Hangatnya matahari pagi masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, cukup menyilaukan mata yang baru saja terbuka. Manik abunya menangkap sosok lelaki tampan di hadapannya pagi ini, dia tersenyum hangat sembari menyentuh hidung mancung di depannya. Halsey bahagia karena untuk pertama kalinya merasakan kehangatan dan ketulusan orang lain selain keluarganya. Seorang lelaki flamboyan yang sudah sangat masyur di dunia permainan perempuan berhasil merebut hati dan cintanya.
“Selamat pagi, Sayang,” Alex mengerjapkan matanya berulang kali sebelum benar-benar membuka mata dan melihat senyuman hangat Halsey.
“Selamat pagi,” balas Halsey yang dihadiahi kecupan singkat di bibir sensualnya.
Halsey bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, namun baru saja sebelah kakinya berada di dalam, dia kembali berbalik. Alex memanggilnya dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat seksi terdengar di telinganya. Apalagi saat ini Alex bertelanjang d**a dan duduk di kepala ranjang, rambutnya yang sedikit berantakan membuatnya semakin terlihat tampan. Gadis itu memang polos, namun dia tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti tentang definisi hot men.
“Mungkin untuk beberapa hari ke depan kita tidak bisa bertemu,” ucap Alex menyadarkan Halsey dari lamunannya.
“Mengapa?” tanya gadis itu dengan wajah polosnya.
“Aku harus ke Swiss untuk mengurus beberapa pekerjaan yang ditinggalkan oleh Eliot.”
“Siapa Eliot?” tanya Halsey bingung karena dia memang tidak tahu banyak tentang lelaki yang menjadi kekasihnya ini.
“Adikku. Lain waktu aku akan mengenalkanmu dengan adik-adikku,” jawab Alex seraya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri kekasihnya yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Halsey hanya mengangguk paham dan kembali masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Alex yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Gadis itu merasa dia tidak perlu menceritakan perkara wawancara kerja kerjanya hari ini pada Alex, dia ingin memberikan kejutan pada kekasihnya nanti saat pulang dari Swiss. Dia tidak ingin menjadi gadis lemah dan manja seperti yang biasa orang lain gaungkan untuknya, apalagi dia masih mengingat pertemuannya di Bali dengan Alex beberapa bulan lalu. Lelaki yang jadi kekasihnya itu juga memanggilnya dengan sebutan ‘anak manja’ dan dia tidak suka itu.
Hampir setengah jam dihabiskan Halsey untuk membersihkan diri sebelum memerhatikan kekasihnya yang sudah rapi duduk di mini bar yang ada di apartemen. Alex tersenyum hangat melihat kekasihnya yang sudah terlihat lebih segar berjalan ke arahnya. Dia memutuskan mandi di kamar mandi yang ada di kamar satunya lagi dan bersiap untuk ke bandara. Namun sebelumnya dia menyempatkan diri untuk membuatkan roti panggang dan s**u hangat untuk Halsey.
“Habiskan sarapanmu sebelum aku pergi, Ratuku,” ucap Alex memberikan segelas s**u hangat pada Halsey.
“Mengapa kau baik sekali?” tanya Halsey menyambut gelas s**u yang diberikan kekasihnya.
“Karena kau adalah Ratuku yang sangat berharga,” jawab Alex sembari berdiri dari duduknya dan mengecup lama puncak kepala gadisnya.
Dalam hati Alex berdoa semoga Tuhan selalu menjaga gadis kecilnya ini, dia tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Cukup Alana saja yang pergi darinya dengan cara yang menyakitkan, jangan sampai Halsey juga meninggalkannya. Dia kembali duduk dan memerhatikan Halsey yang tengah menghabiskan sarapan paginya. Pikirannya sudah tidak berada di tempat yang sama lagi dengan sang kekasih, jiwanya telah lepas dari tubuh pergi ke masa di mana semuanya menjadi kacau. Masa di mana dia harus kehilangan gadis yang sangat dia cintai dengan cara mengenaskan.
***
Alana baru saja memasuki apartemennya ketika mendengar suara bel berbunyi, dia kembali berjalan untuk membuka pintu apartemennya. Di sana dia melihat seorang kurir pengantar paket berdiri dengan membawa sebuah kotak berwarna hitam. “Nona Alana Hiddleston?”
“Ya, ada kiriman untuk saya?” tanya Alana ramah.
“Benar, Nona. Ini ada kiriman untuk Anda, mohon tanda tangan di sini,” ucap kurir itu pada Alana sembari memberikan kertas tanda terima untuk ditanda tangani.
Setelah menandatangani tanda terima paket, Alana mengambil kotak berwarna hitam itu dan kembali masuk ke dalam unit apartemennya. Dia memilih untuk tidak langsung membuka paket tersebut, membiarkannya tergeletak di atas sofa. AlanA memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dan beristirahat. Tubuh dan pikirannya begitu lelah dan membutuhkan banyak waktu untuk istirahat. Karena beberapa waktu belakangan ini dia disibukkan dengan mempersiapkan tesis kelulusannya di universitas. Tepat pukul 7 malam dia bangun dari tidur nyenyaknya dan memutuskan untuk membersihkan diri. Gadis cantik itu bersiap untuk makan malam dengan kekasihnya, Alexander Harris. Seorang pengusaha muda dan juga putra salah seorang anggota Parlemen Inggris.
Alana masih duduk di depan meja rias, memerhatikan polesan makeup di wajah cantiknya. Walau bagaimanapun juga dia ingin terlihat cantik di hadapan sang kekasih, memberi kesan baik dengan penampilannya. Dia tengah memoles perona pipi ketika bel apartemennya berbunyi, senyum di bibirnya merekah karena yakin jika Alex telah sampai di depan pintu unitnya. Meletakkan perona pipi kembali di tempat asalnya, sang dara berjalan cepat untuk mebukakan pintu bagi sang rupawan di depan sana. Senyum hangat dengan tatapan penuh cinta menyambutnya ketika pintu bercat putih itu terbuka, menampilkan sosok memesona dengan setelah jasnya yang berwarna biru malam, terlihat hangat dan mewah.
“Lama menungguku, Sayang?” tanya Alex ketika merengkuh pinggang ramping Alana ke dalam lengan kokohnya, menyematkan kecupan singkat di antara kedua mata indah sang kekasih.
“Tidak juga, aku baru menyelesaikan riasan wajahku ketika kau menekan bel,” jawab Alana sambil berjalan memasuki apartemen dengan masih berada dalam dekapan hangat Alex.
“Kau terlihat sangat cantik dan memesona malam ini,” jujurnya dengan tatapan menggoda yang berhasil membuat pipi Alana bersemu merah.
Gadis itu segera melepaskan diri dari dekapan hangat lengan kokoh Alex, dia berjalan cepat ke dalam kamar untuk mengambil tas dan ponselnya. Dengan pipi yang masih bersemu merah, Alana meninggalkan Alex seorang diri di ruang tamu. Lelaki itu tampak sibuk memeriksa beberapa pos-el di ponselnya, duduk di sofa, bersanding dengan paket yang tadi siang diterima Alana. Untuk sesaat perhatian Alex tertuju pada kotak berwarna hitam di sisinya, apalagi dia merasa penciumannya menangkap bau anyir dari kotak tersebut. Dengan tanda tanya besar dalam benaknya, Alex memberanikan diri mengambil dan membuka kotak tersebut. Namun apa yang dia temukan bukanlah sesuatu yang baik, peluh sebesar biji jagung membasahi keningnya, wajahnya berubah pias. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan histeris Alana yang baru saja keluar dari kamarnya untuk menghampiri Alex, membuat lelaki itu melemparkan kotak di tangannya. “Sayang, semuanya akan baik-baik saja,” ucap Alex berusaha meyakinkan Alana yang kini telah terduduk lemas di atas lantai.
“Kau tahu siapa yang mengirimi ini?” tanya Alex sembari membawa tubuh kekasihnya yang bergetar dan histeris ke dalam pelukannya.
“Ta—tadi seorang kurir mengantarkannya,” jawab Alana dengan tubuh bergetar dan wajah pucat pasi.
Lelaki tampan itu menggeram marah ketika melihat kotak yang isinya telah jatuh ke lantai. Pantas saja penciumannya menangkap aroma tidak sedap dari kotak tersebut, di dalamnya terdapat bangkai burung merpati yang tubuhnya dicabik-cabik hingga tak berbentuk. Bahkan darahnya pun sudah mengering, dan pandangan matanya tertuju pada secarik kertas yang sepertinya ditulis dengan darah burung tersebut. Dengan memberanikan diri Alex memungutnya dari lantai, membaca susunan kata di kertas tersebut dalam hati. Matanya membola sempurna ketika melihat namanya tertulis di situ, dengan kalimat ancaman yang menyeramkan.
“JAUHI ALEX ATAU MATI!!!”
“Siapa yang berani melakukan ini?” geram Alex sembari melemparkan kertas itu hingga kembali jatuh ke lantai.
“Apa aku akan benar-benar mati karena bersamamu?” tanya Alana yang mulai terisak dan ketakutan.
“Katakan padaku kalau ini bukan yang pertama kalinya?” tanya Alex dengan tatapan tajam dan wajah seriusnya dan dijawab Alana dengan anggukan lemah.
“Tinggalkan apartemen ini dan ikutlah denganku ke mana pun aku pergi,” ucap Alex yang tidak mendapatkan respons dari Alana.
Gadis itu terus menatap ngeri dan takut ke arah kotak yang dia terima tadi siang, bagaimanapun juga teror itu telah benar-benar membuatnya nyaris kehilangan darah. Terakhir dia dikirimi boneka beruang yang bermandikan darah dengan pesan yang sama untuk menjauhi Alex. Dan sudah berulang kali juga dia menyembunyikan fakta tentang teror ini pada Alex karena merasa bisa menghadapinya seorang diri. Namun belakangan rasa takut akan kematian itu semakin menghantuinya, bahkan untuk keluar seorang diri pun ia sangat takut.
“Berjanjilah kau akan melindungiku,” pinta Alana lirih pada Alex yang mengangguk pasti sebelum membawa tubuhnya yang bergetar ke dalam pelukan.
***
Halsey merasa jika saat ini kekasihnya sedang memikirkan sesuatu pada akhirnya memutuskan untuk menegur Alex. Bagaimanapun juga dia tidak suka jika seseorang tidak mengacuhkannya, sudah seperti sifat dasar seorang Jacob yang senang diperhatikan. Dia tidak jauh berbeda yang tidak suka diabaikan oleh orang-orang yang dia sayangi. “Kau memikirkan apa?” tanyanya dengan wajah serius namun justru sangat menggemaskan di mata Alex yang tersadar dari lamunannya.
“Tidak ada. Aku hanya berpikir bahwa akan sangat merindukanmu nanti,” jawab Alex dengan wajah seriusnya namun sedikit menggoda Halsey.
Setelahnya pasangan itu berpisah karena Alex harus berangkat ke Swiss selama beberapa hari dan Halsey harus fokus untuk wawancara kerja pertamanya di EDGE Tech yang notabenenya adalah milik Alex. Gadis itu benar-benar tidak pernah mencari tahu sesuatu sebelum benar-Benar melakukan sesuatu. Bahkan dia tidak tahu banyak tentang kekasihnya, yang dia tahu hanyalah Alex yang putra sulung Perdana Menteri Inggris dan juga seorang pengusaha muda. Selebihnya dia tidak pernah tahu dan tidak ingin tahu apa yang dilakukan dan dimiliki oleh Alex.
Halsey baru saja turun dari bus yang untuk pertama kalinya dia naiki, bahkan untuk dapat bisa menaiki angkutan umum itu dia sampai belajar dari Martin. Dia sangat senang karena Martin tidak merasa direpotkan olehnya yang terus bertanya bagaimana melakukan hal-hal yang biasa orang lain lakukan. Kini dia tengah berdiri tepat di depan sebuah gedung pencakar langit bertuliskan EDGE Tech. Yang dia tahu jika perusahaan ini adalah salah satu perusahaan provider terbaik di Inggris yang juga bekerja sama dengan perusahaan milik suami sepupunya.
Gadis cantik berambut cokelat dengan potongan bob itu menghela napas dalam sebelum melangkahkan kaki jenjangnya memasuki area gedung. Dia merapikan sedikit pakaiannya, setidaknya yang dia tahu dari Martin jika penampilan juga menjadi faktor pendukung saat mengikuti wawancara kerja. Halsey sudah berada di lobi gedung dan saat ini berjalan menuju meja resepsionis. “Maaf, saya ada panggilan wawancara kerja dengan Tuan Luther Clarke,” ucap Halsey saat sudah berada di depan resepsionis cantik itu.
“Atas nama siapa?” tanyanya ramah.
“Halsey Claire,” jawab Halsey sembari melirik sekilas arlojinya.
Bahkan untuk penampilan pun dia berusaha untuk tampil sederhana dan biasa saja, mengganti semua barang-barang mewahnya dengan yang biasa. Kemarin Henry baru saja membelikannya arloji yang menurut mereka paling murah namun masih terlihat mahal bagi orang biasa. Halsey mendengus sebal karena kakak-kakaknya tidak ada yang bisa diandalkan dalam hal ini.
“Silakan ikut saya,” ucap resepsionis bernama Yuwi Cho sebelum berjalan mendahului Halsey.
Setelah menaiki lift yang membawa tubuh langsingnya menuju lantai di mana wawancara kerja akan berlangsung, kini gadis itu tengah duduk di dalam sebuah ruang pertemuan. Sudah hampir 10 menit dia menunggu kehadiran General Manajer EDGE Tech yang akan melakukan wawancara padanya. Sebenarnya Halsey merasa sangat bosan jika menunggu seperti ini tanpa melakukan hal lain, karena dia telah selesai mengisi data diri dan formulir untuk tes psikologi.
“Maaf menunggu lama, saya baru selesai menghadiri rapat,” suara yang rendah dan dalam menyadarkan Halsey dari aksi mengetuk-ngetuk meja di depannya.
“A—ah iya. Tidak apa-apa,” jawab Halsey berusaha tersenyum.
“Nona Halsey Claire?” tanya lelaki tampan dengan lesung pipi itu pada Halsey yang menjawabnya dengan anggukan halus. “Saya Luther Clarke, General Manager EDGE Tech,” ucap Luther ramah sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan gadis cantik di depannya.
Luther sudah lebih dulu membaca data diri gadis di depannya ini, namun dia tidak pernah menyangka jika calon sekretaris Alex yang akan dia wawancarai hari ini adalah Halsey Claire Jacob. Jangan dikira dia tidak tahu siapa kekasih Alex saat ini, dan dia juga tahu seperti apa wajah Halsey. Sepertinya akan seru jika menjadikan Halsey sebagai sekretaris Alex, apalagi dia yakin sekali jika gadis ini bisa bekerja dengan baik.
Wawancara kerja pertama Halsey dilalui dengan lancar, bahkan dia sudah bernegosisasi untuk nilai gaji yang akan diterima. Untuk pertama kalinya Halsey merasa sesenang ini, apalagi semua ini tanpa campur tangan keluarganya. Dia sangat ingin bekerja dengan hasil usahanya sendiri, walau tanpa sepengetahuannya ada Luther yang sudah mengatur posisinya saat ini.
“Selamat, Nona Claire. Anda diterima bekerja di EDGE Tech sebagai sekretaris Direktur Utama. Saya akan menjadi mentor anda sebelum bertemu dengan Direktur kami yang sedang dalam perjalan bisnis,” ucap Luther yang berhasil membuat mata Halsey berbinar.
“Sungguh? Saya diterima bekerja di sini?” tanya Halsey memastikan jika dia tidak salah mendengar.
“Benar, mulai besok Nona Claire sudah bisa bekerja di sini,” ucap Luther yang berhasil membuat gadis ceria itu menangis bahagia. “Mengapa Anda menangis?” tanya Luther hati-hati karena membuat kekasih Direkturnya menangis.
“Maaf, Tuan. Saya hanya terharu karena akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan dengan usaha sendiri,” jujurnya yang berhasil membuat Luther takjub.
Pantas saja Alex sangat mencintainya dan berani menantang keluarga Jacob, gadis ini luar biasa. Gumam Luther di dalam hati sembari memberi sapu tangannya pada Halsey.
Akhirnya Halsey pergi meninggalkan gedung EDGE Tech dengan perasaan senang, gadis itu terus bernyanyi kecil sembari berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah tidak jauh dari gedung pencakar langit itu. Rencananya dia akan berkunjung ke kantor Henry dan mengabari kakaknya tentang keberhasilannya dalam wawancara kerja hari ini. Senyumnya terus merekah membuat wajahnya terlihat semakin cerah seperti hari ini. Tetapi sayang karena tidak terlalu fokus pada anak tangga yang sedang dia pijak, dia sedikit goyah dan menabrak beberapa pejalan kaki lainnya.
“Gunakan matamu, Nona,” tegur seorang pria paruh baya yang menjadi salah satu korban kelalaiannya dan hanya dibalas dengan anggukan sungkan tanda permohonan maaf dari Halsey.
Gadis itu kembali berjalan menuruni tangga menuju stasiun kereta bawah tanah, dia memasukan kedua tangan ke dalam jas yang dia kenakan. Dia menggeleng sesaat sebelum memutar bola matanya ke segala arah ketika merasakan ada sesuatu di dalam saku jasnya. Halsey mengeluarkan sesuatu yang sudah berada dalam genggamannya, sebuah kertas yang dilipat kecil. Keningnya mengernyit bingung melihat kertas yang menurutnya tidak pernah ada sebelumnya. Dengan perasaan bingung dia membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati agar tidak robek, sampai suara teriakan meluncur dari mulutnya. Tubuhnya luruh ke lantai stasiun dengan tubuh bergetar, dia melemparkan kertas itu. Kini dia menjadi pusat perhatian di stasiun yang cukup ramai hari ini, apalagi tulisan di kertas itu. Sebuah kertas cokelat dengan bekas lipatan bertuliskan kalimat pendek yang membuat bulu kuduk mereka yang membacanya meremang.
“JAUHI ALEX, ATAU MATI!!!”