Delapan Puluh Satu

1217 Kata

Jesty tengah memotong kuku kakinya, tidak kaget ketika mendengar pintu di ketuk. Sore menjelang malam gini pasti Elwin yang datang, siapa lagi. Waktu di rumah pria itu sendiri, pulang juga jam segini. Jadi, Jesty sudah hafal. "Masuk aja, Mas. Enggak di kunci!" Teriak Jesty meski ia berada di ruang tamu, rasa malas lebih mempengaruhi dirinya untuk tetap duduk manis di tempat. Elwin masuk dengan tote bag yang sangat Jesty kenali. Iya lah, itu makan siang pemberiannya tadi kok. Enggak lucu kalau Jesty lupa, perlu di periksakan. "Tutup pintunya, Mas. Nanti kedengaran tetangga bernyanyi." "Tetangga bernyanyi?" tanya Elwin, tidak paham maksud Jesty. Untuk apa tetangganya bernyanyi di waktu mau malam begini. "Ah, tetanggaku memang suka begitu, Mas. Punya kebiasaan, aneh." Setelah di pikir-pi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN