Tomi melompat memasuki sebuah rumah kosong melalui jendelanya, rumah ini sangat rapi dan bersih dengan dinding putih yang tidak digantungi satu bingkaipun. Langkahnya terhenti didepan sebuah pintu kamar bertuliskan larangan untuk masuk.
“Kau melarang abang mu ini masuk kedalam?” Gumam Tomi lalu membuka pintu berwarna putih itu.
Saat memasuki kamar milik Elisabeth, Tomi disambut dengan sebuah ruangan dengan nuansa hangat dan di penuhi bingkai-bingkai foto yang menghiasi dindingnya. Laki-laki itu mulai mendekati tiap-tiap foto disana, ada foto Elisabeth yang sedang memanggang seekor kelinci bersama teman-temannya, lanjut pada foto ke dua, foto itu menunjukkan senyum lebar Elisabeth dengan sebuah senapan ditangannya.
“Kau ini perempuan atau laki-laki sih?”
Langkah Tomi beralih ke sebuah rak buku berukuran besar dengan buku-buku pelajaran nan tebal didalamnya.
“Ya ya, aku tau kau pintar.” Perhatian Tomi terpaku pada sebuah buku yang terlihat beda dibandingkan buku-buku lainnya. Tomi mengambil buku tebal berwarna ungu dengan pita hitam yang mengikatnya.
“Hei Tomi, kau dimana? Kami menunggu mu di lapangan tembak.” Ucap Sarah tiba-tiba dari earphone Tomi.
“Ya, aku akan menyusul mu sebentar lagi.”
Tak terasa sudah hampir sebulan mereka tinggal di tempat ini dengan aman tanpa satu ancaman pun dari pihak Istana. Sebagai salah satu orang yang mahir menggunakan senapan, Tomi diwajibkan untuk melatih orang-orang yang tinggal ditempat ini termasuk Sarah dan Dylan, sedangkan Aruna dan Agra lebih memilih untuk melatih kekuatan super mereka yang belum se-sempurna Sarah.
“Dari mana saja kau?” Ucap Sarah sedikit kesal, Tomi tersenyum sambil mengangkat buku unik milik Elisabeth.
“Mau baca ini bersama nanti?” Ucap Tomi dengan senyuman dan tangan kanan yang mengacak-acak rambut perempuan didepannya ini.
“Apa itu?”
“Entahlah, aku menemukannya dirumah El.”
“Elisabeth?” Tomi mengangguk.
“Untuk apa kau kesana?”
“Hanya mencari—“
“Ah sudah lah, tidak perlu menjelaskannya, ayo kita mulai latihan.” Ucap Sarah dengan kesal meninggalkan Tomi dalam keadaan bingung. Apa yang terjadi dengan Sarah? Tidak biasanya perempuan itu bertingkah aneh seperti ini.
Tomi berjalan menuju lapangan tembak dengan dua senjata tangannya yaitu senapan angin AK-57 yang mampu menembakkan 800 peluru dalam hitungan menit, senjata ini adalah salah satu senjata kebanggaan yang diciptakan oleh Tomi, tidak hanya dalam pertempuran jarak jauh, senapan ini juga sangat efektif bila digunakan dalam pertempuran jarak dekat. Satu lagi adalah sebuah senapan yang hanya bisa ia gunakan untuk pertempuran jarak jauh, atau biasa juga ia gunakan saat sedang dalam misi untuk membunuh seseorang dari jarak jauh tanpa diketahui keberadaannya, senjata tersebut dinamai Tomi dengan sebutan Bornslave M21.
Bornslave M21 adalah senjata yang didesain cukup berat namun sanggup menembak sampai jarak hampir 3,1 kilometer dengan kemampuan menembus armor dan pelat baja yang tidak perlu diragukan lagi.
“Baik, dari antara puluhan orang disini, aku sudah membagi beberapa kelompok pada saat di Medan perang nanti. Kelompok yang akan berperang di barisan depan dengan senapan di tangan kiri ku adalah kelompok Jaguar.” Ucap Tomi dengan mengangkat Senapan AK-57 ditangan kirinya, laki-laki itu meletakkan kedua senapannya di atas sebuah meja lalu menyebutkan 85 nama orang-orang yang akan masuk kedalam kelompok Jaguar.
“Dan untuk sisanya, kalian akan masuk kedalam kelompok yang memiliki peran sangat penting saat dimedan perang nanti, aku akan menamai kelompok ini dengan nama Thunder.” Ucap Tomi sambil meletakkan kedua tangannya diatas senapan Bornslave M21.
“Karena cara pembuatannya yang rumit dan perkakas-perkakas yang sulit untuk dicari, aku hanya mampu membuat 8 senapan jenis ini lagi. Aku perkenalkan, putri kecilku, Bornslave M21. Senjata yang cukup berat namun mampu menembak dengan jarak hampir 3,1 kilometer. Aku harap kalian mampu menggunakan senjata ini dengan baik bersama dengan Frans.”
“Kalau begitu kau masuk kedalam kelompok yang mana?” Ucap Sarah dari barisan kelompok Jaguar.
“Tenang saja aku akan selalu disamping mu.” Ucap Tomi sambil tertawa diikuti dengan suara tawa orang-orang lain dilapangan yang berhasil membuat Sarah malu.
“Kenapa kau harus menjawab ku seperti itu didepan orang banyak.” Gumamnya.
“Baik, ayo kita mulai latihan ini.” Ucap Tomi semangat.
“Aku rasa semenjak datangnya kelompok kami ke tempat ini, pasukan mu menjadi lebih, bahkan sangat kuat, dari sebelumnya.” Ucap Agra pada pria tua yang sedang menatap kearah lapangan tembak.
“Hahaha, kau benar.” Ucap Frans menunjukkan keriput di wajahnya dengan senyuman lebar.
“Sampai sekarang sebenarnya belum bisa mempercayai mu.”
“Bagus.” Balas Frans sambil tersenyum.
“Awal yang baik dari seorang petarung, adalah dengan tidak mempercayai siapapun selain dirinya sendiri.” Ucap Frans.
“Ya, tanpa kau katakan pun aku sudah melakukan itu selama bertahun-tahun.”
“Namun kau tetap saja gagal bukan?”
“Gagal?”
“Ya.”
“Apa maksudmu?”
“Dengan bangganya kau mengatakan kalau kau tidak pernah mempercayai siapapun seperti kata ku barusan, namun kau sendiri tidak sadar bahwa kau sangat mempercayai teman-teman mu itu.”
“Mereka berbeda. Mereka tidak akan berkhianat.”
“Kau yakin? Bagaimana dengan Beatriz? Apa dulu juga kau mempercayai penghianat itu sama seperti kau mempercayai kelompok mu saat ini?” Ucap Frans yang berhasil membungkam Agra.
“Aku sudah membunuhnya dengan tangan ku sendiri. Kau tidak perlu membahas tentangnya lagi.”
“Apa kau yakin dia benar-benar sudah mati? Kau tau Istana memiliki dokter-dokter yang sangat hebat. Beatriz adalah harta yang sangat berharga bagi Arka, dia pasti akan mengerahkan seluruh kemampuan milik Istana untuk menyelamatkan nyawa satu-satunya senjata mematikan yang dia miliki.”
“Kalaupun dia masih hidup. Aku akan mencabut nyawanya untuk kedua kalinya.” Geram Agra lalu terbang meninggalkan Frans.
“Ah, mereka masih terlalu polos untuk hidup di dunia yang hancur seperti ini.”
Aruna mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menciptakan sebuah kubah sebesar mungkin yang nanti akan digunakannya sebagai pelindung pasukan saat bertarung di medan perang nanti, tentu saja kubah ini akan sangat berguna saat mereka harus menghadapi senjata mematikan dari Istana seperti bom dan serangan milik Beatriz.
“Kau mimisan.” Ucap Leonna, seorang teman baru yang dikenal Aruna semenjak tinggal ditempat ini, sama sepertinya, Leonna adalah seorang perawat dengan tugas untuk menyembuhkan prajurit-prajurit yang terluka di tempat ini.
“Aku bisa menahannya, sedikit lagi aku akan mencapai target ku.”
“Beristirahat lah dulu, kau bisa melanjutkannya nanti.”
“Jangan!” Sahut Agra sambil melayang di udara.
“Ayo lanjutkan Ara! Aku yakin kau bisa.” Aruna mengangguk semangat dan mengerahkan kekuatannya lebih banyak lagi sampai kedua lubang hidungnya mengalirkan darah yang cukup banyak.
“Ayo sedikit lagi!!” Sahut Agra.
“Jangan paksakan diri mu Aruna, kau bisa terluka.” Ucap Leonna.
“Kau berhasil!” Agra mendarat tepat dihadapan Aruna yang hampir terjatuh.
“Kau hebat Aruna! Kau bisa melindungi 1000 pasukan dengan kubah sebesar tadi.”
“Hahaha, terimakasih.”
“Kau gila? Kau bisa saja membuatnya mati tadi.” Sahut Leonna penuh amarah.
“Siapa kau?”
“Dia teman ku Agra.” Ucap Aruna dengan keadaan lemas.
“Untuk apa kau berteman dengan orang bodoh seperti dia?”
“Agra, tolong jangan bertengkar.” Ucap Aruna dengan suara sangat pelan sampai Agra dan Leonna tidak dapat mendengarnya.
“Bodoh kau bilang? Aku adalah seorang perawat yang sangat paham tentang kondisi tubuh seseorang kalau telat beberapa menit lagi Aruna akan—“
“Bla bla bla! Kau berisik sekali!” Bentak Agra.
“Dengar ya bodoh. Aku, Aruna, dan Sarah berbeda dengan kalian semua yang ada ditempat ini. Lancang sekali kau menyamakan kami dengan makhluk lemah seperti kalian.”
“Agra” Ucap Aruna dengan suara pelan.
“Kau liat gelang yang ada di tangannya itu?”
“Jam?”
“Bukan jam! Itu adalah gelang yang menunjukkan HP dan MP yang kami miliki, tanpa ada kau disini untuk mengecek kondisinya, Aruna dapat mengetahui keadaan tubuhnya melalui nilai HP yang ada disini. Jadi sebenarnya, kau itu tidak berguna.” Ucap Agra sambil menunjukkan nilai HP ditangan Aruna.
“Apa artinya kalau gelang itu menunjukkan angka 3?” Ucap Leonna penasaran.
“3!” Jerit Agra terkejut.
“Telepon semua dokter yang ada di tempat ini, Aruna akan mati kalau HP nya habis.” Ucap Agra panik. Dengan cepat perempuan itu menggendong temannya dan membawanya ke rumah sakit yang ada di tempat ini.
“Halo, seorang VIP membutuhkan semua dokter yang ada sekarang. Tolong segera siapkan dokter-dokter terbaik di rumah sakit.” Ucap Leonna pada seseorang di telepon.
“Apa yang terjadi pada Aruna?” Ucap Dylan pada Agra sesaat setelah ia sampai di rumah sakit.
“Tidak ada terjadi apa-apa, dia hanya kelelahan saat berlatih.” Jawab Agra.
“Boleh aku masuk?” Ucap Dylan buru-buru saat seorang dokter keluar dari ruangan Aruna. Setelah menerima anggukan dari sang dokter, Dylan buru-buru menerobos masuk kedalam untuk melihat kondisi Aruna.
“Kau tidak apa?”
“Hahah iya aku baik-baik saja, tenang lah.”
“Mulai besok kalau kau sedang berlatih, kau harus menyisakan 10% HP mu.”
“Baik.”
“Bagaimana harimu?” Ucap Aruna sambil tersenyum.
“Apa kita harus masuk kedalam?” Ucap Tomi bingung.
“Tentu saja kita harus masuk! Aku tidak akan membiarkan mereka berduaan seperti itu.” Ucap Sarah namun dihalang oleh Agra.
“Kau lihat senyum Aruna.” Ucap Agra.
“Aku akan membunuh mu kalau kau menghapus senyuman itu dari bibirnya hanya karena omelan mu pada Dylan.” Sambungnya.
“Kalian duduk lah disini, aku keluar sebentar.”
“Kau mau kemana? Ini sudah tengah malam.” Ucap Tomi.
“Kau tau aku masih belum bisa mempercayai Frans walaupun kita sudah tinggal disini dengan aman selama hampir sebulan.”
“Kau mau memantaunya lagi?”
“Pelankan suara mu bodoh!” Ucap Agra lalu pergi dari rumah sakit.
“Mau membaca ini dengan ku?” Ucap Tomi pada Sarah sambil menunjukkan buku Elisabeth. Sarah menatap Tomi dengan malas, sambil menggelengkan kepalanya.