DUA PULUH EMPAT

1629 Kata
Nusantara, 17 Januari 2285 “Apa yang sedang ibu lakukan disini?” Ucap Arka saat melihat sang ibu berada di laboratorium miliknya, dengan senyuman Diana menghampiri Sang Pangeran.             Penampilan Diana terlihat berubah drastis, rambutnya yang semula panjang dan bergelombang, berubah menjadi sangat pendek seperti laki-laki, bahkan mahkota Ratu yang dipakainya saat itu tak lagi terlihat menawan, tubuhnya juga terlihat semakin kurus, sudah hampir empat tahun ia rutin memberikan racun buatan Arka kepada Arjuna, namun sang Raja memiliki kekuatan fisik yang sangat baik, racun itu hanya menghambat staminanya sehingga ia menjadi lebih mudah lelah dibandingkan sebelumnya.             “Arka, apa ramuan yang kau buat waktu itu benar-benar sudah berfungsi?” Ucap Diana.             “Ramuan apa ibu?”             “Ramuan yang bisa melumpuhkan seseorang itu.”             “Ah, ramuan itu. Aku sudah mengetesnya pada seekor kera percobaan dan berhasil melumpuhkan kaki kera tersebut. Tapi sebelum memberikannya pada ibu, aku mengurangi dosisnya terlebih dahulu.”             “Begitu ya, apa kau bisa meningkatkan dosisnya lagi? Ibu rasa ramuan mu yang kemarin tidak memberikan efek apa-apa.”             “Kenapa ibu tidak langsung memenggal kepala kriminal-kriminal itu? Bukannya kehidupan mereka pun tidak ada gunanya bagi kita? Yang ada malah mereka membuat kerugian di Negara ini.” Ucap Arka tanpa ekspresi.             Arka benar, untuk apa lagi ia mempertahankan hidup Arjuna? Di tambah lagi seluruh rakyat sudah mulai membencinya karena gosip-gosip tidak jelas yang beredar di kalangan bangsawan. Kalau ini terus-menerus di biarkan, sudah pasti tahun depan Arjuna akan memberikan status Ratu dan pewaris sah kerajaan kepada Ardella dan anaknya.             Ini tidak bisa di biarkan. Yang menjadi raja di istana ini haruslah Arka.             “Kau benar, tapi kau tau sendiri saat ini ibu sedang di pandang buruk oleh pihak bangsawan maupun rakyat biasa, ibu tidak bisa melakukan hal se-keji itu dalam waktu dekat. Ibu mohon, berikan ibu cairan pelumpuh itu dengan dosis yang tinggi ya?”             “Ibu ingin membunuh mereka diam-diam ya?” Ucap Arka.             “Iya nak, ibu tidak ingin seorangpun tau.”             Arka mengangguk lalu bergegas membuatkan ibunya racun pelumpuh seperti yang dia minta. Hanya perlu memakan waktu 15 menit, racun itu pun berhasil di buat oleh Arka.             Dengan semangat Diana langsung membawa racun itu dan memberikannya kepada sang Raja.             “Minumlah, aku tau belakangan ini kau sedang tidak sehat” Ucapnya sambil memberikan racun tersebut.             “Apa ini? Tumben kau perhatian padaku, ada yang kau inginkan?” Ucap Arjuna menerima racun pemberian Sang Ratu dengan senang hati.             Bukannya kau yang selama ini tidak pernah perhatian denganku?             Arjuna meminum racun tersebut lalu menggenggam kedua tangan istrinya dengan lembut.             “Diana, ada yang ingin ku katakan padamu” Ucapnya.             “Katakan saja, sejak kapan aku melarang mu untuk berkata-kata.”             “Aku tau, aku bukan laki-laki yang pantas untuk mu, aku tidak pernah berlaku baik pada mu dan Arka anak kita.” Arjuna menarik nafasnya seolah mengatakan hal-hal yang saat ini terpendam di hatinya sangatlah sulit.             “Aku mencintai mu Diana.” Ucapnya.             “Lepaskan aku! Kalau yang kau katakan hanyalah kebohongan. Lebih baik kau tidak usah mengatakannya.” Ucap Diana, tentu saja ia tau kalau Arjuna berbohong, Arjuna tidak pernah mencintainya. Sedetik pun tidak pernah.             Selama ini yang ada di hati mu hanya Ardella Juna, sekarang berani-beraninya kau ingin mempermainkanku?             “Aku tidak berbohong Diana. Aku mencintai mu karena kau adalah ibu dari anak ku.” Ucap Sang Raja.             “Diam! Jangan berbicara seolah-olah kau sangat menyayangi Arka. Bahkan melihatnya tiap malam sebelum dia tidur saja kau tidak pernah.”             “Aku sayang pad—“             “Baik, kalau kau memang adalah ayah seorang yang baik, yang sayang pada Arka seperti kau bilang tadi. Berapa usia nya sekarang? Apa makanan kesukaannya?”             “Usianya? 10 tahun.”             “Empat belas tahun! Astaga bahkan perkiraan ku tentang kau mengetahui usia Arka saja salah.”             “Sudah lah Arjuna. Kau tidak perlu berlakon didepan ku dan Arka, kau sudah cukup berlakon kalau kau adalah seorang Raja, Ayah, dan Suami yang baik di depan rakyat.”             “Kau pikir ini mudah untuk ku ?!”             “Aku harus menghabiskan waktu ku bersama dengan orang yang tidak ku cintai, bahkan yang tidak ku inginkan!”             “Jadi bagaimana dengan aku? Aku mencintai mu Arjuna. Sedari dulu aku sudah sangat mencintaimu! Tapi kau? Kau menganggap ku seperti sampah! Melihat wajah ku saja kau enggan. Lalu aku harus membesarkan anak mu yang tidak kau inginkan itu sendirian. Aku harus melihat Arka tumbuh besar tanpa perhatian seorang ayah padahal ayahnya masih hidup!”             “Kalau kau sekarang mengeluhkan penderitaanmu? Bagaimana dengan penderitaan kami Arjuna? Apa kau pernah memikirkan tentang ini?” Sahut Diana sambil menangis senggukan.             Arjuna yang tidak terima dengan jeritan Diana melempar gelas-gelas yang ada dimejanya, mau bagaimanapun juga perkataan Diana adalah benar, selain di depan rakyat Arjuna tidak pernah sungguh-sungguh perhatian kepada Arka dan Diana, Arjuna terlalu sibuk mengurus kerajaan sampai ia lelah, dan ketika lelah itu datang, Arjuna langsung kembali kepada Ardella.             “Kau benar-benar—“ Ucapan Arjuna berhenti saat tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Kepalanya terasa sangat sakit hingga seperti ingin pecah saat itu juga.             “Arghh!!!” Jeritnya kesakitan seraya memegang kepalanya.             “Kau kira aku tidak tau semua rencana mu Yang Mulia Raja?” Ucap Diana, perempuan itu menundukkan badannya agar Arjuna dapat melihat wajahnya dengan jelas.             “Arjuna!”             “Ayah!” Ardella beserta anak perempuannya masuk kedalam ruangan itu sesaat setelah mendengar jerit kesakitan dari Arjuna.             “Ah, si pembunuh sebenarnya akhirnya datang .” Diana tertawa dengan begitu puas saat melihat Ardella dan Aruna menangis di samping Arjuna.             “Aku tau, karena dua perempuan kesayangan mu ini, kau ingin menceraikan ku, bukan hanya itu, kau juga memerintahkan para hakim dan beberapa bangsawan untuk merusak citra ku dihadapan rakyat dengan kabar-kabar palsu yang bahkan tidak pernah ku lakukan.”             “Kau berencana untuk menyingkirkan ku dan Arka lalu menggantikan posisi kami dengan Ardella dan anak sialan mu ini kan?”             “Kau salah Arjuna. Kau memilih lawan yang salah. Kau boleh menyakitiku, sampai mati pun boleh. Tapi kalau kau mengancam kebahagiaan anak ku. Ini lah yang kau dapat!”             “Ibu. Apa kau didalam?” Ucap Arka yang saat itu ada di depan ruangan.             Tidak, Arka tidak boleh melihat hal ini, akan sangat menderita jika mengetahui ayahnya di bunuh oleh ibunya sendiri.             “Arka, anakku! Panggilkan pengawal sekarang juga.” Ucap Diana dengan air mata yang entah didapatkannya dari mana.             Tubuhnya tersungkur disamping Arjuna, tangannya memeluk Sang Raja di ikuti dengan jeritan dan isak tangis yang memilukan. Para pengawal masuk ke ruangan termasuk Frans, wajah mereka semua terlihat begitu terkejut melihat kondisi Arjuna.             “Apa yang terjadi Yang Mulia?!” Sahut Frans.             “Tangkap perempuan ini! Dia yang telah membunuh Raja!” Jerit Diana. Dengan sigap para pengawal itu menarik Ardella.             “Jangan! Jangan bawa ibuku!” Sahut Aruna sambil menjerit. Frans mendekapnya lalu membawa Aruna pergi dari ruangan.             Beberapa pelayan langsung masuk dan mengangkat mayat Sang Raja ke ruang jenazah di rumah sakit kerajaan.             “Apa anda ingin melakukan autopsi Yang Mulia?”             “Tidak, jangan lakukan apa-apa pada tubuh Baginda Raja. Aku tidak ingin tubuhnya rusak.”                    “Bagaimana bisa Raja mening—“ perkataan sang dokter terhenti saat Diana tiba-tiba menangis.             “Kenapa kau tinggalkan kami secepat ini Arjuna! Bahkan Arka saja masih berusia 14 tahun, bagaimana bisa dia menggantikan mu di usia se-muda itu.” Ucap Diana sambil menangis.             Dengan berat hati sang dokter pergi meninggalkan Raja dan Ratunya dan membiarkan Diana meratap sendirian.             “Hahaha, ternyata membunuh itu sangat menyenangkan ya Arjuna? Kalau tau aku akan sepuas ini setelah melihat mayat mu. Aku sudah membunuh mu dari dulu.” ***             “Huhuhu, Aruna ingin bersama ibu.” Ucap Aruna di gendongan Frans sambil menangis.             “Maafkan paman, tapi kamu tidak bisa lagi bertemu dengan ibu mu nak.”             “Kenapa? Apa yang terjadi pada ibu?”             Frans yang saat itu dibaluti dengan jubah berwarna hitam masuk kedalam kereta api lalu mendudukan Aruna disampingnya.             Matanya yang tajam melirik kesana kemari untuk mengecek keamanan Sang Tuan Putri. Setelah melihat mayat Arjuna, ia langsung membawa Aruna pergi sesuai dengan perintah terakhir Arjuna             “Diana bukanlah lawan yang mudah, dia bisa saja membunuh ku sewaktu-waktu, dan dengan kekuasaannya tidak akan ada orang yang berani menuduhnya sebagai pembunuh walaupun dia sudah dianggap buruk oleh rakyat”             “Aku ingin kau menyelamatkan Aruna dan Ardella, jika memang menyelamatkan Ardella tidak lah memungkinkan, setidaknya kau bisa membawa Aruna pergi dari istana untuk menjalankan hidupnya di tempat lain.”             “Ibumu, sudah mati.” Ucap Frans singkat, Aruna menangis senggukan setelah mendengar pernyataan yang begitu menyakitkan dari mulut Frans. Laki-laki itu tau akan begitu perih rasanya bagi Aruna saat mendengar perkataannya tadi, tapi mau tidak mau Frans harus mengatakannya pada Aruna. Aruna adalah seorang keturunan Raja, meskipun hatinya sangat lembut seperti hati ibunya, Aruna harus memiliki mental yang kuat agar tetap bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini.             Sesampainya di Distrik 2 Frans menitipkan Aruna pada seorang perempuan dengan marga Dineshcara yang sama seperti Ardella, sedemikian rupa Frans memalsukan identitas Aruna dan menjadikan Sang Tuan Putri sebagai anak dari perempuan itu.             “Maafkan aku Aruna, demi keamanan mu aku tidak bisa menjaga mu lebih dari ini.” Ucap Frans sambil meneteskan air mata.             Aruna menatapnya dengan ketakutan, siapa perempuan ini? Ini dimana? Kenapa dia dibawa kesini? Ratusan pertanyaan muncul dikepalanya silih berganti, Aruna berlari ke arah Frans saat laki-laki itu hendak pergi, tangannya yang kecil memeluk kaki sang pengawal dengan erat.             “Jangan tinggalkan Aruna. Aruna tidak memiliki siapa-siapa lagi.” Jeritnya             “Berikan dia obat ini setelah aku pergi.” Ucap Frans memberikan botol cairan penghilang ingatan kepada perempuan itu.             Tangannya dengan lembut melepaskan pelukan Aruna lalu pergi meninggalkan Sang Tuan Putri kecil kesayangannya sambil meneteskan air mata.             “Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti Yang Mulia.” Gumamnya lalu kembali ke Istana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN