"Mobil siapa di depan itu, Mas Elwin?" "Dio," singkat Elwin. Menyebut nama temannya yang dokter itu. Dari nada suaranya, terdengar tidak suka atas kehadiran temannya tersebut. "Untuk apa dia ke sini? Mas Elwin sakit?" "Dia yang sakit." Jesty menepuk lengan atas Elwin. "Mana ada dokter sakit ke rumah, Mas Elwin." "Terus?" "Ya, ke rumahnya sendiri. Periksa mandiri. Haha." Jesty tertawa akan perkataannya yang garing. Tidak terdengar lucu sama sekali. Bersyukur ada yang tertawa, kalau tidak ada ya, biasa saja. "Mas Elwin terlalu kejam membiarkan tamu menunggu di luar." "Biar Jesty enggak kabur lagi." "Sudah lama, masih ingat juga." "Soal Jesty, Mas enggak pernah lupa." Jesty mencubit pipi Elwin, menarik hingga ke arahnya. "Gemesnya, sayang cemburuan." Elwin memegang tangan Jesty di

