bc

Pacar Kontrak Sang CEO

book_age16+
39
IKUTI
1K
BACA
revenge
family
friends to lovers
dominant
kickass heroine
boss
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
bxg
city
office/work place
affair
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Daisy tidak pernah membayangkan hidupnya runtuh hanya dalam satu malam—diselingkuhi, dikhianati adik tirinya sendiri, dan dipaksa merelakan pacar lima tahunnya. Saat semua orang mengabaikan rasa sakitnya, Daisy memilih kabur… dan justru terseret dalam kesalahpahaman konyol yang mengubah hidupnya.

.

Juan Wiyoko, pewaris dingin yang dikenal tak tersentuh, mengira Daisy adalah pacar sewaan yang ia pesan untuk menghentikan ibunya menjodohkannya. Satu kebohongan kecil menjelma menjadi kontrak hubungan pura-pura yang seharusnya hanya menguntungkan masing-masing pihak—hingga keduanya mulai tenggelam dalam perasaan yang tak pernah masuk dalam perjanjian.

.

Namun masa lalu punya cara paling kejam untuk merusak kebahagiaan. Ketika satu rahasia terungkap, mampukah Daisy dan Juan mempertahankan hubungan yang bahkan sejak awal tidak pernah direncanakan?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 | Salah Paham
Daisy duduk di kursinya dengan tidak nyaman. Tangannya yang sibuk dengan sepiring steak di depannya tampak gemetaran hebat. Pemandangan di depannya membuat napasnya tidak beraturan. Dua sejoli yang sibuk mendiskusikan tanggal pernikahan di depannya itu membuat hatinya semakin tidak keruan, hingga puncaknya tangannya yang dingin tidak sengaja menjatuhkan pisau steak di tangan kanannya. “Kak Daisy kenapa?” suara mendayu itu menginterupsinya. “Kakak… nggak nyaman ya denger rencana pernikahanku sama Kak Yere? Maaf kak, memang harusnya aku nggak perlu ngadain acara kayak gini, harusnya aku lebih ngertiin perasaan kakak, aku—” Daisy buru-buru bangkit dari duduknya, hingga orang-orang di meja makan tampak menatapnya dengan sorot mata yang berbeda-beda. “Aku mau ke toilet dulu, silahkan lanjutkan makan malamnya.” Dengan susah payah Daisy menyeret kakinya keluar dari private room di salah satu restoran ternama di Jakarta. Sayup-sayup dia masih bisa mendengar obrolan antara ibu dan adiknya. “Ma, kayaknya Kak Daisy masih marah deh sama aku,” rengek Rhea—adik tirinya. Daisy berharap Mama yang notabene-nya adalah ibu kandungnya lebih memilihnya; mengejarnya dan lebih memilih menenangkannya. Namun kenyataannya, ibunya lebih memilih Rhea—anak tirinya, dibandingkan dirinya yang anak kandungnya. “Tenang, Sayang. Nanti biar Mama yang ngomong ke kakak kamu, ya. Udah jangan nangis, kasihan bayi di perut kamu.” Daisy tertawa miris di dalam hati. Memang apa yang dia harapkan? Ibunya yang lebih memilih dirinya dibanding Rhea? Mimpi! *** Daisy duduk di pinggir trotoar dengan air mata yang mengering di sudut matanya. Setelah puas menangis di toilet restoran, Daisy memutuskan kabur dari acara makan malam keluarga dan memilih duduk sendirian di pinggir trotoar seperti orang gila. “Bodoh, memang harusnya aku nggak perlu ikut datang ke sini!” makinya pada diri sendiri. Seharusnya dia menolak lebih keras paksaan ibunya untuk ikut datang ke sini membahas acara pernikahan adik tirinya yang hamil di luar nikah dengan Yeremia—pria yang seminggu lalu masih menjadi pacarnya. “Yere sialan!” makinya yang masih belum bisa menerima nasib buruk yang menimpanya. Seminggu yang lalu pria itu masih mengumbar janji manis akan menikahinya. Yeremia bahkan memberinya cincin—tanda pria itu melamarnya, meski belum secara resmi. Hari ini seharusnya menjadi hari dimana dia dilamar secara resmi di hadapan keluarga besarnya, namun semuanya hancur karena pengakuan dari Rhea seminggu yang lalu. “Kak, aku hamil. Ini anak Kak Yere.” Daisy hancur di detik itu juga. Bagaimana tidak? Lima tahun dia menjalin hubungan dengan Yeremia. Pria itu adalah cinta pertamanya yang Daisy harap juga menjadi cinta terakhirnya. Namun pria yang dia pikir akan menjadi pasangan seumur hidupnya justru ‘main belakang’ dengan adik tirinya. Dan bodohnya, keduanya sudah menjalin hubungan sejak setahun yang lalu di belakangnya. Benar-benar bodoh! Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya? Hatinya sakit membayangkan dua orang berengsek itu yang pasti sedang menertawakan kebodohannya di tengah kebersamaan mereka. Bahkan, hingga detik ini Daisy masih belum mendengar penjelasan dan permintaan maaf dari Yeremia maupun Rhea. Pasangan menjijikkan itu sama-sama tidak punya malu. Benar-benar memuakkan! Daisy mengacak-ngacak rambut panjangnya frustasi. Beberapa orang meliriknya heran, beberapa bahkan terang-terangan berbisik-bisik di depannya, namun tidak dihiraukan gadis itu. Biar saja kalau orang-orang menganggapnya gila. Dia tidak peduli! “Saya cari kamu dari tadi. Kenapa telfon saya nggak diangkat?” Daisy mendongak dan mendapati sosok tampan dan tinggi yang menjulang di depannya. “Kamu… siapa?” tanyanya bingung. Sejenak Daisy melupakan kesedihan dan penampilan berantakannya. “Saya klien kamu.” Matanya mengerjap cepat, ucapan melantur pria itu membuatnya semakin bingung. Klien apa? Memangnya dia menawarkan jasa apa? “Udah nggak ada waktu, cepat bangun.” Dengan tidak berperasaan, pria itu menarik kasar lengan kurus Daisy hingga membuat gadis itu memekik. “Lagian ngapain kamu duduk-duduk di trotoar kayak gini? Udah kayak orang gila aja!” decaknya tidak senang. “Penampilan kamu cukup oke. Tapi apa-apaan gaya rambut kamu itu? Kenapa berantakan begini? Wajah kamu juga…” Pria itu lagi-lagi berdecak, tidak jadi melanjutkan ucapannya. Selain gaun floralnya yang manis, penampilan Daisy saat ini memang bisa dibilang ‘mengerikan’. Rambut acak-acakan, belum lagi make up-nya yang berantakan karena air mata. Tapi semengerikan apapun penampilannya, memang apa hubungannya dengan pria di depannya ini? Kenapa lancang sekali mengomentari penampilannya padahal mereka tidak saling kenal! Namun belum sempat Daisy protes, tangannya sudah lebih dulu ditarik entah kemana. Daisy sibuk menyeimbangkan langkah kakinya sampai tidak sadar dia sudah dibawa kembali ke restoran tempat dia kabur sebelumnya! “Tunggu, ini kita mau kemana?! Kita mau masuk ke dalem?” ucapnya panik. Dia sudah susah payah kabur, masa iya mau dibawa kembali ke tempat itu?! “Saya kan sudah bilang tempat janjiannya di restoran ini. Kamu baca pesan dari saya nggak, sih?” katanya sambil terus menarik Daisy memasuki restoran. Pesan? Pesan apa?? Kenapa pria itu terus mengatakan hal-hal yang membuatnya bingung?! Karena terlalu sibuk dengan kebingungannya, tahu-tahu Daisy sudah dibawa ke private room dengan sosok wanita dan pria paruh baya di dalamnya. “Maaf, Ma, Pa. Pacarku agak pemalu, jadi butuh waktu lama buat bawa dia masuk ke sini,” ucap pria itu dengan nada tenang. Daisy langsung melotot ke arah pria di sampingnya. Pacar? Siapa? Maksudnya aku? Omong kosong macam apa itu?? *** Gila! Hari ini benar-benar gila! Harinya sudah cukup sial karena terjebak makan malam bersama mantan pacar yang sedang membahas rencana pernikahan dengan adik tirinya, dan kini Daisy juga harus terjebak drama murahan dengan pria yang tidak dikenalnya. Bodohnya lagi dia cuma iya-iya saja lagi! “Jadi kamu bukan dari agency pacar sewaan?” Daisy melotot kesal ke arah pria itu. “Bukan!” “Terus kenapa nggak bilang dari tadi?” ucapnya gemas. Kalau memang bukan, seharusnya gadis itu tidak iya-iya saja saat dia sibuk mengarang bebas mengenai kisah cinta ‘palsu’ mereka di hadapan orang tuanya. Seharusnya gadis itu mengelak, kan? “Memangnya kamu ngasih saya kesempatan buat ngejelasin semuanya? Kamu yang main tarik orang sembarangan, sekarang malah nyalahin orang seenaknya!” Pria itu mengusap wajahnya kasar. Rencana yang dia kira berjalan lancar, ternyata malah hancur berantakan karena salah orang! Hari ini Juan berencana mengenalkan pacar ‘pura-puranya’ pada orang tuanya. Dia nekat menerima saran sahabatnya untuk menyewa pacar bohongan karena muak dengan paksaan kencan buta dari ibunya. Dia hanya ingin terbebas dari hal memuakkan itu, sehingga berpikir menyewa pacar bohongan sepertinya bukan ide yang buruk. Dia hanya harus menyewa orang yang sama setiap kali ibunya ingin bertemu pacarnya, dan masalah pun selesai. Tapi semuanya berakhir kacau saat gadis yang seharusnya menjadi pacar sewaannya tidak bisa dihubungi, gadis itu hanya bilang akan menunggu di depan restoran dengan gaun bunga-bunga, dan kebetulan hanya Daisy yang berada di sana dengan gaun bunga-bunganya. “Maaf, semua ini memang salah saya. Kamu bisa lupain aja kejadian hari ini, masalah orang tua saya biar saya sendiri yang menjelaskannya nanti.” Lagipula ini mudah, dia hanya perlu memberitahu orang tuanya kalau hubungannya bersama gadis yang dibawanya hari ini tidak berjalan baik dan mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan secara baik-baik. “Daisy?” Seorang pria bersama rombongan keluarga besar keluar dari restoran dan menghampiri dirinya bersama gadis yang tadi disebut pria itu Daisy. Juan melirik gadis di depannya yang tampak pucat. Ada apa? Kenapa reaksinya seperti kepergok selingkuh? “Kak Daisy? Ini… siapanya Kak Daisy?” Daisy melirik adik tirinya yang bertanya dengan nada penasaran. Gadis itu menggigit bibir bawahnya bingung. Ekspresi bingung Daisy membuat Juan ikutan bingung. Bukankah ini pertanyaan yang mudah, tapi kenapa gadis itu terlihat kebingungan menjawab? Dan sedetik kemudian, Juan dibuat terperanjat begitu tangan kurus dan lembut itu menarik lengannya dan menggenggamnya erat. “Dia… pacarku.” Jawaban Daisy semakin membuat Juan mengerjapkan matanya kaget. Gadis ini sudah gila!

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.9K
bc

Too Late for Regret

read
362.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
153.0K
bc

The Lost Pack

read
471.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
160.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook