DUA PULUH TUJUH

2114 Kata
Nusantara, Laboratorium Istana, 20 Januari 2302             “Untunglah kau sudah sadar.” Ucap Arka.             Perempuan berambut panjang itu membuka matanya dan menunjukkan iris merah miliknya, dengan kelegaan hati Arka menggenggam tangan Beatriz.             “Lepas kan tanganku!” Bentak Beatriz tidak senang, kenapa dia masih ada di Istana? Bukannya kemarin ia telah bertemu dengan teman-temannya dan bersembunyi di lumbung padi?             “Dimana teman-teman ku? Apa yang kau lakukan pada mereka?!” Sahut perempuan itu tak terkontrol dengan cahaya putih kebiruan yang mulai muncul di sela-sela jarinya. Matanya yang berwarna merah memperlihatkan amarah yang meluap-luap, wajah Beatriz saat ini terlihat benar-benar menyeramkan seperti nenek sihir.             “Teman-temanmu? Siapa? Kau menganggap orang-orang yang telah mencampakkan mu itu sebagai teman? Yang benar saja Beatriz, kau ini polos atau bodoh?” Ucap Arka.             “Meninggalkanku? Apa maksudmu?”             “Saat kau hendak kabur mengikuti mereka, aku menjemput mu di lumbung padi, namun yang ku dapat hanya kau yang terbaring dengan keadaan mengenaskan disana, sedangkan mereka semua pergi meninggalkan mu entah kemana.”             “Kau berbohong. Untuk apa aku berbohong?”             Kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa?             Aku rasa keadaan mu sudah cukup baik untuk menerima ini.” Ucap Arka, tangannya menunjukkan sebuah tabung bening yang berisi cairan berwarna hijau.             “Serum Agra?” Gumamnya namun masih terdengar oleh Arka.             Sang Raja mengangguk sambil tersenyum.             “Kalau kau bisa menerima serum ini, kau pasti bisa membunuh mereka semua. Penghianat tidak pantas untuk hidup kan?” Ucap Arka. Beatriz mengangguk setuju, rasa kecewa menyelimuti hatinya, ternyata selama ini, orang-orang yang ia sayangi tidak menyayanginya juga.             “Kalau mereka memang begitu membenciku, maka tidak ada alasan lagi untuk aku membiarkan mereka hidup.”             “Permisi yang mulia.” Ucap seorang peneliti saat memasuki ruangan tempat Beatriz di rawat.             “Ya, kau bisa melakukan eksperimen itu sekarang.” Ucap Arka.             Dokter itu mengangguk dan mulai menyuntikkan cairan hijau kepada Beatriz, saat perempuan itu telah tak sadarkan diri di dalam kapsul, Arka mulai menyuntikkan dirinya dengan dosis kecil serum berwarna biru.             “Apa Yang Mulia Yakin? Bagaimana jika tubuh anda tidak mampu menerima serum ini? Anda bisa saja mati.”             “Tidak apa-apa, kalau aku mati, sudah ada Hana yang sedang mengandung anakku untuk mempimpin kerajaan ini.”             “Kau jangan salah menilai Hana loh, dia tidak seperti yang kalian kira.” Ucapnya lalu masuk ke dalam kapsul di samping Beatriz.             “Lakukan yang terbaik aku mempercayai kalian.” Ucap Arka sambil tersenyum.             “Baik Yang Mulia!” *** “Halo Tomi.” Adam berdiri didepan Tomi sambil tersenyum lalu mengangkat sebuah senapan dan menembakkannya ke arah Tomi. Dengan cepat Tomi melompat menghindari tembakan dari Adam lalu bersembunyi dibalik dinding. “Kau tau, setelah aku membunuhnya, ternyata wajah Elisabeth tidak secantik yang selama ini aku kira. Ah iya, aku juga membuat ukiran yang sama seperti di wajahku ini pada wajah jeleknya itu sebelum dia benar-benar mati.” Ucap Adam sambil tertawa. “Dulu saat ia masih kecil kecantikan adik mu itu memang tidak perlu diragukan lagi sampai-sampai aku sangat ingin menikahinya dan menjadikannya milik ku sepenuhnya, wajah menggemaskannya itu selalu saja ia gunakan untuk menggoda ku. Tapi saat aku sudah berbesar hati mau menerimannya ternyata seleranya adalah pria tua bangka dengan harta yang melimpah, sekali keturunan p*****r pasti akan menjadi p*****r juga. Bisa-bisa nya adik kotor mu itu lebih suka dengan tua bangka seperti Frans! Dasar bodoh. Seandainya dia menerimaku, pasti dia masih hidup sampai sekarang. Karena aku selalu memusnahkan apapun yang tidak bisa menjadi milikku” Tomi mengisi selongsong senapan dessert eagle kesayangannya dengan peluru-peluru terakhir yang ia miliki. “Aku mencintai El, tapi dia terlalu bodoh untuk menyadarinya! Aku berusaha sebisa mungkin untuk membuat dia suka denganku, untuk sampai di titik ini pun aku lakukan demi dia! Apa yang salah dengan ku? Kenapa dia tidak pernah melihatku?” Ucap Adam sambil menangis. “Banyak omong kau b*****t!” Sahut Tomi sekuat tenaga meluapkan amarahnya, tangannya menarik pelatuk senapan dan menembak ke arah kepala Adam. Cepat-cepat Adam melompat mengelakkan peluru panas tersebut, namun sayang, dengan tangkasnya Tomi menembakkan sebuah peluru lagi dan berhasil mengenai kepala Adam. “Mana mungkin Elisabeth bisa jatuh cinta dengan babi sepertimu? Adik ku menggoda mu? Astaga sampah ini benar-benar membuatku jijik!” Ucap Tomi sambil meludah ke wajah mayat Adam. Tomi berlari menuju pintu barat tempat dimana ledakan itu berasal, walaupun sudah membunuh Adam sesuai dengan permintaan terakhir Elisabeth, Tomi tidak akan bisa tenang sebelum ia mengetahui kondisi Sarah saat ini. Suara pesawat tempur tiba-tiba muncul memekakan telinga para pasukan yang ada diluar Istana termasuk Aruna dan Dylan. “Kita akan kalah.” Gumam Aruna ketakutan. Pandangan Dylan teralih saat pesawat-pesawat tersebut mulai menembaki pasukan Ghost yang ada didarat. “Aruna, Shield!” Sahut Dylan bersamaan dengan terciptanya kubangan besar yang diciptakan oleh Aruna. “Aku akan menghadapi pesawat tempur mereka.” Ucap Frans dari earphone. “Frans? Tetap di posisimu, aku akan mengatasi capung-capung itu!” Gumam Dylan tidak percaya. Tangan laki-laki itu mengeluarkan sebuah remot kontrol dari dalam tasnya, akhirnya di saat yang genting ini dia bisa memakai anak pertama yang diciptakannya selama berada di markas Ghost. “Aku perkenalkan pada kalian King Dylan – 01.” Ucap Dylan kepada teman-temannya sambil mengendalikan sebuah pesawat tempur kecil namun dilengkapi dengan puluhan jenis senjata api yang sangat berbahaya dan tentunya lebih canggih dibanding buatan kerajaan. “Kenapa namanya begitu menjijikkan!” Sahut Agra yang terdengar lebih seperti pernyataan dibandingkan pertanyaan dari seberang sana. “Halo Frans, apa kau mendengarku? Halo?” “Aku takut.” Keluh Aruna sambil menangis. “Stop Aruna! Bukan hanya kau yang ketakutan disini. Kuatkan dirimu, kami semua sangat membutuhkan mu.” Ucap Dylan dengan tegas. “Agra, MP yang kau miliki kurang dari setengah.” Ucap Dylan pada Agra. “AH!” Sahut Agra kesakitan saat tubuhnya terbanting sejauh sebelas meter akibat serangan Beatriz. “Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengajak mu ikut tinggal di Istana. Tapi kau malah lebih memilih untuk hidup menderita di distrik. Lihat, bahkan tidak ada satupun masyarakat distrik yang—“ Ucapan Beatriz terhenti saat sebuah bom molotov, dilemparkan ke arahnya. “SERANG!” Sahut seseorang didalam rombongan masyarakat distrik yang bermunculan dari berbagai sisi Istana. “LENGSERKAN ARKA!” “Kisah hidup mu berhenti sampai disini Beatriz.” Ucap Agra, tubuhnya melesat dengan cepat menabrak tubuh Beatriz lalu membawanya terbang setinggi yang ia bisa. Tangan Beatriz mulai mengeluarkan cahaya matanya bersinar seolah menampung banyak sekali energi listrik disana. “Kita akan mati bersama.” Ucap Beatriz sebelum meledakkan semua kekuatannya termasuk dirinya sendiri. “Tidak semudah itu kawan.” Ucap Agra sambil melemparkan tubuh Beatriz ke arah pesawat tempur yang sedikit lagi menabrak mereka. Dengan satu serangan yang luar biasa Beatriz bisa menghindari pesawat tersebut dengan meledakkannya, ledakan pesawat itu sangatlah dahsyat mengakibatkan Beatriz harus terjatuh ke permukaan dengan keadaan yang mengenaskan. “Agra! MP mu !” Sahut Dylan menatap status MP Agra yang menunjukkan angka 10. “Aku tau! Diam lah!” “Kau akan jatuh!” “Tidak masalah! Selama berdebah ini mati. Aku tidak peduli harus merasakan sakitnya patah tulang.” Ucap Agra bersamaan dengan ledakan kedua pesawat tempur terakhir yang di tabrakkannya. “MPnya habis. Aruna, Agra akan terjatuh, aku tidak yakin dia bisa hidup dari ketinggian seperti itu. “Pintu selatan terlalu jauh dari jangkauan ku.” Balas Aruna dengan penuh rasa bersalah. Sebuah pesawat tempur berlambangkan bunga mawar menungkik tajam menyusul tubuh Agra, dengan mahir Frans memutar pesawatnya di udara, dan memasukkan tubuh Agra kedalam pesawatnya. “Hahaha, aku menangkap mu burung kecil!” Sahutnya dengan tawa yang sangat kencang. “Kami kira kau berhianat! Darimana saja kau b******n!” “Jangan sama kan aku dengan kakek-kakek lainnya, dalam peperangan aku tidak akan mau duduk berdiam diri dan memantau musuh dari kejauhan. Sama seperti kalian, aku punya dendam yang sangat besar pada Istana. Dan aku akan mengerahkan semua kemampuan ku demi kepala Arka.” Agra menatap keluar, dari atas dia melihat ribuan masyarakat dan pasukan lainnya sibuk berperang melawan tentara istana, banyak sekali korban yang terjatuh, sedikit keraguan untuk menang muncul dalam benaknya, namun dengan cepat Agra menepis pikiran itu, tidak, dia tidak pernah menerima kekalahan satu kali pun dalam hidupnya. “Turunkan aku sekarang.” “Kenapa? Bukannya nenek sihir itu sekarang sudah mati?” Ucap Frans. “Ku bilang turunkan aku b*****t! Aku tidak akan mengulangi kesalahan ku yang kedua kalinya.” “Tingkah mu yang ini mengingatkan ku pada seseorang yang sangat penting.” Ucap Frans sambil menurunkan pesawatnya dibagian selatan tempat Beatriz terjatuh. “Sekedar info untuk mu Frans, aku tidak selera dengan tua bangka.” Ucap Sarah sambil melompat turun dari pesawat, kakinya melangkah ke arah tubuh Beatriz. Benar saja, sama seperti dugaannya, Beatriz masih hidup walaupun tidak mampu menyerangnya lagi. “Ternyata kau berkembang dengan sangat pesat selama berada di Istana ya.” Ucap Agra yang sedang duduk bersilang di samping teman lama nya itu. “Ane—, Aneshka.” Ucap Beatriz lalu terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya. “Cari, dan ra— wat dia.” “Kalau ti—dak, Kau a—kan ma—ti.” Ucap Beatriz lalu menghembuskan nafas terakhirnya. “Bagaimana kau bisa membunuh ku kalau kau saja sudah ku bunuh bodoh!” Ucap Agra sambil mengusap air mata di wajahnya. Tenang saja, tanpa kau suruh pun aku tidak akan menelantarikan Aneshka. Walaupun kau berkhianat, aku masih memiliki banyak hutang budi pada mu Beatriz. “Dylan berapa MP ku?” Ucap Agra melalui gelangnya. “Masih 0.” Jawab Dylan. “Bawa aku ke Aruna.” Perintah Agra pada Frans. “Tidak perlu, kau beristirahat saja disini, kita akan menyerang Istana sekarang.” “TIDAK! Bawa aku ke Aruna sekarang! kalian tidak akan bisa melawan monster itu tanpa ku.” Bentak Agra. “Monster?” “Spesimen serum hitam.” “Mereka berhasil?!” “Ya bodoh! Sekarang cepat bawa pesawat ini ke tempat Aruna, kita tidak memiliki waktu yang banyak.” Sambil terbatuk-batuk Sarah membuka matanya dan menatap sesosok makhluk yang sangat aneh, bentuknya sama seperti manusia pada umumnya, namun asap membumbung dari tubuhnya dan lava panas seolah mengalir didalam tubuhnya menggantikan darah disana. Sekuat tenaga Sarah menangkat bongkahan batu yang menimpa tubuhnya. “Sarah!” Sahut Tomi dari kejauhan. “LARI!” Jerit Sarah saat mengetahui makhluk aneh itu sadar akan kehadiran Tomi, dalam waktu yang singkat tubuhnya membara dan diselimuti oleh api, dalam hitungan detik suhu disekitar mereka meningkat dengan drastis, bahkan Sarah dapat mencium aroma tubuhnya mulai terpanggang. Tanpa rasa takut Tomi berlari ke arah Sarah dan membantunya keluar dari timbunan tembok. “Bodoh!” Sahut Sarah penuh amarah. “Diam kau!” Balas Tomi tak kalah galaknya. Sambil tertatih Sarah mengikuti langkah kaki Tomi untuk menghindar dari Rai. “Aruna, lindungi kami di pintu barat.” Ucap Tomi melalui gelangnya, sesaat kemudian, sebuah kubah tercipta diatas mereka namun hancur dengan mudah akibat serangan yang diberikan Rai. “Arrggh!” Sahut Aruna kesakitan. “Kau tidak apa-apa?” Ucap Dylan khawatir. “Kekuatannya besar sekali, aku rasa shield ku tidak akan mampu menlindungi kalian.” Ucap Aruna pada Tomi bersamaan dengan datangnya Agra. “Biar aku yang menjemput mereka, sekarang pulihkan MP ku.” Ucap Agra. “Tidak bisa, kalau memulihkan MP milik mu HP Aruna akan terkuras banyak.” “Memangnya apa yang kalian lakukan disini sampai kalian sangat membutuhkan HP?” “Agra benar, aku tidak membutuhkan HP ku, Sarah dan Tomi bisa mati jika Agra tidak menjemput mereka dengan cepat.” Ucap Aruna sambil memulihkan MP milik Agra. Aruna menahan rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya, tubuhnya bergetar hebat diikuti dengan darah yang mengalir keluar dari hidung dan telinganya. “Terimakasih Ara. Aku akan menyelamatkan mereka demi  mu.” Ucap Agra dengan MP yang kembali penuh sambil melesat cepat. “Aku akan menjemput kalian.” Ucap Agra pada Tomi. Tomi mengangguk refleks sambil tersenyum, tangannya menggenggam tangan Sarah dengan erat dan mulai berlari lebih cepat lagi. “Aku tidak akan kehilangan lagi.” Gumam Tomi. “Apa?” “Mau melakukan sesuatu untukku?” “Jangan bicara hal yang aneh-aneh di saat seperti ini.” “Tolong jaga ini.” Ucap Tomi sambil memberikan senapan kesayangannya. “Itu senjata pertama yang di berikan Ayah pada ku.” Ucap Tomi menyadari Agra yang terbang ke arah mereka. “Dan satu lagi, tolong bacakan diary El untuk ku.” Sekuat tenaga Tomi menarik tubuh mungil Sarah dan melemparkan tubuh perempuan itu ke arah Agra. Dengan sigap Agra menangkap tubuh Sarah bersamaan dengan ledakan yang di keluarkan oleh Rai. Tak sampai semenit tubuh Tomi hancur menjadi butiran debu. “Tidak!!” Teriak Sarah sekuat tenaga sambil menangis di udara. “DASAR BODOH!!!” Sahut Agra lalu membawa Sarah pergi dari tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN