mohon suamiku, jangan lah pergi! Firasatku tidak enak.” Sahut Frazta sambil menangis. Dengan keras Rai menendang Frazta menjauh lalu pergi meninggalkan istri dan anaknya tanpa berpamitan.
Frazta duduk di balik pintu rumahnya, menangis tersedu-sedu sambil memeluk putra kesayangannya dan Rai.
“Semoga Dewa dan Dewi memberkati mu.” Ucap Frazta melepas kepergian Rai untuk yang terakhir kalinya.
Sesampainya di pelabuhan Istana, Rai turun dari kapal di ikuti dengan pengawal serta tenaga-tenaga medis yang selama ini merawat dirinya. Laki-laki berkulit pucat itu disambut oleh seorang perempuan dengan pakaian serba hitam, wajahnya terlihat benar-benar menyeramkan, iris mata yang berwarna merah miliknya berhasil membuat perempuan itu di anggap sebagai titisan setan oleh Rai.
“Selamat datang di Nusantara. Aku di tugaskan pihak istana untuk menjemputmu, maaf saat ini Yang Mulia tidak bisa ikut menjemput mu karena kematian Tuan Putri Maria.” Ucap Beatriz sambil menundukkan badannya.
“Nama ku Beatriz Romonov, Spesimen project 03.” Ucap Beatriz. Rai menatapnya tanpa berkedip sekalipun, dirinya terkagum-kagum sekaligus bahagia saat ia tau bahwa dirinya tidak lah sendirian, masih ada orang yang memiliki kekuatan super seperti dia.
“Apa kekuatan mu?” Ucap Rai semangat.
“Nanti kau akan tau sendiri, lebih baik kita bicarakan hal ini di Istana.” Ucap Beatriz lalu berjalan mendahului Rai.
Dalam benak Beatriz, kenapa bisa laki-laki yang terlihat seperti orang bodoh ini akan membantu mereka mengalahkan kecerdikan teman-temannya nanti. Semoga saja kabar mengenai kekuatan mematikan Spesimen project 05 ini bukan hanya bualan belaka.
“Kita akan langsung membahas strategi peperangan, jadi persiapkan diri mu. Jangan banyak berbicara, biar aku saja.” Ucap seorang pengawal di samping Rai.
Setelah menunggu beberapa menit, Rai melihat seorang laki-laki bertubuh gagah dengan wibawa yang terpancar di wajahnya masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang wanita. Hanya dengan melihatnya sekali saja Rai sudah dapat mengenali bahwa laki-laki yang memasuki ruangan ini adalah Raja dari Nusantara. Arkasena Nakula Widjanarka.
“Perkenalkan diri mu.” Ucap Arka pada Rai dengan suara berat yang menggema di setiap sudut ruangan itu.
Rai berdiri sesuai perintah dari Sang Raja, sebisa mungkin ia berdiri dengan gagah agar Arka bangga melihatnya, ya, bagi Rai, Arka adalah titisan Dewa Zoroas yang harus di layaninya dengan segenap hati demi mengembalikan bumi seperti sedia kala.
“Ku persembahkan padamu, Specimen Project 05. Rai Von Degurchaff.” Ucap seorang pengawal yang tadinya menyuruh Rai untuk tidak bersuara. Pengawal tersebut sudah sangat mengenal Arka, Raja Nusantara itu mudah sekali marah jika melihat orang yang berpikiran sempit dan terlalu banyak bicara seperti Rai, agar Nusantara tidak terlalu meremehkan kemampuan masyarakat kepualauan Zoroas sebagai sekutu, dia harus bisa membungkam Rai, sebelum laki-laki itu membuat malu seluruh kepulauan.
Arka tersenyum puas menatap mahakarya yang ia sangka selama ini tidak akan berhasil, berdiri didepan matanya. Mulai sekarang ia percaya dibalik setiap kesedihan yang dideritanya, ada kebahagiaan yang akan muncul untuk menghiburnya. Dengan adanya Rai dan Beatriz, keinginannya untuk menguasai dunia pasti akan terwujud.
“Jadi apa kekuatanmu?” Ucap Arka.
Baru saja ingin menjawab pertanyaan Sang Raja, tangan Rai di tarik oleh sang pengawal, Rai duduk dan membiarkan pengawal itu menjawab pertanyaan Arka.
“Volcano Yang Mulia.” Ucap laki-laki itu singkat.
“Ah aku sempat memikirkan kekuatan itu. Jadi elemen mu itu api?” Ucap Arka, Rai mengangguk.
“Bagus! Kau bisa kugunakan untuk meledakkan lalat kecil bernama Agra saat di medan perang nanti.”
“Kau ingin aku membunuhnya?” Ucap Rai spontan tanpa nada hormat sedikit pun. Arka terdiam dan memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Rai.
“Beatriz.” Ucap Arka.
“Tolong katakan Strategi yang kau rencanakan selama ini.”
Dengan malas Beatriz beranjak dari tempat duduknya dan menyalakan proyektor didepan raja.
“Sebelumnya aku akan menjelaskan kepada seluruh sekutu yang ada di ruangan ini. Saat ini Nusantara sedang berhadapan dengan Spesimen-spesimen berhasil yang ingin melengserkan dan merebut kekuasan Arka terhadap Nusantara.”
“Berikut adalah profil orang-orang yang perlu kita waspadai.” Ucap Beatriz sambil menunjukkan biodata teman-temannya di layar.
Rai terperangah membaca kemampuan orang-orang di layar itu, mereka semua bukan orang biasa. Tapi walaupun begitu, Rai tetap yakin kalau ia bisa mengalahkan mereka semua. Dewa Zoroas pasti akan menolongnya.
“Beberapa waktu yang lalu Agra menyerang ku dan hampir saja menghabisi nyawa ku, aku yakin para Spesimen yang lain tidak mengetahui bahwa aku masih hidup sampai sekarang, Agra pasti telah meyakinkan mereka bahwa aku sudah mati dan tidak lagi menjadi ancaman.”
“Tapi. Mereka memiliki Tomi, laki-laki dengan pengalaman berperang yang begitu banyak tersebut tidak mungkin percaya begitu saja dengan perkataan Agra. Jadi agar Agra menurut dengan strategi yang di buat oleh Tomi, Agra pasti akan di letakkan di sebelah selatan sendirian, untuk membuktikan kematian ku. Karena sisi selatan adalah daerah yang di kelilingi oleh laboratorium dan rumah sakit istana.”
“Karena kekuatan Agra yang sudah sangat baik, aku yakin Agra di letakkan di sisi itu hanya seorang diri, sedangkan pasukan yang lain akan di kerahkan Tomi menuju sisi lainnya, mereka semua dapat kita serahkan pada Rai. Bukankah begitu Tuan Volcano?” Ucap Beatriz. Rai mengangguk patuh.
Beatriz menekan tombol remot di tangannya dan menayangkan identitas dan foto Sarah dengan sebuah garis silang berwarna merah di layar.
“Sarah akan menjadi satu-satunya lawan yang perlu kita waspadai, kemampuannya dalam merubah wujud, akan menjadi masalah besar. Mohon maaf sebelumnya, tapi saya ingin Yang Mulia Ratu untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan ini.” Ucap Beatriz yang baru saja menyadari kehadiran Sang Ratu di ruangan tersebut.
“Apa-apaan ini? Siapa kau berani mengusir—“
“Bawa dia keluar.” Ucap Arka dengan singkat yang langsung di turuti oleh pengawal-pengawal disana.
“Baik akan saya lanjutkan.”
“Sarah sudah pasti akan menyerang sisi barat mengetahui sisi tersebut adalah tempat dimana Yang Mulia Raja berada. Yang Mulia Ratu akan di letakkan disana sebagai pemancing, saat Sarah telah melumpuhkan Yang Mulia Ratu, ia pasti akan memakai wujud itu untuk mengelabui penjaga. Disaat itulah kita menggiring Sarah menuju sebuah ruangan yang di penuhi oleh para pengawal dan membunuhnya disana.”
“Bagus. Aku juga akan berada di ruangan itu, aku ingin melihatnya mati.”
“Tidak bisa, kau harus segera pergi ikut dengan Kaisar Agneta agar nyawa mu tidak terancam. Aku akan meletakkan seseorang dengan wajah yang serupa dengan mu di Istana.”
“Tidak, aku tidak bisa melewatkan kematian pencuri itu. Kalau perlu aku sendiri lah yang akan membunuhnya.” Ucap Arka percaya diri.
Kemampuan Arka dalam bertarung memang sudah hampir bisa di katakan sempurna, Arka memiliki tubuh yang besar dan kekuatan yang sangat dahsyat, tapi dalam bertarung seseorang harus memiliki niat yang kuat demi mengalahkan lawannya, Beatriz sendiri tau bahwa dendam dan niat membunuh bisa menjadi sumber tenaga yang mematikan meskipun orang tersebut tidak memiliki fisik atau pun kemampuan bertarung yang kurang baik. Dan Sarah memiliki kedua hal itu di dalam dirinya.
“Kalau begitu, jika kondisi tidak memungkinkan bagi mu untuk mengalahkan Sarah, aku akan menempatkan orang yang mirip dengan mu di gudang senjata selagi kau bersembunyi di dalam ruang rahasia yang ada disana, orang yang mirip dengan mu itu akan bertarung melawan Sarah. Saat kondisi sudah aman, Kaisar Agneta akan menjemput mu dari sana.” Ucap Sarah, Arka mengangguk puas.
***
“Kau sudah pulang? Bagaimana Arka?”
“Kenapa kau terlihat sangat kurus seperti ini, kemana perginya semua lemak di pipi tembam mu kemarin?” Ucap Frans pada seorang laki-laki dengan jas putih didepannya.
“Kau tidak menjawab pertanyaan ku.”
“Arka? Dia sudah mati, aku sudah membakar penggalan kepalanya di depan Istana sebelum kembali ke sini. Bukannya seharusnya kau menanyakan tentang nyawa Adam?” Ucap Frans sambil mengisap cerutu di tangannya. James terdiam mendengar perkataan Frans, bagaimana bisa dia menanyakan apakah cucu dari laki-laki yang sangat di hormatinya ini sudah mati atau belum.
“Adam sudah mati. Estomihi Bornslav yang membunuhnya. Pada akhirnya, sampai detik-detik terakhir dalam hidupnya Estomihi tidak pernah menyisakan satu nama pun yang sudah ada di dead list miliknya. Dia memang Marksman terbaik yang pernah aku temui.” Ucap Frans sambil menahan tangisnya. Entah harus menangisi kematian Adam cucunya atau Tomi, kedua laki-laki itu memiliki posisi yang penting di hati Frans.
“Estomihi? Saudara terakhir Elisabeth?” Tanya James. Frans mengangguk.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Frans. James membukakan pintu sambil tersenyum kepada kakek-kakek kekar di depannya.
“Dia sudah menunggu kehadiranmu dari tadi malam.” Ucap James disusul dengan teriakan seorang perempuan yang sedang memarahinya dengan beribu-ribu umpatan.
“FRANS BERENGSEK!” Jerit perempuan dengan usia yang hari ini genap 14 tahun.
“Kau sudah sehat ternyata.” Ucap Frans setelah mendengar umpatan dari mulut Elisabeth yang sangat di rindukannya selama ini. Pria tua itu menangis sambil memeluk anak perempuan yang dulu di ambilnya dari distrik 2, anak perempuan malang yang harus hidup sendirian dan berjuang mati-matian hanya untuk tinggal di dalam sebuah rumah dengan kehangatan keluarga.
“Maafkan aku.” Ucap Frans sambil menangis senggukan, seluruh tubuhnya begetar hebat, rasa lega dan kecewa tercampur aduk di dalam hatinya, selama ini malam-malamnya di hantui dengan mimpi buruk bahwa Elisabeth akan mati dan pergi meninggalkan nya di usia tua ini, seharusnya dia duluan yang pergi meninggalkan dunia kotor ini daripada Elisabeth, rasa kecewa di dalam hatinya membuat tangisan Frans menjadi lebih kuat lagi, bagaimana dia bisa mengabarkan ke Elisabeth, bahwa Estomihi, keluarga satu-satunya yang ia miliki, juga sudah meninggalkan nya sendirian di dunia yang kejam ini.
Harapan sederhana anak perempuan malang didepannya ini untuk bisa hidup dan merasakan kehangatan keluarga sudah menjadi hal yang mustahil di nyatakan.
“Kau menangis seperti bayi Frans, apa yang terjadi? Kau tidak pernah seperti ini.” Ucap Elisabeth sambil menepuk punggung rapuh pria tua di pelukannya ini.
Rasa sedih yang saat ini di rasakan oleh Frans, entah kenapa dapat di rasakan juga oleh Elisabeth, perempuan itu ikut meneteskan air matanya, suatu ruangan kosong seolah tiba-tiba tercipta di hatinya, Elisabeth dapat merasakan ada hal besar yang terjadi, namun ia tidak tau hal apa itu.
James melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Elisabeth di rawat, sudah berbulan-bulan sejak ia menemukan Elisabeth di bawa oleh seorang Defender The Unknown menuju sebuah lumbung padi di distrik satu. Keadaan Elisabeth saat itu benar-benar mengenaskan, kalau saja James telat sepuluh menit menyelamatkan Elisabeth, perempuan yang di cintainya itu mungkin sudah tidak bernyawa lagi saat ini.
Dan laki-laki yang menjabat sebagai kepala dokter dan dokter terbaik di Markas Ghost ini tidak akan mendapatkan jawaban memuaskan dari penantiannya selama ini.
“Aku rasa aku juga menyukai mu James. Kita bisa pacaran sekarang.”
James tersenyum lebar mengingat jawaban yang di berikan Elisabeth padanya kemarin malam. Saat itu wajah Elisabeth terlihat benar-benar berbeda dari biasanya, semburat merah memenuhi pipinya dan membuat perempuan itu terlihat benar-benar menggemaskan.
“Ah kau benar-benar laki-laki yang beruntung James.” Gumam James pada dirinya sendiri.
“Lepaskan. Badan mu berat tau!” Ucap Elisabeth setelah mengusap air mata miliknya.
Frans melepaskan pelukannya dari Elisabeth, menunjukkan air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya.
“EWH! Bersihkan wajah mu di kamar mandi Frans! Kau menjijikkan.”
Setelah mengusap wajahnya yang di penuhi dengan air mata dan ingus. Frans menundukkan kepalanya, mau bagaimanapun juga, Elisabeth harus tau tentang kabar kematian Tomi.
“Sudah lah.” Ucap Elisabeth dengan suara bergetar.
“Aku sudah bisa menebak isi kepalamu, aku menyesal karena sudah sangat mengenal mu Frans.”
“Maafkan aku mengatakan ini, tapi aku tidak akan hancur seperti yang kau bayangkan, bahkan bisa dibilang bangga dengan nya. Setidaknya walaupun di menghancurkan seluruh harapanku, dia tetap menepati janji terakhirnya untuk membunuh Adam demi aku.” Ucap Elisabeth sambil menangis, setelah sekian lama, akhirnya perempuan itu kembali meneteskan air matanya, tapi kali ini, rasa sakit yang di rasakanya tidak dapat dikalahkan oleh rasa sakit yang sebelum nya ia rasakan.
Bahkan di saat terakhir saudaranya, ia tak mampu berada disana untuk menyelamatkannya. Elisabeth merasa, ia memang tidak pantas untuk memiliki keluarga.
“Frans.” Ucapnya singkat. Frans dengan lembut memegang pundak Elisabeth yang saat ini bergetar tak karuan.
“Apa permintaan ku selama ini sangat sulit? Aku hanya ingin memiliki keluarga.” Ucap perempuan berusia 13 tahun itu sambil menutup wajahnya yang sedang menangis dengan kedua tangannya.
Tembok pertahanan yang sudah ia bangun sejak ibunya meninggal untuk tetap terlihat kuat di hadapan semua orang didepannya, hancur saat itu juga, Elisabeth menjerit sekuat tenaga mengeluarkan seluruh rasa sakit yang ada di dalam hatinya, kematian Tomi menjadi hukuman terberat yang pernah di terima oleh perempuan itu.
“Hei, kau bisa menjadikan aku keluarga mu Elisabeth, aku menyayangi mu sama seperti aku menyayangi cucuku sendiri.”
“Kau tidak sendirian, ada aku dan James yang akan selalu berada di sisi mu.” Ucap Frans dengan tulus, berharap Elisabeth akan segera berhenti menangis setelah mendengar perkataan laki-laki di sampingnya itu.
Elisabeth mengangguk berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tangisannya.
“Aku terlihat seperti anak kecil ya? Sialan.” Ucap Elisabeth sambil senggukan.
“Di mata ku kau memang selalu terlihat seperti anak kecil.” Ucap Frans seraya mengelus puncak kepala Elisabeth.
“ Besok aku akan pergi ke tugu batu untuk mendoakan korban-korban perang, kau beristirahat lah dengan baik, kalau kondisi mu sudah pulih seutuhnya aku akan membawa mu bertemu dengan mereka.” Ucap Frans lalu pergi meninggalkan Elisabeth.