Delapan Puluh Tujuh

1149 Kata

Sesampainya di kantor Elwin, Jesty duduk lemas di sofa. Masih syok atas perbuatan Ayudia. Tubuh sekecil itu, kuat juga lempar batu paving jalanan, astaga. Lain kali, ia harus coba lempar juga sih. Siapa tahu batunya ringan. Sementara itu, Elwin mengambilkan Jesty minum. Duduk sebelah Jesty dengan pandangan mata syarat akan kekhawatiran. "Jesty tidak apa-apa?" Meletakkan gelas di meja, Jesty menyandarkan kepalanya di d**a Elwin. Elwin pun dengan naturalnya merangkul Jesty, sembari mengelus naik turun lengan atas Jesty. "Jesty hanya terkejut, Mas Elwin. Suara pecahan kaca tadi bikin kepala Jesty pusing." Jesty benci suara keras, begitulah kenyataannya. Elwin membentak tadi saja sudah membuatnya terkejut, ditambah acara lempar batu lagi. "Mau Mas panggil dokter?" "Tidak usah, Mas." Jesty

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN