Kepulauan Zoroas 01 Januari 2302.
Kepulauan Zoroas adalah daerah yang terbentuk dari gabungan pulau-pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Nusantara, Kepulauan Zoroas terkenal dengan jumlah penduduknya yang lumayan tinggi dan sangat kompak, tempat itu tidak memiliki pemimpin melainkan hidup didalam lingkaran keluarga dengan marga yang berbeda-beda berdasarkan dewa yang mereka sembah.
Walaupun memiliki sistem pemerintahan yang primitif, Kepulauan Zoroas berhasil membangun wilayahnya menjadi wilayah yang maju, seluruh rakyat disana tinggal dengan nyaman dan bahagia, segala yang mereka butuhkan seperti pendidikan, perlindungan, teknologi, makanan, tempat tinggal, dan masih banyak lagi tercukupi dengan sangat baik.
Di pulau ini terdapat lima klan keluarga, yang pertama dan paling tua adalah keluarga Degurchaff, keluarga ini mempercayai dan menyembah seorang Dewa yang bernama Zoroas. Zoroas adalah dewa pelindung dengan simbol matahari yang terbenam dan bulan di atasnya. Menurut mitologi mereka, Dewa Zoroas adalah seorang dewa pertama yang pernah dilahirkan di pulau tempat mereka berpijak saat ini.
Kedua adalah keluarga Asterlide, keluarga yang didominasi oleh keturunan perempuan ini menyembah Dewi Aalofa. Dewi Aalofa adalah seorang Dewi dengan paras yang sangat sempurna, bahkan dalam mitologi mereka, keturunan Dewi Aalofa akan memiliki paras yang sangat cantik dan tampan dibandingkan dengan seluruh manusia di bumi, maka tak mengherankan penduduk kepulauan Zoroas yang berasal dari keluarga Asterlide memiliki paras diatas rata-rata. Dewi Aalofa adalah seorang dewi yang melambangkan cinta, dia memberkati pernikahan seluruh umatnya dengan urapan air mata kebahagiaan yang tercurah dari surga.
Yang ketiga adalah Keluarga Ha’ajorgun, atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Keluarga Ha. Keluarga Ha adalah keluarga dengan jumlah terkecil, hanya di isi dengan 14 orang, mereka adalah keluarga yang menyembah Dewa Jorgun, dewa kehancuran dan kematian, di Kepulauan Zoroas, Keluarga Ha adalah keluarga yang dikucilkan dan bahkan di asingkan oleh masyarakat yang lain, mereka percaya jika mereka dekat atau bahkan berinteraksi dengan keluarga Ha, maka mereka akan menuai kesialan seperti sakit penyakit, kebangkrutan, atau yang paling parah adalah kematian. Tidak ada yang tau dimana Keluarga Ha ini tinggal, sebagian penduduk kepulauan Zoroas menganggap Keluarga Ha tinggal di gua-gua yang ada di pinggir pantai.
Dan yang terakhir adalah keluarga yang di isi oleh para petarung di Kepulauan Zoroas, keluarga Kreigh, Kreigh adalah keluarga yang menyembah Dewa peperangan dan strategi, Dewa Drogon, keluarga ini di d******i dengan keturunan pria dan hanya sedikit perempuan yang terlahir dari keluarga ini, biasanya keturunan keluarga Kreigh akan dinikahkan bersama keturunan keluarga Asterlide demi menyeimbangkan jumlah anak perempuan dan anak laki-laki yang akan terlahir di kepulauan Zoroas. Dibandingkan keluarga-keluarga yang lain, keluarga Kreigh lah yang paling mahir dalam urusan pertarungan, sehingga tak heran jika keluarga Kreigh memegang kendali penuh dan bertanggungjawab terhadap keamanan seluruh masyarakat di Kepulauan Zoroas.
Seorang laki-laki dengan tinggi hampir 2 meter berjalan memasuki sebuah kapsul yang ada di ruang laboratorium tersebut, dari tulisan di bajunya orang-orang dapat mengenalnya dengan nama Rai Von Degurchaff.
Semasa hidupnya keluarga Degurchaff adalah keluarga yang sangat taat agama, Zoroas sendiri diambil dari nama Dewa yang selama ini di puja oleh keluarga Degurcaff, menurut kepercayaan mereka, Dewa Zoroas lah yang melindungi pulau yang mereka tinggali ini dari ledakan nuklir dengan kata lain, Dewa Zoroas lah yang menyelamatkan mereka dari kepunahan.
Berbeda dengan Nusantara yang menggunakan 4 serum dalam menjalankan eksperimennya, kepulauan Zoroas hanya mendapat satu serum terkuat yang berwarna hitam. Serum itu mampu membunuh seseorang dalam kurun waktu satu jam setelah orang tersebut di suntikkan serum tersebut.
Dikarenakan fasilitas yang terbatas, para ilmuan dan peneliti kepulauan Zoroas hanya menyuntikkan serum tersebut pada Rakyatnya yang sukarela memberikan dirinya sebagai kelinci percobaan lalu memasukkan spesimen yang bertahan selama satu hari ke dalam kapsul. Bagi masyarakat Zoroas, mati demi mengembangkan ilmu adalah keuntungan.
“Semoga Dewa memberkati mu.” Ucap salah seorang dokter setelah menempelkan elektrokardiograf di d**a Rai.
Rai mengangguk sambil tersenyum, kalaupun ia mati, tidak akan ada penyesalan yang timbul di hatinya, selama ini dia sudah beribadah dengan sungguh-sungguh, saat ia mendaftarkan dirinya sebagai salah satu spesimen dia sudah sangat yakin dengan segala resiko yang akan ia hadapi, dan jika ia berhasil menjadi seorang dengan kekuatan super seperti yang dijelaskan Raja Nusantara terhadap penduduk Kepulauan Zoroas, ia akan dengan setia membantu Raja Arkasena Nakula Widjanarka untuk membasmi orang-orang jahat lalu mengembalikan kondisi bumi menjadi seperti sedia kala.
Setelah menutup kapsul milik Rai, sang dokter pun mulai menjalankan eksperimennya, sesaat setelah mesin tersebut di hidupkan tubuh Rai tersentak dengan keras, tangannya menggenggam besi pegangan yang ada didalam kapsul itu.
Hidung, mata dan telinganya dengan deras menyucurkan darah bagaikan keran. Rasa sakit ini adalah rasa sakit paling mengerikan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Rai sebelumnya.
Kakinya yang sudah tidak mampu lagi menumpu tubuh Rai membuatnya terjatu, seluruh tubuhnya bergetar hebat sampai rasa sakit itu berubah menjadi panas yang teramat sangat, tubuhnya terbakar dari dalam, Rai menjerit kesakitan bahkan suara teriakannya dapat terdengar hingga keluar gedung.
“TERPUJILAH DEWA ZOROAS!” teriaknya sekuat tenaga diikuti oleh dokter-dokter yang ada disana.
Semua orang yang ada di pulau tersebut sudah berkumpul di kuil Zoroas, seluruh keturunan Degurchaff berdiri sambil berpegangan tangan membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi patung sang dewa, sedangkan keturunan lain duduk didalam kuil untuk berdoa dan memberikan persembahan yang dipimpin oleh keluarga keturunan Asterlide.
Saat kepala suku dari keturunan Degurchaff membakar patung tersebut, saat itu lah ritual untuk mendoakan keselamatan Rai dimulai.
Seluruh tenaga medis yang ada di dalam ruangan terkesima dengan hal yang sedang disaksikan mereka, waktu sudah tiga puluh menit berlalu, namun Rai masih tetap bertahan di dalam kapsul, tubuhnya berubah dengan sangat drastis, badannya membesar dan hampir memenuhi kapsul miliknya yang setinggi tiga meter, seluruh kulitnya terlihat mengeras dengan retakan yang membuatnya terlihat seperti batu.
“ARGGHH!!!!!” Teriak Rai menahan rasa sakit yang keluar dari seluruh tubuhnya.
Ledakan dahsyat keluar tiba-tiba dari badannya, rasa sakit yang sedari tadi menyiksanya lenyap seketika bersamaan dengan hancurnya kapsul yang mengurung tubuh Rai.
Laki-laki dengan tinggi sekitar tiga meter dan tubuh yang berbentuk seperti batu dengan garis-garis retakan bercahaya oranye di sekujur permukaan kulitnya keluar dari balutan asap, semua orang yang menyaksikan kejadian itu terpana dengan bentuk tubuh Rai yang mirip seperti monster gunung berapi.
“Volcano.” Gumam seorang dokter tanpa berkedip sedikitpun.
Tubuh Rai yang masih belum mampu beradaptasi dengan kekuatan barunya tiba-tiba terbaring dilantai tak sadarkan diri.
“Bawa dia ke tempat tidur.” Ucap salah satu ilmuan yang ada disana.
“Bagaimana kita membawanya? Tubuhnya saja dipenuhi dengan lava.” Protes salah satu suster melihat tubuh Rai yang di penuhi dengan lava dan asap putih. Tak lama setelah asap itu menghilang, tubuh Rai kembali seperti sedia kala tanpa luka sedikitpun.
“Kita berhasil !” Sahut seluruh tenaga medis yang ada disana dengan sorak-sorai.
“Ini semua berkat dari Dewa Zoroas! Dia mengizinkan kita untuk memperbaiki bumi!”
Seorang perempuan paruh baya dengan rambut panjang berwarna putih melangkahkan kakinya menuju mimbar yang terletak di tengah kuil. Kedua tangannya yang penuh dengan keriput terangkat ke atas dan langsung memberhentikan ritual seluruh masyarakat disana.
“Rai.” Ucapnya samar-samar.
“Selamat.” Sambung Yasmine Asterlide lagi dengan senyuman di bibir yang menghiasi wajah cantiknya.
Seorang perempuan berteriak dengan air mata menghiasi pipinya, kedua tangannya memeluk seorang anak laki-laki yang sedang tertidur.
“Kenapa bu?” Ucap sang anak yang terbangun karena teriakan ibunya.
“Ayah selamat nak!”
“Suami ku selamat!!” Sahutnya penuh kebahagiaan, rasa takut kehilangan yang selama ini terpendam di hatinya akhirnya sirna.
Frazta Asterlide, begitulah perempuan cantik berusia 26 tahun ini di kenal. Frazta adalah anak kandung dari Yasmine yang notabene adalah kepala suku dari keturunan Asterlide, rasa syukur terpanjat dalam hatinya akhirnya dia dapat melihat kegelisahan di wajah anaknya sirna.
“Dewi Cinta tidak akan meninggalkan seorang istri terpuruk dalam kesedihannya, perlindungan yang diberikan pada Rai, suami anakku, adalah bentuk pengasihannya kepada Frazta, ia tidak ingin Frazta membesarkan anaknya sendirian tanpa cinta dari seorang ayah. Terpujilah Dewi Aalofa!” Sahut Yasmine.
“Terpujilah Dewi Aalofa!” Sahut seluruh keturunan Asterlide bersamaan.
Dari luar kuil keturunan Degurchaff juga ikut bersorak-sorai sambil menari memuja Dewa kepercayaan mereka, Dewa Zoroas.
“Terpujilah Dewa Zoroas!!”
“Terpujilah Dewa Zoroas!!”
“Bagaimana keadaan mu Rai?” Ucap seorang dokter saat Rai terbangun dari koma nya, struktur tubuhnya berubah sepenuhnya, menurut pemeriksaan medis, Rai sudah tidak memiliki organ dalam lagi, seluruhnya rusak kecuali jantung dan otak yang tiba tiba terbalut dengan batu keras mirip seperti batu-batu di pegunungan.
Tubuh Rai juga terlihat lebih pucat karena tidak adanya lagi darah yang mengalir di tubuhnya.
Rai melihat ke papan keterangan pasien yang ada disampingnya.
Rai Von Degurchaff
Specimen Project 05
The Volcano
“Sepertinya namaku sudah ada tiga sekarang?” Ucap Rai sambil mendudukkan badannya di atas tempat tidur.
“Pelan-pelan.” Ucap sang dokter sambil membantunya duduk.
“Apa kau sudah mengabari Frazta?”
“Seluruh rakyat di pulau ini sudah tau tentang kabarmu, mungkin mereka sedang melakukan ritual puji syukur di kuil saat ini. Kali ini Frazta yang memimpin.” Jawab dokter itu.
“Dia pasti sangat berbahagia saat mengetahuiku selamat.” Ucap Rai.
“Ya, dia bernyanyi sambil menangis saat mempersembahkan puji-pujian untuk Dewi di Kuil.”
“Baguslah, bagaimana dengan Yang Mulia Raja Nusantara?” Tanya Rai lagi. Dokter itu menggeleng.
“Kondisi mu belum stabil, kau juga belum bisa menguasai kekuatan mu ini, lebih baik kau beristirahat lalu berlatih terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Yang Mulia Raja Nusantara.”
Rai mengangguk lalu kembali berbaring, yang di katakan sang dokter adalah benar, sebagai seorang Degurchaff dia harus memberikan yang terbaik pada orang yang di hormatinya.
Mulai saat ini aku akan berlatih sebisa mungkin untuk mengembalikan dunia seperti sedia kala
***
Dear diary.
Hari ini tepat satu tahun aku berada di markas ghost milik pria tua itu. Dan tepat di hari ini juga dia akan membawa ku menemui ayah. Walaupun hanya melihatnya dari jauh, aku merasa sangat senang karena selama ini aku hanya mampu melihatnya melalui TV. Setidaknya kali ini aku dapat melihatnya secara langsung.
Tomi membalik halaman buku tersebut dengan Sarah yang ikut duduk disampingnya.
Ayah bertubuh sangat tinggi namun sedikit kurus, apa dia sedang sakit? Ah aku benar-benar ingin menyapanya. Mungkin aku akan ditertawakan oleh Frans kalau dia sampai tau perasaan ku saat ini. Aku benar-benar bahagia!
Ayah. Ini aku Elisabeth. Anak mu.
“Ternyata dia tak se-keras yang aku kira.” Gumam Tomi.
Hari ini aku berhasil memecahkan kode rahasia milik Istana, dan boom! Aku mendapatkan rahasia terbesar kerajaan. Project Specimen. Ya, itu judul dokumennya. Semuanya tertulis lengkap disana, dari jenis-jenis serum, apa saja kekuatan yang dihasilkan oleh serum tersebut, daftar negara yang menjadi sekutu Nusantara dan masih banyak lagi. kau benar-benar keren Elisabeth!
Aku harus segera memberitahu hal ini pada Frans.
“Sebaiknya kau tidur. Besok adalah hari yang penting bagi kita semua. Kau bisa membaca buku itu nanti setelah kita memenangkan peperangan.” Ucap Sarah sambil menutup buku harian milik Elisabeth ditangan Tomi.
“Aku ingin membacanya sedikit lagi, mumpung kau masih berada disini bersama ku.”
“Memangnya aku mau kemana?”
“Jarang-jarang kau menemani ku untuk hal seperti ini.”
“Ya sudah, satu lembar terakhir.”
Tomi kembali membuka buku itu dan membaca namanya tertulis disana.
Hari ini aku ditugaskan untuk menjemput Estomihi Bornslav ke markas, kata Frans suatu saat dia pasti akan kembali ke markas The Unknown. Dan benar saja, dia kembali, setelah beberapa hari aku menunggunya disini sambil bersembunyi. Tubuhnya cukup kekar namun sedikit lebih pendek dari perkiraan ku. Ah sekali lagi aku berhasil menemukan anggota keluarga ku yang lainnya, senangnya.
Oke kali ini aku pastikan dia ikut bersama ku ke markas Ghost. Aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidup ku bersama keluarga yang tidak pernah ku miliki dari dulu.
Tomi menutup buku itu dengan perasaan campur aduk, rindu menyelimuti dirinya, rasanya sangat sesak mengingat kerja keras adiknya selama ini hanya untuk melihat saudara dan ayahnya dalam waktu yang singkat.
“Dia sudah tenang disana. Ayo, kau harus beristirahat.”
“Iya.” Balas Tomi.
Sarah benar, besok adalah hari kematian Adam. Dia harus mempersiapkan dirinya untuk mencabut nyawa berdebah itu.
***
“Kau siap?” Ucap Dylan.
Aruna menganggukkan kepalanya dan bersembunyi di tempat yang sudah diperkirakan oleh Tomi tadi malam. Matahari mulai terbenam, dan para penjaga sudah melonggarkan pekerjaan mereka, seluruh pasukan hanya tinggal menunggu aba-aba dari Tomi, dan mereka akan langsung menyerang kerajaan.
“Kau tidak tunduk dihadapan Rajamu?” Ucap Sarah dengan wujud Arka. Saat ini Sarah dan Tomi telah berhasil menyusup kerajaan dan memantau dari dalam.
“Kan sudah ku bilang, nanti saja berubahnya.”
“Aku bosan, mau sampai kapan kita bersembunyi seperti ini.”
“Aku mau memantau keadaan dulu.”
“Beatriz huh?”
“Ya.”
“Hei, lihat itu.” Ucap Sarah yang sudah kembali ke wujud aslinya, menunjuk ke arah laki-laki dengan setelan hitam di ujung ruangan.
“Kenapa?”
“Aku merasa ada yang aneh dengannya.”
“Hei! Aku melihat Beatriz. Aku akan menyerangnya sekarang.” Sahut Agra yang dapat didengar oleh seluruh tim inti melalui earphone yang terpasang di telinga mereka.
“Tidak!” Sahut Tomi tanpa sadar membeberkan tempat persembunyiannya dan Sarah pada pengawal.
“It’s show time.” Gumam Sarah dengan semangat lalu mulai bertarung dengan pengawal-pengawal kerajaan yang menyerangnya.
“Dia menghilang.” Gumam Tomi saat menyadari laki-laki dengan setelan hitam itu sudah tidak ada lagi di tempat ia berdiri semula.
“Serang!” Sahut Tomi diatas gelang miliknya, disaat yang sama, seluruh pasukan keluar dari persembunyian mereka masing-masing dan menembakkan senjata mereka.
Bersamaan dengan suara tembakan dan teriakan dari pasukan Ghost, seluruh warga yang tinggal di kerajaan berbondong-bondong berlari keluar dari rumah mereka dan bersembunyi ditempat yang menurut mereka aman. Suara teriakan dan tangisan bayi berhasil memenuhi dataran Istana malam ini.
“Aku tidak tau kalau kalian se-ceroboh ini.” Ucap Beatriz sambil tersenyum pada Agra.
“Arka sudah tau kedatangan kalian dari tadi, dia menyuruh ku menghampiri mu agar kau tidak menjadi ancaman bagi Rai.”
“Rai?”
“Ah sudah lah, aku benar-benar ingin membalas perbuatan mu pada ku waktu itu.” Ucap Beatriz diikuti dengan sambaran listik yang begitu dahsyat ke arah Agra.
“Kali ini, aku akan benar-benar membunuh mu Agra.”
“Sarah!” Sahut Tomi sambil menarik Sarah menjauh dari lorong saat beberapa pengawal mulai menembaki mereka dengan brutal.
“Kau pergi cari Arka.” Sarah mengangguk dan langsung mengubah wujudnya menjadi Arka.
“Aku akan ke sisi barat.” Ucap Sarah.
Tomi mengeluarkan dua senapan miliknya, dengan mahir ia menembaki pengawal-pengawal dihadapannya tanpa menyisakan satupun peluru yang meleset.
“Timur aman!”
“Kami berhasil masuk dari pintu barat.”
“Utara sudah berhasil di ambil alih.” Ucap pemimpin pasukan dimasing-masing arah setelah menghabiskan tiga puluh menit waktu bertarung.
Tomi tidak merespon perkataan mereka sedikitpun, entah kenapa semua ini terasa janggal, kenapa rasanya seperti Arka memang mengizin kan mereka untuk masuk kedalam Istana.
“Periksa pasukan Thunder.” Ucap Tomi sambil mencari keberadaan Arka.
“Lapor. Pasukan Thunder menghilang.” Ucap seseorang melalui earphone.
“Bagaimana dengan Frans?!”
“Komandan juga tidak ada di pintu selatan.”
“Sial! Tua bangka itu menghianati kita.” Gumam Tomi
“Semuanya keluar dari istana! Ini jebakan!” Sahut Tomi, seluruh pasukan dengan cepat beranjak keluar, disaat yang sama sebuah ledakan muncul dan behasil memusnahkan seluruh pasukan di pintu barat.
“Apa yang terjadi? Semua pasukan lapor!” Ucap Tomi dengan panik.
“Timur berhasil keluar dari istana, ganti.”
“Utara berhasil keluar. Ganti.”
“Bagaimana dengan barat?!” Sahut Tomi namun tidak ada jawaban sama sekali.
“Sarah!”
“Kau dengar aku?” Ucap Tomi lagi namun tidak mendapat balasan.
“Aku harus ke barat!” Ucap Aruna sambil menangis.
“Tidak, kau harus tetap disini.”
“Kubangan ini tidak akan bisa menahan ledakan sehebat tadi Dylan! ada sesuatu yang aneh disana.”
“Dylan, bagaimana dengan Sarah?” Ucap Tomi.
Dylan melihat kearah layar komputernya dan mendapati kondisi Sarah yang benar-benar buruk.
“HP nya tersisa 25 persen.” Jawab Dylan menahan rasa panik yang hampir menguasai dirinya.
“Ledakan apa itu tadi?” Gumamnya.
“Hahaha, Kau dengar itu Agra? Dia adalah orang yang akan membunuh kalian semua! Spesimen project 05 telah berhasil terlahir ke dunia ini!” Ucap Beatriz dengan suara tawa yang melengking.
“Aku rasa teman mu Sarah, sudah mati sekarang.”
Dengan cepat Agra melesat ke udara, namun sayang tubuhnya terjatuh saat Beatriz menembaknya dengan listrik dari tangannya. Tubuh Agra terjatuh tepat didepan kaki Beatriz, perempuan bermata merah itu menginjak kepala Agra dengan kakinya sambil tertawa.
“Kenapa kau begitu semangat untuk menyelamatkan nyawa Sarah? Padahal sebelumnya kau tega meninggalkan ku sendirian di Istana.”
“Kau bilang kau akan melindungi kita semua? KENAPA KAU MENINGGALKAN AKU?”
“Kau bahkan tega membunuh ku! Padahal aku hanya ingin mengajak kalian tinggal bersama ku dan hidup bahagia bersama sampai tua!”
“Sarah hanya anak baru! Bahkan kekuatannya tidak lebih mematikan dariapada ku. Kau memilih orang yang salah Agra.” Ucap Beatriz dengan serangan bertubi-tubi yang ia berikan pada mantan sahabatnya.
“Tidak.” Ucap Agra dengan nafas terengah-engah.
Perempuan berambut pendek itu bangkit berdiri, tatapannya saat ini sama persis dengan tatapan yang di tunjukkan Tomi saat ingin membunuh seseorang. Tanpa sadar kaki Beatriz mundur selangkah mengikuti instingnya yang saat ini mendeteksi ada nya bahaya yang mengancam.
“Kau salah Beatriz.”
“Yang meninggalkan mu bukanlah kami. Tapi kau yang pergi sendiri dan memilih untuk berkhianat.” Ucap Agra lalu terbang dengan kecepatan tinggi demi mencekik leher perempuan yang sangat di benci nya itu dengan tangannya sendiri.