bc

Pesan Mencurigakan di Ponsel Suami

book_age18+
437
IKUTI
2.2K
BACA
HE
arrogant
stepfather
drama
bxg
affair
like
intro-logo
Uraian

Arum mencurigai kebiasaan suaminya yang bernama Iwan yang selalu pulang terlambat di waktu-waktu tertentu dalam setiap bulannya. Arum terkejut ketika membaca pesan yang isinya begitu mencurigakan di ponsel suaminya. Pesan yang berasal dari seorang wanita. Apa yang terjadi sesungguhnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Ada yang Janggal
“Dek, hari ini mungkin aku pulangnya agak telat,” ujar Mas Iwan. Laki-laki berpostur tinggi besar itu baru saja selesai sarapan. Ia bersiap untuk pergi bekerja di kantor swasta. Jabatannya pun tak terlalu tinggi. Namun, gajinya lebih dari cukup. Aku bisa membeli barang-barang sesuai keinginanku. “Iya, aku sudah tahu kok, Mas. Kalau di awal bulan seperti ini, kamu pasti akan pulang terlambat. Sebenarnya kamu lembur atau ngapain sih, Mas?” tanyaku penuh selidik. Keningku mengernyit. Curiga, tentu itu yang aku rasa sekarang. Aku tak mau, Mas Iwan malah mencurangiku di belakang. “Iya, Dek. Kamu malah sampai paham begitu. Aku lembur, Dek. Maaf kalau selama ini aku nggak pernah cerita sama kamu. Kamu istri yang pintar, pasti sudah paham tanpa harus kuceritakan. Itu juga tuntutan pekerjaan, Dek. Jadi, tolong dimengerti ya, Sayang.” Jawabannya terkesan santai tanpa ada beban, tetapi aku tak akan tertipu dengan mudah. Seperti apa yang ia katakan, aku ini istri pintar, tentu akan banyak pertanyaan yang akan kulontarkan. Apalagi setiap dirinya akan berpamitan karena berniat pulang terlambat, ia selalu memperlakukanku dengan lembut dan romantis. Bahkan ia akan mencium punggung tanganku sambil menatapku dengan penuh rasa cinta. Pernah juga, ia mengecupku di pipi secara tiba-tiba. Padahal semua itu jarang dilakukan. Mas Iwan tipe suami cuek yang bagiku kurang romantis. Aku menyadari ada yang berbeda dengan sikapnya kalau di setiap awal bulan. Laki-laki itu tak pernah sekalipun bercerita tentang jam lemburnya. Tentu aneh bagi sebagian pasangan suami-istri. Seharusnya saling terbuka. Memang pernikahanku dengan Mas Iwan baru berjalan sekitar dua tahun. Namun, tetap saja, seharusnya ia bercerita tentang pekerjaannya. “Apa benar kamu memang akan lembur, Mas?” selidikku lagi. Di dalam hati terasa ada yang mengganjal. “Iya, Dek. Aku lembur. Mau ngapain lagi coba? Uangnya juga buat kebutuhan kita nantinya kan?” Meski Mas Iwan berbicara dengan santai, tetapi aku merasa ada yang ditutupi. “Kenapa jatah uang belanjaku masih sama, Mas? Lembur tentu ada bayaran tambahan kan? Kita baru menikah dua tahun loh, Mas. Selama itu, uang yang kudapat segitu-gitu aja. Aku juga nggak tahu pasti gajimu berapa. Apalagi ditambah sama lembur di awal bulan seperti ini. Masa nggak ada tambahan uang untukku sih, Mas?” Kejanggalan lain yang kurasakan memang tentang jatah bulanan yang aku terima. Jumlahnya tetap sama. Kalau memang suamiku lembur, seharusnya aku mendapat jatah uang tambahan. Ini tidak. Jadi, aku semakin mencurigainya. “Oh, tentang itu? Bukankah uang belanja yang aku beri untukmu sudah lebih dari cukup. Apa masih kurang, Dek?” Mas Iwan membalikkan pertanyaan. “Cukup, Mas. Tapi, kalau memang kamu lembur dan ada uang lebih, kenapa aku nggak kebagian? Kalau aku dikasih lagi, aku jadi bisa beli barang yang sedikit mewah kan, Mas? Apa kamu sekarang mau perhitungan sama aku atau memang kamu berbohong tentang kerja lembur itu, Mas? Jangan-jangan, kamu sudah berani bermain di belakangku. Jujur, Mas.” Aku semakin menekannya. Tiba-tiba, raut wajah Mas Iwan berubah. Ia terlihat seperti sedang menahan sesuatu. “Aduh, Dek. Perutku tiba-tiba mules. Aku ke kamar mandi dulu ya? Nanti malah repot kalau kebelet di kantor,” ucap Mas Iwan seraya meninggalkanku. Kecurigaanku bertambah besar. Sikap Mas Iwan semakin aneh. Ia berlari ke kamar mandi seraya memegang perutnya. Raut wajahnya juga terlihat menahan rasa sakit. Benarkah perutnya merasa sakit? Atau ia sengaja menghindar dari pertanyaanku? “Mas! Jangan pergi seenakmu! Jawab pertanyaanku dulu!” Aku bangkit dari tempat duduk dan melihat kepergian Mas Iwan dengan mata yang hampir copot. “Nggak tahan, Dek!” jawab Mas Iwan dari kejauhan. Aku mendengus kesal, akhirnya duduk lagi sambil menopang dagu dengan wajah cemberut. Apa Mas Iwan menutupi sesuatu dariku? Katanya lembur? Namun, aku tak pernah mendapat jatah uang lebih. Padahal dengan uang tambahan itu bisa digunakan untuk berbelanja barang-barang kesukaanku. Otakku jadi berpikir sesuatu hal yang buruk. Jangan-jangan uang lembur itu diberikan kepada wanita lain. Mas Iwan selingkuh? Tapi, laki-laki itu selalu bersikap baik. Apakah mungkin ia berani bermain-main di belakangku? Aku kembali menghela napas dan baru menyadari ada tas kerja Mas Iwan di meja. Pasti ada ponsel di dalamnya. Ya, siapa tahu ada bukti kuat yang ada di benda pipih itu. Mumpung suamiku sedang di dalam kamar mandi, aku harus segera bertindak untuk menyelidiki. Sebelum benar-benar menggeledah isi tasnya, aku kembali mengedarkan padangan untuk memastikan keadaan tetap aman. Ya, tidak ada batang hidung Mas Iwan. Aku harus cepat-cepat mencari barang bukti. Tas berwarna hitam yang tergeletak di meja, aku ambil dan membuka resletingnya perlahan. Karena takut ketahuan, jantungku jadi berdebar. Padahal biar saja sekalian Mas Iwan memergokiku yang sedang menggeledah tasnya, kalau ada bukti yang kuat, aku bisa langsung menghakiminya. Awas saja kalau ternyata memang benar. Satu per satu barang yang ada di dalam tas, aku ambil dan meletakannya di atas meja agar gampang mencari ponselnya. “Nah, akhirnya ketemu juga. Kalau ada pesan yang isinya macam-macam, aku nggak akan memaafkanmu, Mas!” Belum apa-apa, perasaanku sudah tidak enak. Seperti ada beban besar yang tiba-tiba menindih dadaku. Aku takut apa yang ada di pikiranku menjadi sebuah kenyataan. Padahal selama aku menjadi istrinya Mas Iwan, laki-laki itu selalu bersikap sangat baik. Hanya saja, setelah diamati dengan saksama, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Selama Mas Iwan bekerja, ada tanggal-tanggal tertentu di awal bulan yang membuatnya harus pulang terlambat. Selama ini memang sedikit terabaikan, lama-lama aku penasaran karena jatah uang belanjaku tetap sama meski beberapa kali di awal bulan Mas Iwan pulang terlambat yang mungkin sedang lembur. Aku menyalakan layar ponsel. Di sana ada sandi yang harus kupecahkan. Selama menikah, aku memang jarang bertukar ponsel. Hanya jika aku mau saja. Aku lebih sibuk dengan pertemananku di grup WA maupun kehidupan nyata. Aku pikir, Mas Iwan orangnya memang tidak neko-neko, tetapi melihatnya sekarang, malah timbul kecurigaan. “Aduh, pakai sandi lagi. Kira-kira masih sama nggak ya, sama sandi yang dulu. Ah, coba aja dulu.” Dengan hati-hati sambil mengingat-ingat, aku menekan tanggal kelahiran suamiku. Ya, ternyata kunci layarnya terbuka. Ternyata, Mas Iwan belum menggantinya. Jadi, apakah dengan sandi yang tak pernah berubah, Mas Iwan akan berbuat macam-macam? Sepertinya kemungkinannya kecil. Aku segera mencari aplikasi berwarna hijau. Meski prasangka buruku hanya kemungkinan kecil yang akan terjadi, tetapi hatiku merasa tetap ada yang mengganjal. Aplikasi berwarna hijau akhirnya terbuka. Betapa terkejutnya saat ada nama seorang perempuan berada di pesan paling atas. Sedikit pesan yang terbaca pun membuatku menganga. Darah di tubuh seakan terasa menghangat. Benarkah Mas Iwan telah berselingkuh? Kenapa pesan dari seorang wanita berbunyi seperti ini? Dadaku terasa sesak mendapati kenyataan ini. Aku pikir, Mas Iwan orang yang baik dan tak pernah berani untuk berbuat macam-macam. Namun, bukti sudah jelas terbaca oleh mataku. Apa kurangku, Mas! Itulah yang sekarang terngiang di hati dan pikiranku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
74.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook