Bab 91

1508 Kata

A--Aku gak bisa melanjutkan semua ini, Adly. A--Aku gak bisa.” Suara Aluna bergetar. Adly menatap bingung pada gadisnya. Dia hendak mendekat, tapi dua pemuda tampan yang mengenakan kemeja senada menghadangnya. Dialah Cakra dan Buma. “Berhenti! Mbak Luna sudah bilang tak bisa! Tolong jangan memaksa!” Buma melipat tangan di depan d**a, begitupun Cakra. Mereka tak terlihat seperti kakak adik, tapi lebih seperti dua anak kembar dengan paras identik. Keduanya tak perlu menanyakan alasan. Melihat kakak perempuannya tertekan, keduanya langsung sigap pasang badan. Adly menelan saliva. Apalagi ketika Papa Banyu, kini mulai angkat suara, “Unda … bawa Una ke kamarnya!” tegasnya. Jingga tak banyak bicara lagi. Otaknya tengah menerka-nerka sebenarnya apa yang terjadi. Namun, melihat wajah ketakuta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN