Pagi ini, seperti biasa Arland dan Kiran sarapan berdua. Tak ada percakapan di meja makan, karena apa? Karena memang sudah tradisi. Dan lagi, masalah kemarin masih membebani pemikiran masing-masing. Terlebih Kiran. Ponsel Arland yang berada di meja, berdering. Menatap ke arah layar datar itu untuk melihat nama yang tertera. Hanya menatap tanpa berniat menjawab panggilan. "Dari siapa?" tanya Kiran yang selesai membereskan meja makan dan duduk di samping suaminya itu. "Mama." "Kenapa nggak dijawab?" "Males. Palingan Mama bakal ngebahas masalah itu lagi. Hingga ujung-ujungnya malah membuatku semakin emosi," terang Arland sambil mengaktifkan mode silent pada ponselnya, kemudian kembali fokus pada layar laptopnya. "Kamu nggak boleh gitu. Bagaimanapun, beliau adalah Mama kamu dan

