Chapter 7

1854 Kata
Suasana makan malam yang berlangsung di apartemen Halsey terasa hangat. Apalagi sejak tadi Alex terus memperlakukan gadis itu dengan manis. Membuat yang lainnya yakin jika kali ini lelaki flamboyan itu sangat serius dengan tuan putri mereka. Sampai suara Philips Jacob menginterupsi dan membuat fokus mereka hanya tertuju padanya. “Jadi apa yang membuatmu ingin bersama cucuku, Harris?” “Karena saya mencintainya, Tuan,” jawab Alex yakin dan membuat ketiga kakak laki-laki Halsey mengepalkan tangan di bawah meja. “Bagaimana kau bisa mencintaiku kalau kita baru pertama kali bertemu beberapa bulan lalu di Bali?” tanya Halsey penasaran dan menatap kekasihnya yang mengulas senyum tipis di bibirnya. “Tidak semua hal bisa dan perlu dijelaskan, Ratuku,” jawab Alex sembari mengacak rambut cokelat Halsey. “Aku percaya padamu dan tolong jaga cucuku dengan sepenuh hatimu. Kalau sampai kau menyalikinya, ku pastikan kau akan merasakan akibatnya,” ucap Philips sarat akan peringatan yang membuat keluarganya sendiri terkejut. “Dan aku akan menghancurkan perusahaan dan juga saham-sahammu,” ucap Sarah yang membuat semua anggota keluarganya menarik napas dalam. “Kau selalu semenyeramkan itu kalau bicara tentang lawan,” decak Alex teringat dengan salah satu lawan bisnisnya yang salah berurusan dengan Sarah Dimitrova-Jacob. “Dan ku pastikan wajah playboy-mu itu akan hancur di tanganku,” desis Nick tidak bisa menahan lebih lama gejolak dalam dirinya. “Nick...” Jasmine memperingatkan. Jasmine tahu siapa lelaki yang saat ini ikut makan malam bersamanya. Karena beberapa tahun lalu dia pernah bertemu Alex dengan Alana di sebuah pesta yang diadakan sepupunya. Tetapi keponakan cantiknya itu bernasib malang, usianya tidak panjang. Dia menatap Alex dalam, menyelami lelaki itu dan ia menemukan jika pada kenyataannya Alex sangat memuja Halsey. Dalam hati dia berdoa semoga semua baik-baik saja, agar apa yang pernah dialami Alana tidak dialami oleh Halsey. Acara makan malam telah selesai dan kini saatnya mereka bersantai. Saat para pria sibuk membicarakan bisnis, para wanita juga sibuk membicarakan hal yang sama. Sedangkan Halsey hanya bingung tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan ibu, bibi-bibinya dan juga sepupunya. Karena selama ini hidupnya hanya dihabiskan untuk menikmati semua fasilitas yang diberikan oleh keluarga. Belum sekali pun dia pernah bekerja, walau dia sangat ingin. “Kau mengantuk, Sayang?” tanya Emily membelai lembut punggung putrinya. “Sedikit, Bu,” jawabnya sebelum menyandarkan kepala di bahu ibunya. “Adikmu sangat manis, Sa,” ucap Mariana pada putrinya yang dibalas Sarah dengan anggukan. Sementara itu Alex yang terlibat pembicaraan bisnis dengan pria keluarga Jacob sesekali mencuri pandang ke arah kekasihnya. Dia tersenyum saat melihat Halsey sesekali menguap dan berakhir dengan menyandarkan kepala di bahu sang ibu. Dia tidak pernah menyangka jika akan benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Putri bungsu di keluarga Jacob, apalagi ia sempat menampikkan kata-kata Alana kalau akan menyukai Halsey. Walau pada kenyataannya hati dan perasaan ini telah mengkhianati Alana, dia sudah jatuh cinta pada gadis berambut cokelat yang dikepang menjuntai di bahunya. “Alex, bisa kita bicara?” Alex memalingkan wajahnya ke arah Nick, lelaki itu menatapnya tajam. Tidak ingin menarik perhatian Paul, Edward dan Karl yang tengah menatap mereka, atau lebih tepatnya menatap ke arahnya, akhirnya Alex mengangguk dan berdiri lebih dulu. Keduanya berjalan menuju balcon apartemen untuk menghirup dinginnya angin malam. Setidaknya itu bisa mendinginkan sedikit suasana hati Nick yang panas. “Mengapa, Alex?” “Apa?” tanya Alex bingung dengan menaikkan sebelah alisnya. “Mengapa kau tidak menjauhi adikku? Halsey terlalu baik untuk lelaki b******k sepertimu,” desis Nick berusaha mengendalikan emosinya. “Alana yang membuatku mengenalnya, Alana yang selalu menunjukkan fotonya padaku sehingga aku penasaran seperti apa dirinya. Alana juga yang meyakini jika aku akan menyukai adikmu, jadi apa salah kalau pada akhirnya aku penasaran dan tertarik pada Halsey?” Alex sedikit terpancing emosinya karena Nick selalu melarangnya untuk mendekati Halsey. “Kau tahu apa yang dialami Alana? Aku menyayanginya sebagai adik sepupuku, tetapi rasa sayangku jauh lebih besar terhadap Halsey. Aku tidak ingin dia mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Alana,” lirih Nick sedikit tercekat karena teringat akan senyum Alana. “Aku tahu, maka dari itu aku akan selalu mengawasinya. Dan mengapa kalian membiarkannya tinggal di apartemen seorang diri?” “Dia memintanya dan ku mohon padamu Alex. Jangan pernah sakiti dia, adikku terlalu baik untuk lelaki b******k sepertimu,” ucap Nick sedikit tertahan di tenggorokan karena dia harus merelakan adik kecilnya bersama Alex. “Kalian membicarakan apa?” Alex dan Nick memalingkan wajah ke arah datangnya suara. Gadis cantik dengan rambut long bobnya berjalan ke arah Alex, mengapit lengan kokoh itu. Sesekali dia menatap wajah kakak dan kekasihnya dengan bingung. Namun hanya sebentar karena Nick memilih kembali ke dalam dan meninggalkannya hanya berdua dengan Alex. “Kalian membicarakan apa? Mengapa hanya diam saja tidak menjawab?” tanyanya lagi. “Nick hanya memperingatkanku agar tidak menyakitimu,” ucap Alex sebelum membawa tubuh Halsey ke dalam pelukannya. “Kau harus melakukannya, kalau tidak aku akan mati,” ancam Halsey yang berhasil membuat tubuh Alex menegang. “Tidak! Jangan pernah ada pemikiran seperti itu, aku tidak akan meninggalkanmu kecuali aku mati,” lirih Alex sebelum mengecupi puncak kepala kekasihnya dengan sayang. “Kau menyihirku ya?” tanya Halsey mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Alex. “Apa?” “Kau pasti menyihirku.” “Mengapa bisa begitu? Aku tidak pernah melakukannya dan apa-apaan itu menyihir?” “Karena rasanya aku terlalu takut kehilanganmu, aku terlalu merasa nyaman di dekatmu. Sama seperti rasa nyaman yang dimiliki oleh Kakak-kakakku.” “Tentu saja kau merasa nyaman, karena aku adalah rumahmu. Dan begitu juga sebaliknya, kau adalah rumahku. Tempat di mana aku akan pulang,” jawab Alex sebelum mengecup bibir kekasihnya. Awalnya hanya kecupan kecil, namun kecupan-kecupan kecil setelahnya tidak bida berhenti. Alex memagut bibir ranum Halsey yang sedikit terbuka, memberi akses pada lidahnya untuk melesak masuk dan membelit lidah kekasihnya. Keduanya sangat menikmati ciuman kali ini, terasa sangat manis dan menyenangkan. Bahkan keduanya sudah tidak peduli lagi dengan diginnya angin malam yang menerpa kulit dengan keluarga Jacob yang melihat aksi mereka di balkon. Nick, Harry dan Henry juga sangat terkejut melihat aksi adik mereka berciuman dengan Alex. “Sial! Mereka sudah sejauh itu,” Nick mengumpat kesal karena ancamannya pada Alex hanya sia-sia jika adiknya sudah jatuh terlalu dalam pada lelaki flamboyan itu. “Jaga ucapanmu, Nick,” tegur Lily sebelum berjalan menuju meja dan mengambil tasnya. “Maaf, Nick,” ucap Nick tulus sebelum mengecup pipi neneknya. “Manis,” Alex melepas tautan bibir mereka dan membersihkan bibir Halsey dengan ibu jarinya. Lelaki itu kembali membawa tubuh Halsey ke dalam pelukannya. Dia memberikan kecupan-kecupan sayang di puncak kepala kekasihnya. Sampai suara baritone Karl memecah suasa romantis yang tercipta di antara keduanya. “Sudah waktunya kami untuk pulang, Tuan Putri,” “Tuan,” ucap Alex memberi salam. “Jaga putri berharga kami,” pesan Karl pada Alex yang mengangguk pasti. “Ibu pulang, Sayang,” ucap Emily mengecup puncak kepalanya. Dan pada akhirnya yang lain telah pulang meninggalkan apartemen Halsey. Rumah yang akan dia tinggali selama beberapa waktu ke depan. Membiarkannya merasakan menjadi seperti orang lain. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali dan menatap wajah tampan kekasihnya. “Ayo kita masuk, di sini dingin dan aku tidak ingin kau sakit,” ucap Alex menggiring tubuh kekasihnya untuk kembali ke dalam apartemen. “Kau tidak ingin pulang?” tanya Halsey yang menyadari saat ini masih ada Alex bersamanya. “Aku ingin berada di sini, bersama denganmu,” jawab Alex menarik tubuh Halsey untuk duduk di atas pangkuannya. “Kau tidak akan menggodaku kan?” tanya Halsey sedikit panik. “Tentu saja tidak, aku belum siap dengan denga kehancuran yang dijanjikan oleh keluargamu. Atau lebih tepatnya aku tidak siap,” jawab Alex merapikan anak-anak rambut kekasihnya. “Jadi kau memiliki banyak waktu untuk menjawab pertanyaanku?” tanya Halsey yang dijawab anggukan oleh Alex. “Jadi benar kau kekasih mendiang Kak Alana?” Pertanyaan Halsey kali ini sukses membuat tubuh Alex kembali menegang. Dia tidak pernah menyangka jika kekasih kecilnya ini tahu tentang hubungannya dengan Alana. Apalagi saat ini masih menjadi kekasih Alana pun tidak perbah bertemu Halsey dan Alana di waktu yang bersamaan. “Dari mana kau tahu?” “Kak Sarah mengatakannya padaku,” jawab Halsey hati-hati. “Sebaiknya kita tidak membicarakan ini dan akan lebih baik lagi kalau sekarang kau tidur,” ucap Alex menggendong tubuh Halsey ala pengantin. “Tunjukkan aku di mana kamarmu,” ucap Alex pelan dan Halsey menunjuk ke arah kamarnya. Alex membawa tubuh Halsey ke dalam kamar yang tadi ditunjuk kekasihnya. Nuansa putih kamar tersebut membuat Alex semakin ingin tinggal untuk malam ini. Untuk memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja di tempat ini seorang diri. Dia menurunkan Halsey di atas ranjang dan mendudukkan diri di sisi ranjang. “Kau mau tidur denganku malam ini?” tanya Halsey terdengar gugup dan berhasil membuat Alex terbelalak tidak percaya dengan pertanyaan kekasihnya. “Hanya tidur di sini menemaniku,” lanjut Halsey lagi sembari menepuk sisi ranjang yang kosong. Alex tersenyum melihat betapa manisnya tingkah sang kekasih. Perlahan dia melepas dasi dan dua kancing teratas kemejanya. Tidak lupa ikat pinggan, sepatu dan kaus kakinya. Dia berjalan memutari ranjang dan ikut merebahkan diri di sisi kekasihnya, sebelum akhirnya membawa tubuh Halsey ke dalam pelukan. “Sekarang tidurlah,” ucap Alex yang diangguki Halsey. Halsey mulai terpejam dan tak berapa lama napasnya teratur. Alex tidak menyangka jika gadisnya akan tertidur secepat ini. Dia tersenyum melihat wajah tenang Halsey, setelahnya mengecup lama kening gadis cantik itu. “Aku mencintaimu dan tidak akan membiarkan Kau mengalami apa yang dia alami.” “Kau harus menjagaku, Sayang,” balas Halsey yang ternyata hanya berpura-pura tidur. “Gadis nakal, kau pintar bersandiwara rupanya,” ucap Alex mencubit gemas hidung mancung kekasihnya. “Jadi Kak Alana tidak dibunuh kan?” tanya Halsey kembali duduk dan bersandar di kepala ranjang diikuti oleh Alex. “Tidak. Siapa bilang dia dibunuh?” “Tidak ada, aku hanya berasumsi,” jawab Halsey melepaskan gaunnya yang sejak tadi membuatnya tidak nyaman dan berhasil membuat Alex mengerjapkan mata berulang kali. “Apa yang kau lakukan, Sayang?” “Hanya melepas gaun karena tidak nyaman tidur menggunakan pakaian seperti ini,” jawab Halsey melempar gaunnya sembarangan. Saat ini dia hanya mengenakan pakaian dalam dan kembali ke dalam selimut. Dia menarik tangan Alex untuk kembali memeluk tubuh setengah telanjangnya. Alex bisa merasakan jika Halsey tersenyum di dadanya. Rupanya gadis ini sedang mengujinya, tetapi dia tidak akan bertindak sebrengsek itu pada gadis yang dia cintai. “Seandainya saja aku menahannya saat itu, mungkin kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi,” lirih Alex pada akhirnya dan berhasil membuat Halsey mengangkat kepala dan menatapnya sendu. “Terkadang tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita. Aku tahu kau pasti sangat mencintainya,” ucap Halsey sebelum kembali menenggelamkan wajah di d**a telanjang kekasihnya. “Dan kau pasti tahu kalau aku lebih mencintaimu,” balas Alex semakin menarik Halsey ke dalam pelukannya. Dia bisa merasakan Halsey mengangguk di dadanya, membuat senyum kembali terbit di wajah tampannya. Alex berjanji dalam hati kalau dia akan selalu menjaga Halsey. Tidak akan membiarkan apa yang dialami Alana juga terjadi pada Halsey. Karena dia tahu bagaimana rasa sakitnya kehilangan dan dia tidak ingin merasakannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN