Setelah menghabis kan makan nya, Jasmine dan Grace pun beranjak keluar dari ruang raksasa itu bersama dengan seluruh murid lain nya, mereka berbaris dengan rapi untuk mengambil vitamin dan s**u milik mereka dari petugas yang ada di depan pintu.
“Terima kasih,” ucap nya sambil berjalan menuju kamar.
Saat mereka melewati kamar mandi tangan Grace dengan cepat menarik Jasmine masuk ke dalam bilik tersebut. Mereka berdua mengangguk singkat seolah tau apa yang mereka kata kan di dalam hati.
Grace dan Jasmine pun berusaha keras untuk memuntah kan s**u yang tadi mereka minum tanpa mengeluar kan suara sedikit pun. Mereka bisa di hukum kalau ketahuan memuntah kan makan malam mereka.
“Sekarang apa?” tanya Jasmine kepada Grace.
“Kita ke kamar dulu, tengah malam nanti kita keluar saat semua nya sudah tertidur dan guru guru sudah selesai berpatroli,” ujar Grace yang di balas anggukan patuh dari Jasmine.
Mereka pun masuk ke dalam kamar mereka lalu langsung berbaring di atas tempat tidur, disana Jasmine dapat melihat semua anak anak sudah tertidur dengan lelap, sekarang ia sudah benar benar percaya kalau pihak akademi sedang menyembunyi kan sesuatu pada mereka seperti yang Grace kata kan.
“Apa?” tanya Grace tanpa suara dari tempat tidur nya.
Jasmine menatap sekeliling nya lalu kembali melihat ke arah Grace.
“Kau benar,” ujar Jasmine tanpa suara.
Spontan Grace langsung meletak kan jari telunjuk di depan bibir nya saat mendengar langkah kaki dari petugas yang memantau malam ini.
Ke dua perempuan itu pun langsung menutup mata mereka rapat rapat dan ber pura pura untuk tidur.
“Ruangan ini aman,” ujar seorang perempuan.
“Tunggu sebentar,” balas perempuan yang satu nya lagi. Grace dapat mendengar langkah kaki perempuan itu berjalan mendekati tempat tidur milik nya.
“Kenapa?”
“Anak yang malang,” ucap perempuan itu sambil mengelus rambut Grace dengan lembut.
“Kalau saja bu Ratu tidak curiga dengan diri nya, pasti tadi nama nya tidak ada di daftar merah,”
“Kau tau tadi bu ratu sebenar nya sangat ketakutan setelah Ezron mengumum kan ingin masuk ke dalam permainan lagi,” ujar teman perempuan itu.
Jasmine menghela nafas nya perlahan, kenapa dua penjaga ini malah jadi bercerita di dalam kamar mereka, kalau begini, Jasmine dan Grace akan memiliki waktu yang semakin sedikit untuk menyelinap dan mencuri alat alat yang akan di bawanya menuju pertandingan.
“Takut kenapa?”
“Takut pemenang yang satu lagi juga ikut bermain, aku dengar dia adalah kekasih Ezron selama pertandingan berlangsung, bisa saja ia kembali ikut bermain untuk membantu kekasih nya,”
“Ah, kalau aku jadi perempuan itu aku juga akan merela kan diri ku untuk menjadi mainan nya Ezron selama dalam pertandingan, laki laki itu sangat kejam, sudah pasti dia akan memenang kan pertandingan kemaren,”
“Kau benar, mana mungkin ada perempuan yang bisa mencintai mesin pembunuh itu,”
“Semoga saja tahun ini dia tidak selamat dari pertandingan,”
“Hal itu hampir tidak mungkin terjadi, pasti akan sangat sulit untuk mengalah kan Ezron,”
Oh ayo lah pergi dari sini, batin Jasmine.
“Ya sudah, kita akan menonton nya mulai minggu depan, aku berani mempertaruh kan 100 dollar pada Ezron,”
“Entah kenapa aku sangat ingin anak itu mati di pertandingan nanti,”
“Mau bertaruh dengan ku?” tanya perempuan itu.
“Okay, aku akan memegang anak ini, 100 dollar kan?” tanya nya.
“Hahah oke, dasar bodoh,” balas teman nya sambil tertawa.
Mereka pun berjalan keluar dan membiar kan semua murid murid di dalam ruangan itu terlelap.
“Psstt,” desis Jasmine membangunkan Grace dari tidurnya saat keadaan sudah aman.
“Ayo,” bisik Jasmine semangat.
Mereka pun segera bangkit dari tempat tidur mereka dan berjalan menuju cafetaria.
“Mau ngapain kita ke sini?” bisik Grace sedikit kesal.
“Kita akan ke dapur,” ujar Jasmine.
“Ya aku tau, tapi untuk apa? kau masih lapar?”
“Bukan lapar bodoh! Tapi cari senjata,” omel Jasmine dengan suara pelan namun tatapan yang menyeramkan.
Tangan nya membuka pintu dapur dan mengambil tiga buah pisau mulai dari yang paling besar hingga yang paling kecil.
“Ini, kau harus bertahan hidup selama di arena pertandingan,”
Jasmine mengambil sebuah besi yang biasa di gunakan para koki untuk mengasah pisau pisau mereka lalu memberi kan nya kepada Grace.
“Ini, asah pisau mu setiap hari,”
Grace mengangguk lalu memasuk kan keempat barang itu ke dalam tas nya. Grace melihat ke arah sekitar, tidak ada orang disana, keadaan di tempat ini benar benar sunyi dan menegangkan ditambah lagi mereka tidak tau kapan mereka akan ketahuan oleh petugas. Grace dan Jasmine harus bisa menyelesai kan kegiatan mereka dengan cepat.
“Ayo, ada yang mau aku ambil di perpustakaan,” ujar Grace lalu menarik tangan Jasmine keluar dari cafetaria, mereka dengan cepat berjalan menuju perpustakaan yang letak nya memang cukup jauh dari cafetaria.
Jasmine merasa sangat ketakutan, lorong lorong di gedung ini benar benar gelap, dan Jasmine sangat benci dengan kegelapan.
“Grace aku takut,” ujar Jasmine.
“Sstt! Diam!” bisik Grace dengan penuh penekanan, dirinya menarik tubuh Grace untuk ikut bersembunyi dibalik rak buku tepat saat dia melihat Ezron keluar dari salah satu lorong buku buku yang ada di dalam ruangan raksasa tersebut.
“Di mana buku itu?” tanya Ezron pada seorang perempuan di belakangnya.
Jasmine dan Grace samar samar melihat ke arah wajah perempuan itu, mereka tau siapa dia, perempuan itu adalah Zetta, pemenang permainan tahun lalu yang di kabar kan memiliki hubungan yang serius dengan Ezron.
“Mereka mau cari apa ke sini?” bisik Jasmine dengan sangat pelan namun entah kenapa Ezron langsung melihat ke arah mereka dari kejauhan.
Tubuh Jasmine spontan tersentak terkejut, ia benar-benar takut kalau Ezron menemu kan mereka disini, ya untuk Grace pasti dia akan aman aman saja karena besok pagi dia sudah harus pergi ke lokasi pertandingan di pulau lain, tapi bagaimana dengan Jasmine? Pihak akademi pasti akan mencurigainya kalau dia ketahuan masih bangun sampai sekarang.
“Kenapa?” tanya Zetta sambil menguap.
“Seperti nya aku mendengar sesuatu,”
“Apaan? Paling tikus atau serangga menjijik kan lain nya,”
“Di tempat ini tidak ada hewan,” balas Ezron mengingat kan Zetta bahwa mereka sudah tidak berada di dalam arena lagi.
“Ah iya, aku belum terbiasa,” jawab Zetta sambil tersenyum tidak peduli.
“Sudah lah Ezron! Aku sudah sangat mengantuk, boleh aku kembali ke rumah mewah kita? Aku ingin menikmati hari hari ku sebagai orang kaya mulai malam ini,”
“Aku sudah sangat lelah membantu mu mencari buku tidak jelas itu,”
“Buku itu bukan buku biasa bodoh! Banyak sekali rahasia akademi, bahkan pulau ini di dalam nya. Aku harus bisa mendapat kan buku itu lalu membawa nya ke medan pertempuran nanti,” ujar Ezron.
“Kenapa setelah memenang kan pertandingan, kau malah menjadi bodoh seperti ini? Yang harus nya kamu bawa ke arena nanti adalah pisau dan senjata senjata memati kan lainnya, bukan buku!”
“Diam,” balas Ezron dengan singkat, ia sudah muak mendengar omelan Zetta.
Perempuan itu mendengus kan nafas nya dengan kasar lalu mulai membuka tiap tiap laci yang ada di meja penjaga perpus.
“Hei Zon!” sahut Zetta tanpa rasa takut petugas akan datang kepada Ezron yang sedang mengecek rak buku di dekat mereka.
“Aku menemu kan nya, kau mencari buku sialan ini kan?” ujar Zetta sambil mengangkat sebuah buku yang ia ambil dari dalam laci mengguna kan tangan kanan nya.
Grace melihat ke arah sampul buku itu lalu menampil kan raut wajah kecewa, sebenar nya yang dia ingin ambil ke mari adalah buku itu, tapi dia sudah di dahului oleh Ezron, kalau sudah begini bagaimana dia bisa mendapat kan buku tersebut?
“Ayo pergi dari sini, aku sudah sangat merindu kan kasur ku,” ujar Zetta.
“Kau tidak mau bermain main dulu dengan ku sebelum tidur?” goda Ezron sambil melirik Zetta.
“Tentu saja aku mau, ayo kita hancur kan kasur baru itu malam ini,” jawab Zetta sambil tertawa.
Pemandangan itu tentu saja membuat Jasmine dan Grace hampir mengeluar kan makan malam di perutnya.
“Dasar jalang,” ujar Jasmine.
“Ayo kembali ke kamar,” balas Grace dengan suara yang tidak semangat lagi.
“Grace, maaf kan aku, seharus nya tadi kita ke perpustakaan dulu lalu ke cafetaria, gara gara aku, kau jadi gagal mendapat kan buku itu,”
“Tidak masalah, aku juga tidak terlalu sia sia datang kesini,”
“Kenapa?” tanya Jasmine.
“Aku mengambil buku untuk meracik obat herbal, buku urban legend di pulau ini,”
“Ah kau memang pintar Grace,” ujar Jasmine sambil tersenyum bahagia.
“Ayo kembali ke kamar sebelum kita ketahuan,” ujar Grace yang di sambut dengan sebuah pelukan dari Jasmine.
“Ku mohon kembali lah,” ujar Jasmine.
“Ya, aku janji pasti akan kembali, kau tenang saja,” ujar Grace seraya membalas pelukan Jasmine sekilas.
Mereka pun akhir nya berjalan kembali menuju kamar dengan hati hati. Untung nya Grace dan Jasmine dapat meninggal kan tempat itu dengan selamat tanpa ketahuan oleh satu pun penjaga.
Grace menyimpan barang barang tersebut di bawah tempat tidur nya, lalu terlelap menunggu hari esok datang.