Aluna menatap dengan penuh rasa terkejut pada lelaki yang tengah bersimpuh di depannya. Setangkai mawar merah berada pada genggaman tangan Adly. Sepasang mata itu menatap ke arahnya penuh harap. "Terima." "Terima." "Terima." Koor dari teman-teman yang didaulat Adly sebagai saksi terdengar riuh. Wajah Aluna sudah merah padam menahan rasa yang bercampur baur tak karuan. Hatinya? Entah. Perasaannya tak tahu seperti apa. Namun, satu yang Aluna mengerti. Dia dan Adly bersahabat baik sejak lama. Aluna harus menyelamatkan mukanya. Tangkai mawar merah itu akhirnya berpindah tangan. Senyum riang terukir pada wajah Adly. "Terima kasih, Luna." Aluna tersenyum. Lalu dia bergegas menarik lengan Adly agar menjauh dari kerumunan. Jujur, menjadi pusat perhatian membuat Aluna tak nyaman. Adly b

