Aluna menatap langit-langit kamar. Pertemuan demi pertemuan dengan Adly berkelebat. Kesungguhan Adly untuk meyakinknannya membuatnya luluh juga. Aluna melihat ada ketulusan dari tatapan mata Adly ketika berbicara padanya. “Apakah dia orangnya?” Lirih Aluna. Dia bangun dan berjalan menuju tepi jendela. Aluna menatap lurus ke depan. Melihat lembut sinar rembulan yang menyapa dirinya. Tampak tersenyum malu-malu dari balik awan yang berarak. Hembusan angin yang menyapu wajah membuatnya berulang menarik napas dalam-dalam. Aluna memejamkan mata, membiarkan sapuan lembut angin malam itu menyentuh pori-porinya. “Adly … apakah benar orangnya?” bisik Aluna pada diri sendiri. Namun, masih ada sebersit keraguan dalam hatinya. Tiba-tiba senyuman pemuda yang tengah membeli sebuah lukisan di pame

