DUA PULUH TIGA

1351 Kata
Nusantara, 1 November 2281             Suara jerit kesakitan memenuhi seluruh ruangan, Arjuna dan tiga orang dokter dan enam orang suster terbaik milik istana, menangani proses persalinan Ardella Dineshcara.             “Ini semua salah mu Arjuna! Kau yang membuatku seperti ini!” Sahut Ardella spontan namun berhasil mengagetkan seluruh petugas kesehatan di ruangan itu.             Dari luar jendela Diana menyaksikan kejadian memilukan itu, tanpa ia sadari pikiran tentang betapa menyenangkannya menjadi Ardella, melahirkan seorang anak ditemani dengan pria yang ia cintai. Kenapa dia yang nyatanya adalah seorang perempuan terhormat, Ratu Nusantara dan istri sah dari Raja Arjuna tidak mendapatkan perhatian yang sama?             Selama ini Diana selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk suaminya itu, bahkan dia yang adalah seorang Ratu, tidak pernah tau bagaimana rasanya di istimewakan seseorang seperti Ratu.             Diana tersadar saat air mata mengalir di pipinya, dengan cepat sang ratu mengusap air mata itu, Diana menatap Frans yang sedang berjaga di depan ruangan persalinan Ardella. Frans adalah tentara terbaik selama kerajaan ini di bangun, kekuatan, kecepatan, dan kemampuannya dalam berkelahi atau menggunakan senjata mendekati sempurna, kalau saja Arjuna tidak menjadikannya sebagai tangan kanan, sudah pasti ia telah membunuh Arjuna, laki-laki yang selama ini di cintainya.             Kalau aku saja tidak bisa memiliki mu, siapapun juga tidak boleh memilikimu!             Sang Ratu beranjak pergi sesaat suara tangisan bayi memekakkan telinganya, senyuman penuh kebahagiaan terpancar di wajah Arjuna saat ia menyadari putri kecilnya lahir ke dunia ini.             “Anakku! Tuan Putri kecilku!” Sahutnya dengan air mata kebahagiaan. Dengan lembut Sang Raja menggendong Aruna kecil lalu meletakkannya ke pelukan Ardella.             “Aku akan menamakannya Aruna. Mirip seperti nama mu.” Ucap Ardella di dalam pelukan Sang Raja.             “Saat waktunya tiba, aku akan menjadikan mu Ratuku, dan semua orang akan memandang hormat pada mu. Aku akan memberikan seluruh istana ini pada anak kita, Aruna”             “Tidak.” Ucap Ardella.             “Apa maksudmu?”             “Aku tidak bisa menghancurkan keluarga mu Juna, kau adalah seorang Raja, dan selama kerajaan ini di bangun, tidak ada seorang Raja yang meninggalkan Ratunya, apalagi meninggalkannya hanya demi seorang pelayan.”             “Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mu Della, apa itu salah?”             “Tentu salah, kau sudah memiliki istri dan seorang penerus tahta, untuk apa lagi kau memiliki kami? Tenang saja Arjuna, aku akan terus mencintai mu meskipun aku tidak menjadi Ratu mu, kau juga bisa terus mengunjungi anak mu sepuas yang kau mau.”             “Sejak kapan kau berani melawan seorang Raja? Kalau aku ingin memberikan seluruh kerajaan ini padamu, maka aku akan melakukannya, dan kau tidak punya hak sedikitpun untuk menentang ku.” Ucap Arjuna dengan tegas, aura seorang Raja terpancar dengan jelas dari nada bicaranya, Ardella menunduk patuh tak mampu lagi berkata apapun.             Setelah mencium putri mereka Arjuna pergi meninggalkan Ardella dan anak perempuannya di dalam ruangan itu. Arjuna bergegas menghubungi para hakim perkawinan Istana, meskipun menurut Arjuna kehadiran mereka tidak penting, namun nyatanya mereka mempunyai pengaruh yang besar dalam menikahkan ataupun menceraikan para bangsawan.             “Aku ingin menceraikan Diana.” Ucap Arjuna dengan yakin di hadapan para hakim.             “Apa? bagaimana mungkin seorang Raja dan Ratu bercerai, seluruh Rakyat akan meragukan kemampuan mu dalam memimpin kerajaan jika mempertahankan pernikahan saja tidak mampu.”             Seorang pelayan berlari dengan cepat setelah mendengar percakapan Rajanya dengan para hakim, tanpa mengetuk pintu pelayan itu masuk ke dalam kamar Diana.             “Sedang apa kau disini? Lancang sekali kau masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.” Ucap Diana yang sedang disisiri oleh dua orang pelayannya.             “Maafkan hamba Yang Mulia Ratu, hamba kemari karena ingin memberikan kabar yang sangat buruk pada Yang Mulia Ratu.”             “Kabar buruk apa.”             “Tadi saya melihat para hakim perkawinan datang ke Istana, karena penasaran, saya langsung mengikuti mereka.” Ucapnya sambil mengatur nafas.             “Apa yang dilakukan hakim perkawinan itu di istana?”             “Sepertinya Yang Mulia Raja yang memanggil mereka kemari Yang Mulia.”             “Arjuna memanggilnya?” Pelayan itu mengangguk.             “Sepertinya Raja ingin menceraikan Yang Mulia Ratu.” Ucap Pelayan itu dengan rasa prihatin yang begitu mendalam di dalam hatinya.             “Sialan kau Arjuna! Sudah berani mengambil langkah ternyata.”             Arjuna menggebrak mejanya dengan penuh amarah, dia benar-benar tersinggung mendengar omelan dari para hakim, lancang sekali mereka memarahi sang Raja, mereka kira mereka itu siapa?             “Maafkan kami Yang Mulia, bukannya kami bermaksud lancang kami hanya tidak ingin Yang Mulia di pandang buruk oleh rakyat.”             “Ya, apa yang dikatakannya benar Yang Mulia, ditambah lagi anda berencana untuk menjadikan seorang pelayan sebagai Ratu di Nusantara, bagaimana kita akan menghadapi para bangsawan istana? Tentu mereka akan—“             “Tutup mulut mu itu! Aku akan memasukkan mu kedalam sel jika kau berkata buruk tentang Ardella sekali lagi.”             “Maafkan hamba Yang Mulia.”                      “Aku tidak mau tau, aku tidak ingin Diana mendampingi ku di atas tahta, dari dulu aku memang tidak pernah mencintainya, jika bukan karena menuruti perintah terakhir Ayah aku tidak akan mau menjadikannya Istri ku.”             “Baik yang mulia, kami akan mengatur cerita sedemikan rupa agar rakyat sepenuhnya menyalahkan Yang Mulia Ratu atas perceraian.”             “Butuh berapa lama?”             “Sekitar 5 tahun yang mulia.”             “Kenapa begitu lama?”             “Ini semua karena Yang Mulia Ratu memiliki citra yang hampir sempurna baik di hadapan rakyat maupun dihadapan kaum bangsawan. Kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat rakyat percaya dengan rumor-rumor palsu mengenai sang Ratu.”             “Baiklah.” Arjuna menghela nafasnya pasrah, jika setelah itu dia tidak perlu lagi menyembunyikan hubungannya dengan Ardella, dengan senang hati dia akan melakukan segala syaratnya.             “Kalian bisa pulang. Jangan sampai siapapun melihat ku menemui kalian.”             “Baik Yang Mulia, kalau begitu kami pamit undur diri.”             “Pengawal!” Sahut Diana penuh amarah. Dua orang pria berbaju zirah langsung masuk kedalam kamarnya.             “Siap Yang Mulia.”             “Bawa ketiga pelayan ini ke dalam sel bawah tanah, aku tidak ingin mereka menyebarkan aib istana kepada rakyat.”             “Tidak, ku mohon jangan Yang Mulia! Aku memiliki seorang anak yang menunggu ku di rumah.” Sahut salah satu perawat.             “Jangan masukkan hamba ke dalam sel Yang Mulia, saya berjanji tidak akan menceritakan tentang hal ini kepada siapapun!”             “Setelah memasukkan mereka ke dalam sel. Panggilkan pangeran Arka kemari.”             “Baik Yang Mulia!”             “Yang Mulia, saya mohon! Ampuni saya Yang Mulia.”             Selang beberapa menit, kaki kecil Arka melangkah masuk kedalam kamar ibunya, wajah polosnya memandang ibu dengan kebingungan, apa yang membuat ibunya sampai terlihat begitu marah seperti ini?             “Ibu memanggilku?”             “Ah! Arkasena anakku, sini nak duduklah disamping ibu.” Ucap Diana dengan senyuman dibibirnya.             “Ada yang ingin ibu tanyakan pada mu.”             “Sebentar, Arka penasaran. Kenapa ibu terlihat begitu kesal tadi? Apa ada yang mengganggu ibu?”             “Ya, kau ingat saat ibu meminta mu untuk membuat cairan pelumpuh bagi para kriminal?” Arka mengangguk.             “Hari ini mereka benar-benar membuat ibu marah, mereka tidak mau lagi menuruti perintah ibu, menurut ibu sudah saatnya ibu memberikan cairan itu pada mereka sebagai hukuman. Apa kau sudah menyelesaikan cairan itu?”             “Aku sedang membuatnya ibu, tapi akan ku selesaikan malam ini agar ibu bisa memakainya besok.”             “Anak ku memang yang paling hebat sedunia!” Sahut Diana bahagia.             Kau mungkin bisa membuat ku menderita karena selingkuhan mu itu Arjuna, tapi aku tidak akan membiarkan kau merebut tahta anak ku dan memberikannya pada anak perempuan sialan itu. Tidak akan pernah!             “Kau tau Arka.” Tangan Diana dengan lembut mengelus rambut putra semata wayangnya itu.             “Ibu rela melakukan apapun demi membuat mu bahagia nak.” Ucapnya dengan tulus.             “Tanpa ibu mengatakannya, Arka juga tau kalau ibu adalah ibu yang terbaik di dunia!” Sahut Arka dengan bangga. Tangannya yang mungil mendekap wajah sang ibu lalu menciumnya.             “Karena itu juga, Arka akan berusaha sebaik mungkin demi membahagiakan ibu, lagipula Nusantara membutuhkan seorang Raja yang berkualitas bukan? Arka akan menjadi seorang Raja yang paling jenius dibandingkan Raja-Raja lainnya.”             “Benar, kau anakku, Pangeran Arkasena Nakula Widjanarka, akan menjadi Raja terbaik yang dimiliki Nusantara. Bukan Sadewa, bukan Arjuna. Melainkan kau, Arkasena.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN