Chapter 11

1380 Kata
Halsey tengah sibuk mengetik notula hasil rapat tadi pagi ketika seorang gadis cantik berambut pirang berjalan melewati meja kerjanya. Baru saja dia ingin mencegah gadis itu untuk tidak masuk ke dalam ruang kerja Alex, namun dia kalah cepat dengan gadis itu. Dia berjalan menuju ruang kerja Alex untuk meminta maaf karena tidak bisa menghalangi gadis itu untuk masuk. Tetapi betapa terkejutnya Halsey ketika melihat gadis itu memeluk kekasihnya, bahkan mengecup pipi Alex. “Lebih seminggu tidak melihatmu, Buddy,” ucap gadis itu sembari melepas pelukannya. “Ma—maaf, Tuan,” ucap Halsey membuat perhatian kedua orang di depannya kini tertuju padanya. “Aah maaf. Kau pasti sekretaris barunya lelaki b******k ini,” kekeh gadis itu sembari berjalan mendekati Halsey yang tertunduk. Entahlah. Tetapi hatinya tidak menentu saat ini, melihat kekasihnya dipeluk bahkan dicium wanita lain. Rasanya ada kepingan hati yang patah di dalam sana, hanya Halsey tidak tahu di mana letak pastinya. “Iya, Nona—“ “Brice. Namaku, Brice,” sambung gadis yang ternyata adalah sahabat Alex, Brice. “Perkenalkan, Claire, sekretaris baruku. Dia baru bekerja seminggu di sini,” ucap Alex sedikit hati-hati sembari mencuri pandang ke arah Halsey yang memberikan senyum getir. Ingin sekali rasanya Alex memeluk kekasihnya, mengecup puncak kepalanya sambil menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi dia teringat akan permintaan Halsey tadi sesaat sebelum rapat berlangsung. Halsey ingin identitasnya tetap terjaga, termasuk status sebagai kekasih dari seorang Alexander Harris. Karena dia hanya ingin hidup normal. Dalam artian seperti orang-orang pada umumnya. Dapat berinteraksi dengan siapa saja tanpa merasa sungkan karena orang lain segan pada keluarganya. “Gadis yang manis, seperti selera Alex,” kekeh Brice menjabat uluran tangan Halsey. “Claire. Kalau begitu saya permisi,” ucap Halsey sebelum berjalan keluar dari ruang kerja Alex. Sementara Halsey larut dalam pikirannya sendiri tentang hubungan Alex dan Brice. Saat ini Alex tengah sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya, dia bahkan tidak begitu menyimak apa yang dibicarakan oleh Brice. Karena pikirannya saat ini adalah bagaimana menghadapi Halsey nanti. Alex: Sayang, Brice adalah sahabatku dan aku hanya mencoba mengikuti permainan yang kau buat. “Kau mendengarku, tidak?” teriak Brice karena sejak tadi Alex tidak menyimak kata-katanya. “A—apa???” tanya Alex mengangkat kepalanya dan menatap wajah bosan Brice. “Huh!!! Benar kan apa yang ku pikirkan, kau pasti tengah memikirkan kekasih rahasiamu itu. Jadi siapa dia?” “Maaf, Brice. Nanti aku akan mengumumkannya saat pertunangan kami telah dekat,” jawab Alex datar sembari kembali fokus dengan pekerjaannya. “Kau sama menyebalkannya dengan Eliot,” dengus Brice beranjak dari duduknya menuju pintu ruang kerja Alex. “Tetapi kau mencintainya,” kekeh Alex tanpa melihat wajah kesal Brice ketika keluar dari ruangannya. Brice keluar dari ruang kerja Alex dengan wajah kesal, namun dia merubahnya saat melihat Halsey. Sekretaris baru Alex itu tampak fokus mengetikkan sesuatu pada layar PC-nya. Bahkan dia tidak menyadari kehadiran Brice yang duduk di depannya. “Sebaiknya kau jangan terlalu tegang jika bekerja, karena nanti kulit mudamu akan cepat mengeriput seperti orang tua,” ucap Brice membuat Halsey terkejut. “Maaf, Nona Brice. Saya tidak menyadari kehadiran Anda,” ucap Halsey tulus. “Tidak masalah. Aku sudah biasa menjadi yang tak terlihat,” senyumnya ramah sembari menatap manik mata Halsey. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” “Tidak. Aku hanya ingin menyapamu sebelum pergi,” jawabnya sembari beranjak dari kursi di depan meja kerja Halsey dan berlalu meninggalkan gadis cantik berambut cokelat itu. Take berapa lama setelah kepergian Brice, intercom di atas meja kerja Halsey berdering dan gadis itu sangat tahu siapa yang menghibunginya. Dia sejujurnya malas untuk menemui Alex pasca melihat adegan pelukan tadi, tetapi saat ini dia masih menjadi sekretaris lelaki flamboyan itu. Mau tidak mau dia harus menjawab panggilan itu, meski ingin sekali dia mengumpat karena kesal. “Ke ruanganku, sekarang!” Baru saja ingin membuka mulutnya, tetapi suara dingin dan tegas di balik sambungan itu membuatnya terdiam. Alex benar-benar seorang atasan yang menyebalkan, benar saja apa yang didengarnya dari beberapa karyawan lain. Kalau direktur perusahaan tempatnya ini sangat menyebalkan, meski masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kakak-kakaknya. “Permisi, Tuan,” ucap Halsey ketika baru saja menutup pintu ruang kerja Alex dan berhasil membuat arah pandang lelaki itu berubah ke arahnya. “Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Kami hanya ber—“ “Berteman. Kalau itu yang ingin Anda katakana, saya sudah mendengarnya tadi,” ucap Halsey memutus ucapan Alex yang kini tengah bangkit dari kursi kebesarannya. “Kau cemburu, hum?” Alex menyeringai sembari berjalan ke arahnya. “Menurutmu?,” jawab Halsey cuek dengan membuang muka. “You’re my Queen, Halsey,” ucap Alex menarik pinggang ramping gadis berambut cokelat dengan manik abu-abu itu sehingga tubuh mereka saling menempel. Alex merapikan poni kekasihnya yang sedikit berantakan, menyentil sedikit ujung hidung gadisnya yang kini memberengut sebal. Rasanya ingin sekali dia menggigit pipi merah yang sedikit menggembung itu, tetapi bukan tidak mungkin dia akan mendapat pukulan dari gadis cantik dalam pelukannya ini. Dia mengecup puncak kepala Halsey berulang kali, mengatakan bahwa dia sangat mencintai gadis ini tanpa perlu berkata-kata. “Alex!” Panggilan Halsey menyadarkan Alex dari keterpakuannya dan membuatnya menatap mata teduh itu. Rasanya dia menemukan suatu keraguan di sana, apa yang sebenarnya tengah disembuyikan kekasihnya. Walau dia tahu apa yang mungkin kini tengah dipikirkan oleh Halsey, namun dia tidak ingin bertanya sampai gadis ceria itu mengatakannya sendiri. “Sepertinya aku pernah melihat Brice sebelumnya.” “Benarkah? Di mana?” Alex menjauhkan wajahnya untuk menatap Halsey dalam. “Entahlah. Hanya saja wajahnya terasa familier,” jawab Halsey menelusupkan wajahnya ke d**a Alex, menghirup aroma tubuh yang sangat dia rindukan. “Rasanya tidak mungkin, karena Brice tidak tinggal di London. Gadis itu memilih tinggal di Melbourne,” jawab Alex yang secara mengejutkan mengangkat tubuh ramping Halsey ke dalam gendongannya. *** Siang sudah hampir berakhir, berganti dengan malam, jingganya langit menjadi saksi bahwa di bawah cakrawala ini ada sepasang anak manusia yang saling mencintai. Kicauan merdu burung di bawah cakrawala menjadi pengiringnya. Udara dingin menusuk hingga ke tulang tidak dipedulikan oleh keduanya. Salju pertama di bulan Desember diperkirakan akan turun malam ini, oleh karena itu Halsey mengajak Alex untuk melihatnya di taman bermain. “Jadi kau mengajakku ke sini untuk membuatku beku, Sayang?” tanya Alex yang kini tengah menggenggam tangan Halsey yang duduk di atas carousel, sebuah komidi putar dengan kuda emas di atasnya. “Maaf, tetapi aku ingin melihat salju pertama denganmu di sini,” jawab Halsey mengecup punggung tangan Alex tanpa melepas tautan jari mereka. “Kau sama seperti Sarah yang menyukai salju,” ucap Alex menerawang jauh saat teringat akan sahabatnya itu. “Kak Sarah sudah tidak begitu menyukai salju sejak kecelakaan itu, bahkan tak jarang dia terlihat masih menangis,” ucap Halsey dengan wajah sedihnya. “Baiklah. Mari kita buat kenangan manis saat salju pertama turun dan aku ingin hal ini terus kita lakukan setiap salju pertama turun.” “Janji?” “Aku berjanji padamu, Ratuku. Di atas carousel yang berputar ini, aku mengikat janjiku padamu untuk terus berada di sisimu saat salju pertama turun.” Alex mendekatkan wajahnya pada wajah Halsey, hingga deru napas hangat menerpa wajah masing-masing. Dia mendaratkan kecupan lembut dan sayang pada gadis yang sejak lama dia cintai, menjanjikan sesuatu yang dia tidak yakin apakah bisa menepatinya. Keduanya memutuskan untuk mengakhiri ciuman itu karena oksigen dalam paru-paru nyaris tipis ketika salju pertama mulai turun dari langit Kota London. “Salju pertama kita,” lirih Halsey sebelum menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Alex yang terasa hangat, dan dia bisa mendengar degup jantung lelakinya. “Salju pertama kita, Sayang...” Seketika itu juga suasana taman bermain milik keluarga Jacob itu terlihat memutih karena salju mulai turun. Lampu-lampu di carousel yang dinaiki Alex dan Halsey semakin menambah indah taman bermain ini, pantulannya membentuk bias pelangi saat bertemu dengan salju yang turun dari langit. Dalam hati Alex berjanji bahwa ini bukanlah salju pertama dan terakhirnya bersama Halsey, walau ini akan menjadi pertanda bahwa dia harus siap untuk menghadapi Jacob bersaudara yang terkenal bengis. Dengan semua rencana yang telah dia rencanakan, dia hanya ingin masa depannya dan Halsey tanpa ada pengganggu. Maaf karena aku harus membuatmu pergi untuk sementara waktu dari hidupku, setidaknya sampai semuanya aman untuk kita. Aku berjanji akan kembali, Ratuku... lirih Alex dalam hati sembari menatap salju yang jatuh memutihkan London.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN