BAB II : LIMA

1819 Kata
Setelah beranjak dari ruangan tempat Grace melihat hasil nilai ujian akhirnya, perempuan itu menghabiskan waktunya hanya dengan menangisi nasibnya yang begitu buruk. “Grace,” panggil Jasmine dengan raut wajah yang khawatir, ia tau betul teman nya itu pasti sedang sangat ketakutan untuk saat ini. Siapa pun pasti tidak mau mengikuti permainan yang hanya akan membunuh dirinya sendiri dan menyisakan dua pemenang, untuk tahun ini Jasmine mendapat informasi kalau Grace, sahabat nya akan bertarung dengan 54 peserta lain nya, dan di antara mereka, ada Ezron yang memang sudah terkenal biadab dan pasti sudah lebih memahami arena bermain di banding kan pemain pemain baru lain nya seperti Grace. Grace memutuskan untuk tetap diam, ia tau pasti saat ini Jasmine merasa tidak enak karena hanya Grace sendiri lah yang masuk ke daftar merah, padahal Grace sendiri pun sadar kalau jawaban mereka selama ujian akhir kemaren tidak ada yang berbeda sama sekali, tapi kenapa hanya Grace yang terbuang ke dalam daftar merah sedang kan Jasmine tidak. Setelah sekian lama terdiam Grace pun akhirnya mau menatap wajah Jasmine yang sedari tadi tidak pergi dari samping nya. “Tidak apa apa Jasmine, kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, semua ini bukan salah mu,” ujar Grace seraya mengangguk kan kepala nya pelan. “Aku akan mendoa kan mu dari sini agar kau selamat dari permainan tersebut ya Grace,” ujar Jasmine sambil menangis, ia tau betul mungkin saja malam ini akan menjadi malam terakhir diri nya menatap wajah sahabat nya ini. Tangan Jasmine terentang dan langsung di sambut dengan pelukan erat dari Grace. “Aku akan kembali, aku janji,” ujar Grace meyakin kan sahabat nya walau pun diri nya sendiri tidak yakin kalau dia bisa selamat dari permainan tersebut. “Ku mohon jangan mati,” ucap Jasmine beriringan dengan suara bel makan malam, mereka berdua pun lantas mengakhiri pembicaraan mereka dan berjalan bersama anak anak lain nya menuju ruang makan. Di pintu masuk Jasmine dan Grace dapat melihat cairan s**u dan pil pil vitamin yang harus mereka konsumsi setelah perjamuan makan malam ini selesai, tiba tiba Grace kembali teringat dengan buku yang di cerita kan oleh Jasmine, kalau buku tersebut tidak berisi rahasia yang harus di sembunyi kan oleh pihak akademi, mana mungki penjaga perpustakaan akan merebut buku tersebut dari Jasmine saat perempuan itu membaca nya tadi pagi. Mereka mengambil posisi mereka masing masing sesuai dengan nomor milik mereka yang tertera di belakang kursi makan, setelah di izin kan duduk, dengan serempak seluruh murid di Ezerta Academy itu pun duduk menunggu makan malam mereka di hidang kan. Seperti malam terakhir di tiap tahun nya, pihak akademi pasti akan memberi kan santapan begitu nikmat dan mewah setelah hasil ujian akhir di umum kan, semua anak yang berada di dalam daftar putih memandang makanan tersebut dengan tatapan berbinar, berbanding terbalik dengan anak anak yang berada di daftar merah, mereka bahkan tidak ingin menyentuh makanan itu sama sekali, begitu pula dengan Grace. Perempuan itu menatap ke arah salah seorang anak dengan rambut keriting yang sedang menangis di tempat duduk nya, Grace merasa kalau anak itu mungkin berada di tiga sampai lima kelas di bawah nya, tubuh nya yang mungil dan gaya berbicara nya yang terlihat seperti anak anak membuat Grace yakin kalau anak itu berada di usia paling muda dalam peraturan permainan ini. “Aku mau pulang, kenapa ibu ku membawa aku jauh jauh ke pulau ini? Aku tidak pernah meminta untuk di sekolah kan disini,” ujar nya sambil menangis terisak. Tiba tiba pintu raksasa yang menutup ruang makan tersebut terbuka dan menampak kan Ezron yang berdiri di depan sana dengan mengenakan seragam putih Ezerta Academy. Sontak seluruh perhatian pun terutuju pada diri nya, seperti biasa Ezron tertawa puas dan memandang seisi ruangan seolah diri nya adalah raja di tempat ini. “Selamat malam ibu Ratu, boleh aku menikmati kudapan malam ku?” ujar Ezron dengan suara lantang, bu Ratu hanya mengangguk dan mempersilah kan Ezron untuk ikut perjamuan makan malam kali ini. Sebenar nya kalau melihat ke peraturan peraturan mengenai permainan ini, setiap murid yang memenang kan pertandingan, akan memiliki pangkat yang lebih tinggi di banding kan dengan guru guru lain nya bahkan termasuk bu Ratu sekali pun. Wajar saja kalau bu Ratu masih harus memaklumi tingkah tidak sopan Ezron dan mengikuti segala permintaan nya. “Ah, aku sudah tidak sabar ingin ke medan tempur,” ujar nya seraya mendarat kan p****t nya tepat di samping Grace. Perempuan itu memandang Ezron dengan sinis. “Kenapa kau duduk di sini? Kau bisa mengambil kursi dengan nomor mu di tempat lain,” “Ah iya, ini memang bukan kursi ku,” ujar nya dengan wajah datar. “109,” ucap nya dengan suara pelan lalu tertawa cukup lama. Grace hanya menatap laki laki gila di samping nya itu dengan tatapan heran. Apa yang lucu dari nomor itu rupa nya? “Kau tau kan dia ikut pertandingan tahun lalu?” tanya Ezron. Ya Grace memang tau kalau murid yang biasa nya duduk di samping Grace saat makan malam sudah gugur akibat permainan terkutuk yang akan dia ikuti nanti. Grace pun mengangguk kan kepala nya menjawab pertanyaan Ezron. “Kau mau tau cara ku membunuh nya?” ujar Ezron semangat. Grace menatap Ezron dengan tajam ia benar benar benci dengan laki laki itu, dalam hati nya dia bertanya tanya kenapa tidak laki laki ini saja yang mati dalam pertandingan. Orang jahat seperti nya tidak pantas hidup di dunia ini “Aku mencekik nya hingga pingsan lalu menenggelam kan nya di laut,” “Aku tidak ingin tau kisah mu selama pertandingan dulu,” ujar Grace sambil menahan emosinya. Jasmine menatap ke arah mereka dengan perasaan takut lalu menyenggol lengan kanan Grace perlahan. “Aku rasa dia tertarik dengan mu, kau tau kan pemenang nanti ada dua orang, kalau kau bisa bekerja sama dengan Ezron, aku rasa kau akan kembali ke tempat ini dengan selamat,” bisik Jasmine. Grace hanya diam tidak menggubris perkataan sahabat nya itu, kalau di pikir kan secara logika, Jasmine memang benar, tapi bekerja sama dengan seorang iblis? Grace merasa lebih baik dia mati saja. “Aku suka tatapan tajam mu barusan, kalau kau mau satu grup dengan ku, aku akan dengan senang hati menerima mu masuk,” ucap Ezron, lagi lagi Jasmine hanya diam tidak mengata kan sepatah kata pun. “Atau kalau kau ingin melawan ku, aku saran kan kau membawa pisau tertajam yang bisa kau bawa untuk melindungi diri mu saat kau tidur di medan perang nanti,” ujar nya lagi seolah menakut nakuti Grace. “Tuh kan, udah satu grup sama dia aja Grace,” bujuk Jasmine lagi. “Hei,” bisik Grace pada Jasmine. “Kau mau membantu ku?” tanya Grace. “Apa itu?” “Setelah makan nanti, jangan minum s**u yang di berikan oleh penjaga, aku ingin kita tetap terjaga malam ini, aku akan mencuri barang barang yang bisa ku bawa ke pertandingan nanti,” bisik nya lagi. “Ah? Oke,” “Jadi kau mau atau tidak?” tanya Ezron lagi walaupun tidak mendengar jawaban dari Grace sedari tadi. “Aku akan mengasah pisau ku malam ini,” jawab Grace singkat yang menghilang kan senyuman di bibir Ezron dan pelototan dari Jasmine. “Kau gila ya?!” sahut Jasmine tidak percaya. “Baik lah, kalau begitu, sampai jumpa di medan perang,” ujar Ezron lalu pergi setelah menghabis kan makan di piring nya. 3 Setelah menghabis kan makan nya, Jasmine dan Grace pun beranjak keluar dari ruang raksasa itu bersama dengan seluruh murid lain nya, mereka berbaris dengan rapi untuk mengambil vitamin dan s**u milik mereka dari petugas yang ada di depan pintu. “Terima kasih,” ucap nya sambil berjalan menuju kamar. Saat mereka melewati kamar mandi tangan Grace dengan cepat menarik Jasmine masuk ke dalam bilik tersebut. Mereka berdua mengangguk singkat seolah tau apa yang mereka kata kan di dalam hati. Grace dan Jasmine pun berusaha keras untuk memuntah kan s**u yang tadi mereka minum tanpa mengeluar kan suara sedikit pun. Mereka bisa di hukum kalau ketahuan memuntah kan makan malam mereka. “Sekarang apa?” tanya Jasmine kepada Grace. “Kita ke kamar dulu, tengah malam nanti kita keluar saat semua nya sudah tertidur dan guru guru sudah selesai berpatroli,” ujar Grace yang di balas anggukan patuh dari Jasmine. Mereka pun masuk ke dalam kamar mereka lalu langsung berbaring di atas tempat tidur, disana Jasmine dapat melihat semua anak anak sudah tertidur dengan lelap, sekarang ia sudah benar benar percaya kalau pihak akademi sedang menyembunyi kan sesuatu pada mereka seperti yang Grace kata kan. “Apa?” tanya Grace tanpa suara dari tempat tidur nya. Jasmine menatap sekeliling nya lalu kembali melihat ke arah Grace. “Kau benar,” ujar Jasmine tanpa suara. Spontan Grace langsung meletak kan jari telunjuk di depan bibir nya saat mendengar langkah kaki dari petugas yang memantau malam ini. Ke dua perempuan itu pun langsung menutup mata mereka rapat rapat dan ber pura pura untuk tidur. “Ruangan ini aman,” ujar seorang perempuan. “Tunggu sebentar,” balas perempuan yang satu nya lagi. Grace dapat mendengar langkah kaki perempuan itu berjalan mendekati tempat tidur milik nya. “Kenapa?” “Anak yang malang,” ucap perempuan itu sambil mengelus rambut Grace dengan lembut. “Kalau saja bu Ratu tidak curiga dengan diri nya, pasti tadi nama nya tidak ada di daftar merah,” “Kau tau tadi bu ratu sebenar nya sangat ketakutan setelah Ezron mengumum kan ingin masuk ke dalam permainan lagi,” ujar teman perempuan itu. Jasmine menghela nafas nya perlahan, kenapa dua penjaga ini malah jadi bercerita di dalam kamar mereka, kalau begini, Jasmine dan Grace akan memiliki waktu yang semakin sedikit untuk menyelinap dan mencuri alat alat yang akan di bawanya menuju pertandingan. “Takut kenapa?” “Takut pemenang yang satu lagi juga ikut bermain, aku dengar dia adalah kekasih Ezron selama pertandingan berlangsung, bisa saja ia kembali ikut bermain untuk membantu kekasih nya,” “Ah, kalau aku jadi perempuan itu aku juga akan merela kan diri ku untuk menjadi mainan nya Ezron selama dalam pertandingan, laki laki itu sangat kejam, sudah pasti dia akan memenang kan pertandingan kemaren,” “Kau benar, mana mungkin ada perempuan yang bisa mencintai mesin pembunuh itu,” “Semoga saja tahun ini dia tidak selamat dari pertandingan,” “Hal itu hampir tidak mungkin terjadi, pasti akan sangat sulit untuk mengalah kan Ezron,” Oh ayo lah pergi dari sini, batin Jasmine. “Ya sudah, kita akan menonton nya mulai minggu depan, aku berani mempertaruh kan 100 dollar pada Ezron,” “Entah kenapa aku sangat ingin anak itu mati di pertandingan nanti,” “Mau bertaruh dengan ku?” tanya perempuan itu. “Okay, aku akan memegang anak ini, 100 dollar kan?” tanya nya. “Hahah oke, dasar bodoh,” balas teman nya sambil tertawa. Mereka pun berjalan keluar dan membiar kan semua murid murid di dalam ruangan itu terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN