Chapter 10

2643 Kata
Sudah seminggu semenjak bekerja di EDGE Tech, Halsey sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya sebagai seorang sekretaris. Untuk sementara dia lebih banyak bekerja dengan Luther karena Direktur perusahaan tekhnologi itu sedang ada pekerjaan di luar negeri. Tidak banyak kesulitan yang didapatkan Halsey atas pekerjaan, gadis manis dan menyenangkan bergelar tuan putri keluarga Jacob itu sangat mudah menyesuaikan diri. Dia begitu cepat belajar dan hasil pekerjaannya selalu berhasil membuat Luther puas. “Tidak salah kalau Alex begitu mencintainya, bahkan saat gadis itu amat jauh dari jangkauan,” gumam Luther pelan saat berada di ambang pintu ruang kerjanya memerhatikan gerak gerik Halsey. “Tuan,” panggil suara lembut Halsey ketika menyadari Luther menatapnya sejak tadi. “E—eeh kau sudah selesai, Claire?” tanya Luther yang telah kenbali dari lamunannya. “Sudah, Tuan. Kalau begitu sudah bisa pulang kan?” tanya Halsey dengan wajah polosnya serta mata bulat yang membuat Luther gemas melihatnya. “Kau sudah boleh pulang, terima kasih ya. Jangan lupa persiapkan dirimu untuk rapat besok, Direktur kita telah kembali dari perjalanan bisnisnya. Dia orang yang sangat tegas dan jeli dalam pekerjaan, jangan sampai membuat kesalahan. Karena aku tidak bisa menjamin apa yang akan dia lakukan padamu,” ucap Luther menahan wajah gelinya melihat perubahan raut wajah Halsey yang berubah cemas. “Apakah Claire akan dipecat kalau sampai membuat kesalahan?” “Bisa jadi,” jawab Luther asal setelahnya dia berdeham agar tawanya tidak pecah. “Katanya kita mau makan malam, mengapa kau malah berbincang dengan gadis ini?” Luther dan Halsey menoleh ke arah datangnya suara, seorang gadis cantik berambut cokelat berjalan mengahmpiri mereka. Halsey memiringkan kepalanya sembari berusaha mengingat-ingat di mana dia pernah melihat wajah gadis itu. Rasanya begitu tidak asing di dalam ingatannya, hanya saja dia yang biasa tidak peka pasti sulit untuk mengingat adik Alex. Ya! Gadis cantik berambut cokelat itu adalah Alice Harris, adik dari Alexander Harris. “Maafkan aku, Sayang. Aku tidak lupa akan janjiku untuk makan malam denganmu malam ini. Oh ya, perkenalkan dia sekretaris baru Direktur EDGE Tech, namanya Claire,” Luther mendekati tunangannya dan mengecup bibir Alice sekilas sambil mengedipkan sebelah matanya untuk memberi isyarat. Alice yang mengerti akan isyarat yang diberikan oleh tunangannya lebih memilih untuk meneruskan sandiwara yang dilakukan Luther. Bahwa dia tidak mengenal sosok di depannya ini, dia tahu cerita tentang Princess of the Jacob yang disembunyikan dari muka publik. Apalagi mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang pernah dialami oleh gadis berambut pendek dengan wajah manis di depannya ini. “Salam kenal, Claire. Aku Alice tunangan Luther, dia sudah menceritakan tentangmu sebelumnya. Ternyata kau memang gadis manis,” ucap Alice menjabat tangan Halsey dengan senyum tulusnya. Bukan rahasia lagi di tengah keluarga Harris jika putra sulung Sir George Harris tengah menjalin hubungan dengan Halsey Claire Jacob yang memiliki nama lain ‘Princess of the Jacob.’ Bahkan mereka tahu apa saja yang telah dilalui oleh Alex untuk dapat bisa mendapatkan gadis manis itu. “Salam kenal, Nona Alice. Anda sangat cantik, terlihat cocok dengan Tuan Luther,” jujur Halsey. “Ah, kau bisa saja. Sebenarnya kau adalah orang ke sekian yang mengatakan itu,” kekeh Alice sedikit menyombongkan diri. Siapa yang tidak mengenal Alice Harris? Seorang penasihat hukum di Parlemen Inggris? Ah, iya, ada satu orang yang tidak mengenalinya dan saat ini tengah berada di depannya, Halsey Claire Jacob. Gadis yang menurutnya polos namun sangat naif akan dunia, bahkan keberadaannya pun sengaja ditutupi oleh keluarga Jacob. Dan sekarang Alex tengah memancing sesuatu yang sangat membahayakan gadis cantik itu, yaitu kematian. “Maaf kalau saya memperlambat waktu untuk Tuan Luther dan Nona Alice, kalau begitu saya pergi dulu,” pamit Halsey sembari menundukkan kepalanya tanda hormat sebelum berlalu meninggalkan Luther dan Alice yang menatapnya cemas. “Apakah semua akan baik-baik saja?” lirih Alice ketika Halsey sudah menghilang di ujung koridor, tempat di mana lift berada. “Semoga semuanya berjalan dengan baik.” “Semoga saja,” lirih Alice sebelum menggenggam tangan Luther dan berjalan menyusuri koridor menuju lift yang akan membawa tubuh mereka turun dari lantai teratas gedung EDGE Tech. Sementara di luar sana Halsey tengah menunggu bus yang akan membawa dirinya ke tempat di mana dia tinggal sudah hampir 2 minggu ini. Dia sudah tidak pernah menerima teror lagi setelah petugas keamanan membuang semua paket tanpa nama yang ditujukan padanya. Yang dia tahu ancaman itu masih ada, karena setiap paket tanpa nama yang dikirimkan untuknya selalu berisi ancaman yang sama. Menjauhi Alex atau dia akan mati. “Aku mencintainya,” lirih Halsey sembari menatap langit mendung yang tampak akan menitikkan airnya untuk membasahi bumi. Hari-hari di apartemen dijalani Halsey seperti biasa, seakan-akan dia hidup di mansion mewah orang tuanya. Hanya saja pikirannya akan kehidupan normal seperti orang-orang di luaran sana salah, sejak teror demi teror dia terima semuanya tidak lagi sama. Dia tidak bisa bepergian dengan leluasa, karena dia tidak tahu ancaman apa yang mengancamnya di depan sana. Sedangkan dia tidak ingin menceritakan ini pada kekasih atau keluarganya, Halsey tidak ingin membuat mereka khawatir. “Selamat sore, Tuan dan Nyonya Lane,” sapa Halsey ramah ketika melihat pasangan suami istri tua sedang berjalan memasuki lobi apartemen dari arah taman. “Kau terlihat ceria sekali, Claire,” ucap Tuan Lane dengan senyum tulusnya. “Benarkah?” tanya Halsey antusias dan dijawab anggukan oleh suami istri itu. “Ku dengar kalau kecerian itu bisa membuat kita awet muda, jadi Claire ingin selalu terlihat muda dengan ceria,” jawabnya dengan senyum merekah. “Gadis yang manis,” ucap Nyonya Lane membelai lembut pipi Halsey. Ketiga orang itu terlihat berbincang akrab semabri berjalan memasuki lobi apartemen sehingga tidak menyadari jika ada seseorang tengah memerhatikan dengan tatapan benci. Dia menggeram kesal ketika melihat petugas keamanan apartemen membuang paket yang dia kirimkan lewat kurir bayaran. Pantas saja gadis bernama Claire itu terlihat baik-baik saja walau dia sudah mengirimkan banyak teror. “Kita lihat saja, Halsey. Sampai sejauh mana kau sanggup bertahan dengan semua hadiah yang ku berikan? Apa kau tetap akan bertahan setelah tahu kalau kau lah pembunuh Alana sebenarnya?” desisnya dengan tatapan benci yang sudah tidak bisa disurutkan. *** Alex baru saja tiba di London ketika pesawat pribadi yang membawanya dari Zurich mendarat dengan selamat di bandara. Sejak seminggu ini dia begitu sibuk dengan semua urusan bisnis sang ibu di negara asalnya, bahkan waktu istirahatnya pun sangatlah kurang. Jika untuk memejamkan mata dan meregangkan tubuh saja kurang, apalagi untuk menghubungi sang kekasih. Terlalu banyak masalah yang harus dia selesaikan di negara asal sang ibu, kasus penggelapan di perusahaan yang dilakukan oleh kerabat dekatnya begitu menyita waktu dan perhatian. Seandainya dia bisa dengan mudah menyingkirkan para benalu di dalam keluarganya, sayangnya tidak semudah itu. Alex bukanlah orang yang bisa dengan mudah untuk menyingkirkan orang lain di dalam kehidupannya, sangat berbeda dengan keluarga Jacob. “Selamat datang, Kak,” sapa Eliot dengan membentangkan kedua tangan selebar mungkin untuk menyambut kakaknya yang tengah berjalan menuruni tangga pesawat. “Jangan berlebihan, Eliot,” decak Alex tidak suka dengan adiknya yang terlihat berlebihan. “Kak, kau tahu, tidak, kalau Luther telah mendapatkan sekretaris baru untukmu?” tanya Eliot dengan seringai jahilnya dan berhasil membuat langkah Alex berhenti dan berbalik menatapnya dengan sebelah alis terangkat. “Sekretarismu adalah gadis yang sangat cantik dan manis, pekerjaannya juga bisa diandalkan.” “Lalu apa hubungannya denganku?” tanya Alex dengan wajah tidak pedulinya sembari tangannya sibuk merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. “Aku sepertinya tertarik pada sekretaris barumu, jadi jangan menggodanya,” ucap Eliot berusaha keras menahan tawa, karena dia berniat mengerjai Alex. Dia ingin tahu bagaimana reaksi kakaknya saat tahu siapa yang dibahasnya saat ini, apakah Alex akan mengamuk atau hanya mendiamkannya. “Ambil saja, aku sudah memiliki gadis yang kucintai,” ucap Alex sambil berjalan meninggalkan Eliot yang nyaris tidak bisa menahan tawanya. “Halo, Ratuku,” sapa Alex ketika panggilannya dijawab. “Halo. Kau sudah sampai?” tanya Halsey dari seberang sana, bahkan Alex bisa mendengar nada bahagia dari gadis yang dia cintai. “Sudah, Sayang. Aku akan mengajakmu makan siang setelah menyelesaikan rapat di kantor pagi ini,” ucap Alex menganggukkan kepalanya sebagai balasan salam yang diberikan oleh supir yang membukakan pintu mobil untuknya. “Baiklah. Tetapi setelah waktu istirahatku di kantor, bagaimana?” “Ok. Aku akan menjemputmu di kantor tempatmu bekerja, jadi nanti bisa kau beri tahu aku di mana kau bekerja,” ucap Alex sembari menatap langit cerah Kota London dari balik kaca jendela mobil yang membawanya ke kantor EDGE Tech. “Baiklah. Nanti aku hubungi lagi, aku harus menyiapkan materi rapat.” “Aku mencintaimu, Princess of the Jacob. Soon as Queen of Alexander Harris,” ucap Harris sebelum memutus panggilannya. “Aku juga mencintaimu, Alexander Harris,” balas Halsey yang berhasil membuat perasaan Alex menghangat. Panggilan itu terputus dan Alex kembali larut dalam pikirannya sendiri, tentang sebuah teror yang dia terima beberapa hari terakhir. Sebelumnya dia tidak pernah menerima ancaman dari siapa pun, bahkan saat kejadian beberapa tahun lalu yang membuat Alana pergi dengan cara yang tragis. Sebenarnya siapa dan ada apa? Mengapa orang itu sangat ingin memilikinya hanya untuk diri sendiri? “Kak,” panggil Eliot yang duduk di sisinya. “Hmmmm...” Alex hanya bergumam malas karena selama ini Eliot selalu mengganggunya. “Kau serius dengan putri keluarga Jacob? Kau tidak takut apa yang dulu Alana alami terjadi kembali?” tanya Eliot penasaran. “Dulu mungkin aku adalah lelaki pengecut yang lebih memilih pergi dan mengawasi dari jauh daripada memperjuangkannya. Tetapi tidak untuk kali ini, aku akan memperjuangkannya meski nyawaku taruhannya,” lirih Alex mengusap wajahnya kasar. “Bukan nyawamu yang jadi taruhannya, Kak. Tetapi nyawannya, pikirkan lagi sebelum melangkah. Saat ini kau berhadapan dengan orang gila, seorang psikopat yang kita tidak pernah tahu siapa dia. Dan tolong jangan membuat dirimu sendiri sulit, ku rasa kau tidak lupa jika mereka bisa menghancurkan keluarga kita kapan saja mereka mau,” ucap Eliot sarat akan peringatan, karena dia pernah mengalaminya saat mencoba bermain-main dengan The Ice Queen. Wanita cantik berambut pirang dengan tatapan sedingin es yang menusuk, Sarah Dimitrova-Jacob. “Itu salahmu, siapa suruh mencoba untuk bermain-main dengan Sarah? Dia tidak pernah ragu untuk menghancurkan orang yang mencoba mempermainkannya,” Alex mencibir kebodohan adiknya yang coba bermain kotor demi mendapatkan sebuah proyek pembangunan kawasan komersial, dan saat itu lawannya adalah Sarah Dimitrova-Jacob yang terkenal tidak pernah ragu untuk menghancurkan lawannya. “Sahabatmu menyeramkan,” ucap Eliot berdecak kesal saat mengingat Sarah sudah membuat harga sahamnya turun drastis. “Seseram itu dia tetap wanita yang rapuh pada cinta,” lirih Alex karena dia sadar tengah merasakan apa yang pernah dirasakan sang sahabat. “Sama sepertimu yang sudah ratusan kali mencoba untuk menjadi lelaki b******k, tetapi pada akhirnya kau tetap bertekuk lutut pada Sang Putri,” Eliot mencibir kakaknya dan setelahnya dia memilih diam karena saat ini mobil yang mereka tumpangi telah memasuki basement gedung pencakar langit EDGE Tech. Kedua kakak beradik itu memilih untuk menutup pembicaraan mereka sampai di sini, karena tidak ada gunanya mendengarkan semua ucapan Eliot. Alex tetap pada pendiriannya untuk memperjuangkan Halsey dan cintanya, seperti yang telah dia ucapkan. Nyawa pun akan dia berikan jika dengan cara itu dia bisa mendapatkan cinta gadis kecilnya. Alex melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari mobil, merapikan jas yang sejak tadi dia kenakan. Dengan langkah lebar dia memasuki lobi gedung, diikuti oleh sang adik dari belakang. Kedua putra Perdana Menteri Inggris tengah berjalan beriringan di lobi perusahaan, pemandangan yang cukup langka hingga menyita perhatian para pegawai, maupun tamu yang tengah berada di sana. Jika Eliot tak segan menampilkan menampilkan sosoknya yang hangat, lengkap dengan senyum membingkai garis tegas rahangnya yang ditumbuhi rambut halus, berbeda dengan sang kakak. Alex yang dikenal flamboyan itu selalu menampilkan wajah dingin dan kurang bersahabatnya jika sedang di kantor, membuat para pegawai wanita di sana selalu menjerit histeris karena mengagumi sosoknya. “Selamat datang, Tuan,” ucap beberapa pegawai yang berpapasan dengannya sebelum memasuki lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai teratas gedung. “Apa semuanya sudah siap?” tanya Alex pada Eliot ketika dia telah berada di dalam lift. “Sudah. Seingatku tadi sudah ku beritahu Kakak jika sekretaris baru itu sangat cekatan dan pekerjaannya juga memuaskan,” jawab Eliot sembari merapikan rambutnya. “Dia dibayar memang untuk melakukan tugasnya dengan baik, jika tidak langsung pecat saja dia,” ucap Alex dingin sebelum berjalan keluar dari dalam lift ketika telah smapai di lantai teratas gedung. “Memecatnya, ya? Ku rasa Kakak tidak akan pernah bisa memecatnya.” “Mengapa?” tanya Alex penasaran. “Karena dia sangat cantik,” kekeh Eliot yang dihadiahi tinjuan di d**a. Keduanya kini tengah berada di lantai yang menjadi tujuan mereka sejak tadi, berjalan menuju ruang pertemuan yang berlawanan arah dengan ruang kerja mereka. Kakak beradik itu tampak terlibat perbincangan seputar bisnis baru yang akan dikembangkan ke depannya, hingga tidak sadar jika langkah mereka telah tepat berada di depan sebuah pintu kayu Oak besar. Eliot yang menyadari hal itu memilih untuk masuk lebih dulu, membiarkan Alex menyusul di belakangnya. “Selamat datang, Tuan.” Alex yang sejak tadi tidak peduli dengan sekeliling mendadak berhenti berjalan saat mendengar suara itu, suara yang sangat dia kenali. Sepertinya dia sangat merindukan kekasihnya sampai berhalusinasi mendengar suara lembut Halsey. Namun saat dia mengangkat kepala dan menatap manik abu-abu yang juga menatapnya dengan tatapan terkejut itu semakin membuatnya merasa gila. “Aah aku terlalu merindukan kekasihku, sampai nyaris gila dan seperti melihatnya berdiri di depanku,” ucap Alex mengusap wajahnya kasar. “Alex?” “Dan sekarang aku kembali berhalusinasi lagi, sepertinya aku harus membatalkan rapat ini dan menemuinya.” “Kau Alexander Harris putra Perdana Menteri Inggris, kan?” “Awww...!!!” “Kau nyata? You’re my Queen?” tanya Alex tidak percaya sembari mencubit pipi Halsey yang memerah. “Tentu saja aku nyata, apa kau tidak melihat kakiku menyentuh lantai?” tanya Halsey kesal karena Alex menganggapnya tidak nyata. Alex menghambur memeluk Halsey dan mencium puncak kepalanya berulang kali, dia bahagia melihat gadis yang dia cintai baik-baik saja. Dia sangat merindukan aroma permen karet yang selalu menjadi ciri khas gadis manisnya. “Sesak,” ringis Halsey merasa sulit bernapas karena Alex memeluknya erat. “Mengapa Kau ada di sini? Bukankan Kau sedang bekerja?” tanya Alex bingung akan keberadaan kekasihnya di perusahaannya. “Aku bekerja sebagai sekretaris di sini dan kau harus merahasiakan identitas asliku,” bisik Halsey setengah berjinjit dan berbisik di telinga Alex yang sayangnya itu tidak bisa dikatakan sebagai sebuah bisikan jika orang lain bisa mendengarnya dengan jelas. “Sayangnya aku bisa mendengar apa yang kau ucapkan Nona Manis dan aku tahu identitas aslimu,” kekeh Eliot merusak suasanan intim yang terjalin antara Alex dan Halsey. “Diam, Eliot,” desis Alex sarat akan peringatan. “Jadi kau sekretarisku?” tanya Alex dengan tatapan tidak percaya dan diangguki oleh Halsey. Setelahnya dia mengalihkan pandangan pada Eliot yang bergiding ngeri melihat tatapan membunuhnya. “Jadi ini gadis yang sejak tadi kau bicarakan? Calon Kakak Iparmu? Gila!!!” Alex menendang tulang kering adiknya, walau tidak seberapa keras tetap saja terasa sakit bagi Eliot yang memiliki tubuh sedikit lebih kurus darinya. Bisa-bisanya Eliot yang tahu jika Halsey adalah kekasihnya mencoba untuk merebut gadis itu darinya. “Aku Hanya bercanda, Kak,” Eliot meringis kesakitan sembari memegangi kakinya. “Jadi?” tanya Halsey dengan wajah polosnya sambil mengerjapkan mata dan berhasil membuat Alex mengecup bibirnya bertubu-tubi karena gemas. “Aku Direktur EDGE Tech, Sayang,” jawab Alex sebelum melumat bibir Halsey di depan adiknya yang menatap tidak suka. “Lebih baik aku pergi,” ucap Eliot sebelum keluar dari ruang rapat, apalagi Alex sudah mendelik tajam padanya. Sepasang kekasih itu meluapkan rasa rindu mereka setelah seminggu tidak bertemu, lebih tepatnya Halsey menyalurkan rasa kalut dan cemasnya di sana. Membuat Alex mulai sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi, jika gadisnya telah mengalami apa yang selama ini dia takutnya. Ancaman karena memiliki hubungan dengannya, sama seperti apa yang dialami oleh Alana beberapa tahun lalu sebelum tewas karena kecelakaan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN