Peluh membasahi wajah cantiknya, tubuhnya bergetar karena takut. Tulisan di secarik kertas yang kini entah ke mana itu begitu menakutkan untuknya. Sebelumnya tidak pernah ada yang berani mengancamnya seperti ini. Bahkan tulisan itu terlihat lebih menyeramkan darj bullying yang dia alami beberapa tahun lalu. Halsey terduduk di lantai stasius, menjadi pusat perhatian calon penumpang kereta lainnya.
Tubuhnya dikelilingi oleh orang-orang yang merasa penasaran dan perhatian dengan apa yang menimpanya. Sampai dia tidak sadar jika ada orang lain tengah tersenyum licik menatapnya. Ekspresi Halsey yang ketakutan justru membuatnya sangat bahagia. Untuk kedua kalinya dia berhasil memperdaya orang terdekat dari keluarga Jacob. Bahkan lebih parahnya lagi yang sekarang sedang dia permainkan adalah seorang Jacob, Halsey Claire Jacob.
“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya seorang wanita tua berjongkok tepat di depan Halsey.
“Saya takut, tadi itu apa?” tanya Halsey dengan suara bergetar.
“Tenang saja, Nona. Mungkin hanya orang gila yang tidak senang melihat kebahagiaan anda,” jawab seorang pria di usia pertengahan berusaha membantunya berdiri.
“Anda ingin pergi ke mana?” tanya wanita tua itu lagi.
“Saya ingin pulang, Nyonya,” jawab Halsey menghapus jejak keringat dan air mata di wajahnya.
“Baiklah. Mari saya temani sampai di kereta,” ucap wanita tua itu sangat ramah pada Halsey yang berjalan terseok-seok karena perasaan takut itu masih menyergapnya.
“Terkadang ada orang-orang yang tidak suka melihat kita bahagia, bukan karena dia membenci kita. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana caranya membahagiakan diri sendiri,” sambungnya dan berhasil membuat Halsey memalingkan wajah ke arahnya.
“Claire,” Halsey mengulurkan tangannya pada wanita tua yang membalas jabatan tangannya.
“Nyonya Lane, senang bertemu gadis secantik dirimu,” ucapnya ramah dan membantu Halsey mendapatkan tiket keretanya.
Kebetulan Halsey dan Nyonya Lane menuju arah yang sama, jadi selama berada di dalam kereta mereka duduk berdampingan. Gadis itu kembali ceria saat menceritakan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya menaiki kereta bawah tanah. Namun sejak tadi dia selalu menghindari pertanyaan Nyonya Lane tentang surat dan Alex. Mengingat ancaman tadi begitu menakutkan untuk gadis seceria Halsey.
Rupanya Halsey dan Nyonya Claire turun di perhentian yang sama, bahkan mereka juga sama-sama berjalan menuju bangunan gedung apartemen milik McCraven. Awalnya Halsey merasa bingung mengapa sepertinya Nyonya Lane memilih tetap berjalan bersisian dengannya, sampai akhirnya dia tahu jika wanita tua itu adalah salah satu penghuni apartemen. “Jadi anda juga penghuni di sini?” tanya Halsey membantu wanita tua itu menaiki anak tangga di taman yang mereka lalui.
“Iya. Aku tinggal dengan suamiku, dia sedang ada di rumah. Nanti akan ku perkenalkan dengannya,” jawab Nyonya Lane membelai lembut punggung tangan Halsey.
“Baiklah, Nyonya Lane,” ucap Halsey mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham saat memasuki elevator yang akan membawa tubuhnya ke lantai di mana apartemennya berada.
Keduanya tidak terlibat pembicaraan yang berarti saat berada di dalam elevator. Nyonya Lane keluar lebih dulu karena unit apartemen Halsey berada di lantai teratas gedung. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di dalam lift. Tanpa sadar air matanya kembali menetes membasahi pipi, dia teringat akan surat ancaman tadi. Siapa yang berani mengancamnya? Apalagi semua itu berhubungan dengan Alex, kekasihnya.
Denting lift berbunyi menyadarkan Halsey dari lamunannya, dia menghapus jejak air mata di pipi. Senyumnya kembali merekah saat keluar dari dalam lift, berjalan menuju unitnya. Sejujurnya dia merasa heran mengapa lantai teratas gedung apartemen milik kakak iparnya sangat sepi. Seperti tidak ada yang meninggali unit-unit apartemen di sini. Halsey tidak tahu saja jika lantai teratas gedung berisikan unit-unit apartemen milik Aeleen dan Arabela McCraven.
“Halsey pulang...” lirihnya saat memasuki unit apartemen yang kosong.
Tubuhnya luruh ke lantai, tepat menghadap TV yang tidak menyala. Tangisnya pecah ketika merasakan ketakutan itu menyergap dirinya. Sebelumnya dia sering mengalami bullying berupa verbal, tetapi kali ini dia menerima ancaman yang menyeramkan. Dia akan mati jika tidak menjauhi Alex.
“Halsey takut...” isaknya sembari memeluk diri.
Suara bel unit apartemennya berbunyi, awalnya Halsey tidak menghiraukannya. Namun berulang kali suara bel itu berbunyi dan mau tidak mau ia harus membuka pintu. Dia menghapus jejak basah di pipi secara kasar, merapikan sedikit penampilannya yang berantakan. Dengan langkah gontai Halsey berjalan menuju pintu masuk, mengintip di celah kecil yang ada di sana. Matanya menangkap sosok petugas keamanan tengah berdiri di depan pintu unitnya. Namun fokusnya bukan pada sosok itu, melainkan sebuah kotak di tangan petugas keamanan.
Clek...
“Nona Claire, tadi ada kurir yang mengantarkan paket untuk anda,” ucap petugas keamanan itu dengan ramah.
“Benarkah? Untukku?” tanya Halsey sembari menunjuk diri sendiri.
“Benar, Nona. Tetapi tidak ada nama pengirimnya,” jujur lelaki bertubuh kekar itu.
“Aah... Baiklah kalau begitu, tetapi lain kali jangan diterima,” tegur Halsey yang merasa curiga dengan kotak berwarna hitam itu.
“Baik, Nona,” jawabnya patuh sebelum menyerahkan kotak hitam di tangan pada Halsey.
Gadis cantik berambut pendek itu menerima kotak hitam yang diberikan padanya. Dengan tangan bergetar dia membuka tutup kotak di ambang pintu. Dia sengaja melakukannya karena tidak terbiasa menerima paket yang tidak jelas siapa pengirimnya. Jantungnya bekerja lebih cepat memompa darah ke seluruh tubuh. Kotak terbuka sempurna dan membuat matanya terbelalak dengan teriakan keras memenuhi koridor apartemen. Bahkan petugas keamanan yang baru berjalan beberapa langkahpun segera berjalan cepat ke arahnya.
“Aaaaarrrrggggghhhhhh...!!!”
Halsey melemparkan kotak hitam berisikan mayat kelinci putih yang tubuhnta penuh luka sayatan. Bahkan darahnya masih terlihat segar dan terdapat tulisan penuh ancaman di dalamnya. Kalimat ancaman yang dituliskan dengan darah dan dia yakin sekali jika itu adalah darah kelinci itu.
“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya petugas keamanan itu terdengar khawatir.
“I—itu...” tunjuk Halsey pada paket berisikan surat ancaman dengan mayat kelinci putih penuh dengan darah.
“Sebaiknya Nona menghubungi Tuan McCraven,” saran lelaki itu sembari menutup kembali kotak berisikan pesan ancaman untuk Halsey.
“Ti—tidak perlu. Hanya cukup jangan pernah terima apa pun itu yang tidak jelas siapa pengirimnya,” ucap Halsey dengan suara bergetar sembari mencoba menopang tubuhnya agar tidak luruh ke lantai.
“Anda menerima ancaman, Nona.”
“Lebik kau diam dan tidak mengatakan apa pun pada Tuan McCraven,” desisnya sebelum menutup pintu unit apartemennya.
Sesampainya di dalam apartemen gadis cantik itu segera berjalan cepat memasuki kamar. Dia memutuskan untuk mendinginkan kepalanya dengan air pancuran. Hati dan pikirannya sama sekali tidak tenang, sehari ini kali mendapat ancaman karena berhubungan dengan Alex. Halsey tidak tahu sama sekali apa yang terjadi sebenarnya, mengapa dia sampai diancam akan mati jika dekat dengan Alex.
***
“Aaaaarrrrgggghhhh...!!! Perempuan sialan!!!”
Sebuah anak panah menancap tepat di foto kemesraan Alex dan Halsey saat berada di sebuah pusat perbelanjaan. Wajahnya merah padam melihat kemesraan kedua sejoli itu. Dia tidak pernah menyangka jika pada akhirnya Alex akan melabuhkan hatinya pada perempuan lain. Setahunya lelaki itu hanya bermain-main dengan banyak wanita. Namun temuannya beberapa bulan lalu sungguh mengejutkan, Alex mencium gadis berambut cokelat yang dia tidak tahu siapa. Belakangan dia tahu jika gadis berambut pendek itu bernama Claire dan tinggal di salah satu apartemen mewah di London.
“Kalau aku tidak bisa mendapatkan Alex, maka tidak ada siapa pun yang bisa memilikinya,” ucapnya dengan senyum dan tatapan membunuh yang mengerikan.
“Claire...” desisnya sembari menggoreskan cutter di foto gadis cantik berambut cokelat yang tersenyum manis menatap Alex.
“Hahaha...!!! Gadis kecil yang malang... Kau memilih lelaki yang salah, Alex hanya milikku,” desisnya lagi sebelum menghancurkan foto Halsey dengan cutter yang ada di tangannya.
Di dalam ruangan sempit yang hanya diterangi sedikit cahaya lampu temaram, banyak foto-foto Halsey dan Alex memenuhi dinding ruangan itu. Bahkan ada tulisan dengan darah di atas foto cantik Halsey saat turun dari bus beberapa hari lalu dengan salah satu lelaki yang dia kenal sebagai kerabat Luke Jacob. Martin Smith, yang tidak lain adalah sespupu dari Alana Hiddleston. Gadis cantik yang mengalami kecelakaan karena terkejut setelah menerima ancaman darinya. “Sekarang aku akan benar-benar menjadi pembunuh jika gadis kecil itu tetap mendekatimu, Alex.”